
"Terima kasih ya, Stella," celetuk Shaka begitu saja saat keduanya sudah berada di mobil untuk mengantar Shaka memotong rambut. Ya, Stella amati rambut Shaka sudah terlalu gondrong.
Sebenernya, Stella tidak masalah dengan hal tersebut. Mau seperti apapun penampilan Shaka, bagi Stella tetaplah tampan dan menawan. Namun, Shaka mengatakan bahwa hal itu membuat penampilannya menjadi tidak rapi. Akhirnya setelah puas bercerita, Shaka meminta Stella menemaninya ke tukang cukur.
"Terima kasih untuk apa, Pak?" tanya Stella heran.
Sesekali Shaka menoleh untuk menatap profil samping Stella lalu kembali fokus lagi pada jalanan di depannya. Ya, Shaka sedang membagi fokus saat ini.
"Terima kasih karena sudah sudi menjadi pendengar yang baik untuk segala keluh kesahku," jawab Shaka tulus.
"Atutu. So sweet sekali Pak Bossku. Belajar darimana, Pak?" tanya Stella dengan senyum tengilnya.
Shaka terkekeh lalu geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Stella. "Aku bisa meminta sesuatu tidak?" ucap Shaka lembut.
Stella mengangguk. "Boleh. Memangnya Bapak mau meminta apa dariku?" tanya Stella dengan tatapan tidak beralih menatap wajah tampan Shaka.
"Jangan panggil 'pak' lagi ya? Aku bukan Bapak kamu loh. Biar lebih romantis, kamu panggil aku yang lainnya dong," pinta Shaka merengek layaknya anak kecil.
Stella terkekeh geli mendengar permintaan Shaka. Seseorang yang dulunya kaku sekarang sudah berubah menjadi seseorang yang lucu.
"Bapak mau di panggil apa? Mas? Bang? Sayang?" tanya Stella meminta pendapat.
"Mas Sayang bolehlah," jawab Shaka tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.
Stella magut-magut tanda paham. "Baiklah Mas Sayang," jawab Stella yang berhasil membuat pipi Shaka memerah seketika.
"Woah! Pak Shaka blusing?" pekik Stella heboh.
__ADS_1
Shaka ingin sekali bersembunyi saat ini. Beruntung, mobil yang dikendarainya sudah sampai di tempat tujuan. Stella terdiam menatap sekeliling dimana tukang cukur yang dimaksud Shaka tidaklah seperti yang ada dalam benak Stella.
"Apakah ini yang Bapak sebut dengan tukang cukur? Semewah ini Bapak sebut tukang cukur?" tanya Stella tidak menyangka.
"Memangnya kenapa?" tanya Shaka tanpa beban.
Stella memutar bola matanya malas. "Ini namanya bukan tukang cukur sembarangan saudara bapak Arshaka Virendra," ucap Stella kesal dengan penuh penekanan.
"Aku tahu. Ayo turun. Kalau tidak segera turun, nanti aku cium kamu," ancam Shaka yang langsung mendapat pelototan tajam dari Stella.
Shaka tergelak renyak kemudian turun lebih dulu disusul Stella yang bibirnya masih cemberut. Shaka berhenti sejenak untuk menunggu Stella agar langkahnya beriringan dengan langkah Stella.
Setelah sampai, Shaka langsung menggandeng tangan Gadis berlesung pipi itu lembut. Tidak ada suara yang Shaka ucapkan. Namun, perlakuan manis Shaka sudah cukup membuat hati Stella bersorak gembira.
'Wow! Sepertinya pria berwajah kaku itu sudah bertransformasi menjadi pria romantis,' batin Stella bahagia.
"Selamat datang Tuan dan Nona. Siapa yang mau dicukur?" tanya seorang pria yang penampilannya begitu macho. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang jika sudah bekerja di sebuah salon rambut akan berubah menjadi gemulai.
Stella mengarahkan tangannya pada Shaka tanpa sepatah kata. Dia sedang bingung apakah harus memanggil Shaka dengan kekasih atau bos.
"Saya yang mau cukur," jawab Shaka pada akhirnya.
"Silahkan duduk dulu, Tuan. Untuk Nona, silahkan duduk disana untuk menunggu kekasih Anda," ucap pria tersebut ramah lengkap dengan senyum manisnya.
Stella mengambil posisi duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan. Tidak berapa lama ada seorang wanita yang membawakan minuman untuknya. Setelah mengucapkan terima kasih, wanita itu berlalu.
Perhatian Stella kali ini tertuju pada Shaka kembali. Pria yang tadi menyambut sempat pamit ke dalam untuk mengambil sesuatu. Kini, pria Tiu sudah kembali dan bersiap memotong rambut Shaka.
__ADS_1
"Rambutnya mau dipotong model apa, Tuan?" tanya pria itu yang tentunya bisa di dengar Stella dengan baik karena jaraknya masih terbilang dekat.
Stella bisa melihat Shaka tersenyum. "Tolong dipotong model Cepmek ya, Mas," jawab Shaka yang membuat mata Stella membulat sempurna.
Sedangkan pria yang akan mencukur, dia sudah tertawa terbahak-bahak mendengar model rambut yang Shaka sebut. Pasalnya, model rambut itu merupakan nama yang akhir-akhir ini sedang viral di media sosial.
Akhirnya, Stella terkikik geli dengan geleng-geleng kepala. "Mengapa pak Shaka jadi ikutan somplak ya?" gumam Stella tidak habis pikir.
"Baiklah. apakah Taun benar-benar ingin di potong dengan model Cepak Mekar?" tanya pria tersebut dengan tawa yang masih tersisa.
Shaka meringis. "Tidak. Saya hanya bercanda. Tolong potong yang rapi ya, Mas," ucap Shaka pada akhirnya.
"Tidak masalah, Tuan. Akhir-akhir ini, banyak sekali pengunjung yang datang dan mengatakan ingin cukur model Cepmek. Hanya saja, Tuan sedikit berbeda dari mereka," ucap pria tersebut menjelaskan sambil tangannya sibuk menjepit rambut Shaka menjadi beberapa bagian.
"Memang apa bedanya?" tanya Shaka penasaran.
"Bedanya pas saya bertanya mereka mau cukur rambut model apa, mereka justru balik bertanya. 'kamu nanyaek, kamu bertanyaek-tanyaek?' gitu, Tuan," jelas pria tersebut.
Stella sudah menahan tawanya agar tidak meledak. Bisa-bisanya dua pria yang terlihat begitu manly bisa tahu tentang model rambut Cepmek. Sungguh meresahkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Yuk, tinggalkan jejak kalian disini 😘...
...mampir juga kesini yuk👇...
__ADS_1