
Keesokan harinya, Stella berjalan menuju ujung gang dimana mobil Shaka sudah menunggu. Saat sudah sampai, Ron turun untuk membukakan pintu mobil. Namun, Stella begitu terkejut ketika melihat wajah Ron sudah babak belur dan membiru di bagian pelipis namun sudah samar.
"Pak Ron kenapa? Kok mukanya biru-biru seperti itu?" tanya Stella sedikit meringis.
Sedang yang ditanya, hanya menggeleng kemudian segera mempersilahkan Stella untuk masuk. Saat Stella masuk, Shaka tersenyum hangat ke arahnya yang segera dibalas senyuman juga.
"Kamu ingat dua hari yang lalu saat saya mengatakan sudah memberi pelajaran pada Ron?" tanya Shaka. Stella mengangguk.
"Itu adalah sisa-sisa pelajaran untuknya," sambung Shaka yang membuat Stella menutup mulut dengan telapak tangan.
"Jadi?"
"Iya. Itu akibatnya karena sudah membawa kamu pada papa saya," jawab Shaka sambil matanya melirik Ron tajam. Ron yang sadar sedang ditatap, bergegas menjalankan mobilnya. Dia tidak ingin Tuan-nya semakin marah besar.
"Pak? Kalau boleh tahu, kenapa Bapak begitu khawatir ketika saya datang ke rumah pak Gunardi? Bukankah itu ayah Bapak ya?" tanya Stella yang mulai penasaran.
"Bisa beri saya pertanyaan yang lain?" jawab Shaka yang justru balik bertanya.
Stella tersenyum manis. "Tidak perlu dijawab jika Pak Shaka menganggap itu sebagai soal ujian," ucapnya lembut.
"Terima kasih karena sudah mau mengerti," jawab Shaka tersenyum haru.
Ron yang mendengar Tuan-nya berbicara manis, mendadak ingin muntah saat itu juga. 'Sejak kapan Shaka bisa berbicara selembut itu?' rutuknya dalam hati.
"Saya tahu kamu sedang menggerutu dalam hati, Ron," ucap Shaka tiba-tiba yang terdengar dingin hingga membuat Ron berjenggir kaget. Untungnya, Ron sudah mahir dalam mengemudi. Jika tidak, akan dipastikan bahwa mobil yang dikendarai akan oleng.
Stella tergelak renyah. "Hati-hati Pak Ron. Pak Boss mempunyai mata batin," ucap Stella melemparkan candaan. Setelah itu, suasana seketika hening.
Shaka memilih fokus pada tablet di tangannya, Ron fokus pada kemudi, sedangkan Stella, dia memilih untuk menoleh ke samping untuk menikmati perjalan pagi hari menuju kantor.
Tidak berapa lama, mobil yang ditumpangi Stella sampai di parkiran kantor. Ketiganya turun bersama dan berjalan dengan posisi Shaka berada di tengah sedang di sisi kanan dan kiri ada Stella dan Ron.
Stella tampak menoleh kanan dan kiri sebelum benar-benar turun dari mobil Shaka."Kenapa kamu seperti orang yang sedang ketakutan?" tanya Shaka mengernyit heran.
"Takut ketahuan sama mbak Ratu. Dia 'kan pemilik akun lambe turah, Pak," ucap Stella dengan wajah takutnya.
__ADS_1
"Kata siapa?" tanya Shaka serius menanggapi.
Stella berdecak kesal. "Namanya saja sudah Ratu loh, Pak. Dia itu Ratu gosip di seantero kantor," beritahu Stella yang tanpa sadar juga sedang bergosip.
"Tidak ada berita yang terlewat satupun selama di perusahaan Virendra masih ada mbak Ratu. Dia punya CCTV dimana-mana, Pak. Bahkan, mbak Ratu sudah dinobatkan sebagai Miss CCTV Berjalan," imbuhnya lagi.
Shaka mengacak puncak kepala gemas. "Tidak perlu kamu pikirkan. Kan sekarang kamu adalah sekertaris saya. Jadi, kalau kemana-mana selalu bersama saya, yang melihat akan mengatakan wajar," ucapnya lembut.
Ron menoleh cepat dengan wajah heran ketika mendengar Tuan-nya bisa berbicara lembut dan panjang lebar. "Bos?" panggil Ron yang hanya dijawab gumaman oleh Shaka.
"Saya amati, pertemanan Bos dengan nona Stella membawa dampak positif. Buktinya, sekarang Pak Boss sudah bisa berbicara lembut dan panjang lebar. Itu merupakan sebuah kemajuan," ucap Ron bangga.
