Dark Walker

Dark Walker
episode 2


__ADS_3

Pagi harinya nampak Rico telah terbangun dari tidurnya dan membuka matanya dengan malas ia masih merasa kalau apa yang terjadi padanya tadi malam adalah mimpi.


"Masih jam 6... 15 menit lagi," Kata Rico pelan sambil memeluk gulingnya dan tertidur kembali.


"Mau sampai kapan lu tidur pemalas!"


Ucap sebuah suara yang membuat Rico tertegun sejenak lalu perlahan membuka matanya dan seketika ia membuka matanya, betapa terkejutnya dia melihat Tasya telah duduk di samping tempat tidurnya dengan seragam sma lengkap.


"T...T...Ta..sya!!" Kaget Rico yang segera bangun dan menunjuk gadis itu yang terlihat biasa saja sembari melihat jam tangannya.


"Ayo cepet mandi, 20 menit lagi kita berangkat," Kata Tasya ke Rico yang mengucek matanya gak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Lu.. Kok b..b..bisa ada di rumah gue?" Tanya Rico ke Tasya yang menatapnya datar lalu tersenyum misterius padanya.


"Rico emang males gitu Tasya... Siram aja kalo susah bangun," Ujar suara ibu Rico dari luar kamarnya yang diiyakan oleh gadis itu.


"Tuh.. Mau gue siram nih?" Ancam Tasya ke Rico yang menatapnya datar lalu menggelengkan kepalanya.


"Gak perlu, gue udah 100% sadar," Jawab Rico yang bangkit dari tempat tidurnya dan segera berjalan menuju kamar mandi.


"Hati hati di jalan," Kata ibu Rico disusul kepergian mereka berdua yang mengendarai Scoopy hijau.


"Apa yang lu lakuin semalam ke gue dan mereka?" Tanya Rico ke Tasya yang tersenyum mendengar pertanyaan itu.


"Teknik manipulasi ingatan, jadi yang mereka tau gue adalah sepupu lu, btw buat yang disekolah gue juga udah dapet bantuan dari salah satu temen gue," Jawab Tasya ke Rico sambil membuka hpnya.


"Agen lain?" Tanya Rico ke Tasya yang mengangguk dan turun dari motor saat sudah tiba di parkiran.


"lu gak perlu tau soal itu," Jawab Tasya ke Rico yang hanya mengangguk malas dan berjalan menuju sekolah bersama.


"Co..," Sapa seorang pria yang datang dan berjalan perlahan dari belakang Rico.


"Sigit? Tumben telat," Sapa balik Rico disertai pertanyaan ke Sigit yang menghela napas panjang.


"Pecah ban tadi..," Jawab Sigit dan nampak ia langsung auto fokus melihat Tasya yang tersenyum melihat Sigit hingga membuatnya ikut tersenyum lalu menarik tangan Rico menjauh dari Tasya yang menatapnya heran.


"Ini siapa co? Cantik banget," Tanya Sigit ke Rico yang tersenyum dan menepuk pundak pria itu.


"Ntar gue jelasin di kelas," Kata Rico ke Sigit yang mengangguk lalu lanjut jalan bersama Rico dan Tasya. Kemudian mereka melewati lorong menuju kelas nampak seorang pria berpenampilan keren lengkap dengan jaket jeans lewat di depan mereka namun anehnya Tasya langsung bersembunyi di belakang Rico dan Sigit.


"Murid baru?" Tanya Sigit ke Rico sambil menatap pria itu yang juga ikut menatap mereka tajam lalu berjalan melewati mereka.


"Baru ketemu langsung ngajak beran..," Kata Rico yang mau mengejar pria itu namun ditahan oleh Sigit.


"Jangan sok sokan mentang mentang ada cewek cakep di belakang," Bisik Sigit ke Rico yang tertawa lalu kembali berjalan menuju kelas.


"Gak mungkin dia bisa ada disini," Gumam Tasya yang melihat pria tadi lalu kembali fokus berjalan.


