Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 45. Jangan aneh-aneh


__ADS_3

Sesuai keinginan, Stello menyerahkan Stella pada kekasih sekaligus atasannya untuk mengantar adiknya ke rumah menemui kakek.


Stello sudah memberikan syarat jika ingin hubungan keduanya berjalan lancar maka harus mendapatkan restu sang kakek terlebih dahulu.


Shaka yang memang bersungguh-sungguh untuk menjalin sebuah hubungan bersama Stella, dengan senang hati menerima permintaan kembaran Stella.


Ya, Shaka sudah tahu jika Stella mempunyai saudara kembar yang sudah lama terpisah dan selama Shaka mengabaikan Stella, pertemuan Stella dan keluarganya terjadi.


"Titip adik aku ya? Aku ada urusan sebentar," pamit Stello sambil menepuk bahu Shaka layaknya berbicara dengan sahabat karib.


Shaka tersenyum dan mengangguk. "Pasti," jawabnya mantap.


"Titip ... Titip. Memangnya aku barang?" kesal Stella dengan bibir mencebik.


"Mau kemana sih, Bang? Mau menemui Ana ya?" tanya Stella dengan tatapan penuh selidik dan alis yang bergerak naik-turun.


"Nanti aku kasih tahu," jawab Stello yang kini mulai berjalan menjauh dan tergesa-gesa.


Sepeninggalan Stello, tinggallah Stella dan Shaka di ruangan yang berukuran kecil itu. Shaka beranjak dari duduknya di atas karpet kemudian mengunci pintu dan,


Klik.


Shaka mengunci pintu kamar kostan milik Stella. Kini, tatapan Shaka tertuju pada Stella yang saat ini juga sedang menatapnya dengan raut wajah yang tegang.


"Kenapa di kunci, Pak?" tanya Stella lirih.

__ADS_1


Shaka tidak menjawab namun matanya menatap Stella lekat yang saat ini sedang duduk di Bean bag.


Stella menatap Shaka yang kini sudah duduk di hadapannya. "Pak? Jangan aneh-aneh deh," racau Stella waspada.


Shaka seketika menyemburkan tawanya saat melihat wajah Stella yang begitu tegang.


Stella yang paham bahwa Shaka hanya mengerjai, langsung melayangkan pukulan pada lengan pria tampan itu.


"Ish! Malah tertawa. Jangan membuatku takut dong, Pak," ucap Stella lagi kesal.


Shaka sudah menghentikan tawanya. Tanpa diduga, Shaka langsung mengangkat tubuh Stella kemudian mendudukkan di pangkuannya. Shaka memilih duduk di atas Bean bag yang tadi Stella duduki.


"Sudah berapa kali aku katakan jangan panggil aku dengan sebutan 'pak'. Aku ingin panggilan yang romantis," ucap Shaka sambil tangannya sibuk menyingkirkan helaian rambut Stella yang menutupi wajahnya.


"Abang? Aku kalau panggil dengan Mas tuh, seperti terlalu Jawa banget. Sedangkan Pak Shaka kan bukan orang Jawa," jelas Stella menimang-nimang keinginan Shaka.


Stella terkekeh pelan dengan tangan yang bergerak menyelipkan anak rambut, terlihat gugup. Apalagi, kini tatapan Shaka begitu lekat menatapnya. Begitu juga dengan wajah yang begitu dekat hingga hidung keduanya hampir menempel.


Cup.


"Jangan gugup. Aku tahu kamu sedang gugup kan?" ucap Shaka setelah mencuri kecupan sekilas di bibir Stella.


Dan betapa menyenangkannya ketika melihat wajah Stella tampak merona akibat ciumannya tadi.


"Maafkan aku karena sudah salah paham padamu. Aku terlalu takut kehilanganmu," ucap Shaka sambil menatap Stella sendu.

__ADS_1


Stella mengangguk. "Tidak masalah. Aku tahu. Akan tetapi, seharusnya Bapak tidak mengabaikanku. Bukankah aku sudah pernah meminta Bapak untuk terbuka denganku?" tanya Stella dengan wajah yang dibuat marah.


Shaka terkekeh geli. "Sekali lagi panggil aku Bapak, aku akan cium kamu," ancam Shaka yang sama sekali tidak membuat Stella takut.


"Baiklah. Aku akan panggil sebut—"


"Mas saja. Aku lebih suka di panggil dengan sebutan mas apalagi ada embel-embel Sayang. Itu sangat romantis menurutku," sela Shaka cepat sebelum Stella menyelesaikan kalimatnya.


Stella tersenyum. "Baiklah, Mas Sayang." Stella akhirnya menurut untuk memanggil kekasihnya itu dengan sebutan mas.


"Aku boleh meminta sesuatu?" tanya Shaka dengan tatapan mendongak karena saat ini posisinya lebih rendah dari Stella yang duduk di pangkuan dengan menghadapnya.


"Boleh. Mau meminta apa?" tanya Stella sambil memainkan rambut Shaka yang masih menggunakan cukuran model Cepmek.


Shaka tampak memejamkan mata saat jemari lentik Stella bermain di atas kepala. Seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya dan menimbulkan rasa ingin melakukan lebih. Stella benar-benar berbeda dan bisa membangkitkan sesuatu di bawah sana.


"Cium aku lebih dulu. Aku ingin merasakannya," jawab Shaka dengan suara yang sudah berat dan serak.


Stella menatap lekat wajah tampan yang kini jaraknya sangat dengan dengan wajahnya. Perlahan, Stella memajukan wajah dengan pandangan menatap bibir milik Shaka.


Setelah bibirnya saling menempel, Stella menyesap sedikit bibir itu hingga suara erangan kecil keluar dari mulut Shaka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungannya ya 😘...

__ADS_1


...mampir juga kesini yuk 👇...



__ADS_2