Shaka melotot tajam pada Ron yang sudah berani mengolok-olok dirinya. "Berani kamu sama saya?" tanyanya galak.
Ron meringis, merasa sudah kelepasan bicara. "Tidak, Boss. Kalau saya berani, mungkin saya sudah kaya raya," jawab Ron yang justru semakin membuat Shaka kesal.
Stella tergelak renyah melihat interaksi Boss dan asisten yang sudah selayaknya kucing dan tikus. Ternyata, berada di dekat orang-orang kaku seperti kanebo kering bisa membuat Stella awet muda karena selalu tersenyum bahagia.
...................
Sore harinya, Stella tidak pulang bersama Shaka karena Ana memintanya untuk menemani membeli kado. Keduanya sudah berada dalam mall yang cukup besar di pusat kota.
"Laki-laki dan baru kenal juga—"
"Kamu baru kenal tapi sudah saling tukar kado?" sela Stella cepat.
"Dan sudah akrab. Setiap aku pulang, aku selalu melewati toko rotinya," imbuh Ana merasa tidak terima Stella menyela begitu saja tanpa menunggu ucapannya selesai.
"Aneh sekali. Hati-hati loh, Na ... Takutnya dia buaya yang lepas dari penangkaran," ucap Stella memperingatkan sahabat karibnya.
"Aku yakin, dia adalah pria baik-baik. Buktinya, dia selalu menjaga kakeknya yang sudah lanjut usia. Padahal, ada seseorang yang sudah di pekerjakan untuk menjaganya" jelas Ana panjang lebar.
Stella magut-magut. "Kita lihat saja nanti," ucap Stella pada akhirnya.
"Eh! Beli jam tangan saja bagaimana? Biasanya kalau seorang laki-laki lebih suka dibelikan jam tangan," usul Stella yang segera mendapat anggukan setuju dari Ana.
__ADS_1
"Ide bagus!"
Tanpa basa-basi, Ana menarik tangan Stella agar segera masuk ke gerai penjual jam tangan yang tentunya mempunyai harga yang cukup fantastis.
Setelah melihat deretan jam tangan dengan berbagai model dan harga, pilihan Ana jatuh pada jam tangan berwarna silver metalik.
"Yang itu saja deh, La. Itu seperti lebih macho dan cool," ucap Ana menilai.
Stella mengangguk membenarkan. "Itu lebih elegan dan cocok dipakai laki-laki."
Setelah mengatakan pada petugas toko, jam tangan akhirnya sudah Ana bawa dengan dibungkus paperbag merek terkenal.
"Perut kamu sudah dangdutan belum?" tanya Ana sesaat setelah keluar dari toko.
Stella menoleh cepat dengan satu alis terangkat. "Kalau kamu berniat mentraktir, seharusnya tidak perlu bertanya apakah perutku sedang dangdutan atau sedang siraman rohani," jawab Stella sedikit kesal.
Ana tergelak renyah. "Stella ... Stella ... Setiap hari aku selalu mendengar kosa kata baru dari mulut kamu. Ayo! Aku traktir kalau begitu," ucap Ana kemudian.
Stella memutar bola matanya jengah. "Mengapa tidak sejak tadi sih? Kan aku tidak perlu mengeluarkan kosa kata baru lagi," ucap Stella kemudian mendengkus kesal.
"Kamu sudah minum kopi belum hari ini?" tanya Ana out of topic.
"Memangnya kenapa? Aku seharian ini belum minum kopi," jawab Stella santai.
Ana berhenti melangkah ketika sudah sampai di meja yang tersedia di sebuah gerai makan. "Pantas saja. Ternyata seharian ini kamu belum diberi sajen," ledek Ana tergelak lagi.
Stella mencebikkan bibirnya. "Kalau begitu, setelah makan malam selesai kamu harus memberiku sajen," ucap Stella tersenyum licik.
"Tenang!"
"Sajen akan segera hamba persembahkan untuk Paduka Nyai," ucap Ana dramatis sambil membuat gerakan membungkuk hormat.
Tawa Stella berhasil meledak. Sungguh, hari-hari bersama Ana selalu menyenangkan karena Ana selalu bisa mengimbangi begitu juga dirinya.
Mungkin, ini bisa Stella sebut dengan teman satu frekuensi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
minta tolong kasih sajennya ya, readersku tercintahhh😘😘😃🤭