
"Lepasin Tasya atau lu bakal nerima akibat...," Tanpa diduga pedang Rizky sudah berayun di wajah Rico yang langsung berkelit dan melompat untuk menjauhi Rizky.
"Akibatnya? Kau terlalu cepat 100 tahun untuk mengucapkan itu," Ucap Rizky ke Rico yang tersenyum dan menguatkan pegangan pada pedangnya.
"Ada apa dengan senyuman itu hah?" Tanya Rizky yang langsung berlari dan menebas Rico yang refleks menangkis dengan pedangnya.
Namun, dengan cepat Rizky melompat dan menendangnya walau kembali berhasil dihindari oleh Rico dan balas menebas Rizky yang berhasil menjauh.
"Taring api!"
"Tebasan cahaya vertikal!" Kedua serangan Rico dan Rizky saling beradu dan menghasilkan ledakan. Namun, dari balik asap terlihat Rizky yang sudah menebas Rico yang terkejut akan hal itu dan memuntahkan darah sementara goresan terbentuk di pinggang kirinya hingga membuat Rico terduduk sembari memegang pinggang yang terluka sementara Rizky berjalan kembali ke tempat Tasya yang dibantu berdiri oleh Tissa dan Edwin.
"Lepaskan dia atau nasib kalian akan sama dengan pria itu" Ucap Rizky. Namun, sebuah hawa yang berbahaya membuat Rizky terkejut dan langsung menebas ke belakang, tapi tidak mengenai apa-apa dan yang Ia lihat hanya Rico yang mencoba bangkit dengan kepayahan dan menatapnya tajam.
"Gue gak bakal biarin lu nyentuh Tasya!" Kata Rico ke Rizky yang mengabaikan pria itu dan berjalan makin dekat ke tempat Tasya dan saat itu sebuah ledakan api mengarah ke Rizky yang sedikit menghindar dan menatap pemilik serangan itu.
"Jangan sentuh Tasya!" Kata pria itu yang ternyata adalah Jefri dengan darah di sekitar tubuhnya, sementara Rico telah berdiri dan menguatkan pegangan di tangannya dan berjalan menuju Rizky yang tersenyum dan menjatuhkan pedangnya lalu memasang kuda-kuda.
"Aku bisa menjatuhkan kalian berdua sekarang tanpa menggunakan pedang," Ucap Rizky sombong hingga membuat Rico langsung berlari dan menebas Rizky yang menghindar dan langsung menghantam wajah Rico yang langsung terjatuh disusul tendangan Sparta tepat di dada Jefry yang langsung tumbang.
Namun, keduanya segera bangkit dan menyerang dari 2 arah yaitu di sisi kiri dan kanan Rizky yang menangkap pedang Rico serta tangan kanan Jefri.
"Kena lu," Ucap Rico dan tangan Jefri mulai mengeluarkan api yang besar sedangkan pedang Rico mulai bercahaya.
"Sihir pertahanan Reflect " Ucap Rizky dan kedua serangan itu malah berbalik mengenai Rico dan Jefri yang terkapar dan saat Rizky berbalik menatap Tasya Ia terkejut karena gadis itu sudah menghilang.
"Kemana perginya?" Kaget Rizky yang menatap Rico dan Jefri yang juga sudah tidak ada disana membuat pria itu geram.
"Untung saja aku datang tepat waktu," Ucap Joel yang berdiri di depan Rico, Jefri, Edwin, Tasya, serta Tissa yang heran dengan tempatnya sekarang.
"Tenang saja, kalian berada di rumahku," Jawab Joel yang membuat mereka sedikit lega karena walau Joel bukan teman satu tim mereka namun Joel sudah sering membantu dalam beberapa kesempatan.
"Kenapa lu bisa tau kita ada disana?" Tanya Tissa ke Joel yang tersenyum dan membuka bukunya.
"Aku kebetulan lewat didekat sana dan tertarik Dengan pilar api yang muncul tadi, dan saat aku tiba kalian sudah dalam kondisi seperti itu," Jawab Joel ke Tissa yang nampak sedikit ragu dengan pria itu terlebih kemunculannya yang terlalu kebetulan itu.
