
Sore harinya, Stella mengajak Shaka untuk mengunjungi panti asuhan kembali. Stella sudah merasa rindu dengan adik-adiknya yang disana. Sekalian Stella ingin memberikan uang jajan untuk mereka.
"Aku boleh bertanya sesuatu?" ucap Shaka meminta izin terlebih dahulu.
Stella mengangguk. "Boleh. Tinggal kasih aku pertanyaan saja, Pak," jawab Stella santai.
Shaka mencebikkan bibirnya. Tetap saja panggilan 'Pak' yang Stella sematkan sudah melekat dalam ucapannya. Sia-sia sudah Shaka meminta Nala untuk mengganti nama sebutan untuk dirinya.
"Kok muka Bapak berubah kesal seperti itu? Kan aku sudah memperbolehkan Bapak untuk bertanya," sambung Stella lagi yang kini pandangannya tertuju pada Shaka sepenuhnya.
Shaka yang sedang mengemudi, langsung menepikan mobilnya hingga membuat Stella mengerutkan alisnya bingung. "Ini belum sampai, Pak. Kok sudah berhenti disini? Bensinnya habis ya, Pak? Kasihan sekali orang kaya kehabisan bensin," ucap Stella panjang lebar.
Shaka menghela napasnya lelah. Sepertinya, otak Stella kembali tergoncang setelah bertemu tukang cukur yang memotong rambutnya.
"Aku 'kan sudah bilang jangan panggil Bapak. Aku bukan Bapak kamu," jelas Shaka padat dan akurat.
Stella magut-magut tanda paham. "Baiklah, Pak. Bagaimana jika Bapak menjadi Bapak dari anak-anakku? Apakah mau?" tanya Stella dengan tampang tak berdosanya.
Shaka mengulum senyum kemudian kembali menghembuskan napas pelan. "Itu sudah beda penyebutannya, Stella Sayang. Suatu saat nanti, anak kita akan memanggilku dengan sebutan Papi. Sedangakn untuk kamu, mereka akan menyebutnya Mami," jelas Shaka sangat antusias.
Stella tersenyum lebar dengan tatapan yang tidak pernah lepas menatap sosok pria luar biasa di sampingnya. "Sarangbeo!" pekik Stella spontan dengan menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk hati.
Tawa lepas seketika terdengar dari Shaka. "Kamu ada-ada saja."
"Oh iya. Ini 'kan bukan inti dari apa yang ingin aku tanyakan, Stella. Kamu sudah berhasil mengalihkannya," ucap Shaka yang kini kembali menjalankan mobilnya.
"Baiklah. Ayo, berikan aku pertanyaan," jawab Stella menyetujui.
Terdengar gumaman panjang sebelum Shaka benar-benar menanyakan hal apa yang menganggu pikirannya. Setelah mengumpulkan banyak keberanian, akhirnya Shaka mulai membuka mulutnya.
__ADS_1
"Apakah kamu belum pernah atau sama sekali bertemu orangtua kamu? Apa mereka tidak mencarimu?" tanya Shaka hati-hati.
Stella menoleh lalu mengulas senyum. "Aku tidak tahu apakah orangtua kandungku mencariku atau tidak. Jika mereka kehilanganku sebagai anak yang hilang, mungkin mereka juga sedang merindukan aku dan berusaha mencarinya. Tetapi jika aku adalah salah satu dari anak yang terbuang, aku sudah tidak mengharap untuk dicari," ucap Stella yang kini tatapannya sudah lurus ke depan, seakan sedang menerawang sesuatu di depan sana.
Helaan napas berat berhasil keluar dari mulut Stella. "Ada satu harapan yang sampai saat ini masih aku harapkan kedatangannya, yaitu aku adalah anak yang hilang. Karena Bunda pernah bercerita bahwa aku dibawa oleh salah seorang warga terdekat. Aku ditemukan di area persawahan saat usiaku baru dua tahun. Bahkan, aku tidak ingat sama sekali masa-masa itu," ungkap Stella dengan hati yang lapang.
Shaka meraih jemari Stella untuk memberikan sedikit ketenangan. "Aku yakin, mereka juga sedang mencarimu. Aku akan ikut mendoakan semoga kamu segera dipertemukan oleh keluarga kandungmu," ucap Shaka tulus memberikan doa terbaiknya.
