Dark Walker

Dark Walker
episode 34


__ADS_3

Episode 34


Selasa siang di sebuah desa di pinggiran rawa nampak Jefri dan Tasya berjalan mengitari tempat itu


"Menurut info dari Anwar, desa ini sempat menjadi korban teror makhluk berwujud buaya raksasa


"Jef?" Panggil Tasya yang menunjuk sebuah jejak kaki buaya namun ukurannya tidak normal


"Sepertinya makhluk itu baru saja melintas," Ucap Jefri pada Tasya yang mengangguk dan mendekat pada pria itu


"Kayaknya kita harus masuk ke desa itu," Ucap Tasya pada Jefri yang mengangguk dan berjalan menuju desa itu


"Permisi!" Panggil Jefri yang masuk ke dalam salah satu rumah penduduk dan melihat kondisi mayat penduduk yang mengenaskan akibat serangan siluman buaya itu


"Ini sudah keterlaluan," Ucap Tasya seraya mendekati mayat itu sedangkan Jefri yang geram meninju dinding didekatnya


"Tenang Jef," Ucap Tasya pada Jefri yang mengangguk dan menatap gadis itu tajam sementara Tasya berdiri dan melihat sekeliling


"Gue kira setelah kejadian 7 tahun lalu lu bakal benci sama gue," Ucap Tasya pada Jefri yang mendengar hal itu dan menatap Tasya datar


"Udahlah, itu hal yang gak penting buat dibahas sekarang," Ucap Jefri pada Tasya yang tersenyum dan duduk di salah satu kursi dan terlihat terdiam menganalisa sekitar tempat ini


"Lu ngapain?" Tanya Jefri pada Tasya yang mengambil darah milik mayat tadi lalu mengukir sebuah mantra pada kedua tangannya menggunakan darah itu sebagai kuasnya


"Waktu tak dapat diubah begitu juga dengan kejadian yang pernah terjadi namun tidak dengan penglihatan maka dari itu tunjukkan pada kami apa yang telah terjadi tanpa harus mengubah waktu dan kejadian yang terjadi, sihir pertahanan pengulangan waktu!!!" Ucap Tasya merapal mantra dan tiba tiba waktu disekitar rumah itu terulang kembali dan menunjukan kejadian dimana sang pemilik rumah yang baru pulang berkebun didatangi pria dengan baju putih dan mahkota tengah masuk ke dalam rumah itu


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya bapak itu ramah pada pria berbaju putih yang menatapnya lalu tersenyum


"Aku butuh darah," Gumam pria itu pada sang bapak yang mengangkat alisnya bingung lalu akan bertanya lagi namun tiba tiba ia berubah menjadi seekor buaya raksasa yang menerkam bapak tadi dan melemparnya saat tewas dan meninggalkan rumah itu sekaligus mengakhiri sihir pengulangan waktu Tasya


"jadi si brengsek itu pelakunya," Ucap Jefri pada Tasya dan ia segera melangkah keluar bersama Tasya


"Bukannya bakal gegabah kalo kita serang dia sekarang?" Tanya Tasya pada Jefri yang menatap gadis itu lalu mengubah tangannya menjadi penuh retakan api dan mengeluarkan api yang besar


"Yang jadi temen lu ini adalah Heredis yang kuat," Ucap Jefri pada Tasya yang mengangguk seraya tersenyum pada gadis itu membiarkan pria itu berjalan keluar lalu diikuti olehnya


************


Di rumah sakit nampak Rico dan Julian berjalan menuju kamar Ersya


"Ngapain lu keluar dari kamar lu?!" Tanya mereka berdua bersamaan dengan nada penuh intimidasi


"Ya gue cuma mau jenguk anggota terbaru gue, lu sendiri emang udah sembuh?" Ucap Julian yang melirik Rico


"Yang ada gue yang nanya gitu ke lu, emang udah sehat betul? Sampai berani keluar kamar? Cewek cewek lu uang kemarin kemana?" Tanya Rico ke Julian yang melirik keatas tanda ia berpikir dan mengabaikan pertanyaan itu seraya berjalan menuju kamar dihadapannya namun Rico juga ikut berjalan masuk ke dalam ruangan itu hingga akhirnya mereka saling adu fisik didepan pintu


"gue masuk duluan!"