"Untuk sementara Rico dan Jefri beristirahat dulu karena kondisi mereka yang benar-benar berantakan seperti ini," Ucap Joel memberi usul ke Tasya yang mengangguk dan menatap Joel.
"Kita serahin mereka berdua ke lu Joel, biar dark game ini gue yang atasin," Ucap Tasya ke Joel yang mengangguk lalu tersenyum.
"Gue tinggal disini," Kata Tissa yang berdiri sembari menatap Joel tajam sedangkan Joel hanya tersenyum ke gadis itu lalu menatap mereka berdua.
"Yah Tissa bisa jadi bantuan untuk merawat mereka, jadi kurasa kalian berdua sudah cukup untuk menghentikan teror itu," Kata Joel menyetujui usulan Tissa yang membuat Tasya menarik napas panjang dan pamit bersama Edwin.
"Aku tau apa yang kau sembunyikan, saranku jika situasinya kritis jangan segan-segan untuk menunjukannya," Bisik Joel ke Edwin yang terdiam lalu menatap Joel tajam dan mengangguk lalu pergi mengikuti Tasya.
"Heredis neraka... Sepertinya aku harus menyaksikan kekuatan itu nanti," Ucap Joel mantap disertai senyum penuh ambisinya.
"Yang gue sembunyikan? Apa jangan jangan kemampuan taekwondo gue? Ok lah gue bakal coba nanti," Ucap Edwin yang mengepalkan tangannya dan menatap ke atas walau Ia tidak menyadari Tasya sedari tadi memperhatikannya dengan ekspresi heran.
"Nih orang kenapa sih " Heran Tasya melihat tingkah aneh Edwin dan kembali berjalan menjauh darinya...
__ADS_1
Sementara di tempat lain nampak Alfin sedang mengendarai motornya setelah membeli sekotak martabak asin namun laju motornya terhenti saat seorang gadis menghentikannya.
"Lu Alfin kan?' Tanya gadis itu ke Alfin yang terkejut dan kagum melihat gadis yang ada di depannya itu. Namun, semua berubah saat tangan tangan keluar dari kepala gadis itu dan langsung mengarah padanya dan semuanya hitam.
"Brengsek, apa yang sebenarnya terjadi?!" Heran Daniel yang tiba tepat saat Alfin sudah pingsan namun gadis misterius tadi masih ada disana dan menatap pria itu dengan seringai menyeramkan.
"makhluk rendahan, apa yang lu lakuin ke Men?!" Ucap Daniel geram namun perempuan itu hanya tertawa dan melempar sebuah gunting yang ditebas oleh pria itu dengan katana miliknya.
"hahaha!" Teriak perempuan misterius itu dan sebuah tangan yang banyak keluar dari wajahnya yang dengan mudah dipotong oleh Daniel dan nampak Prabu Asmoro bangun menyaksikan pertarungan itu dan mengeluarkan tongkatnya.
"Ada pengganggu lainnya rupanya selain kedua orang itu," Gumam Prabu yang akan menyerang Daniel namun sebuah kilat nyaris mengenai tubuhnya jika ia tidak cepat menghindar dan mendarat di belakang pria itu.
"Jadi lu orang dibalik kasus komanya anak anak SMANDA secara misterius itu?" Ucap Daniel pada Prabu yang tertawa mendengar pernyataan pria itu.
"Gue kira lu gak peduli sama masalah ini?" Ucap Prabu pada Daniel yang tertawa dan terus menghindari serangan hantu perempuan yang mengeluarkan tangan tangan misterius yang sangat banyak seakan mencoba mencekik Daniel.
"Tarian elang Jawa!" Teriak Prabu yang menyerang dengan elang - elang angin yang menyerang Daniel walau dengan mudah ia hindari.
"Jangan berikan kesempatan!" Perintah Prabu pada hantu itu yang terus menyerang dengan tangan tangan hantunya yang makin lama membuat pria itu geram.
"Flashpoint 1!" Ucap Daniel dan seketika tangan - tangan itu terpotong jadi 2 dan kepala hantu itu juga terpotong menjadi 2 lalu hantu itu mengeluarkan api yang membakar tubuhnya hingga membuat Prabu terkejut.
