
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Shaka setelah keluar dari gedung bioskop. Stella menaruh jari telunjuk di dagu dengan mata yang tertarik ke atas, sedang berpikir.
"Bapak kenapa sekarang berubah menjadi romantis begini?" tanya Stella yang menanyakan hal di luar topik.
Ehem.
Shaka berdehem pelan. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia ingin menjadi kekasih idaman dan disebut ideal untuk Stella. Shaka belum seberani itu untuk mengungkap perasaanya. Baginya, tindakan lebih berwujud daripada sekedar kata-kata cinta.
"Memang definisi romantis seperti ini ya?" jawab Shaka yang justru balik bertanya.
Stella mencebikkan bibirnya kesal. "Lupakan, Pak. Tolong jawab jujur untuk kali ini saja," ucap Stella menghentikan langkah kemudian memegang lengan Shaka terlihat begitu serius.
Shaka mengerjap binggung dengan tatapan menunduk menatap Stella yang berada di hadapannya. "Jawab apa?" tanyanya bingung.
Stella menatap Shaka dengan pandangan serius hingga membuat Shaka merasa takut menduga-duga pertanyaan apa yang akan Stella lontarkan.
"Tolong jawab jujur ya, Pak? Ini demi kebaikan hubungan di antara kita," ucap Stella mengalihkan fokusnya pada Shaka sepenuhnya.
Walau ragu, Shaka mengangguk.
"Tolong jawab jujur apakah bapak merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan?" tanya Stella dengan raut wajah serius.
Shaka mengerjap dengan jantung yang bertalu-talu. "Rasa apa yang kamu maksud?" tanya Shaka takut salah menduga.
Stella menjauh dan tersenyum jahil. "Rasa ... lapar, Pak," jawab Stella kemudian terkikik geli ketika melihat wajah Shaka yang begitu kaku.
"Jangan terlalu tegang, Pak ... Hidup dibawa santai saja." Kemudian Stella tergelak renyah saat tatapnya bertemu dengan mata Shaka yang melotot.
Shaka mendengkus sebal. "Saya kira kamu mau bertanya soal apa," kesalnya kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Stella yang tertawa puas karena sudah berhasil mengerjai dirinya.
'Dasar gadis cerewet itu. Aku kira dia mau bicara tentang apa. eh, tahunya malah bertanya lapar atau tidak. Apa dia tidak tahu bahwa kondisi jantungku mendadak tidak baik-baik saja?' gerutu Shaka dalam hati.
"Pak tunggu!"
__ADS_1
"Jangan marah, Pak. Saya berkata jujur kalau perut saya sedang dangdutan saat ini," ucap Stella setelah berhasil mengejar langkah Shaka.
Shaka berhenti melangkah dan menatap Stella dengan menghela napas kasar. "Kalau begitu kita makan terlebih dahulu," ucap Shaka lalu tangannya kembali memegang lengan Stella dan membawanya ke salah satu gerai makanan Sunda.
Setelah mendapatkan tempat duduk, Shaka mengangkat tangan memanggil waiters. "Mau makan apa?" tanya Shaka pada Stella.
"Terserah, Pak," jawab Stella yang membuat Shaka menghela napas pelan.
"Mbak, Pesan makanan terserah dua ya?" ucap Shaka pada waiters yang sudah siap dengan buku dan penanya. Sang Waiters tampak mengulum senyum mendengar ucapan tidak masuk akal Shaka.
Stella membulatkan mata tak percaya. Sedetik kemudian, Stella tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Shaka yang begitu random. "Mana ada menu makanan terserah, Pak?" ucap Stella tidak habis pikir.
Shaka menatap Stella dengan satu alis terangkat. "Itu kamu tahu. Coba pesan menu yang ada," pintanya dengan tersenyum puas.
Kini giliran Stella yang memutar bola matanya malas. "Bilang saja kalau Bapak mau saya yang pesankan makanan." Kemudian Stella segera menyebutkan makanan yang ingin di pesan beserta minuman.
"Pak?" panggil Stella pada Shaka yang kini sedang fokus pada ponselnya.
"Hm?"
Pasalnya, baru saja Stella memesan dua porsi bebek bakar. Shaka mengangguk mengiyakan. "Saya suka kok. Memangnya kenapa?" tanya Shaka heran.
