Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 6. Gavin Virendra


__ADS_3

Keesokan harinya, Stella sudah berada di depan lift untuk ikut antri menuju lantai tempat kerjanya. Di pagi hari seperti ini, pemandangan seperti itu sudah biasa.


Sebenarnya, ada dua lift yang tersedia. Namun, kebanyakan karyawan hanya berani memakai satu lift sedang satu lift lainnya Baisa digunakan oleh orang-orang penting seperti direktur utama dan jajarannya.


Ana yang ikut antri menyenggol lengan Stella dan berbisik. "La, itu siapa ya? Apa itu putra sulung keluarga Virendra?" bisiknya pelan sambil dagu mengarah pada seseorang yang saat ini akan masuk ke lift ditemani dua pengawal. Dengan malas Stella menoleh.


Deg.


Jantung Stella seperti berhenti berdetak saat melihat siapa orang yang dimaksud Ana. Tubuh Stella serasa lunglai hingga mencari pegangan dan menemukan lengan Ana. Ana begitu terkejut ketika tubuh Stella limbung. "Kamu tidak apa-apa 'kan, La?" tanya Ana khawatir yang segera mendapat gelengan dari Stella.


"Apa ada rahasia yang kamu sembunyikan?" tanya Ana penuh selidik. Stella menghela napas. Ana memang selalu mengerti dengan apa yang berada di pikirannya.


"Tidak apa-apa. Mungkin karena aku belum ambil sajen," jawab Stella berbohong, kemudian menarik lengan Ana pelan agar segera masuk ke lift. Beruntung, Ana mengangguk paham dan tidak berbicara lagi setelahnya.


Saat sudah berada di lantai 13, Stella berjalan lebih dulu menuju kubikelnya. Stella berusaha menetralkan degup jantungnya yang tidak beraturan agar gelagatnya tidak disadari oleh Ana.


'Dia kembali setelah sekian lama,' ucapnya dalam hati.


"Stella! Pak Shaka menyuruhmu datang ke ruangannya sekarang," ucap Dino, si Kepala divisinya. Stella berjenggit kaget mendengar panggilan itu. "U-untuk apa?" tanya Stella tergagap.


Dino mengangkat bahunya, tanda tidak paham. Sepeninggalan Dino, Stella mempersiapkan diri terlebih dahulu dengan menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali. Ana yang menyadari perubahan sikapnya, menatap dengan alis bertaut. "Are you okay, La? Kamu terlihat gugup," tanya Ana memastikan.


Stella mengangguk dengan mengulas senyum tipisnya. "I am okay, don't worry," jawab Stella meyakinkan. Setelah itu, Stella segera berjalan keluar dari divisinya menuju lantai atas tempat sang Direktur Utama berada.


Saat sudah berada di depan ruangan milik Direktur Utama, tampak Ron yang saat ini sedang berbicara lewat HT yang berada di genggamannya.


"Permisi Pak Rom, pak Shaka-nya ada? Katanya saya di panggil untuk ke ruangannya," jelas Stella yang lagi-lagi salah sebut. Rom memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.


"Nama saya Ron, bukan Rom! Pakai N," jelasnya merasa tidak terima.

__ADS_1


Stella mengerjap-ngerjapkan matanya. Mungkin, jika saat ini tidak dalam keadaan kalut, Stella akan tertawa. Namun, kondisi saat ini berbeda. "Baiklah, Pak Ron." Akhirnya Stella bisa mengeja nama Ron dengan baik.


"Masuk! Boss sudah menunggumu!" titahnya yang mendapat anggukan dari Stella.


Tok. Tok. Tok.


Stella mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian membukanya sedikit. "Selamat pagi, Pak. Boleh saya masuk?" ucap Stella meminta izin.


Shaka yang sedang sibuk dengan ponselnya, mendongak untuk memastikan bahwa gadis yang dia cari sudah datang. "Masuk!" titahnya tegas.


Stella menelan saliva susah payah ketika mendengar nada bicara Shaka yang tegas. 'Semoga tidak terjadi suatu hal yang buruk padaku nanti,' batin Stella berdoa.


"Duduk!"


Menurut. Stella mengambil posisi duduk di kursi kerja yang berhadapan dengan Shaka. "Kalau boleh tahu, ada perlu apa Bapak memanggil saya kesini ya?" tanya Stella langsung pada intinya.