"gue yang duluan!" Mereka berdua nampak tidak mau mengalah untuk masuk pertama ke kamar Ersya hingga membuat keributan dan mengganggu Ersya

__ADS_1


"Kalian ribut apa sih diluar?!" Tanya Ersya ke Rico dan Julian dan akhirnya mereka masuk ke dalam


"Hai Sya kabar lu gimana?" Tanya mereka berdua bersamaan hingga membuat Ersya menutupi wajahnya dengan selimut


"Ngapain sih kalian berdua gangguin gue!" Ucap Ersya geram pada tingkah mereka berdua yang sangat childish


"Sebenarnya gue mau mastiin keamanan lu aja," Ucap Julian pada Ersya yang membuka sedikit selimutnya


"Dari apa?" Tanya Ersya yang menatap pria itu serius


"Tentu saja dari cowok hidung belang kaya yang ada di samping kiri lu itu," Jawab Julian seraya menunjuk Rico yang terkejut dan menatapnya geram


"Kaca rumah sakit besar di tiap kamar nah lu bisa pakai ngaca disana dasar fakboi garis keras!" Kesal Rico pada Julian yang nampak gak mempedulikan ucapan dari pria itu dan kini malah duduk disamping Ersya


"5 menit lagi guru gue bakal dateng kesini," Ucap Julian pada Ersya dan Rico


"Mau apa guru lu kesini?" Tanya Rico pada Julian


"Gak ada urusannya sama lu," Jawab Julian yang membuat Rico geram dan mulai mendekati pria itu


"Kampret! Dari tadi lu ngajak ribut ya!" Rico nampak mulai emosi dan berjalan ke arah Julian namun sebuah ketukan pintu membuatnya terkejut dan Julian segera berjalan membuka pintu itu


"Aurelia darkness senang mengetahui kalau kau baik - baik saja," Ucap pria paruh baya yang ada di balik pintu itu yang membuat Ersya terhenyak


"Anda....?!" Kaget Ersya saat melihat pria itu dan nampak ia tersenyum mendekati gadis itu


"Lu kenal di..," Rico nampak bingung dengan apa yang terjadi dan akan bertanya pada Ersya


"Kirain kenal, dia master Toni dia orang yang tau semua tentang lu," Ucap Julian memperkenalkan gurunya


*************


Kembali ke desa nampak Tasya dan Jefri sudah berjalan cukup jauh masuk ke dalam desa yang sepi dan tampak menyeramkan


"Sebenarnya masalah apa yang terjadi pada lu sampai membuat mereka ngejar dan mau nangkap lu?" Tanya Jefri pada Tasya yang tersenyum mendengar pertanyaan itu


"Cuman salah paham aja," jawab Tasya pada Jefri yang berhenti dan berbalik menatap gadis itu


"Please, gak ada rahasia antara kita," Mohon Jefri pada Tasya yang menatap pria itu seraya menggelengkan kepalanya


"Gue diduga ngebantai seluruh anggota, serta menyalah gunakan kekuatan," Ucap Tasya menjelaskan apa yang terjadi padanya


"Kalau emang lu gak salah kenapa lu harus menghindar dari dia?" Tanya Jefri ke Tasya yang terdiam dan menatap pria itu


"Ada yang harus gue selesaikan sebelum hal itu terjadi," Jawab Tasya serasa tersenyum yang membuat Jefri menatapnya sedih lalu memegang pundak gadis itu dengan kedua tangannya


"Sejak dulu, lu selalu pingin menanggung semua masalah sendirian please, bagi pada gue, Rico, dan yang lainnya... Gak semua masalah bisa lu atasin sendirian," Ucap Jefri pada Tasya yang terdiam mendengar kata Jeffi seraya tersenyum


"Gue bisa kok atasin masalah itu sendirian, tapi thanks kata lu barusan bener bener buat hati gue tenang, thanks ya Jef," Ucap Tasya pada Jefri yang mengangguk dan tersenyum

__ADS_1


"Sudah seharusnya kan?," Jawab Jefri dan nampak terdengar suara orang sedang memakan sesuatu dan ternyata itu adalah sang siluman yang tengah memakan kaki warga desa itu


"Siluman buaya!" Jefri nampak terkejut melihat sang siluman yang berdiri dan menatap mereka berdua


"Ternyata masih ada sisa ya... Kukira warga desa ini sudah mati semua," Gumam siluman itu seraya melompat dari gubuk tadi dan berubah menjadi sesosok siluman buaya raksasa yang menyerang mereka berdua walau dapat dihindari dengan mudah


"Tasya bersiap!" Ucap Jefri yang mengubah kedua tangannya menjadi wujud iblis api kalarahu dan nampak sang siluman buaya terkejut dengan kekuatan Jefri


"Kekuatan itu, jangan jangan kau Heredis predator!" Kaget sang siluman buaya yang dibalas tawa oleh Jefri yang bersiap menyerangnya dengan kedua tangannya


