
Malam semakin larut namun, Stella belum sanggup memejamkan mata. Rasanya, malam berjalan dengan lambat dan matanya sama sekali tidak merasakan mengantuk.
Stella bangkit lalu menjambak rambutnya frustasi. "Kenapa kepikiran Boss menyebalkan itu terus sih! Aku 'kan pengen tidur nyenyak!" geram Stella merasa kesal pada diri sendiri.
"Lagian, kenapa aku harus merasa terganggu dengan ucapan mbak Ratu sih? Kenyataannya kan tidak seperti itu. Argh! Ini semua gara-gara mbak Ratu!" teriak Nala lalu mengusap wajahnya kasar.
Nala mengambil ponsel yang tergeletak di lantai sebelah kasurnya berada. Dia mencari nama Shaka disana dan berniat ingin meneleponnya. Namun, saat mata Nala sudah di hadapkan dengan pemilik nomor bernama Pak Boss yang tidak lain adalah Shaka.
Stella menarik dan menghembuskan napas beberapa kali sebelum mencoba menghubungi Tuan-nya itu. Namun, sudah lima belas menit Stella mengumpulkan keberanian, selama itu juga Stella tak kunjung mendapatkannya.
Akhirnya, Stella memilih menaruh ponselnya kembali. Mungkin, berbicara langsung pada Shaka lebih baik daripada berbicara lewat telepon. Ya, besok Nala akan datang pagi-pagi ke apartemen sang Tuan Muda. Sekarang, Nala harus berusaha tidur agar tidak besok tubuhnya bisa lebih segar.
Matahari kembali bersinar saat Stella sudah sampai di depan pintu apartemen Shaka. Setelah mengumpulkan keberanian, Stella berniat menekan bel namun, hal itu urung dilakukan karena pintu apartemen tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang wanita yang ... Cantik.
Stella menelan saliva susah payah karena di belakang wanita tersebut ada Shaka yang bertelanjang dada. Stella menunduk ketika tatapnya bertemu dengan Shaka. "Maaf karena sudah menganggu pagi Bapak. Saya akan bicara nanti saja. Kalau begitu, saya pamit dulu," ucap Stella berpamitan dan tanpa menunggu jawaban, berlalu begitu saja menuju parkiran.
Stella memegangi dada sebelah kirinya. Ada sesak yang berusaha ditahan, ada kecewa yang berusaha diredam dan ada marah yang berusaha disingkirkan. "Mengapa rasanya sesakit ini? Padahal aku bukan siapa-siapa yang berhak untuk melakukan apa-apa," gumam Nala berhenti sejenak di pinggir motornya terparkir.
Setelah berhasil menguasai diri, Stella menjalankan motornya menuju suatu tempat yang lumayan jauh dari kantor tempatnya bekerja. Dia memilih untuk izin tidak masuk hari ini.
Anggap saja Stella pengecut karena tidak mampu bersitatap dengan atasannya. Tetapi, apa yang hatinya rasakan lebih penting. Stella ingin menjaga hatinya agar tidak sakit terlalu dalam.
Sebelum sampai di tempat tujuan, Stella menepikan motornya laku mencari ponsel di dalam tasnya untuk menghubungi Ana.
Tut. Tut. Tut.
"Hallo?"
"Ana. Tolong buatkan aku surat izin dan serahkan pada pak Shaka. Aku tidak bisa bekerja hari ini karena harus ke suatu tempat,"
__ADS_1
"Kemana? Mengapa kamu tidak memberitahuku?"
"Lain kali aku akan cerita. Tolong buatkan ya?"
"Baiklah. Tapi ingat, kamu masih berhutang cerita padaku,"
Akhirnya telepon ditutup. Stella menghela napas panjang lalu kembali menjalankan motornya menuju tempat yang sudah lama sekali tidak dikunjunginya.
Sekitar dua jam perjalanan motor dengab kecepatan 140 km/ jam, akhirnya Stella sampai di tempat tujuan. Tempat tersebut merupakan sebuah perkebunan teh yang sangat luas dan dijadikan tempat wisata yang estetik. Karena itulah banyak sekali muda dan mudi yang mengunjungi tempat tersebut untuk tempat berekreasi melepas stress dan penat yang ada.