Stella mengangguk. "Selama ini aku hanya bisa berbicara pada langit agar segera mempertemukan aku dengan kedua orangtuaku. Aku sangat bahagia ketika mendapati langit malam sedang terang karena bulan dan bintang. Karena pada saat itu, aku merasa sedang dilihat oleh mereka dari jarak yang jauh dan mungkin sekitar bermil-mil jauhnya," ucap Stella kembali menerawang.
"Oh ya? Apa hal itu bisa membuatmu merasa lebih baik?" tanya Shaka penasaran.
Stella mengangguk yakin. "Aku seperti sedang melepas rindu dan benar-benar bertemu mereka," jawab Stella dengan menelan ludahnya susah payah. Tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu ketika sadar bahwa kenyataan hidup yang sedang dijalani begitu menyakitkan.
Shaka ingin memeluk Stella saat ini juga. Namun, keadaan tidak memungkinkan karena dirinya sedang mengemudikan mobil. "Stella?" panggil Shaka lembut.
"Hm?"
"Baiklah, Pak. Nanti Bapak harus benar-benar peluk aku ya?" jawab Nala mengucapkan ikrar.
"Kita harus saling memeluk," ralat Shaka yang segera mendapat anggukan setuju dari Stella. Seharusnya Shaka menyuruh Ron untuk menajdi sopir di hari Minggu ini. Tetapi sayangnya, Ron juga tidak bisa diganggu gugat jika sudah berurusan dengan sang Kekasih di hari Minggu.
Tidak berapa lama, akhirnya mobil mewah milih Shaka memasuki pekarangan panti. Hal yang membuat keduanya tersenyum adalah, banyak adik-adik panti yang menyambut kedatangan mereka.
"Mereka sangat bahagia, Sayang," ucap Shaka tersenyum haru.
Stella mengangguk membenarkan. "Ayo kita turun dan bagikan jajan untuk mereka. Aku sudah tidak sabar melihat mereka tersenyum senang.
Hampir setengah jam Stella dan Shaka berinteraksi dengan anak-anak panti, tiba-tiba Bunda memanggil Stella untuk masuk ke panti.
__ADS_1
"Apa ada masalah?" tanya Shaka menatap Stella penasaran.
Stella hanya mengangkat bahu tanda tidak paham. "Kita masuk saja agar semuanya tenang benderang," ajak Stella kemudian menarik lengan Shaka untuk mengikutinya.
Setelah berada di ruangan Bunda, Stella bisa melihat wanita paruh baya itu berdiri membelakanginya sambil memegang benda yang entah apa.
"Bunda? Boleh Stella masuk?" ucap Stella meminta izin.
Bisa Stella lihat ada raut terkejut yang ditunjukan Bunda. "Astaga. Bunda terkejut loh. Ayo masuk, sekalian kekasih kamu disuruh masuk jika tidak apa-apa," pinta Bunda bersahabat.
"Baiklah, Bunda," ucap Stella kemudian menarik lengan Shaka kembali untuk ikut duduk di sofa yang terletak di dalam ruangan Bunda.
Setelah Shaka dan Stella duduk, Bunda baru membuka topik pembicaraan. "Jadi begini, sewaktu kamu dititipkan disini, kamu memakai benda ini. Bunda tahu ini bukanlah benda biasa," ucap Bunda sambil menunjukkan kalung dengan bandul bertuliskan huruf 'Crys'.
Stella yang sejak tadi menyimak, seketika mengernyit heran. "Jadi, maksud Bunda benda ini adalah jimat?" tanya Stella polos.
Shaka yang duduk di samping sang Gadis seketika menepuk keningnya. Bisa-bisanya Stella menganggap kalung itu sebagai sebuah jimat. Sedangkan Bunda, dia menghela napasnya lelah. Sikap dan sifat Stella sejak dulu memang tidak pernah berubah.
"Maksud Bunda, kalung itu adalah kalung peninggalan orangtua kamu, Stella," ucap Shaka ikut membantu menjelaskan.
Bunda mengangguk membenarkan. "Nah, itu maksud Bunda sejak tadi. Masa kamu tidak paham. Jadi, karena menurut Bunda kamu sudah dewasa, benda ini akan Bunda serahkan padamu. Bunda yakin, dengan kalung ini kamu bisa menemukan keluarga kandungmu," jelas Bunda panjang lebar yang membuat isi kepala Stella mendadak kosong.
memori penuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa kasih dukungannya ya😍...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1