Shaka menatap Stella datar lalu menyodorkan amplop berwarna coklat di hadapan Stella. Stella sontak menatap amplop tersebut dengan kening berkerut. "Ini apa, Pak?" tanya Stella kebingungan.


Hanya sebuah kertas yang terdapat tanda tangan Direktur Utama. "Ini apa, Pak?" tanya Stella merasa bodoh.


Shaka berdecak sebal. "Baca Crystella!" kesalnya dengan nada sedikit meninggi, merasa kesal dengan sikap cerewet gadis di depannya.


Stella menepuk jidatnya, merasa konyol dengan tingkah laku sendiri. "Maaf, Pak. Otak saya kalau belum dikasih sajen pasti LoLa alias Loading Lama," ucap Stella kemudian membaca beberapa baris kalimat yang berhasil membuat matanya berbinar seketika.


"Bapak bersungguh-sungguh? Apa saya sedang bermimpi saat ini, Pak? Tolong cubit saya agar saya tahu kalau ini bukanlah mimpi!" pekik Stella girang hingga membuat gendang telinga Shaka seperti akan pecah.


Shaka memutar bola matanya malas. "Silahkan untuk lebih jelasnya kamu bisa bertanya pada Ron. Dia yang akan menjelaskan semua tugas-tugas yang harus kamu kerjakan," ucap Shaka panjang lebar dan itu merupakan sebuah kemajuan.


"Eh! Tapi mengapa harus saya, Pak? Bagaimana tanggapan karyawan dan staff yang lain ketika mengetahui bahwa saya sudah naik jabatan saat ini?" tanya Stella murung seketika.

__ADS_1


"Jangan dengarkan mereka yang tidak memberimu makan dan membiayai kebutuhan hidupmu. Kamu tidak perlu khawatir karena kebanyakan orang lebih suka berkomentar tentang pencapaian orang lain dari pada introspeksi diri," jelas Shaka memberi motivasi.


Stella tertegun sejenak ketika untuk pertama kalinya mendengar Shaka berucap bijak. "Pak? Boleh pegang kening Bapak tidak? Saya hanya ingin memastikan jika saat ini Bapak dalam keadaan sehat," ucap Stella yang berhasil membuat Shaka melotot.


"Kurangajar kamu ya!" ucap Shaka tidak terima.


Stella terkikik geli. "Saya tidak berniat kurangajar, Pak. Hanya saja, sejak tadi saya mengamati, Bapak sudah mempunyai banyak kosa kata hingga mampu berbicara panjang lebar."


Shaka berubah gugup. "Ehem. Mana ada seperti itu. Kamu jangan mengada-ada," sangkalnya diawali deheman.


Stella semakin tergelak melihat telinga Shaka berubah merah. "Bapak tersipu ya?" tanya Stella mulai berani. Saat Shaka ingin menimpali, ada suara dari arah pintu yang menginterupsi sehingga membuatnya mengatupkan bibirnya kembali.


"Shaka, ruanganmu masih saja membosankan seperti dulu," ejek suara yang berhasil membuat Stella menegang di tempat duduknya. Ketika Stella melirik Shaka, wajahnya berubah muak ketika mendengar suara tersebut.


"Wow! Dia siapa dan sedang apa berada di ruanganmu? Jangan bilang jika saat ini kalian sedang berpacaran?" ejek suara tersebut yang tidak lain adalah milik Gavin Virendra, putra sulung dari Gunardi Virendra.


Stella yang merasa terpancing akhirnya menoleh dan berhasil membuat Gavin bungkam dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Stella?" gumamnya yang masih terdengar oleh Stella maupun Shaka.


Stella berusaha mengulas senyum. "Hai Pak Gavin, kita bertemu kembali," sapanya ramah. Shaka yang melihat interaksi akrab antara Shaka dan Gavin, hanya bisa menatap bingung pada keduanya.


"A-aku b-baik," jawab Gavin tergagap.


"Bisa kita bicara setelah ini?" ajak Gavin yang membuat Stella berdecih pelan.


"Maaf, tapi saya sedang sibuk bekerja. Mungkin, lain kali saat saya sedang bosan dan senggang, kita bisa bicara," jawab Stella bermaksud menyindir.


Shaka yang melihat interaksi antara Stella dan Gavin hanya bisa mengerutkan alis, bingung. "Kalian saling mengenal?" tanyanya penasaran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


tinggalkan jejak-jejak kalian disini ya😘


__ADS_2