"Dari arah jalannya kayanya dia anak kelas ipa 1," Gumam Sigit sambil menatap teman teman mereka yang terdiam di depan kelas melihat pria tadi.


"Oliev? Asa? tika?, Edwin? Daniel?" kalian ngapain?" Tanya Sigit ke Mereka berlima yang tanpa menoleh langsung menunjuk pria keren tadi yang masuk ke kelas ipa 1.


"Liat tuh kelas ipa 1 punya murid baru," Kata Tika yang dijawab anggukan oleh yang lain.


"Kalau kek gini bisa - bisa reputasi kita sebagai cowok cool SMANDA bakal tersaingi sama tuh cowok," Gumam Daniel yang mendapat tatapan Sinis Oliev dan Tika


"Emang lu keren?" Tanya balik Asa ke Daniel yang gak menghiraukan pertanyaan tadi sementara Oliev hanya tertawa sambil meminum es jeruknya


"Kalau cuma murid baru kita juga punya," Balas Rico sambil menunjukan Tasya dengan senyumnya ke mereka yang baru tersadar akan Tasya hingga membuat mereka tertegun dan Oliev nampak menjatuhkan es jeruknya tadi.


"Oh my god!!!" Teriak mereka berlima.


"Cakep banget!!!," Kata Daniel yang menatap gadis itu sementara Edwin tanpa basa basi langsung berjalan ke dekat gadis itu.


"Gue Edwin," Ucap Edwin sambil tersenyum cool lalu mengulurkan tangannya pada gadis.


"Tasya," Jawab gadis itu sembari menjabat tangan Edwin namun Daniel yang gak mau kalah ikut mengulurkan tangannya ke Tasya.


"Gue Dan...," Belum selesai Daniel mengenalkan diri Rico langsung menjabat tangan pria itu seraya mengajak Tasya masuk ke kelas


"Yaudah masuk gih biar dia bisa kenalin diri di kelas," Kata Rico ke Edwin dan Daniel yang menahan langkahnya.


"loh loh.. Kok lu ngatur ngatur sih?" Tanya Edwin kesal sambil menatap Rico yang tersenyum sambil menepuk pundaknya.


"Karena gue adalah KETUA KELAS..." Ucap Rico sombong ke Edwin yang tersenyum dan menatap pria itu dengan ekspresi yang sama.


"GUE WAKIL LU" Jawab Edwin ke Rico yang mengabaikan Edwin seraya tetap mengajak Tasya masuk namun pria itu pantang menyerah dan mencoba negosiasi dengan Rico.


"Ayolah... Kasih gue privasi buat deketin si Tasya," Tawar Edwin ke Rico yang tertawa dan menepuk pundak Edwin dan balas membisikinya.


"Gak, yaelah perasaan pas Jocephine sama Wanda dateng ke kelas lu gak gini amat?," Jawab Rico disertai pertanyaan pada Edwin


"Yang ini beda ***, ayolah kita kan sering nongkrong bareng?" Jawab Edwin yang pantang menyerah pada Rico.


"Gak!" Jawab Rico singkat seraya langsung memegang tangan Tasya dan membawanya masuk ke kelas.


"Ok guys kita kedatangan temen baru nih...," Kata Rico yang membuat isi kelas ribut karena sosok Tasya yang terlihat seperti artis dibanding murid sma hingga membuatnya langsung mendapat pertanyaan sebelum gadis itu memperkenalkan dirinya.


"Alamat rumah?


"No hp?"


"Id line?"

__ADS_1


"Nama ig?"


"Hobi?"


Dan banyak pertanyaan lainnya terucap di bibir para siswa dan siswi tersebut yang berusaha ditenangkan oleh Rico dan Edwin selaku ketua dan wakil ketua kelas 11 ipa 6 itu.


"Kenalin.. Nama gue Tasya Chantika gue pindahan dari sma 92 jakarta untuk semua yang kalian tanyain mungkin bakal terjawab seiring berjalannya waktu," Kata Tasya memperkenalkan diri lalu tersenyum ke mereka.