"Sekarang giliran lu!" Ucap Daniel yang akan menyerang namun sebuah angin kencang menyerangnya hingga membuat pandangannya teralihkan dan saat angin kencang itu hilang Prabu sudah tidak ada dihadapannya bertepatan dengan sebuah sepasang motor lewat di depannya yang refleks melempar katana miliknya.
"Daniel? lu ngapain disini?" Tanya Febby dan Evel yang terkejut melihat Alfin yang pingsan dan akan diangkat oleh Daniel.
"Gue lagi joging dan gak sengaja liat Men pingsan di jalan," Ucap Daniel panik ke Febby dan Evel
"Kalau gitu, kita bawa Men ke rumah sakit!" Ucap Febby mencoba tenang dan mereka segera membawa Alfin ke rumah sakit
"Gue punya caranya," Ucap Reno yang duduk di belakang mereka dan menunjukkan sebuah foto seorang pria bertopeng tengah memegang replika rumah aneh.
"Disanalah kelima siswa itu dibawa, dan gue punya rencana," Ucap Reno ke Edwin dan Tasya yang saling bertatapan dan mengangguk ke Reno.
"Bawa kami ke tempat orang itu," Ucap Tasya ke Reno yang tersenyum dan mengangguk ke mereka berdua. Namun, sebuah notifikasi berbunyi di hp Reno dan saat Ia membuka hpnya dan kemudian terkejut.
"Nightmare game mendapat target lagi," Ucap Reno yang menunjukan layar hpnya dan membuat mereka berdua terkejut dan saling bertatapan.
"Bella?!" Kata mereka berdua panik sementara nampak seorang gadis tersenyum menatap layar hpnya beberapa meter agak jauh dari Tasya cs.
"Sya? Lu kenapa senyum gitu?" Tanya Dini murad yang menatap gadis itu lalu tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Iya nih Ersya aneh banget dari kemarin ketawa ketawa sendiri," Kata Oliv menambah kecurigaan mereka ke Ersya sang murid baru yang menutup hpnya dan menyimpannya.
"Gak ada apa apa kok, cuman liat video kompilasi ig aja," Jawab gadis itu singkat yang dibalas anggukan oleh mereka.
"Yaudah kita bagi 2 aja, Gue bakal pergi bareng re..,"
"Biar gue aja, lu tolong si Bella," Potong Edwin yang menatap Tasya yakin hingga membuat Tasya terdiam dan berpikir sebelum akhirnya menatap mereka lalu mengangguk dan memegang pundak Pria itu.
"Gue percaya sama lu Win, dan gue janji bakal selametin Bella dan gak bakal biarin dia dibawa ke dunia lain oleh nightmare game itu," Ucap Tasya ke Edwin lalu mereka tersenyum dan melakukan tos sementara Reno hanya menatap ke arah lain melihat aksi mereka berdua
__ADS_1
**********
"Akhirnya kalian sadar juga," Ucap Tissa yang melihat Rico dan Jefri tersadar dan memegang luka mereka masing masing.
"Sudah berapa lama kami pingsan?" Tanya Rico ke Tissa yang mengambil makanan yang sudah ia buat.
"Hampir 24 jam," Jawab Tissa singkat sembari memberikan makanan itu ke Rico dan Jefri yang mulai memakannya.
"Apa ada perkembangan soal kasus nightmare games?" Tanya Jefri ke Tissa yang mengangguk dan menunjukkan hpnya.
"Kak Alfin jadi korban kelima kasus ini dan kak Bella korban selanjutnya," Ucap Tissa ke Rico dan Jefri yang mengangguk dan langsung turun dari kasur itu walau dihadang oleh Tissa.
"Tenang dulu kak, kalian masih belum pilih," Kata Tissa memperingati mereka berdua yang tersenyum dan saling bertatapan.
"Kita gak pernah ngerasa sepulih ini," Ucap Rico yang dibalas tawa oleh Jefri yang membuat Tissa heran dan pintu kamar itu pun terbuka dan Tissa segera bersiap menunggu siapa orang yang membuka pintu itu.
"Edwin baru saja bergerak mencari pemilik nightmare game sedang Tasya menolong Bella," Ucap Joel yang ada di balik pintu itu membuat Tissa makin curiga darimana ia tahu semua informasi itu.
