Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 29. Tak selebar daun salam


__ADS_3

Sepulang kerja, Stella menunggu Shaka di lobi untuk sekedar berbincang sebentar dengan Ana. Berhubung Shaka masih mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan, Stella memilih untuk menanti.


"Kamu bawa motor sendiri atau mau naik taksi, Na?" tanya Stella saat melihat Ana sejak tadi bergerak gelisah seperti sedang menunggu seseorang.


Ana yang sedang fokus menatap ponselnya mendongakkan wajah. "Ada yang jemput," jawab Ana lengkap dengan senyum sumringahnya.


Stella mengerutkan alis dengan mata memicing menatap Ana. "Bahagia sekali kelihatannya. Memangnya, siapa yang mau menjemputmu?" tanya Stella penuh selidik.


Ana hanya tersenyum menanggapi. "Nanti kamu juga akan tahu." Setelah itu, Ana kembali fokus menatap layar ponsel.


"Eh. Kamu sama pak Shaka bagaimana?" tanya Ana yang kini sudah memasukkan ponselnya ke dalam tas. Stella membuang muka, tidak mau menatap wajah sahabatnya.


"Aku tahu sesuatu. Apa kalian sudah menjadi sepasang kekasih?" tebak Ana dengan senyum menyebalkannya.


"Bagaimana menurut kamu?" ucap Stella yang justru bertanya.


"Woah! Jadi, kalian sudah resmi menjadi sepasang kekasih?" pekik Ana histeris.


"Ssst!" peringat Stella meringis malu karena beberapa orang yang lewat sampai menoleh dengan tatapan tidak sukanya.


"Bisa tidak jangan terlalu keras? Heboh sekali sih," kesal Stella lalu menghembuskan napasnya kasar.


Sedangkan Ana, dia hanya menyengir kuda tanpa beban lalu mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk 'peace'.


"Pak Shaka harusnya menraktir penduduk kantor ini," ucap Ana lagi dengan binar bahagia di wajahnya.


"Tetapi, selamat ya, La. Akhirnya kamu bisa menemukan sang Tambatan hati lagi. Aku sangat tahu kalau kamu itu gamon," imbuh Ana lagi dan tanpa beban mengatai Stella sebagai seseorang yang GaMon alias Gagal Move on.


Stella mendelik kesal dan ingin bersuara namun hal itu segera diurungkan saat tiba-tiba ada mobil mewah yang berhenti di hadapan mereka.


"Itu, jemputanku sudah sampai, La," ucap Ana dengan sorot mata tertuju pada sosok yang keluar dari mobil tersebut.


Alis Stella bertaut heran. "Dia pemilik toko roti yang kamu ceritakan itu? Atau sudah ganti?" tanya Stella penasaran sambil matanya menelisik seseorang yang saat ini sedang berjalan ke arahnya. Bukan, lebih tepatnya berjalan ke arah Ana.


"Iya, dia pemilik toko roti yang waktu ini aku ceritakan. Kita juga sudah menjadi sepasang kekasih seminggu yang lalu," ucap Ana.


"Namanya Stello bukan?" tanya Stella lagi memastikan.


"Kamu mengenal dia?" tanya Ana penasaran.


Belum sempat Stella menjawab, kini Stello sudah berada di hadapan mereka. "Eh! Stella! Kamu kerja disini juga?" tanya seorang pria yang tidak lain adalah laki-laki yang ditemui Stella sewaktu di puncak.


"Jadi, kalian pacaran?" tanya Stella dengan raut wajah shocknya, yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Stello.


Stello dan Ana serentak mengangguk.

__ADS_1


"Woah! Dunia memang tidak selebar daun salam," ucap Stella mengeluarkan paribahasanya.


Ana menjitak kening Stella pelan. "Daun kelor kali," ucapnya tidak habis pikir.


Stello terkekeh pelan. "Jadi, dia adalah sahabat yang kamu ceritakan itu, Sayang?" tanya Stello mesra.


"Woah! Kalian sudah main sayang-sayangan?" tanya Stella sambil geleng-geleng kepala, merasa tidak habis pikir.


Ana yang akan membuka mulutnya seketika urung saat Stella lagi-lagi menyela. Dia memutar bola matanya jengah. "Memangnya cuma kamu saja yang bisa main sayang-sayangan? Sayangnya kita tuh sungguhan, bukan sekedar sayang-sayangan," jawab Ana menyombongkan diri.


Stello hanya bisa geleng-geleng kepala melihat interaksi keduanya. "Sayang? Sudah mau pulang sekarang?" tanya Stello lembut.


"Ayo!"


"Aku duluan ya, La. Selamat menunggu pujaan hatimu," ucap Ana sombong kemudian segera masuk ke dalam mobil bersama Stello.


Stella melambaikan tangan ketika melihat mobil yang dikendarai Ana mulai melaju. Tidak berapa lama, ada mobil mewah lagi yang berhenti di hadapan Stella. Merasa tidak mengenali, Stella memilih memainkan ponselnya.


"Stella?" ucap suara secara tiba-tiba.


Ketika Stella mendongak, tubuh Stella mundur beberapa langkah. "Apa?" tanya Stella was-was.


"Tenang. Aku hanya ingin meminta waktu untuk berbicara. Ini tentang Shaka dan sisi gelapnya. Kamu belum tahu tentunya bukan?" tanya seorang pria yang tidak lain adalah Gavin.


"Yakin? Ini tentang mamaku yang tanpa sengaja sudah dibunuh oleh shaka" ucap Gavin dengan suara merendah.