Stella menjauhkan wajah lalu menghembuskan napasnya pelan. "Tidak apa-apa sih, Pak. Konon katanya, bebek yang sudah di sembelih tuh akan mati, Pak," ucap Stella sengaja bernada horror.
Shaka menatap heran dengan dahi yang sudah mengkerut. "Memangnya apa yang salah dari bebek mati?" tanya Shaka bingung.
Kepala Stella kembali mendekat setelah sebelumnya menjauh. "Bapak tahu tidak?" tanya Stella lagi yang segera mendapat gelengan dari Shaka. Dia berharap, Stella tidak berbicara hal yang kurang penting lagi.
"Konon katanya, bunyi bebek tuh Wek, Wek, Wek," ucap Stella kemudian terkikik ketika melihat wajah Shaka yang kesal.
"Dibawa santai saja, Pak. Hidup butuh dinikmati," ucap Stella tanpa beban.
"Kamu suka dengan film tadi ya?" tanya Shaka mencoba mencari topik pembicaraan.
__ADS_1
"Saya suka menonton film horror seperti tadi, Pak. Seru!" jawab Stella antusias bila sudah membahas masalah perfilman.
"Memangnya kamu tidak takut? Kebanyakan perempuan akan takut dan histeris kalau hantunya keluar," tanya Shaka sambil menyandarkan punggung di sandaran kursi.
"Saya tidak takut apapun kecuali takut pada Tuhan," jawab Stella tersenyum manis.
"Lalu, apalagi yang kamu takutkan?" tanya Shaka lagi bermaksud mengorek informasi tentang Stella dari sumbernya langsung.
"Saya begitu takut kehilangan orang-orang di sekitar saya. Padahal, semua itu sudah Tuhan atur dengan baik antara pertemuan dan perpisahan. Tetapi, terkadang saya belum siap sepenuhnya," ucap Stella yang kini terdengar sendu.
Shaka berdehem. "Berarti, kamu takut kehilangan saya juga?" tanya Shaka mengharapkan Stella menjawabnya dengan 'iya'. Entah mengapa hanya kata itu yang ingin di dengar Shaka dari mulut Stella.
"Bapak mau saya jawab iya atau tidak? Jujur. Jangan ada dusta di antara kita," ucap Stella dramatis.
Shaka tergelak. "Mulai lagi gesreknya," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
Tidak berapa lama, pesanan mereka sampai. Keduanya memutuskan untuk menikmati makan siangnya dengan khidmat tanpa suara. Hingga makan siang tandas, keduanya baru membuka bicara kembali.
"Mau makan lagi? dessert atau camilan lainnya?" tawar Shaka pada Stella.
Stella tampak berpikir terlebih dahulu sebelum akhirnya menggeleng sebagai jawaban. "Perut saya sudah tidak muat lagi, Pak. lain kali saja kalau Pak Shaka memberi saya makan gratis," jawab Stella sambil mengelus perut ratanya.
"Baiklah."
Kemudian Shaka mengangkat tangan untuk meminta bill. Setelah pelayan datang ke mejanya bersama bill yang dibawa, Shaka menaruh tagihan itu di hadapan Stella.
"Kamu yang bayar ya? 'Kan kamu yang meminta makan terlebih dahulu," ucap Shaka yang berhasil membuat Stella hampir tersedak air liurnya sendiri.
"Bapak tidak sedang bercanda 'kan?" tanya Stella panik.
"Saya bersungguh-sungguh. 'Kan kamu yang mengajak saya makan terlebih dahulu karena perut kamu katanya sedang mengadakan konser. Berarti kamu yang traktir dong?" jawab Shaka yang semakin membuat wajah Stella pias.
Shaka tergelak renyah. "Dibawa santai saja, La ... hidup butuh dinikmati," ucap Shaka menirukan gaya bicara Stella beberapa menit yang lalu. Kemudian, mengambil black card dari dalam dompetnya untuk kemudian diangsurkan pada pelayan tadi.
__ADS_1
Stella mendengkus pelan dan ingin sekali menghadiahi Pak Boss-nya cubitan atau pukulan kecil agar atasannya itu tidak lagi mengerjai dirinya.