"Ok Tasya tempat duduk lu ada di samping.. Sesha, mumpung temen duduknya lagi sakit juga, dan kalau orangnya udah balik ya kursi dibelakang Ditha juga kosong, ntar lu bisa gue temenin," Ucap Edwin yang dibalas anggukan oleh Tasya yang mengangguk dan tersenyum ke Edwin seraya langsung berjalan menuju kursi di samping Sesha dan nampak ia diterima dengan baik oleh siswi siswi sana yang saling mengenalkan diri pada Tasya


"Yang disana ganteng, yang disini cantik, kalau gini gue jadi betah sekolah," Curhat Edwin ke Rico yang tersenyum dan berjalan menuju tempat duduk sembari merangkul pundak sahabatnya itu.


"Dewi udah 2 hari sakit co..," Kata Sigit ke Rico yang mengangguk lalu menyuruh Sesha menulis keterangan Sakit di absen namun Sigit masih menatapnya hingga membuat Rico heran.


"Terus kenapa?" Tanya Rico lagi ke Sigit bingung.


"Gak mau jengukin?" Tanya Sigit ke Rico yang akhirnya paham dan berpikir sejenak sembari melirik Edwin.


"Kita sih mau aja jengukin... Tapi gk tau rumahnya," Jawab Edwin ke Sigit yang mengangguk membenarkan kata - kata Edwin


"Sama kita aja.." Usul Ditha yang dibarengi anggukan oleh Bella, Sesha, Puput, Jocephine, Wanda dan Eka.


"Boleh aja sih," Jawab Edwin yang dijawab anggukan oleh Rico dan beberapa saat kemudian bel masuk pun berbunyi.


Saat Jam istirahat di kantin nampak Tasya tengah makan bersama Bella, dan Puput.


"Hai Rin... Kenalin nih murid baru di kelas gue," Kata Bella mengenalkan Tasya ke temannya.


"Hei nama gue Rossa Arinditha, tapi panggil aja gue Arin," Ucap Arin memperkenalkan dirinya.


"Tasya," Balas Tasya sembari tersenyum ke Arin yang membalas senyuman itu dan melihat kantin.


"Kita beli burger aja ya gengs," Usul Arin ke Bella cs.


"Boleh tuh," Jawab mereka bertiga serempak.


Sementara di sisi lain kantin nampak Sigit, Rafli, Hisyam, dan Rico sedang menunggu pesanan nasi mereka dan selang beberapa saat nampak murid baru ipa 1 lewat di depan mereka.


"Gayanya khas anak muda jaman sekarang," kata Rafli ke Sigit dan Rico yang terkejut dan heran dengan kata Rafli barusan.


"Ya emang kita anak muda... Lu kali yang tua," Jawab Rico ke Rafli yang terkejut mendapat jawaban itu dan menatapnya kesal.


"Bener kok co, kan doi pak tua.. Wajar aja dong kalo doi bilang gitu," Balas Sigit yang menambah bullyannya ke Rafli.


"Apa sih kalian, gak paham kata-kata gue," Jawab Rafli kesal seraya menatap mereka berdua kesal.


"Udah udah jangan bikin orang tua kesal, ntar durhaka," Jawab Hisyam yang membuat mereka tertawa.


"Nama dia Jefri," Kata seseorang dibelakang yang mengejutkan mereka.


"Win? Tau darimana?" Tanya Rico ke Edwin yang tersenyum sombong karena merasa unggul dari teman-temannya soal itu.


"Lu ada masalah sebut sebut nama gue? Iri ya sama popularitas gue?" Tanya Jefri tiba-tiba yang ternyata lewat di belakang mereka saat itu.


"Kita gak maksud apa-apa kok cuman pengen tau murid pindah..." Belum selesai Sigit bicara Jefri sudah lebih dulu tertawa dan menarik kerah baju Sigit.


"Jangan macem macem sama gue kalo gak mau terjadi hal buruk," Ancam Jefri sambil mendorong Sigit yang ditangkap oleh Rafli dan Hisyam.


