Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 39. Bisa dibicarakan


__ADS_3

Walau Stella sudah berbicara panjang lebar, Shaka amsih saja memasang wajah cemberutnya. Stella menghela napas lelah. "Aku pulang saja kalau begitu. Aku menyerah," ucap Stella sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


Sejak tadi Stella berbicara panjang lebar dan selalu bertanya alasan mengapa Shaka tiba-tiba saja mendiamkannya. Namun, Shaka seperti enggan untuk mengutarakan isi hatinya yang mengganjal.


Stella sudah berdiri dan siap melangkah, berharap Shaka mencegahnya. Namun, hingga Stella berjalan dan hampir sampai di depan pintu, tidak ada suara Shaka yang mencegah.


Stella menghembuskan napasnya pelan. Jika Shaka hanya diam, bagaimana Stella bisa mengetahui apa yang membuat Pak Boss-nya marah?


Karena merasa kesal, Stella benar-benar membuka pintu. Setelah berada di luar, Stella menutup pintu tanpa perlu menoleh lagi. Sudah cukup dirinya membujuk.


Di malam yang dingin itu, akhirnya Stella pulang menyusuri trotoar dengan perasaan sesak. Apakah ini resiko jatuh cinta?


"Ya, jika seseorang sudah berani jatuh cinta, maka dia juga harus siap untuk terluka. Karena jatuh cinta sudah pasti sepaket dengan patah hati," monolog Stella dengan kaki yang menendang-nendang udara.


Stella menghembuskan napasnya lelah. Mungkin ini adalah resiko untuknya yang mencintai laki-laki kaku seperti Shaka. Tetapi, Stella juga mempunyai sisi lelahnya. Dia tidak bisa untuk selalu tegar dan sabar. Dia hanya manusia biasa yang masih bisa merasakan itu semua.


Tidak langsung pulang, Stella memilih untuk duduk di taman yang dekat dengan kostannya. Stella mengeratkan jaket saat udara dingin menerpa tubuhnya. Stella mendongak untuk menatap langit yang hari ini sedang bertabur bintang.


Bahkan, bulan juga tanpa malu-malu menunjukkan wajah terangnya hingga keadaan di bumi tidak segelap malam-malam biasanya.


Stella kembali teringat dengan dua orang yang telah menghadirkan dirinya di dunia. Hingga detik ini, Stella belum pernah melihat bagaimana rupa keduanya.

__ADS_1


Tanpa sadar, Stella sudah menitikkan air mata. Dari kecil dia belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah dan ibu. Walau di panti ada Bunda, bagi Stella rasanya tetap kurang.


Air mata Stella kembali menetes. Suasana malam selalu berhasil membuatnya kembali merasa sendiri. Seakan dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar.


Memang seperti itu bukan? Kepada siapa Stella harus menyandarkan kepala disaat keadaan hatinya sedang tidak baik-baik saja?


Disaat seperti ini, Stella selalu merasa rapuh. Dia dipaksa harus berdiri dengan kakinya sendiri demi bisa bertahan hidup. Stella meraup wajahnya, berusaha kembali pura-pura bahagia seperti biasa.


Nala menghembuskan napas agar sesak di dadanya sedikit berkurang. Hingga ada suara yang menginterupsi, uang membuat Stella menoleh kaget.


"Jangan bersedih. Aku tahu saat ini kamu sedang merasa kesepian," ucap seseorang yang tidak lain adalah Gavin.


Stella menoleh tidak suka. "Mau apa lagi kamu?" tanya Stella waspada.


"Aku masih belum percaya kalau kamu sudah berubah," jawab Stella kemudian kembali mendongak menatap langit.


"Terserah. Aku tidak perlu menjelaskan tentang diriku kepada siapapun. Karena yang menyukaiku tidak butuh itu dan yang membenciku, tidak percaya itu," jawab Gavin masa bodoh.


Stella menoleh heran. "Sejak kapan kamu jadi puitis seperti itu?" tanyanya tidak habis pikir.


Dengkusan pelan bisa Stella dengar dari bibir Gavin. "Aku selalu salah di matamu, Stella," ucap Gavin dramatis.

__ADS_1


Stella terkekeh pelan dan kembali menatap langit setelah tadi menoekh sekilas pada Gavin.


"Terima kasih, Stella," ucap Gavin tiba-tiba.


"Untuk?"


"Untuk ... Pembahasan tentang Shaka waktu itu. Aku mulai sadar, bahwa semua yang dilakukan Shaka adalah sebuah bentuk dari reaksi yang mama lakukan. Terima kasih karena sudah menyadarkanku," ucap Gavin yang kini ikut menatap pemandangan langit.


Stella kembali menolehkan kepala, merasa heran dengan perubahan sikap Gavin. "Habis bertapa ya? Dan sudah dapat wangsit? Kok beda sekali dari beberapa hari yang lalu?" tanya Stella setengah mengejek.


Gavin mengacak rambut Stella pelan. "Bisa kita berteman?" tanyanya tulus sambil menatap Stella lekat.


Stella terdiam cukup lama. Hingga suara Gavin kembali terdengar. "Tidak mau ya?" tanyanya terdengar kecewa.


"Bisa dibicarakan," jawab Stella sambil mengangguk-angguk kepalanya lucu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...terima kasih untuk kalian yang masih mendukung Stella sampai hari ini. jangan kasih kendor ya.....


...mampir juga kesini yuk 👇...

__ADS_1



__ADS_2