
Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian, Shaka memberanikan diri untuk mendatangi kostan Stella. Dia sudah bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan gadis yang saat ini masih berstatus menjadi kekasihnya.
Saat mobilnya sudah terparkir di pinggir jalan raya, Shaka berjalan melewati gang sempit menuju kostan Stella berada. Shaka bergegas menaiki tangga dimana kamar Stella berada.
Saat hampir sampai, Shaka bisa melihat pintu kamar Stella terbuka lebar. Itu berarti, Stella sedang berada di dalam sana. Shaka mengulas senyumnya, tidak sabar ingin segera melihat gadis pujaan hatinya.
Namun, saat Shaka sudah sampai di ambang pintu, di dalam sana tidak hanya ada Stella. Ada seorang laki-laki tampan yang duduk di Bean bag sedangkan Stella, dia sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam ransel dengan duduk bersimpuh di atas karpet bulu.
Senyum yang sempat terukir, perlahan memudar seiring dengan Stella yang mulai menyadari keberadaannya lalu menoleh ke belakang.
Shaka terpaku di tempat saat tatapannya beradu dengan mata Stella. Bolehkah Shaka tidak rela melihat kedekatan Stella dengan pria lain? Jujur, Shaka begitu rindu dengan tatapan itu, tatapan yang mampu merubah dunia hitam putihnya menjadi lebih berwarna.
"Pak Shaka," ucap Stella lirih.
Stello yang sedang sibuk dengan ponsel, akhirnya mendongak untuk melihat siapa seseorang yang dipanggil 'Pak Shaka' oleh adiknya.
Setelah tahu, Stello membuang pandangan. Dia jelas sudah menyelidiki siapa pria yang berdiri di ambang pintu. Selain menyelidiki Stella, Stello juga menyelidiki kekasih dari kembarannya itu.
Haruskan Stello memanggilnya dengan sebutan 'pak' juga? Atau kakak? Karena umurnya lebih muda dari pria di ambang pintu sana.
"Maaf jika kedatanganku mengganggu waktu kalian," ucap Shaka yang sudah mundur selangkah untuk berpamitan.
"Tunggu, Pak!" cegah Stella lalu berdiri dan mengejar Shaka. Sedangkan yang dikejar, dia sudah berjalan cepat keluar dari gedung kostan.
"Pak Shaka!" panggil Stella sambil berlari mengejar Shaka.
Stello hanya mengangkat bahu acuh. Pertengkaran dengan pasangan merupakan hal yang wajar.
__ADS_1
"Jangan menghindar terus-menerus atau Bapak akan menyesal di kemudian hari!" ucap Stella yang sudah menghentikan langkah dengan napas yang terengah-engah.
Seketika Shaka menghentikan langkah dengan posisi masih membelakangi Stella.
Melihat Shaka yang menghentikan langkah, Stella akhirnya kembali bersuara. "Aku tidak tahu apa salahku pada Pak Shaka. Bapak terlalu egois jika memintaku untuk selalu mengerti sedangkan Bapak tidak pernah mengatakan apapun tentang apa yang membuat Pak Shaka mengabaikanku," ucap Stella panjang lebar dengan dada yang bergemuruh menahan gejolak rasa yang begitu menyesakkan.
"Aku tahu kamu kecewa padaku. Tetapi, apakah harus kamu membawa pria lain ke kamar kostan-mu? Apakah semudah itu kamu menggantikan aku di hatimu?" tanya Shaka dengan posisi yang masih membelakangi Stella dengan jarak sekitar lima meter dari tempat Stella berdiri.
Stella mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mencerna ucapan Shaka. Setelah sadar, Stella mengulum senyumnya. 'Pak Shaka cemburu,' batin Stella bersorak gembira.
"Bapak tidak tahu saja apa yang sudah aku lalui selama berhari-hari tanpa ada pak Shaka. Aku paling tidak suka diabaikan tanpa ada alasan yang jelas," ucap Stella ingin membuat Shaka berbalik dan mengajaknya berbaikan lebih dulu.
Deg.
Seperti ada sesuatu yang menghujam jantung Shaka saat menyadari bahwa dirinya sudah cukup keterlaluan mendiamkan Stella selama berhari-hari tanpa mau berbicara dan mengatakan apa yang menyebabkan dirinya mendiamkan Stella.
Namun, yang dinanti nyatanya tak kunjung dilakukan. Stella menghembuskan napasnya pelan kemudian berjalan lebih cepat menuju kamar kost-annya.
Shaka akhirnya berbalik ketika mendengar langkah kaki Stella yang berjalan menjauh.
"Stella?" panggil Shaka saat Stella sudah melangkah sedikit jauh.
Stella sontak menghentikan langkah lalu berbalik. Tatapannya kini terkunci dengan pandangan Shaka yang jaraknya hampir sepuluh meter darinya.
Dan entah mendapat dorongan apa, Shaka berjalan tergesa-gesa mendekati Stella. Setelah berada di hadapan sang Gadis, Shaka langsung berhambur memeluk Stella sampai-sampai Stella hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya akibat pelukan Shaka yang membara sarat akan kerinduan.
Stella mengulas senyum lalu membalas pelukan itu. Dia bahkan harus berjinjit agar bisa menggapai leher Shaka dan menaruh dagunya di bahu pria kaku tersebut.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Shaka setelah cukup lama dalam posisi berpelukan.
Stella mengangguk masih dengan posisi memeluk Shaka. "Tahu tidak, Pak? Kita seperti sedang memerankan adegan di drama Korea loh," ucap Stella terkekeh pelan yang membuat Shaka semakin mengeratkan pelukan.
"Apapun itu, aku benar-benar meminta maaf karena sudah salah paham dan tidak mempercayaimu," ucap Shaka dengan telapak tangan yang mengelus punggung Nala lembut.
Stella langsung merenggangkan pelukan. "Salah paham? Tidak mempercayaiku? Apa maksudnya?" tanya Stella heran.
Shaka menggeleng kemudian mengecup bibir Stella sekilas lalu memeluk tubuh ramping itu lagi.
"Ehem!"
Deheman itu berhasil membuat Stella segera melepas pelukan. Dia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Stello sudah berdiri dengan tangan yang dilipat di depan dada.
"Bisa tidak jangan bermesraan di tengah jalan. Sebentar lagi jam pulang kerja akan tiba. Lebih baik kalian masuk," ucap Stello dengan nada cueknya.
Stella mengulum senyum. "Baiklah kapten!" jawab Stella kemudian menarik lengan Shaka untuk mengikutinya.
Stello yang melihat itu, memutar bola matanya jengah. Andai saja Ana berada disini, Stello juga bisa melakukan hal yang sama. Huh. Mengingat gadis itu membuat Stello menghembuskan napasnya kasar. Mungkin, dia harus segera menemui Ana dan meluruskan kesalah-pahaman yang tercipta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya....
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1