Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 47. 18+


__ADS_3

Hari berganti dan ini adalah hari dimana Stella akan diajak oleh Shaka untuk menemui ayah dan kakaknya, Gavin. Tentunya dalam kondisi dan suasana yang berbeda.


Pak Gunardi mengundang Stella untuk makan malam di rumah besarnya. Shaka-lah yang begitu antusias menjemput dari jam empat sore.


Shaka mengatakan bahwa dia ingin mengenal keluarga Stella yang sudah lama terpisah. Stella tentu dengan senang hati menerima maksud baik Shaka.


Seperti saat ini, Stella sudah berdiri di teras depan untuk menyambut kedatangan Shaka yang mobilnya baru saja terparkir di carport.


Dengan senyum manisnya, Stella menyambut Shaka yang keluar dari mobil mewahnya. Betapa bahagianya hati Stella ketika senyumannya dibalas dengan senyuman manis oleh Shaka.


Kemeja yang tadi pagi dikenakan sudah digulung sepanjang siku dengan banyaknya lipatan yang sudah tercipta di beberapa bagian. Menggambarkan betapa lelahnya pekerjaan hari ini. Namun, Shaka masih sjaa mengulas senyum seakan hari ini bukanlah hari yang melelahkan.


"Apa kabar, Sayang?" tanya Shaka sambil mencuri kecupan sekilas di pelipis Stella.


Stella sontak melotot karena Stello sudah berdiri di belakangnya dengan tangan yang terlipat di depan dada. Stella bertambah tegang ketika suara kakeknya terdengar di belakangnya.


"Dimana Shaka? Apa dia sudah datang?" tanya kakek Ben berteriak dari dalam rumah.


Stella melotot lagi pada Shaka kemudian membawa pria itu untuk ikut masuk bersama.


"Aku melihatnya adegan 18+ tadi loh," bisik Stello di telinga Stella.


Walau suara Stello berbisik, ucapannya masih bisa didengar dengan jelas oleh Shaka yang tidak jauh dari tempat Stello berdiri.

__ADS_1


"Biarkanlah. Kamu seperti tidak pernah melakukannya saja. Jangan pura-pura suci lah," kesal Stella membalas ucapan Stello.


Stello tergelak renyah saat melihat kekesalan kembarannya. Shaka seketika geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang yang memiliki status kembar itu.


Stella membawa Shaka menuju ruang tengah dimana sang Kakek sudah menunggu disana. "Selamat sore, Kek," sapa Shaka ramah lalu menyalami tangan yang kini sudah keriput itu.


"Selamat sore, Nak. Akhirnya kamu datang juga. Kamu tahu tidak, Stella sejak tadi sudah mondar-mandir tidak tenang karena malam nanti akan bertemu dengan ayahmu. Tolong bantu dia memilihkan baju, Nak," ucap kakek Ben meminta tolong.


Stella memejamkan mata merasa malu karena kakeknya sudah membocorkan aibnya. "Benarkah?" tanya Shaka pada Stella langsung.


Stella menyengir kuda lalu mengangguk sangat pelan. "Aku benar-benar gugup, Mas," jawab Stella dengan nada manja dan berirama.


Shaka terkekeh pelan kemudian tangannya terulur untuk mengacak rambut Stella gemas. "Aku akan bantu pilihkan," jawab Shaka pada akhirnya.


"Shaka, bantulah Stella untuk bersiap. Kakek percaya padamu," ucap kakek Ben yang segera mendapatkan anggukan cepat oleh Shaka.


"Dasar anak muda," ucap Stello seakan lupa bahwa dirinya juga masih terbilang muda.


"Kakek dengar, Lo. Kamu juga anak muda kan? Jangan bertindak seolah-olah kamu sudah tua," sahut kakek yang mendengar gumaman Stello yang berdiri tidak jauh darinya.


Shaka dan Stella sontak tertawa terbahak-bahak melihat wajah Stella yang sudah tidak berdaya.


Ya, saat tempo hari mengantar Stella ke rumah, Shaka langsung mendapat sambutan baik dari kakek Ben. Dan Shaka begitu bahagia karena ini pertanda bahwa hubungannya dengan Stella sudah mendapatkan lampu hijau.

__ADS_1


Hingga pertemuan mereka yang ke tujuh, karena Shaka selalu datang ke rumah untuk menemui Stella, Shaka sering menggunakan waktunya disana untuk mengobrol banyak hal bersama kakek Ben juga kembaran Stella yaitu Stello.


Setelah berpamitan, akhirnya Shaka dan Stella menaiki anak tangga untuk mencapai kamar yang akan dituju yaitu kamar Stella.


Saat pintu terbuka, hal yang pertama kali dilihat oleh Shaka adalah kondisi kamar yang sangat berantakan dengan baju seisi lemari yang sudah keluar semua.


Shaka melongo. "Apakah baru saja terjadi hujan badai? Kenapa berantakan begini?" tanya Shaka tidak habis pikir.


Stella meringis malu. "Kan aku sudah bilang kalau tidak ada baju yang cocok. Aku belum sempat membeli baju yang lumayan bagus untuk sebuah acara. Adanya dress sederhana dan aku tidak mungkin mengenakannya untuk menemui ayah Mas Shaka," jawab Stella menjelaskan alasannya.


Shaka magut-magut tanda paham. "Ya sudah. Kalau begitu kita beli dulu. Makan malamnya masih jam delapan dan sekarang baru pukul setengah lima. Aku rasa jika kita mengenakan baju yang memilih corak sama, itu akan lebih baik," usul Shaka.


Stella mengernyit heran. "Maksudnya, couple gitu?" tanya Stella memastikan. Shaka mengangguk mantap.


"Bagaimana? Mau ya?" tanya Shaka terdengar seperti paksaan.


Tanpa perlu berpikir panjang, Stella langsung mengangguk menyetujui usul Shaka yang memang ada benarnya juga.


"Baiklah, itu sepertinya lebih baik," ucap Stella menyetujui.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih komen dan likenya ya😍...

__ADS_1


...mampir juga kesini yuk 👇...



__ADS_2