
"Stella! Tunggu!" panggil suara yang sudah tidak asing lagi bagi Stella. Tanpa repot-repot menoleh, Stella terus melangkah dengan cepat karena langit semakin gelap dan Stella yakin, sebentar lagi hujan akan turun.
"Stella!" panggil Gavin lagi dengan napas terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Stella singkat sambil memakai atribut berkendaranya. Ya, Gavin mengejar Stella hingga sampai di tempat parkir. "Bisa kita bicara sebentar? Ada sesuatu yang harus aku jelaskan padamu," ucap Gavin memohon, sangat berbanding terbalik ketika sedang berbicara dengan Shaka. Tidak ada lembut-lembutnya.
Stella mendengkus pelan. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku harus pulang sekarang," ucap Stella berpamitan. Kemudian, Stella mulai menjalankan motornya meninggalkan Gavin yang terlihat frustasi.
Setelah berada di perjalanan, ingatan Stella kembali tertuju pada beberapa tahun silam dimana saat itu Stella masih kuliah semester awal. Di universitas itulah Stella bertemu Gavin dan mengenalnya. Bahkan, keduanya sempat dekat hingga dikabarkan sudah berpacaran.
Wajah Stella yang cantik dengan ciri khas lesung pipi, tentu sangat menarik lawan jenis dan tidak sedikit para laki-laki yang datang untuk menawarkan hubungan serius padanya, termasuk Gavin.
Namun, saat hubungannya semakin dekat, Gavin justru meninggalkan Stella disaat sedang sayang-sayangnya. Gavin menghilang sehari setelah di wisuda. Merasa tidak ada yang perlu diharapkan dari hubungan tersebut, Stella memilih melupakan Gavin dan berjanji tidak akan menerima apapun alasan Gavin jika seandainya dia datang kembali.
Lamunan Stella tersentak saat hujan tiba-tiba saja turun dengan deras. Stella menghela napas dan memilih menepikan motornya di depan ruko yang sudah tutup. Ya, hari sudah menunjukan pukul lima lewat lima belas menit. Karena cuaca sensg hujan deras, suasana seketika menjadi sedikit gelap.
"Nasib ... Nasib. Mengapa disaat hujan seperti ini aku tidak membawa jas hujan Ya Tuhan!" pekik Stella merasa frustasi ketika melihat isi bagasi motor sudah tidak ada jas hujan yang biasa Stella bawa. Terpaksa, Stella menunggu hujan reda.
Stella duduk di undakan depan toko itu sambil memandang pada tetesan hujan yang sangat estetik menurutnya. Stella mengulas senyum tipis lalu berdiri dan kedua tangannya menengadah menerima tetesan air hujan yang sedang Tuhan turunkan ke bumi.
"Demikian hujan. Di luar menggenang, di hati terkenang," ucap Stella puitis.
"Tapi bo'ong." sambungnya lagi lalu terkikik geli dengan tingkahnya sendiri.
"Ehem."
Deheman itu berhasil mengalihkan perhatian Stella dan mencari sumber suara. Betapa terkejutnya Stella ketika mendapati Shaka juga sedang berteduh di tempat yang sama. "Eh, Pak Shaka disini juga? Sedang apa, Pak?" tanya Stella polos.
"Sedang memperhatikan kamu cekikikan seperti orang gila," jawab Shaka dengan bibir atas yang berkedut menahan senyum.
Stella mencebikkan bibirnya kesal dan mendekat pada Shaka yang kini sedang duduk di undakan. Stella memperhatikan motor sport yang sejak tadi luput dari pandangannya. "Bapak tidak membawa mobil? Mengapa?" tanya Stella heran.
__ADS_1
Shaka menggeleng. "Bukannya kamu tahu alasannya? Jalanan 'kan sedang macet," jawabnya tidak seketus biasanya. Stella mengangguk membenarkan. Jalan yang biasa dilewatinya sedang ada demo besar-besaran.
"Memangnya, Bapak tidak membawa jas hujan ya?" tanya Stella lagi tanpa kenal lelah. Shaka mendengkus pelan, merasa jengah karena Stella mempunyai banyak sekali tenaga untuk berbicara panjang kali lebar.
"Cerewet!" jawab Shaka menggerutu.
