Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 15. Simbah Gugel


__ADS_3

Hari Minggu kembali tiba. Stella sangat bahagia menyambutnya karena Shaka mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat yang entah kemana. Shaka tidak mengatakan tempat tujuannya hingga membuat Stella bertanya-tanya.


Setelah mandi, Stella mengambil celana jeans ketat dipadukan dengan kemeja garis-garis horizontal berwarna biru muda dengan garis warna biru tua yang dua butir kancing teratasnya dibuka.


Dia meng-curly rambut bagian bawahnya agar lebih menarik. Lalu, Stella memakai skincare rutinnya dan mengaplikasikan bedak tipis pada kulit putihnya.


Agar tidak terlalu pucat, Stella memakai eyeliner dan liptint favoritnya. Stella mematut diri sekali lagi di depan cermin. Ketika semua sudah selesai, Stella tersenyum puas.


Stella mengambil sneaker warna putihnya yang di salah satu sisinya terdapat logo ceklis, lalu mengambil Sling bag yang sudah disiapkan dan keluar dari ruangan 4×4 itu.


Saat berada di lantai dasar, Stella melihat mobil Shaka baru saja terparkir. Stella melambaikan tangan dan mengulas senyum hingga lesung di pipinya nampak.


Shaka yang baru saja keluar dari mobil untuk menyambut Stella, seketika merasa terpana. Penampilan Stella yang kasual justru membuatnya semakin terlihat cantik dan elegan.


Shaka tersenyum bahagia ketika Stella sudah berada di hadapannya.


Klik.


Stella menjetikkan jari di depan wajah Shaka karena Pak Boss-nya itu hanya terdiam dengan bibir yang tidak berhenti tersenyum. "Kenapa senyum-senyum sendiri, Pak?" tanya Stella dengan kepala mendongak karena tinggi badannya hanya setinggi bahu Shaka.


Shaka menggeleng. "Kamu terlihat ... Berbeda," jawab Shaka kemudian membukakan pintu samping kemudi agar Stella duduk disana. Stella menyempatkan diri untuk tersipu sebelum kemudian masuk ke mobil.


Stella sedikit membungkuk untuk bisa masuk. Sedangkan Shaka, dia melindungi kepala Stella menggunakan telapak tangannya agar tidak terkantuk bingkai pintu.


Setelah memastikan Stella benar-benar masuk, Shaka memutari setengah badan mobil lalu duduk di bangku kemudi. Shaka melirik sekilas pada sabuk pengaman yang sudah Stella pakai. Shaka tersenyum mengingatnya.


Stella yang sadar sedang di perhatikan, memicing menatap Shaka penuh selidik. "Kenapa, Pak? Perasaan sejak tadi senyum-senyum terus?" tanya Stella heran.


Shaka terkekeh kemudian menginjak pedal gas menuju tempat tujuan. "Menurut kamu, bertambah tampan atau tidak?" tanya Shaka dengan pandangan fokus ke pada jalanan.


Stella mengangguk membenarkan. "Sepertinya, Bapak sedang sangat bahagia hari ini," tebak Stella dengan menatap profil samping seorang Shaka.

__ADS_1


Shaka tersenyum dan mengangguk. "Sangat bahagia," jawabnya menoleh sekilas kemudian kembali fokus pada kemudi.


Setelahnya, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Hingga dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Shaka memasuki area mall terbesar di ibu kota. Stella mengernyit heran. "Kita mau ke mall, Pak?" tanya Stella terdengar kurang suka.


Shaka yang sadar bahwa pertanyaan Stella terdengar kurang suka pun balik bertanya. "Kamu tidak suka ya? Padahal, saya ingin mengajak kamu untuk menonton film terbaru," jawabnya dengan wajah kecewa.


Stella mengerjap lucu. "Eh! Bukan seperti itu maksud saya. Bapak mau ajak saya untuk menonton?" tanya Stella sedikit takjub dengan pria yang dulunya sekaku kanebo kini mulai fleksibel.


Shaka mengangguk dengan wajah lesu, merasa kejutan untuk Stella telah gagal.


"Suka kok, Pak. Hanya saja, saya sedikit heran," ucap Stella tersenyum meringis.


"Heran kenapa?"


"Heran karena Bapak mempunyai pikiran mengajak saya ke bioskop," jawab Stella disertai kekehan.


Shaka tidak langsung menjawab karena kini mobilnya sudah sampai di lobi mall. "Kita turun dulu ya?" ajak Shaka yang segera diangguki oleh Stella.


Shaka keluar terlebih dahulu dengan tujuan membukakan pintu untuk Stella. Namun, tugas itu sudah digantikan oleh petugas vallet. Setelah kunci mobil diserahkan pada petugas vallet, Shaka menarik lengan Stella untuk mengikutinya.


