Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 38. Dibujuk


__ADS_3

Sejak pagi, Stella tidak bisa menghubungi Shaka sama sekali. Bahkan, saat Stella berusaha menelepon Ron, asisten pribadi itu seperti sudah bekerja sama untuk tidak merima telepon darinya.


Baiklah, Stella memilih untuk pulang terlebih dahulu. Besok Shaka akan pulang jadi, Stella tidak perlu khawatir. Mungkin, Shaka masih sibuk dengan rapat dns pertemuan bersama kolega.


Stella akan menunggu hingga malam hari barangkali Shaka sempat untuk menghubungi. Namun, hingga waktu menunjukan pukul sepuluh, belum ada tanda-tanda Shaka menelepon.


Akhirnya, Stella memilih untuk menelepon terlebih dahulu. Entah sudah panggilan yang keberapa dan untuk kesekian kalinya, panggilan itu diabaikan.


"Kenapa sih? Aneh sekali?" kesal Stella sekaligus merasa khawatir. Akhirnya, Stella memilih untuk memejamkan mata. Mungkin, Shaka sedang dalam perjalanan atau masih sibuk.


Baiklah, sekarang Stella akan berpikiran positif.


Hari berganti dan sudah tiga hari ini Shaka tidak menelepon atau datang ke kantor untuk sekedar menemui dirinya.


Saat Stella bertanya pada Ron, dia mengatakan jika Shaka sedang beristirahat dan tidak bisa diganggu termasuk Stella. Walau tidak terima, Stella tetap menurut dan tidak mendatangi apartemen Shaka.


Hingga larut tiba, Stella semakin tidak tenang memikirkan Shaka. Akhirnya, Stella nekat pergi ke apartemen Shaka untuk memastikan bahwa laki-laki itu baik-baik saja.


Setelah mengenakan jaket, Stella berjalan menyusuri trotoar. Tidak berapa lama, akhirnya Stella sampai. Dis bergegas naik ke unit apartemen Shaka.


Sebenarnya, Stella bisa langsung masuk karena Shaka membuat kata sandi apartemennya dengan tanggal lahir Stella. Namun, dia memilih untuk membunyikan bel terlebih dahulu agar menghargai Shaka yang ada di dalam sana.


Bel pertama belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Akhirnya, Stella memilih untuk menekannya lagi. Berhasil. Pintu terbuka dan menampakkan laki-laki yang hampir tiga hari ini menghilang dari entah kemana.


Senyum yang Stella ulas seketika hilang saat melihat wajah datar Shaka. Wajah yang dulu menjadi ikonik seorang Arshaka Virendra.


"Pak?" panggil Stella lirih kemudian berusaha memegang lengan Shaka namun segera ditepis oleh sang Empunya.

__ADS_1


Stella cukup terkejut dengan reaksi Shaka yang tidak biasa. Apa aishs terjadi sesuatu? Seketika Stella mengingat tentang Gavin yang entah tidak ada angin tidak ada hujan, datang menemui dirinya dan hanya untuk meminta maaf. Stella yakin, Gavin tidak setulus itu.


"Mau apa?" tanya Shaka datar.


Stella kini menatap sendu Shaka. Dia menghembuskan napas pelan sebelum bersuara. "Aku hanya ingin memastikan apakah Bapak baik-baik saja. Karena sudah hampir tiga tahun Bapak tidak menghubungiku. Bahkan, Bapak sama sekali tidak menjawab telepon maupun pesanku," ucap Stella menatap lekat mata Shaka.


Shaka mengerutkan alisnya bingung. Namun, hal itu hanya sebentar dan berganti menjadi dingin kembali. "Tiga tahun? Hanya tiga hari kalau kamu lupa," ucap Shaka membenarkan ucapan Stella.


Stella mengangkat satu alisnya, merasa berhasil membuat Shaka berbicara panjang. "Tiga hari bagiku terasa bagaikan tiga tahun," ucap Stella tanpa membuat drama karena itulah yang Stella rasakan.


Wajah Shaka masih saja datar. "Pulanglah. Aku sedang tidak ingin diganggu," ucap Shaka mengusir.


Stella mencebikkan bibirnya kesal, mengabaikan perintah Shaka dan langsung masuk ke apartemen tersebut. Shaka melotot tajam karena Stella sudah berani dan lancang masuk apartemennya tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Stella ... Kamu ...." Shaka menggeram kesal saat melihat Stella kini duduk melipat kaki dengan santainya.


Stella menghela napas lelah kemudian berpindah posisi duduk di sebelah Shaka dan semakin merapatkan tubuh. Namun, semakin Stella mendekat, semakin pula Shaka menjauhinya.


Stella tersenyum miring lalu terus mendesak Shaka agar mau berdekatan dengannya. Hingga pada saat Shaka sushs berada di pinggiran sofa, dia tidak bisa lagi menghindar.


Gelak renyah terdengar menggema di ruangan tersebut karena keheningan yang sempat tercipta. Stella, gadis itu merasa menang.


"Kenapa Bapak berubah dalam waktu tiga hari? Apa terjadi sesuatu yang membuat sikap bapak kembali seperti dulu? Kaku seperti kanebo?" tanya Stella mengejek Shaka agar memancing kekesalan bos sekaligus kekasihnya.


Ting!


Seketika Stella teringat sesuatu yang mungkin bisa meluluhkan kerasnya hati Shaka.

__ADS_1


"Mas Shaka Sayang?" ucap Stella lembut sambil menatap Shaka penuh manja.


Shaka mengulum senyum. Stella selalu bisa mencairkan hatinya yang sedang dirundung rasa cemburu ataupun rasa yang lain yang mengganggu.


"Tuh kan ... Tuh kan ... Mas Sayangku mau senyum. Jangan ditahan, Mas. Senyum dan tertawalah sebelum tertawa itu dilarang," ucap Stella mendadak melankolis.


"Apaan sih," ucap Shaka masih saja gengsi.


Stella mendengkus pelan. Tangannya bergerak untuk menangkup kedua pipi Shaka dan membawa wajah itu untuk menatap wajahnya. "Lihat aku, Mas Sayang," ucap Stella lembut dengan tatapan lekat.


Cukup lama keduanya saling pandang hingga gerakan Stella selanjutnya mampu membuat Shaka benar-benar tersenyum lebar.


Cup.


Stella mengecup bibir Shaka dan menyesapnya sekilas hingga menimbulkan rasa nyaman luar biasa di hati Shaka.


"Kalau ada masalah langsung cerita. Kalau aku ada salah, langsung ditegur. Jangan malah didiamkan dan diberi tatapan datar. Aku tidak menyukai itu, Mas Sayang," ucap Stella lembut yang berhasil mencubit hati Shaka.


Shaka layaknya anak kecil yang sedang dibujuk karena merajuk tidak dibelikan mainan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dikungannya ya😍...


...mampir juga kesini yuk 👇...


__ADS_1


__ADS_2