
"Saya antar," ucap Shaka tegas saat Stella tiba-tiba berpamitan untuk pulang.
"Tidak perlu, Pak. Saya bisa sendiri. Kostan saya 'kan dekat," tolak Stella halus.
Tanpa menunggu persetujuan Stella, Shaka langsung menarik tangan Stella menuju basemant dengan satu tangan yang lainnya membawa makanan yang Ron bawa. Stella benar-benar tidak tahu rasa apa yang saat ini menderanya.
Kejadian tadi membuat pikirannya mendadak blank. 'Ini benar-benar gila! Pak Shaka mencuri ciuman pertamaku!' gerutu Stella dalam hati begitu kesal.
"Mau jalan kaki saja?" tawar Shaka yang bodohnya, hanya diangguki oleh Stella. Shaka mengulas senyum tipis hingga membuat Stella ingin mengumpat keras. Senyum yang Shaka tunjukkan seperti senyum mengejek.
Sambil tangannya masih di gandeng, Stella mengikuti langkah kaki Shaka seperti anak yang patuh pada ibunya. "Mengapa kamu berubah pendiam hari ini?" tanya Shaka saat keduanya akan menyebrang di zebra cross.
Stella memutar bola matanya jengah. "Cerewet dapat menyebabkan hipertensi dan hipotensi secara bersamaan," jawab Stella yang membuat Shaka tergelak renyah.
Melihat Shaka yang tertawa, Stella justru semakin kesal dibuatnya. Dia ingin memarahi Shaka habis-habisan namun, kata-katanya hanya berakhir di pangkal lidah ketika Shaka menuntunnya menyeberangi jalan.
"Kamu deg-degan ya?" goda Shaka disertai kekehan geli.
Stella mendongak, menatap profil samping sosok tampan seorang Arshaka Virendra. "Bapak bisa mendengarnya?" tanya Stella dengan kelopak mata membulat sempurna.
"Kamar kostan kamu yang mana? Disini kostan untuk umum ya?" tanya Shaka di luar jawaban yang Stella tanyakan.
Stella menoleh ke depan dimana kostannya sudah di depan mata. "Iya, ini untuk umum," jawab Stella apa adanya.
Shaka berhenti melangkah dan menunduk untuk bertemu tatap dengan Stella. "Berarti, saya boleh masuk?" tanyanya penuh harap.
Stella langsung melotot tajam. "Mengapa sekarang Bapak jadi pandai menggoda sih? Biasanya, muka Bapak tuh kaku," ucap Stella tidak habis pikir. Namun, sedetik kemudian Stella tersenyum girang.
"Apa misi saya untuk membuat Pak Shaka tersenyum sudah berhasil?" tanya Stella dengan mata berbinar.
__ADS_1
Shaka berdehem pelan, terlalu malu untuk mengakuinya. "Jangan terlalu percaya diri," jawabnya kembali bernada dingin.
.................
Semalaman Stella tidak bisa tidur akibat ciuman yang Shaka berikan pada bibir sucinya. Akibatnya, kantung di bawah matanya tampak muncul. Dengan malas, Stella beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi. Dia harus bersiap untuk ke kantor.
Tidak berselang lama, Stella sudah kembali dan memakai baju rapi. Setelah itu, setelah memilih sarapan terlebih dahulu dengan memanaskan makanan yang semalam Shaka bawakan untuknya.
Stella tersenyum mengingat itu. Boss kaku itu terlalu gengsi untuk mengakui kehebatan yang Stella miliki. Semalam, Stella tidak mengizinkan Shaka untuk mengantar hingga di depan kamar. Stella tidak mau dicap buruk oleh sebagian penghuni kost karena membawa seorang laki-laki ke kamar di waktu yang sudah terbilang malam.
Butuh waktu dua puluh menit untuk Stella benar-benar siap. Setelah itu, Stella keluar kamar menuju parkiran motor. Dia harus segera berangkat sebelum Shaka datang menjemput.
Entah mengapa, Stella seperti ingin menghindari Shaka terlebih dahulu. Ciuman itu benar-benar sudah merubah dunia Stella yang awalnya biasa saja menjadi jungkir-balik tidak beraturan.
Saat sudah berada di depan jalan raya, Stella bernapas lega karena mobil mewah itu belum ada disana. Dengan cepat, Stella menjalankan motornya menuju kantor. Rasanya, hati Stella begitu lega bisa terhindar dari bosnya.
"Akhirnya, aku bisa berangkat menggunakan motor lagi!" pekik Stella girang seraya menikmati udara pagi hari yang menyegarkan.
"Stella!" panggil seseorang yang tidak lain adalah Ana. Stella mengulas senyumnya kemudian berjalan mendekat pada Ana yang saat ini sedang menunggunya di depan lobi.