Stella sama sekali tidak tersinggung. Justru, dia semakin gencar untuk melontarkan berbagai pertanyaan agar mampu membuat Pak Bossnya itu kesal dan yang lebih menyenangkannya lagi, Stella bisa membuat Shaka tersenyum.
"Bapak mengetahui sesuatu tidak, tentang jodoh itu pelengkap hidup yang belum sempurna?" tanya Stella mulai melancarkan aksinya.
Shaka tampak tertarik dengan pertanyaan Stella sehingga, tubuhnya dia miringkan untuk mendengar dengan baik penjelasan gadis cerewet di depannya. "Benarkah?" tanyanya penasaran.
Stella mengangguk antusias. "Tentu, Pak. Bapak mau saya kasih contoh pasangan yang saling melengkapi tidak?" tawar Stella merasa puas karena Shaka telah masuk dalam perangkap permainannya.
"Seperti apa?" tanya Shaka antusias.
Stella tersenyum manis hingga menampakan lesung pipinya yang begitu cantik. "Contohnya ya seperti saya dan Pak Shaka yang akan saling melengkapi ketika kata aku dan kamu menjadi KITA," jawab Stella kemudian terkikik geli karena berhasil mengerjai atasannya.
"Oh ya?" tanya Shaka sambil menatap lekat wajah Stella.
Cukup lama keduanya hanya diam dan saling menatap satu sama lain hingga suara petir berhasil menyadarkan Shaka juga Stella.
Duar! Ctaar!
"Astaga dragon!" pekik Stella kaget hingga tanpa sadar, tubuhnya merapat pada tubuh kekar Shaka. Keduanya saling pandang lagi hingga menimbulkan degup jantung yang tidak biasa di antara keduanya.
Bahkan, wajah keduanya sudah sangat dekat hingga Stella mampu melihat dengan jelas garis wajah sosok tampan di hadapannya. 'Apa aku sedang terpesona?' batin Stella bertanya.
"Senyum dong, Pak. Agar semakin tampan," goda Stella dengan mata yang masih menatap lekat mata Shaka. Betapa beruntungnya Stella hari itu, Shaka benar-benar tersenyum begitu tulus.
Stella sampai menutup mulutnya agar tidak berteriak karena begitu girang. "Sudah saya bilang, Bapak akan semakin tampan jika tersenyum seperti ini," ucap Stella sambil tangannya membuat gerakan membingkai senyum Shaka yang masih terbit.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Shaka dengan senyum hangatnya.
Stella mengangguk antusias. " Sangat tampan, Pak." Stella menjawab dengan jujur tanpa bermaksud melebih-lebihkan.
Tiba-tiba, suasana syahdu itu harus terhenti ketika suara petir kembali terdengar.
Duar!
"Astaga dragon!" pekik Stella lagi yang berhasil membuat Shaka tertawa mengejek.
"Kamu takut dengan petir?" tanyanya yang kini sudah berani melontarkan ejekan. Stella menipiskan bibirnya, merasa tidak terima dengan tuduhan Shaka barusan.
"Namanya perempuan harus ada feminimnya dong, Pak. Apalagi, saat ini saya sedang bersama laki-laki tampan. Teriakan saya tadi, hanyalah formalitas," jawab Stella nyeleneh.
"What the—" umpat Shaka tidak habis pikir dengan tingkah Stella.
"Lalu, Astaga dragon itu apa? Perasaan, saya sering sekali mendengar kata tersebut kamu ucapkan?" tanya Shaka lagi.
Stella tergelak renyah. Sepertinya, dia harus menceritakan asal-usul 'astaga dragon' yang selalu dirinya ucapkan. "Dragon 'kan artinya naga. Kalau astaga dragon berarti astaga naga. Jadi, supaya saya terlihat lebih berkelas, naganya saya Inggriskan," jelas Stella yang membuat Shaka seketika meledakkan tawa.
Hahahaha.
"Kamu lucu dan unik," ucap Shaka disela tawanya.
Stella tersenyum haru melihat wajah yang semula datar kini sedang tertawa lepas hanya karena ucapannya. Cukup lama Shaka tertawa hingga dia sadar bahwa sedang diperhatikan dengan intens oleh gadis di hadapannya.
"Kenapa? Aku terlihat lebih tampan?" tanya Shaka dengan alis naik-turun.
Stella mengangguk antusias. "Sangat tampan, Pak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
yuk tinggalkan jejak kalian disini 😘
jejak kalian sangat berarti untuk karyaku 😉