Setelah masuk ke mall, Stella berhenti melangkah hingga membuat Shaka yang berjalan di depannya menatap Stella penuh tanda tanya.


"Sebentar, Pak. Ada yang salah disini," ucap Stella dengan mencebikkan bibirnya lalu melepas tangan Shaka yang memegang lengannya.


Shaka nampak tidak terima namun, setelah melihat apa yang dilakukan Stella, Shaka tidak bisa menyembunyikan semu merah di pipi yang kini menjalar hingga daun telinga.


"Agar lebih nyaman tuh seperti ini, Pak," ucap Stella setelah menautkan jemarinya dengan jemari Shaka.


"Ini baru tutorial yang benar bagaimana cara bergandengan tangan," imbuh Stella yang membuat Shaka mendongak tinggi-tinggi agar pipinya yang merah tidak tertangkap basah.


"Salah tingkah ya, Pak?" tebak Stella dengan senyum mengejeknya.

__ADS_1


Shaka berdehem. "Kita harus segera ke gedung bioskop karena filmnya sebentar lagi akan di mulai," ajak Shaka mengabaikan pertanyaan Stella yang memang benar adanya. Beruntungnya, Stella menurut dan tidak lagi mempermasalahkan tentang salah tingkahnya.


Ketika sudah memasuki gedung, Stella dibuat bingung karena Shaka sama sekali tidak berhenti di depan pembelian tiket. Justru, Shaka mengajaknya masuk lebih dalam lagi yang entah mau kemana. "Bapak sudah membeli tiketnya?" tanya Stella takut atasannya itu lupa.


Shaka tersenyum dan menggeleng. "Belum."


"Lah, itu untuk loket pembelian tiket 'kan ada di depan, Pak? Kita sudah melewatinya kalau Bapak tahu," jelas Stella keheranan.


Shaka berdecak sebal. "Ikuti saja. Saya akan mengajak kamu menonton di gedung VIP dan membeli tiketnya bukan disana," jawab Shaka yang membuat Stella menutup mulutnya tidak percaya.


"Serius, Pak?" tanya Stella dengan sedikit meninggikan suara.


Shaka menghela napas pelan. "Jangan berteriak Stella. Ini gedung bioskop loh," ucap Shaka memperingatkan.


Stella mengatupkan bibirnya kemudian kembali mengikuti langkah Shaka yang mulai berjalan kembali setelah sebelumnya berhenti sejenak.


Tidak berapa lama, akhirnya mereka tiba di loket pembelian tiket menonton kelas VIP. Setelah memesan tiket, beberapa camilan, dan minuman, Stella mengikuti langkah Shaka yang kini tangannya sudah penuh akan barang bawaan.


"Saya bantu bawa kalau Bapak kerepotan," ucap Stella tidak tega.


Shaka menggeleng. "Masuk dulu, La," titahnya lembut ketika pintu masuk sudah dibuka. Memang, bioskop kelas VIP tidak perlu menunggu jam yang sudah ditentukan seperti menonton film di ruang bioskop umum.


Stella megambil posisi duduk di bangku paling belakang. Kursi di ruang VIP tidak sebanyak di ruang bioskop untuk umum. Di ruang VIP, penonton diberikan fasilitas seperti selimut dan kursi yang bisa digunakan untuk tiduran.


Setelah duduk di bangkunya, Stella menoleh pada Shaka yang berada di sampingnya. "Bapak sudah sering menonton di bioskop ya?" tanya Stella sambil punggung menyandar pada bahu kursi.


Shaka menoleh ketika camilan dan minuman yang dibelinya tadi sudah ditaruh di tempat yang sudah disediakan. "Ini pertama kalinya saya ke bioskop, dan kamu orang pertama yang saya ajak kesini," ungkap Shaka yang berhasil membuat mulut Stella menganga kemudian mengatup lagi.


"Serius, Pak? Kok saya melihat Pak Shaka seperti sudah terbiasa datang kesini sih?" tanya Stella penuh selidik.


Shaka terkekeh pelan. "Saya sudah melakukan penelitian tentang bagaimana cara melakukan kencan dan bertanya pada Simbah Gugel," ungkap Shaka lagi.

__ADS_1


Karena merasa begitu terkejut sekaligus takjub, Stella hanya bisa membuka mulut kemudian mengatupkannya beberapa kali. "Berarti, Bapak menganggap ini adalah kencan?" tanya Stella dengan senyum menyebalkan.


apalagi, wajah Stella kini sudah dimiringkan agar bisa menatap Shaka sepenuhnya. Shaka hanya bisa menelan saliva karena sudah kelepasan bicara.


__ADS_2