Seketika ucapan Gavin menarik perhatian Stella. "Bagaimana?" tanyanya penasaran.


"Ikut aku maka aku akan ceritakan semuanya," jawab Gavin yang malah berbelit-belit.


"Apa kamu bisa aku percaya?" tanya Stella curiga.


"Kamu bisa menelepon siapapun dengan ponselmu untuk menjamin seseorang akan menyelamatkan kamu seandainya aku berbuat macam-macam," jawab Gavin meyakinkan.


Stella tampak terdiam, menimbang apakah dia harus ikut bersama Gavin atau tidak. "Baiklah," jawabnya setelah cukup lama berpikir.


Gavin membawa Stella ke sebuah kafe bintang lima. Dan beruntungnya lagi, Gavin memilih kafe yang lumayan banyak pengunjung. Hanya saja, dia memesan meja VIP dimana meja tersebut terletak di dalam sebuah ruangan kaca yang kedap suara.


Jadi, jika hanya ingin berbicara, orang yang berada di luar tidak akan mendengar. Namun, aktifitas yang dilakukan di dalam bisa dilihat oleh semua orang.


"Langsung saja jangan terlalu berbelit-belit," ucap Stella datar.


Gavin terkekeh pelan. "Mengapa harus terburu-buru? Lebih baik kita minum kopi dulu. Bagaimana? Apakah kopi masih menjadi minuman favorit kamu? Aku ingat jelas bahwa kopi adalah sumber energimu," ucap Gavin yang kini tatapanya melembut tidak seperti awal perjumpaan.


Wajah Stella mulai melembut. Dia merasa diingatkan bagaimana dulu masa kuliahnya yang begitu indah karena Gavin. Tetapi, masa kuliahnya juga harus suram karena Gavin.

__ADS_1


"Sebelumnya, aku mau meminta maaf atas kesalahanku yang dulu. Aku sudah meninggalkanmu begitu saja tanpa memberi kabar. Saat itu keadaanku sedang tidak baik-baik saja," ucap Gavin mengambil jeda sebentar.


Stella menghela napas panjang. Mengapa pembahannya tidak sesuai topik utama yang sudah direncanakan?


"Kamu tahu kan, kalau dulu aku adalah mahasiswa abadi di universitas?" tanya Gavin yang justru membuat Stella ingin sekali tertawa.


Bibir Stella terlipat ke dalam untuk meredam keinginan untuk tertawa. Sebelum berbicara, Stella berdehem pelan agar tidak kelepasan dalam situasi seperti ini. "Boleh tertawa tidak?" ucap Stella meminta izin.


Gavin mengangguk. "Kamu boleh tertawa karena itu memang kenyataanya," jawabnya terkekeh sendiri.


"Tidak jadi. Aku sudah memaafkanmu, lupakan saja. Sekarang, berbicaralah terus terang dan langsung ke intinya," jawab Stella pada akhirnya.


"Baiklah jika itu maumu," jawab Gavin pasrah.


Obrolan keduanya harus terhenti ketika ada pelayan yang datang membawakan pesanan Gavin. Setelah pelayan itu menaruh pesanan lalu pergi, Gavin kembali membuka mulut. "Silahkan sambil diminum dulu," ucap Gavin sambil mengulas senyumnya.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada ibunya pak Shaka?" tanya Stella tidak sabaran karena Gavin sejak tadi terlalu berbelit-belit.


"Jadi begini, sewaktu Shaka berulang tahun yang kedua belas, dia mengatakan menyesal lahir dari rahim seorang wanita seperti mama. Dia selalu iri padaku hingga membuat dia buta mata dan hati. Padahal, mama tidak seburuk itu. Mama sayang padaku juga pada Shaka. Tetapi aku akui, kasih sayang yang mama beri, lebih dominan ke aku."


"Hingga dua hari kemudian, mama melompat dari gedung kantor yang tinggi tepatnya di rooftop. Semua orang yang melihat berusaha mencegah mama agar tidak melompat. Termasuk aku dan papa. Shaka justru terlihat bahagia ketika mama akhirnya meninggal karena bunuh diri. Dia sama sekali tidak menangisi kepergian mama. Bahkan, Shaka tidak pernah mengunjungi makam mama walau hanya sekali," ungkap Gavin yang tidak sepenuhnya Stella percayai.


Raut wajah Stella memang terkejut ketika mengetahui bahwa ibu dari pak Boss-nya bunuh diri dengan melompat dari gedung tinggi. Stella hanya terdiam karena begitu shock dengan informasi yang baru saja di dengarnya.


"Sudah?" tanya Stella memastikan.


"Aku hanya ingin berpesan berhati-hatilah dengan Shaka. Dia bisa menikammu kapan saja dengan kata-kata pedasnya. Buktinya, mama sampai bunuh diri hanya karena ucapan Shaka," ucap Gavin mendramatisir keadaan.


"Terim kasih karena sudah peduli. Kalau begitu aku harus menyelesaikan semuanya," ucap Stella berpamitan lengkap dengan wajah seriusnya.


Gavin mengangguk mempersilahkan. Setelah kepergian Stella, Gavin mengambil kamera tersembunyi yang ditaruh di vas bunga. Gavin tersenyum licik lalu memindahkan hasil rekaman dan mengirimnya ke nomor Shaka.


"Kamu akan hancur lagi Shaka. Lihat saja hasil kerja kerasku yang sebentar lagi akan menimpamu," ucap Gavin merasa puas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungannya ya😍...


...mampir juga kesini yuk👇...


...



...

__ADS_1


__ADS_2