"Kok lu ngegas sih!" Kata Edwin ke Jefri yang ditahan oleh Rico.


"Udah Win gak ada gunanya lu ngajak ribut ditempat kaya gini. Toh endingnya bakal berakhir di BK," Kata Rico ke Edwin seraya menatap Jefri tajam yang membuat pria itu tertawa dan mendekat ke Rico yang menepuk pundak pria itu.


"Jangan sombong lu cuman karena punya separuh kekuatan Dark Walker," Bisik Jefri ke Rico lalu segera berlalu bersama teman-temannya meninggalkan Rico yang terkejut akan pernyataan Jefri barusan.


"Pas awal masuk kelas dia juga kaya gitu ke kita kok," Kata Dafa ke Rico yang mengangguk paham dan tersenyum ke Dafa yang pamit lalu menepuk pundak Rico dan berlalu meninggalkannya.


"Yaudah nasinya udah dapet yuk kita cabut ke kelas," ucap Sigit ke Rico dan yang lainnya yang mengangguk dan berjalan menuju kelas.


Di toilet siswi nampak Oliev tengah membasuh wajahnya namun keanehan terjadi saat di belakangnya nampak seorang siswi dengan seragam sekolah dan rambut terurai ke depan menutupi wajahnya yang terlihat dari jendela namun saat ia menghadap ke belakang tidak ada apa-apa.


"Lu siapa?" Tanya Oliev ketakutan dengan makhluk yang mulai berjalan mendekat.


"Aku akan berikan satu permintaan apapun permintaanmu akan kukabulkan," Kata Makhluk itu ke Oliev yang menatapnya dengan ketakutan sementara tangan makhluk itu perlahan keluar dari cermin tadi.


"Tau gak lu soal urban legend gadis dalam toilet?" Tanya Edwin ke Rico, Sigit, dan Daniel yang sedang makan nasi bungkus yang ia beli di kantin barusan.


"Yang ada di SMS berantai itu?" Tanya Sigit ke Edwin yang mengangguk membenarkan.


"Halah gak percaya gue sama yang gituan!," Jawab Daniel ke Edwin seraya menyuap nasinya.


"memangnya ada apa dengan urban legend itu?" Tanya Rico ke Edwin yang menelan nasinya dan menunjukkan tulisan di SMS berantai itu.


"Dia gak berbahaya sih tapi kehadirannya bisa bikin orang shock dan sakit, kemunculannya adalah dia akan muncul didalam cermin dan menakuti orang dengan modus akan mengabulkan permohonan," Jelas Edwin ke Rico yang menghabiskan nasinya dan mengangguk paham akan hal itu.


"Tapi mana bisa orang mengajukan permohonan kalau ditakutin kaya gitu," Potong Daniel yang dibenarkan oleh Sigit dan Rico.


"Hp gue bunyi..," Gumam Tasya yang mengeluarkan hpnya dan melihat notifikasi di hp itu dan ekspresinya tiba tiba berubah.


"Guys... Gue ke toilet dulu ya," Izin Tasya yang langsung berjalan menjauh menuju toilet bersamaan dengan Rico yang baru menghabiskan makanannya dan langsung berlari menuju toilet.


"Rico lu mau kemana?!" Panggil Edwin yang berlari sambil mengangkat tangannya ke atas


"Gue ke toilet bentar," Ucap Rico ke Edwin dan langsung keluar kelas dan turun menuju kamar mandi bawah.

__ADS_1


"Rico? Akhirnya... Kok lu bisa tau kalau ada yang butuh bantuan?" Tanya Tasya penasaran dengan Rico yang menatapnya heran


"Lah? mana gue tau orang gue mau pergi ke toilet buat cuci tangan doang kok," Jawab Rico yang menambah laju kecepatannya menuju kamar mandi.


"Ok, abaikan lu bawa pedang kan?" Tanya Tasya ke Rico yang menunjukkan kalungnya dan langsung dibalas acungan jempol oleh gadis itu dan dari luar kamar mandi nampak sosok hantu tadi keluar dan anehnya tubuh  Oliev nampak melayang dibelakangnya.