"Kalau gitu gue bisa serahin Tasya ke lu," Ucap Jefri ke Rico yang menatapnya lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya ke Jefri.
"Gue serahin pemilik nightmare game ke lu Jef," Ucap Rico ke Jefri yang menjabat tangan itu lalu tersenyum dan mereka segera keluar dari rumah itu disusul Tissa yang menatap Joel tajam.
"Gue gak tahu rahasia apa yang lu sembunyikan tapi gue bakal selalu awasin lu," Ucap Tissa ke Joel dengan tatapan sinis walau dibalas senyum oleh Joel sembari menatap gadis itu yang berjalan mengikuti Jefri dan Rico.
"Rico menuju lokasi Bella, Jefri dan Tissa menuju lokasi Nightmare games. Dan Tissa nyurigain gue," Gumam Joel sembari tersenyum licik dan berbalik masuk ke dalam rumahnya.
********
Kembali ke tempat Bella nampak Gadis itu mengendarai mobilnya pulang dari sekolah setelah kondisi yang kurang baik namun tiba tiba pesan di hpnya berbunyi dan ternyata adalah ajakan dari teman-temannya untuk nongkrong di sebuah cafe yang diterima oleh Bella yang langsung bergerak menuju kesana dan sesampainya di sana Ia segera masuk dan terlihat Puput, Ditha, Sesha, Wanda, Jocephine, Dewi, Ersya, serta Eka duduk disalah satu kursi dan saat bella akan berjalan kesana keanehan terjadi.
semua orang disana mulai tersenyum aneh dan tangan tangan keluar dari kepala mereka termasuk pada teman teman Bella yang langsung melayang menuju Bella yang berlari menjauh. Tetapi orang orang mulai bangkit dan mengejar gadis itu yang berlari cepat menuju jalan keluar, tapi makin banyak tangan-tangan aneh di sana.
"Lu gak akan bisa lari Bella," Ucap Dewi yang dipaksa tersenyum oleh tangan-tangan yang keluar dari kepalanya membuat Bella merasa ngeri dan langsung berlari masuk ke dalam cafe itu. Tapi, malah buntu dan Bella hanya bisa berbalik dan menatap orang-orang dengan banyak tangan dikepalanya mulai berjalan mendekati gadis itu yang mulai menutup matanya pasrah.
Namun, sebuah bola api terlontar kearah orang orang itu hingga membuat mereka berterima kesakitan dan Tasya nampak berdiri di pintu.
"Sihir pelindung cahaya penghangat," Ucap Tasya yang berjalan ke dekat Bella dengan bola api penghangat di tangannya yang sangat ditakuti oleh mahluk makhluk itu.
"Hahaha sepertinya kali ini aku kepergok ya," Ucap Dewi sekartaji yang berdiri diantara makhluk makhluk itu yang menghilang begitu mendengar jentikan jari gadis bertopeng itu sementara orang orang itu pingsan.
"Kali ini gue gak bakal biarin lu ambil temen gue lagi," Kata Tasya mantap ke Sekartaji yang tertawa mendengar kata kata itu.
"Oh ya? Sepertinya percuma aja bilang gitu karena kehendak nightmare game gk akan bisa diubah bahkan oleh Dark Walker kek elu," Ucap Sekartaji ke Tasya yang mengeluarkan pedangnya, sedangkan Bella hanya bisa diam melihat kejadian yang ada di depan matanya.
Sementara di sebuah gedung tua nampak Reno dan Edwin tiba di lantai 2 gedung itu dan terlihat sebuah replika rumah yang dipegang oleh pria berjubah yang membuat Reno dan Edwin bersiap.
"Dialah pemilik nightmare game Sabdoh palon," Ucap Reno menerangkan ke Edwin yang memasang kuda kuda diikuti oleh Reno sementara Sabdoh palon hanya tertawa dan memegang miniatur rumah itu.
"2 korban lagi maka aku bisa menggunakannya untuk persembahan paduka kalarau," Ucap Sabdoh Palon yang membuat mereka berdua tersenyum.
"Gak bakal kami biarin," Ucap mereka berdua bersamaan dan langsung berlari menuju Sabdoh Palon.
__ADS_1
"Menarik... Majulah kalian," Tantang Sabdoh Palon ke mereka berdua.
TO BE CONTINUED