Setelah motornya terparkir, Stella memilih masuk melewati tumbuhan teh dan naik ke jembatan panjang yang terbuat dari bambu. Disana Stella berhenti melangkah dan menatap pemandangan yang disuguhkan, membentang indah.
Sejenak, perasaan hatinya sedikit membaik karena suasana sekitar yang begitu menenangkan. Stella merentangkan tangan di samping tubuh kemudian memejamkan matanya lembut.
"Apakah terasa nyaman?" tanya suara yang entah sejak kapan si pemilik sudah berada di belakang Stella. Stella mendengkus pelan, merasa usahanya datang jauh-jauh kesini sia-sia karena diganggu seorang pria tidak dikenal.
Stella tidak berniat menjawab dan memilih untuk menjauhkan diri namun, semua itu sia-sia karena pria tersebut menarik tasnya.
Stella mengernyit heran. "Apanya yang lucu? Kok ketawa?" tanya Stella tidak habis pikir.
"Bukan. Aku tidak berniat untuk menyopet. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku merasa, wajah kita sangatlah mirip," ucap sang pria sambil menelisik wajah Stella.
Stella melongo. Mirip? Yang benar saja? "Setelah ini, jangan bilang kalau kita berjodoh," ucap Stella menebak apa yang akan pria di depannya katakan.
"Bukan. Aku hanya sedang mencari kembaranku yang hilang. Saat aku melihatmu, aku seperti melihat diriku dalam dirimu," ucap pria tersebut tersenyum sendu.
"Oh maaf jika aku mengingatkanmu pada sosok kembaranmu," jawab Stella merasa tidak enak.
Pria tersebut menggeleng. "Bukan masalah. Apa kau datang sendiri?" tanya pria tersebut ramah.
__ADS_1
Stella mengangguk. "Iya, aku datang sendiri,"
"Apa boleh jika aku meminta waktumu untuk mengobrol sebentar denganku?" tawar pria itu memohon.
Stella tampak menimang sebelum menjawab. Menghabiskan waktu dari melarikan dirinya bersama pria tsmaoj tidaklah buruk. "Baiklah," jawab Stella pada akhirnya.
Sang pria tersenyum lebar. "Kalau begitu kita duduk saja disana. Aku akan menraktirmu," ucapnya yang membuat senyum Stella merekah dengan mata yang berbinar. Sungguh, tidak ada nikmat yang paling indah selain nikmat mendapat gratisan.
"Oh iya, kita belum sempat berkenalan. Namamu siapa?" tanya pria tersebut ramah setelah berhasil duduk dan memesan kopi beserta camilannya.
"Namaku Crystella. Bisa di panggil Mawar," ucap Stella terkikik sendiri ketika mengingat asal-usul nama mawar yang selalu menjadi nama samaran sebagai penjual bakso boraks.
"Yang benar ...." Pria tersebut tampak merasa aneh dengan nama asli dan nama sebutan Stella yang tidak nyambung.
Stella meledakkan tawa saat pria tersebut mudah sekali ditipu.
"Panggil saja Stella. Kamu sendiri, siapa namamu?" tanya Stella.
"Namaku Crystello—"
Keduanya saling lempar tatap ketika menyadari nama mereka hampir mirip. Hanya beda huruf belakanganya saja.
"Yang benar?" Kini giliran Stella yang merasa ditipu.
"Aku juga baru menyadari kalau nama kita hampir sama. Tetapi, ini memang nama asliku. Ini KTP-ku," ucap pria tersebut sambil menunjukan KTP-nya.
Stella menatap Kartu tersebut dan membaca tanggal lahir yang tertera. Nala geleng-geleng kepala, mungkin semua ini hanya kebetulan. "Tanggal lahir kita beda," ucap Stella kemudian menunjukan kartu identitasnya.
Keduanya tergelak renyah menyadari bahwa mereka terlalu konyol. Mana ada kembaran yang sudah lama berpisah dan di pertemukan kembali hanya karena memiliki nama yang hampir sama?
__ADS_1
"Sepertinya, kamu sudah terlalu terobsesi untuk menemukan kembaranmu. Sehingga, setiap mendengar nama atau wajah yang mirip denganmu, kamu menganggap dan berharap bahwa itu adalah saudara kembarmu," ucap Stella panjang lebar.
"Tidak masalah. Semoga cepat di pertemuan dengan kembaranmu ya," ujar Stella lagi memberi semangat.