Di sisi lain nampak Dandi, Yaiba, dan Tissa masuk ke dalam rumah mewah yang terbengkalai nampak sepasang anggota Ganendra itu berjalan lebih dulu berbekal senjata handgun yang telah diberi mantra khusus serta peluru khusus penyuci iblis


"Apa yang kita hadapi di ruangan ini?" Tanya Tissa pada Yaiba yang bersiaga dengan pistolnya


"Pocong," Jawab Dandi yang membuat Tissa bergidik ngeri dan melihat sekeliling


"Kita harus saling berdekatan karena Pocong memiliki kekuatan yang cukup berbahaya," Gumam Yaiba pada Dandi dan Tissa yang mengangguk dan saling berdekatan dan beberapa saat kemudian nampak sesosok pocong terlihat di hadapan Dandi yang terkejut dan menodongkan pistolnya pada sosok pocong itu yang menyeringai dan membuat mereka bertiga ngeri


"Tembak Yaiba!" Teriak Dandi yang menghujani pocong itu dengan peluru dari pistolnya diikuti Yaiba yang juga menghujaninya dengan tembakan namun percuma saja semuanya hancur saat mengenai dinding transparan yang terbentuk dari bau busuk di tubuhnya yang membentuk dinding yang ada dihadapan pocong tadi


"Jadi itu kemampuan aslinya," Gumam Tissa yang melempar 3 batu topaznya namun malah terhempas keluar karena bau busuk yang semula membentuk dinding kini membentuk tangan yang menghempaskan batu batu mulia milik Tissa


"Kita gak bisa ngalahin mereka kalau gini," Ucap Dandi ke Yaiba yang berpikir sejenak dan nampak Tissa tersenyum dan menatap mereka berdua


"gue punya 1 tapi belum tau apakah berhasil atau gak," Ucap Tissa pada Yaiba dan Dandi


Kembali ke desa nampak Tasya telah memegang pedangnya dan terus menebas siluman buaya tadi namun percuma hal itu tidak menimbulkan luka atau kerusakan apapun pada sang siluman


"Mundur Tasya!" Teriak Jefri yang melemparkan bola api pada sang siluman yang mengerang kesakitan dan begitu Tasya menebas kulit siluman buaya yang terbakar ternyata berhasil


"Jef! Gue udah tau cara ngalahin si siluman ini!" Ucap Tasya pada Jefri yang mengangguk dan mengeluarkan bola api yang lebih besar lalu melemparkannya pada sang siluman buaya hingga membuat tubuhnya terbakar dan membuat sang siluman buaya berteriak kesakitan


"SIHIR PERTAHANAN BAYONET PENGIKAT JIWA!" Nampak 5 bayonet raksasa turun dari langit dan menancap di tubuh sang siluman hingga membuatmu mengerang kesakitan dan nampak Jefri mendarat di dekat Tasya yang bersiap menyerang bersamaan dengan Jefri yang mengubah tangannya menjadi besi


"Endaru steel staf!"


"Sihir serangan hantaman besi endaru!" Kedua serangan itu berhasil mengenai tubuh siluman buaya dan melemparnya keatas lalu Jefri kembali mengubah tanganmu menjadi tangan siluman iblis


"Kalarau Dhiya gharda!" Teriak Jefri dan nampak tanah di dekatnya membentuk mulut buaya yang mencabik tubuh siluman itu hingga tewas


"Good job!" Puji Tasya pada Jefri yang mengangguk dan tersenyum


Kembali ke rumah kosong nampak kini Tissa memegang sebuah batu akik berukuran cukup besar sementara Yaiba mengaktifkan sepatunya yang mengeluarkan asap dan menyala dan juga memegang sebuah pisau berwarna biru, dan Dandi yang mengeluarkan pedang berwarna merah


"Kita siap!" Ucap Dandi pada Tissa yang mengangguk dan berlari mendekati pocong tadi yang menyerang dengan seluruh gas busuk miliknya


"Batu akik sulaiman! Peniadaan kekuatan!" Teriak Tissa yang melempar batu itu kedepan dan nampak kekuatan gas Pocong menghilang meninggalkan Yaiba yang berlari dan menebas nebas sang hantu hingga membuatnya berteriak kesakitan dan Yaiba yang tersenyum melakukan salto belakang melewati Dandi yang memotong tubuh Pocong tersebut menjadi 3 bagian dan perlahan menghilang menjadi asap


"Mission complete," Ucap mereka bertiga senang

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2