Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 28. Vitamin A


__ADS_3

Cukup lama keduanya berpelukan hingga Stella melayangkan protes karena sulit bernapas, Shaka baru melepaskan pelukan.


"Pak, aku tidak bisa bernapas dengan baik," rengek Stella meminta di lepaskan.


Shaka akhirnya melonggarkan pelukan dan terkekeh pelan. "Maafkan aku. Aku terlalu bahagia hari ini," ucap Shaka tersenyum. Kedua tangan Shaka terulur membingkai wajah Stella.


Senyum Shaka mengembang bahagia ketika tatapnya bertemu dengan mata Stella. "Boleh cium atau tidak?" tanya Shaka bermaksud meminta izin.


Stella memicing dengan senyum miringnya. "Tumben sekali Bapak meminta izin. Biasanya juga—"


Ucapan Stella terpotong ketika Shaka tiba-tiba mengecup bibirnya sekilas. "Berarti, aku tidak perlu meminta izin dong ya? Baiklah jika itu maumu," ucap Shaka dengan senyum misterius.


Stella yang paham akan arti senyuman itu, melotot tajam. "Jangan main sosor saja dong, Pak. Bapak diam sebentar bisa tidak?" tanya Stella lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Shaka.


Shaka balas merengkuh pinggang ramping Stella kemudian tatapannya tertuju pada bibir ranum milik sang Gadis yang hanya dipoles liptint. Dengan tatapan mata sayu, keduanya saling menatap dan bertukar oksigen karena jarak wajah keduanya hanya berjarak lima sentimeter.


"Pak?" panggil Stella yang kini suaranya pmelirih namun sangat lembut.


"Hm?"


Stella menempelkan keningnya dengan kening Shaka terlebih dahulu. Senyumnya tersungging lembut hingga membuat Shaka membalas senyuman itu.


Stella memberanikan diri untuk menempelkan bibirnya pada bibir Shaka hingga erangan kecil berhasil lolos dari mulut Shaka.


"Jangan lakukan itu lagi. Aku takut tidak bisa menahan," lirih Shaka memejamkan mata erat, begitu khawatir semua akan berakhir buruk ketika Stella berbuat lebih.


Tetapi, Stella mengabaikan peringatan Shaka yaitu dengan menyesap sedikit bibir bagian bawah Shaka. Merasa terpancing, Shaka menarik tengkuk Stella dan memperdalam ciuman dengan melesakkan lidah, menerobos masuk dan mengabsen deretan gigi putih Stella.


Erangan kecil berhasil lolos dari mulut Stella hingga membuat Shaka semakin terbakar api. Tangannya tidak tinggal diam dan mere mas di tempat-tempat favoritnya. Tempat yang selama ini hanya bisa dibayangkan tanpa bisa menyentuh. Kini, Shaka seperti diberi kesempatan untuk menyentuh benda-benda tersebut.


Tok. Tok. Tok.


Tiba-tiba pintu ruangan Shaka diketuk dari luar. Terpaksa, Stella menjauh dengan napas yang masih terengah-engah. "Ada orang, Pak," beritahu Stella yang mendapat anggukan dari Shaka.

__ADS_1


Tok. Tok. Tok.


"Sialan! Siapa sih, mengganggu saja," kesal Shaka frustasi.


Stella terkekeh pelan. "Aku buka dulu ya, Pak?" izin Stella.


"Biar aku saja. Kamu rapikan dulu penampilan kamu," jawab Shaka dengan senyum smirk yang terulas.


Stella geleng-geleng kepala melihat penampilannya sendiri yang sudah sangat berantakan dengan tiga kancing kemeja teratas yang sudah terlepas.


Stella menurut dan menatap kepergian Shaka untuk membuka pintu. Sebenarnya hal itu tidak pernah Shaka lakukan. Berhubung Stella ada dalam ruangan dalam keadaan berantakan, Shaka tidak ingin miliknya dilihat orang lain. Stella hanya milik Shaka.


