Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 20. Awal pertengkaran


__ADS_3

"Stella? Pulang bersamaku 'kan?" tanya Shaka ketika melihat Stella mulai merapikan barang-barangnya. Shaka berharap Stella mau pulang bersama dan Shaka bisa mengajak Stella ke suatu tempat.


"Memang, aku tidak merepotkan ya, Pak ? Setiap hari harus berangkat dan pulang bersama Bapak?" tanya Stella asal karena dirinya sedang fokus memasukkan barangnya.


"Merepotkan? Tentu saja tidak. Jika kamu mau, aku akan ajak kamu ke suatu tempat," ajak Shaka memberi penawaran.


Stella berdecak pelan. "Nyogok nih, ceritanya." Kemudian Stella mencebikkan bibirnya yang membuat pipi bagian kirinya mengeluarkan lesung.


Tangan kokoh Shaka terulur mengacak rambut Stella gemas. "Aku tidak bermaksud seperti itu," sangkalnya jujur.


Stella menyampirkan tali tas di punggungnya dan beranjak untuk keluar dari kursi kebesarannya. "Bapak hanya perlu mengatakan, 'Stella, kita jalan yuk!' itu sudah cukup, Pak. Hanya mengatakan itu, susah ya, Pak?" ucap Stella mengomel panjang lebar.


Shaka tergelak renyah. "Kalau aku bilang gitu, kamu memangnya mau?" tanya Shaka balik.


Stella menghela napas lelah. Berbicara keromantisan dengan mantan orang kaku memang semelelahkan itu. "Terserah Bapaklah. Intinya aku mau pulang," ucap Stella kesal kemudian berjalan melewati Shaka yang masih terpelongo.


"Stella! Tunggu!" panggil Shaka mengejar langkah sang Gadis.


Karena Stella tidak mau menghentikan langkah, Shaka memilih memegang pergelangan tangan Stella dan itu berhasil. Stella menoleh dengan wajah lelahnya. "Apa lagi, Pak?" tanyanya lelah.

__ADS_1


"Kamu marah?" tanya Shaka sambil memegang kedua bahu Stella.


"Kenapa aku harus marah, Pak? Aku hanya terlalu lelah hari ini," jawab Stella tanpa menatap mata Shaka.


"Kamu kenapa? Mengapa berubah cuek seperti ini? Padahal, tadi pagi baik-baik saja," tanya Shaka dengan tatapan menyelidik. Tangannya digerakkan untuk mengangkat dagu Stella agar mau menatapnya.


"Apa yang terjadi? Tidak mungkin kamu datang bulan dua kali selama sebulan lagi 'kan?" tanya Shaka menatap mata Stella lekat.


Sedangkan Stella yang ditatap justru membuang pandangan. "Aku hanya tidak mau di anggap menjual diri oleh semua yang bekerja disini," ucap Stella sudah kelepasan bicara.


Tatap mata Shaka berubah kelam. "Siapa yang mengatakan itu padamu? Jual diri pada siapa yang dimaksud? Padaku? Katakan! Siapa orang yang sudah berkata buruk tentangmu?" tanya Shaka dengan rahang mengeras dan gigi bergemeletuk.


"Jangan berbohong. Aku tahu pasti ada yang sudah berkata buruk padamu." Shaka kembali berucap dengan kedua tangan mengepal.


"Itu tidak penting, Pak. Aku akan pulang sendiri saja agar tidak menimbulkan spekulasi seperti itu," ucap Stella ketakutan dan akan berjalan meninggalkan Shaka. Namun, belum sempat Stella melangkah, tiba-tiba saja Shaka mengangkat tubuhnya bagai karung dan membawanya masuk ke ruangan miliknya.


"Akh! Apa yang Bapak lakukan!" pekik Stella kaget lalu memukul-mukul punggung Shaka.


"Diam dan menurutlah!" titah Shaka yang justru terdengar lembut, tidak seperti tadi yang nada bicaranya sudah sangat menyeramkan.

__ADS_1


Setelah berada dalam ruangan, Shaka mengunci pintu ruangan dengan Stella yang masih berada di gendongan. Kemudian, Shaka mendudukkan Stella di meja kerja miliknya setelah menyingkirkan tumpukan berkas hanya dengan sekali sentakan tangan.


"Pak! Apa yang akan Bapak lakukan!" pekik Stella ketakutan.


Shaka hanya tersenyum miring lalu mengunci pergerakan Stella dengan cara mengapit kedua paha sang Gadis dengan kedua kakinya. Sedang tangannya digunakan untuk menahan tangan Stella yang sedang berusaha melakukan perlawanan.


"Lepaskan, Pak!" ucap Stella kesal.


"Jangan seperti ini, Pak! Aku takut," ucap Stella lagi yang kini terlihat bergetar ketakutan.


Menyadari itu, Shaka langsung melepaskan Stella dan berkata. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu takut," ucapnya kemudian menjauh pada Stella yang masih duduk di meja kerjanya.


Stella terdiam melihat Shaka yang menunduk penuh sesal. "Pak?" panggilnya merasa tidak enak hati.


Shaka menghela napas lalu meraup wajahnya kasar. "Maafkan aku, La. Kamu boleh pergi dari sini. Pulanglah," ucap Shaka yang raut wajahnya sudah terlihat melembut.


"Pak?" panggil Stella lagi kemudian menyentuh telapak tangan Shaka.


"Pulanglah. Biar Ron yang mengantarmu," ucap shaka lagi yang membuat Stella tidak punya pilihan lain. Memangnya apa yang Stella harapkan?

__ADS_1


Dengan perasaan yang sulit sekali dijabarkan, Stella melangkah meninggalkan Shaka yang masih berdiri di dalam ruangan.


__ADS_2