
"Boleh bikin kopi tidak, Pak?" tanya Stella sambil senyum meringis.
Shaka terkekeh pelan. "Boleh. Buat saja sekalian untukku," jawab Shaka mempersilahkan.
Stella mengangguk kemudian beranjak dari duduknya. "Aku pinjam dapurnya sebentar ya, Pak," izin Stella yang segera diangguki oleh Shaka.
Saat ini Stella masih berada di apartemen Shaka. Dia begitu bosan ketika Shaka hanya diam dengan menghabiskan berpuntung-puntung rokok. Sedangkan Stella, dia hanya bisa melihat apa yang Shaka lakukan.
Stella jadi berpikir, apakah Shaka tidak berani memulai pembicaraan terlebih dahulu? Pasalnya, Stella ingin memulai tetapi sedikit ragu karena ini menyangkut urusan pribadi. Jadi, Stella memilih untuk mencairkan suasana dengan meminta kopi pada Shaka.
"Maaf karena aku lupa membuatkanmu minuman," ucap Shaka yang masih Stella dengar karena saat ini Stella sudah sampai di dapur.
Stella memanaskan air terlebih dahulu kemudian menyiapkan dua cangkir. Setelah itu, Stella membuka setiap laci untuk mengetahui dimana Shaka menyimpan kopi di apartemennya. Hingga semua laci sudah terbuka, Stella sama sekali tidak menemukan satu bungkus kopipun. Hanya tersisa satu laci di atas kepalanya yang sulit sekali Stella raih karena tinggi badan tidak memadai.
Akhirnya dengan suara sedikit berteriak, Stella bertanya pada Shaka. "Pak! Kopinya dimana ya, Pak? Kenapa di semua laci tidak ada?" ucap Stella lantang.
Tidak ada jawaban dari pria kaku itu. Hanya ada suara langkah kaki dari sandal rumahan yang terdengar berjalan menuju ke arahnya. Tidak berapa lama, Shaka muncul dan mendekat pada Stella.
Stella yang sedang berdiri menghadap kabinet karena harus menggapai satu laci yang terletak di kabinet atas, seketika merasakan punggungnya menghangat. Ada tubuh kekar yang menempel di punggungnya yang setelah itu, Stella bisa mencium aroma rokok bercampur wangi parfum yang sudah memudar namun tetap membuat Stella merasa candu.
Stella bisa melihat ada tangan kokoh yang terulur melewati samping tubuhnya. Hembusan napas hangat juga mnyergap tengkuknya hingga membuat bulu-bulu halus di tubuhnya meremang.
Stella merasa dirinya sudah gila karena bayangan ciuman panas Shaka dan dirinya melintas seketika. "Ini." Suara berat itu berhasil menyentak lamunan Stella.
__ADS_1
Stella menerima satu bungkus kopi yang lumayan besar yang Shaka ulurkan. "Terima kasih, Pak," ucap Stella kemudian akan berbalik untuk mengangkat teko yang sudah berbunyi. Namun, hal itu segera dicegah oleh Shaka dengan memeluk tubuh Stella dari belakang.
Entah mengapa jantung Stella saat ini berdetak tak beraturan. "Pak? Itu tekonya sudah bunyi," ucap Stella memberitahu.
Shaka tidak menjawab namun gerakan tubuhnya sudah menunjukkan jawaban dari ucapan Stella. Stella bisa melihat tangan Shaka yang terulur untuk memencet tombol off pada kompor listrik yang ada di apartemennya.
Setelah itu, tangan yang tadi sempat terulur kini memeluk tubuh Stella erat. "Terima kasih karena sudah sangat mengerti aku dengan baik," ucap Shaka lembut dengan suara yang sedikit berbisik.
Stella mengangguk dengan masih dalam dekapan Shaka. Setelah itu, Stella bisa merasakan ada dagu yang bertumpu pada bahunya yang tidak lain adalah milik Shaka.
"Pak, aku mau membuat kopinya dulu," ucap Stella sambil bergerak tak nyaman.
"Biarkan seperti ini dulu. Aku ingin mencari ketenangan dengan memelukmu," ucap Shaka sambil memejamkan mata, merasa nyaman.
"Aku mencintaimu, Stella," ungkap Shaka kemudian mencuri kecupan di rahang sang Gadis.
Stella tersenyum menunduk dengan wajah yang bersemu merah. Shaka yang menyadari itu segera membalikkan tubuh Stella agar mau menghadap dirinya.
Shaka mengangkat dagu sang Gadis lembut. Saat wajah itu sudah mendongak ke arahnya, Shaka seketika menelan saliva melihat bibir Stella yang ranum dan terbuka sedikit. Wajah keduanya begitu dekat hingga harus bertukar oksigen yang sama.
Cup.
Stella memejamkan mata ketika bibir lembut Shaka menyentuh bibirnya cukup lama. Dalam dada Stella seperti ada keinginan untuk melakukan lebih, bukan hanya sekedar kecupan biasa. Karena bibir Shaka tidak ada pergerakan, Stella akhirnya berinisiatif memulai lebih dulu.
__ADS_1
Stella memberikan kecupan-kecupan singkat pada bibir Shaka hingga membuat pria kaku itu memejamkan mata. Senyum tipis bisa Stella lihat ketika dirinya mulai memberikan lu ma tan ringan di bibir Shaka.
Merasa mendapat lampu hijau, Shaka akhirnya membalas ciuman itu dengan lembut yang berganti dengan ciuman penuh gairah hingga membuat Shaka kehilangan akal sehatnya. Keadaan Stella juga tidak jauh berbeda. Dia menginginkan sentuhan Shaka yang diam-diam sudah menjadi candunya.
"Pak!" ucap Stella memekik ketika tubuhnya tiba-tiba melayang di udara, Shaka sudah membawa tubuh Stella ala bridal style dengan tetap menciumi bibir Stella.
Tujuan Shaka kali ini adalah kamarnya. Setelah masuk, menutup dan mengunci pintu, Shaka segera membaringkan tubuh Stella di atas ranjang dengan sangat lembut.
Erangan tertahan berhasil lolos dari mulut Stella saat tiba-tiba saja Shaka menyentak pakaian bagian atasnya. Setelah itu, Stella bisa merasakan benda lunak dan basah yang menyentuh puncak gundukannya.
Sungguh, Stella dibuat hilang akal Karena sentuhan Shaka. Tidak tahu akhir dari permainan ini, Stella hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak munafik, Stella juga menginginkan Shaka menyentuh dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa aksih dukungannya. sekecil apapun itu sangat berarti untuk karyaku😍...
...Terimakasih untuk kalian yang sudah membaca sampai bab ini. terima kasih juga buat kalian yang sudah jadi pembaca aktif komen,like, vote, dan kasih hadiah. ...
...semoga kalian semua diberi kesehatan ya😘...
...yuk mampir juga ke karya temanku👇...
__ADS_1