"Conteretti class C+ Hantu gadis sekolah," Kata Tasya sambil melempar beberapa kertas yang menempel di sudut ruangan.


"Sekarang Rico!" Teriak Tasya ke Rico yang memegang kalung tadi dan tiba - tiba mengeluarkan cahaya, Ajaib! kalung itu perlahan berubah menjadi pedang dan langsung Ia pakai untuk menyerang makhluk tadi yang kini melayang ke atas menghindari serangan tadi sembari tangannya Ia arahkan  ke Rico dan anehnya sesuatu yang keras namun tak terlihat mata menghantam tubuh Rico hingga menabrak dinding.


"Rico!" Teriak Tasya yang langsung mengarahkan tangannya ke arah makhluk itu.


"Sihir serangan, bola - bola api!" Ucap Tasya sembari mengeluarkan bola api dari tangannya dan nampak makhluk tadi berusaha menghindar padahal serangan Tasya tadi gak semua mengarah ke tubuh makhluk itu.


"Uhuk.. Uhuk, Kampret kan dia manusia kok gue ngerasa kaya dihantam ekor?" Heran Rico yang mencoba berpikir sambil menatap monster itu sembari memperhatikan Oliev yang melayang di belakang makhluk itu.


"Rico?!" Panggil Tasya ke Rico yang meliriknya sambil memegang pedangnya erat lalu menatap Tasya.


"Sya... Lu tau hewan bunglon gak?" Tanya Rico ke gadis itu yang meliriknya bingung.


"Tau dong.. Emangnya kenapa? Oh jangan-jangan?," Tebak Tasya yang dibalas anggukan oleh Rico sembari tersenyum.


"Di belakang ini lab kimia... So gue butuh bantuan lu buat ulur waktu dia biar gue ambil sesuatu di dalam," Kata Rico ke Tasya yang mengangguk dan mengambil kalungnya yang berubah menjadi katana.


"Cepet ya..," Tasya memperingatkan sambil memasang kuda-kuda ke makhluk berwujud gadis sma dengan rambut menutupi wajah.


"Ok," Jawab Rico yang berlari masuk ke lab kimia dan membiarkan Tasya menghadapi makhluk itu yang tertawa cekikikan dan mengarahkan kedua tangannya ke depan lalu berteriak menyerang gadis itu yang segera melompat menghindar dan berniat mengambil Oliev yang tiba-tiba terjatuh dan langsung ditangkap oleh Tasya sembari melirik hantu itu.


"Sihir pertahanan rantai pengikat!" Ucap Tasya  yang menangkap tubuh Oliev dan langsung mengerahkan jari telunjuk dan tengah dari tangan kanannya ke depan lalu muncul sebuah rantai yang mengikat tubuh makhluk itu.


"Yes ken... Argh!" Belum selesai Febby merayakan kemenangannya sesuatu nampak menghantam perutnya hingga mundur beberapa langkah.


"Hihihihi," Tawa perempuan itu dan langsung berteriak. Seketika itu tubuh Tasya terikat hingga tidak bisa bergerak.


"Apa?!" Kaget Tasya yang mencoba meronta namun tiba-tiba tubuhnya terangkat.


"Hihihihi hahahaha," Tawa perempuan tadi saat tubuh Tasya makin mendekat ke dirinya dan nampak kedua tangannya mulai mendekat dan akan mencekiknya.


Namun, Tasya yang masih memegang pedangnya dengan sekuat tenaga langsung menusukkan pedangnya ke bagian bawah kaki hantu itu dan seketika perempuan itu berteriak kesakitan dan cairan ungu keluar.


"Heaaaa!" Teriak Tasya yang mencabut pedangnya dan akan menancapkannya lagi namun tiba-tiba Ia terjatuh.


"Rico dugaan lu bener!!" Teriak Tasya dan nampak Rico keluar dari lab kimia dan langsung melempar sekantung tepung yang pecah dan tepung itu membentuk wujud asli hantu perempuan itu yang ternyata adalah sesosok kadal dengan mata yang hampir keluar dan lidah yang berdarah.