Stella melambaikan tangan lalu berlari kecil ke arah Ana. "Hari ini, kamu tidak berangkat bersama pak Shaka? Kenapa?" tanya Ana saat Stella sudah berada di hadapannya.
Stella mencebikkan bibirnya. "Tolong jangan bahas itu dulu, bisa tidak?" kesal Stella lalu menghembuskan napasnya ke atas hingga membuat poninya menyembul.
Ana terkekeh. "Wah, sepertinya kamu sangat tertekan," ledek Ana yang berhasil membuat Stella mendengkus kesal.
"Kita naik sekarang saja?" ajak Stella meminta persetujuan yang segera mendapat anggukan dari Ana. Namun belum sempat Stella melangkah, tangannya tiba-tiba dicekal oleh seseorang dari belakang. Ketika Stella menoleh, ternyata Gavin pelakunya.
Stella menatap tak suka dan menghempaskan tangan Gavin kasar. "Jangan sembarangan menyentuhku!" sentak Stella dengab tatapan tajamnya. "Beri aku waktu untuk bicara padamu. Aku mohon," pinta Gavin dengan wajah melasnya.
__ADS_1
Stella menggeleng. "Maaf, tapi aku tidak punya waktu yang cukup untuk mengobrol," jawab Stella ketus kemudian akan berlalu meninggalkan Gavin.
Namun, dengan kasar, Gavin kembali menarik pergelangan tangan Stella hingga membuat sang empunya mengaduh kesakitan. "Gavin sakit! Lepas!" pekik Stella tidak terima.
Ana berusaha membantu Stella agar terlepas dari belitan tangan Stella. Namun, usahanya sia-sia karena tenaga Gavin tidak sebanding dengan tenaga yang dia punya. Akhirnya, Ana memilih berteriak mencari bala bantuan.
"Tolong! Tolong! Teman saya mau diculik!" pekik Ana yang anehnya, tidak ditanggapi dengan baik oleh orang-orang di sekitar. "Mengapa semua diam dan tidak membantu? Sungguh aneh," ucap Ana merasa heran.
Stella semakin diseret oleh Gavin menuju mobilnya. Ana yang melihat itu begitu panik hingga kepalanya celingukan mencari seseorang yang pasti bisa membantu Stella. Mata Ana melihat mobil mewah yang memasuki area kantor.
Ana langsung menghadangnya hingga terdengar bunyi decitan ban yang beradu dengan cor. Orang yang berada di dalam mobil terlihat tidak terima hingga memilih keluar. "Pak, tolong! Tolong Stella! Dia ... Itu ...." Ana berkata terbata-bata.
Shaka mengikuti telunjuk Ana mengarah dan menemukan Stella sedang diseret paksa oleh Gavin untuk masuk ke mobilnya. Tangan Shaka mengepal. Tanpa memikirkan hal lain, Shaka berlari ke arah Stella untuk menyelamatkannya.
Stella yang tidak terima dengan perlakuan Gavin, segera mengeluarkan kekuatan tersembunyinya. "Lepaskan aku! Atau kamu akan tahu akibatnya!" peringat Stella yang tidak diindahkan oleh Gavin.
"Ikut aku sekarang!" bentak Gavin yang sama sekali tidak membuat Stella takut. Justru, amarah Stella semakin memuncak hingga tenaganya seperti telah terkumpul kembali.
Dalam satu kali tarikan, Stella berhasil menarik tangannya dari cekalan Gavin. Dengan napas naik-turun menahan amarah, mata menatap nyalang pada Gavin, Stella mengayunkan kakinya untuk dia tendangkan pada paha Gavin.
Buk!
Buk!
Buk!
Dan dengan satu kali tarikan, Stella sudah berhasil membekukan Gavin sehingga dia sudah tidak bisa berkutik. Stella telah memelintir tangan Gavin dan menaruhnya di balik punggung. "Sakit, tolong lepaskan. Tanganku bisa patah," lirih Gavin merasa kesakitan.
Stella mengabaikan lolongan Gavin. Dengan sisa tenaga yang ada, Stella mendorong tubuh Gavin hingga tubuh tinggi dan kekar itu tersungkur di tanah.
__ADS_1
"Rasakan! Kamu lupa, aku pernah menang lomba Taekwondo? Kamu harus mengingatnya Gavin!" ucap Stella penuh kemenangan.
Semua yang menyaksikan aksi Stella, hanya bisa melongo dengan mulut terbuka. Tak terkecuali Shaka, dia benar-benar takjub dengan sosok Stella yang begitu kuat. Mungkin, Shaka punya panggilan baru untuk Stella mulai hari ini, yaitu Wonder Stella.