Ceklek.


Shaka menatap datar pada sosok di hadapannya. "Kenapa? Bukankah uang pesangonmu sudah sangat cukup?" tanya Shaka ketus.


"Boleh saya memberikan penawaran untuk Bapak? Saya masih ingin bekerja, Pak," ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Ratu, si pemilik akun Lambe Turah.


"Masuklah," titah Shaka lalu melenggang masuk.


"Tidak perlu tutup pintu," ucap Shaka kesal saat Ratu bergerak menutup pintu bahkan menguncinya.


"Kamu tidak dengar ucapan saya?" ketus Shaka terdengar dingin.


Mata Stella sejak tadi selalu mengawasi pergerakan Ratu yang terlihat begitu berani dari balik sofa. Stella bukannya takut. Dia hanya ingin melihat seberani apa seorang Ratu yang katanya akan melakukan segala cara jika sudah menginginkan sesuatu.


Jangan tanya Stella tahu darimana. Yang jelas, bukan dari Ratu ghibah melainkan dari karyawan yang tidak sengaja obrolannya terdengar oleh Stella saat berada di kantin.


Stella sungguh kasihan pada Ratu yang kini semuanya berbalik menyerang. Akhirnya, nasib seseorang yang suka menebar gosip kini jadi bahan gosip juga.


'Kenapa pikiranku mendadak jahat seperti ini ya?' batin Stella heran. Kemudian, Stella kembali fokus pada objek utama.


"Pak, tolong pertimbangkan lagi atas pemecatan saya. Apapun akan saya lakukan yang terpenting tidak kehilangan pekerjaan," ucap Ratu yang justru masih bisa bersikap angkuh.

__ADS_1


Shaka menatap datar wanita di depannya. "Keputusan saya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat," tegas Shaka tak terbantahkan.


"Bagaimana kalau saya ganti dengan ini, Pak?" tawar Ratu kemudian terlihat membuka kaos yang dikenakan dengan mudahnya.


Mata Stella sampai membulat sempurna. 'Dasar gila!' umpatnya kesal dengan gigi yang bergemeletuk.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu pikir saya akan tergoda? Silahkan keluar dari sini atau perlu saya panggil satpam untuk mengusirmu?" ucap Shaka datar dan penuh penekanan.


"Kenapa, Pak? Aku juga sanggup bila harus seperti Stella yang menjual tubuhnya hanya demi jabatan yang tinggi," ucap Ratu masih saja tidak tahu malu.


"Tutup mulutmu! Stella tidak sesampah kelakuan dan mulutmu! Sekali lagi kamu berani menjelekkan dia, akan aku pastikan bahwa mulutmu akan robek saat itu juga," sentak Shaka tidak terima. Sorot matanya menatap Ratu tajam dan penuh intimidasi.


Ratu terlihat mundur beberapa langkah, begitu takut dengan suara Shaka yang mulai terdengar marah.


"Maaf, Pak," ucap Ratu kemudian mengenakan kaosnya kembali.


"Pergi dari sini! Dasar tidak tahu malu!" usir Shaka geram.


Akhirnya, Ratu pergi dari hadapannya. Shaka sampai harus menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali karena merasa geram dengan sikap wanita yang begitu murahan.


Bukannya napsu, Shaka justru semakin jijik. Padahal, wanita diciptakan dengan sangat terhormat. Namun, dengan murahannya seorang wanita menyerahkan tubuh untuk disentuh sembarang orang.


"Ehem! Ada yang baru dapat vitamin A nih," sindir Stella dengan wajah bersungut kesal.


Shaka tergelak renyah. "Vitamin A yang sesungguhnya adalah kamu. Kamu sumber vitamin A terbaik untuk keseimbangan mataku," jawab Shaka dengan menatap Stella penuh puja.


"Gombal," jawab Stella yang kini wajahnya sudah bagaikan kepiting rebus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...aku bawa rekomendasi novel lagi nih😍...


__ADS_1


__ADS_2