"Kena lu..," Kata Rico sambil tertawa lalu berlari kearah Tasya yang tersenyum dan menendang pedangnya ke Rico yang langsung ia tangkap dan ia gunakan untuk menyerang makhluk itu.


"Dia adalah Jin rank B- siluman Bunglon hati-hati!" Tasya memperingati Rico yang berlari dan melompat kearah Jin itu.


"Makan nih!" Teriak Rico yang melempar pedang Tasya hingga menancap di kepala makhluk tadi yang berteriak kesakitan.


"Dan ini penutupnya!!!" Teriak Rico yang langsung melompat dan menebas leher makhluk tadi yang berteriak dan pedang Tasya segera terjatuh dari kepala monster itu.


"Yessss!!!" Teriak Tasya senang lalu tersenyum ke Rico yang mengambil pedang gadis itu lalu memotong sesuatu yang mengikatnya dan ternyata itu adalah lidah Jin.


"Lu masih butuh banyak berlatih," Ucap Tasya ke Rico yang tersenyum dan membantunya berdiri.


"Enak aja, liat sendiri gue menang," Tolak Rico ke Tasya yang dibantu berdiri.


"Tapi tetep aja cara lu lawan dia aja keliatan amburadul kek gitu," Jawab Tasya ke Rico yang tersenyum sinis ke Tasya.


"Kenapa lu gak ngajarin gue?" Tanya Rico ke Tasya yang tersenyum sombong namun ekspresinya berubah saat makhluk tadi tiba-tiba berdiri dan akan memakan mereka.


"Rico dibelakang!!" Tasya memperingati Rico yang langsung menoleh ke belakang menatap makhluk yang telah membuka mulutnya bersiap memakan mereka berdua.


"Ketemu..," Ucap seseorang dan nampak makhluk tadi tumbang oleh api merah yang membakar sisi kanan tubuhnya.


"Dark Walker ranking B peringkat 7 Tasya buronan dan terduga dalang dibalik insiden yang menewaskan 19 anggota Dark Walker termasuk ketua tim Dark Walker rank A peringkat 5 Haris," Baca Orang itu sambil menatap Rico dan Tasya bersama seorang gadis yang berkacak pinggang di samping kiri pria itu.


"Gak mungkin...," Kaget Tasya dengan ekspresi ketakutan melihat orang tadi.


"Emang dia siapa?" Tanya Rico ke Tasya yang memegang tangannya erat.


"Dia Dark Walker Rank S peringkat 5 Rizki dan Dark Walker Rank A peringkat 10 Chika," Kata Tasya memperkenalkan kedua orang itu.


"Dengan penuh hormat kuperintahkan kau kembali dan menjalani proses hukumanmu Tasya," Ucap Rizki sambil menghunus pedangnya sementara Rico hanya tertawa dan berjalan ke depan Rizki.


"Gak akan gue biar.." Ucap Rico terhenti saat tiba-tiba Ia terbanting oleh Rizki yang berada di belakangnya.


"Dark walker palsu tidak berhak bicara," Jawab Rizki dengan tatapan rendahnya sambil melirik Tasya yang terkejut dengan hal itu.


"Rico!!!".


                       TO BE CONTINUED


"Dewi kirim wa tadi dia bilang gak usah jenguk dia " Kata Ditha ke Edwin.


"Emang dia udah sembuh?" Tanya Edwin ke Ditha sambil tersenyum dan mengangguk ke Edwin.


"Gue juga gak ngerti sama gambar yang Ia kirim tadi malam," Kata Ditha ke Edwin sambil menunjukan gambar buatan Dewi yang memperlihatkan sosok makhluk yang dihadapi Rico dan Tasya tadi.


"Apaan tuh? Dewi belajar bikin komik kali," Jawab Edwin asal yang dibalas tatapan kesal Ditha.


"Ngaco kamu win," Jawabnya sambil berlalu meninggalkan Edwin.

__ADS_1


__ADS_2