Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 43. Tetap Kaya


__ADS_3

Disinilah Stella berada, tepatnya berada dalam pemakaman elit di pusat kota. Stella menatap deretan gundukan tanah yang ditumbuhi rumput Jepang yang sudah terpotong rapi.


"Mereka ada disana," ucap Stello sambil menunjuk ke depan.


Pasalnya, Stella menyempatkan untuk berhenti sejenak memandangi gundukan tanah yang sudah ada tanda namanya masing-masing.


Stella terpaku di tempat. "Apa mereka telah tiada sebelum aku bertemu dengan keduanya?" tanya Stella lirih.


Ada kecewa yang berusaha disingkirkan, ada sedih yang berusaha disembunyikan, dan ada yang kosong di dalam hati saat mengetahui bahwa kedua orangtuanya sudah berpulang.


Tidak ada suara deru Stello yang berada di samping Stella. Dia sama berdukanya ketika ditinggal orangtua di usianya yang masih muda. Mereka meninggal saat usia Stello menginjak angka tujuh belas.


Stello menuntun Stella agar kembarannya itu mau melanjutkan langkah. Dengan langkah terseret-seret, akhirnya Stella mengikuti langkah kembarannya.


Tidak berapa lama, langkah Stello terhenti di dua gundukan tanah yang berjajar dan bertuliskan nama dua orang yang diduga adalah milih orangtuanya. Terdapat foto mereka juga di peristirahatan terakhirnya. Foto dengan pose senyum dan mengenakan baju formal.


"Orangtua kita sudah beristirahat dengan tenang dan di semayamkan disini," ucap Stello bergetar. Kemudian, dia mengambil posisi jongkok di samping gundukan tersebut yang segera diikuti oleh Stella.


Stella menatap nanar gundukan tanah di hadapannya. Dia sudah tahu bagaimana rupa kedua orangtuanya karena kakek Ben sudah memberitahu.


Air mata Stella seketika jatuh. Belum sempat dia merasakan kasih sayang ayah dan ibu, dia harus menerima kenyataan bahwa lagi-lagi dunia tidak memihaknya.


Sampai kapanpun Stella tidak akan merasakan itu karena orangtuanya telah tiada sebelum Stella sempat berbicara ataupun berbakti pada keduanya.


Setelah tergugu di tempat. "Mengapa selalu seperti ini?" tanya Stella mempertanyakan keadaan.


Stello menghela napas lelah. "Mereka meninggal karena tiada dalam kecelakaan. Jangan pernah menganggap Mama dan Papa tidak mencarimu. Tidak ada seharipun yang mereka lewatkan tanpa mencari informasi tentang keberadaanmu," ucap Stello sambil terisak.


Sesak. Stella merasakan dadanya begitu sesak mendengar kenyataan bahwa kedua orangtuanya sudah berusaha mencari.


Stella pikir, pertemuan pertamanya dengan orangtua dan keluarganya akan mengharu-biru. Nyatanya, hanya ada air mata saat Stella mengetahui siapa keluarga kandungnya.

__ADS_1


"Aku belum sempat merasakan kasih sayang Mama dan Papa," ucap Stella tercekat, lidahnya terasa kelu seperti ada baru besar yang menghalangi suaranya.


Stello mengusap lengan Stella. "Mereka sangat menyayangimu. Mereka selalu menyebut namamu setiap harinya. Bahkan, setiap kali akan makan, entah sarapan, makan siang, dan makan malam, mereka selalu menyiapkan piring kosong beserta nasi dan lauk-pauknya. Kamu tahu? Hal itu dilakukan mama agar kamu tidak dilupakan walau sudah menghilang bertahun-tahun lamanya," ucap Stello menerawang kenangan masa lalunya.


Stella merasa terenyuh dan teriris secara bersamaan. Bukan hanya dirinya yang menderita. Mama dan papanya sama menderitanya.


Pandangan Stello tertuju pada dua gundukan tanah yang bertuliskan nama ayah dan ibunya.


"Mereka juga memberi kursi kosong dan tidak boleh di duduki oleh siapapun di meja makan. Dan yang paling membuatku ikut bersedih, Mama selalu berbicara sendiri seakan sedang berbicara denganmu di meja makan," ungkap Stello lagi yang semakin membuat tangis Stella tak terbendung. Dia tergugu di tempat.


"Stella ... Makanlah, Nak. Kamu harus tetap makan akan cepat dewasa dan bertemu Mama," ucap Stello menirukan ucapan ibunya di masa lalu.


"Mama selalu mengucapkan itu sebelum dia memakan makanannya sendiri. Aku merasa kurang di perhatikan saat itu oleh Mama. Tetapi papa selalu mengingatkan bahwa Mama hanya sedang berduka. Waktu itu umurku baru lima tahun dan di paksa harus mengerti keadaan Mama," ungkap Stello lagi yang membuat Stella dirundung rasa bersalah.


"Jadi, semua itu karena aku?" tanya Stella terdengar kecewa dan tak mampu menatap mata kembarannya.


Stello tertawa getir. "Bukan seperti itu maksudku. Kamu tidak bersalah dalam hal ini. Keadaan saja yang memaksa kita semua untuk menerima yang telah terjadi, dan sayangnya, Mama tidak bisa menerima dengan baik tentang takdir yang ditentukan," ucap Stello kemudian mengelus puncak kepala Stella.


Stella langsung memeluk kakak yang hanya berbeda beberapa menit darinya. Stella menumpahkan semua tangisnya di dada bidang milik Stello.


Tangis Stella semakin tak terarah ketika Stello memberikan usapan lembut di kepalanya dan mengecup puncaknya beberapa kali. Pelukan seperti ini begitu Stella dambakan sejak dahulu.


"Jangan menangis lagi. Mari kita jalani semua bersama-sama. Mari kita hadapi dunia ini dengan saling berpegangan tangan dan saling menguatkan. Kita harus bisa membahagiakan kakek. Karena usaha yang kakek lakukan, kita dipertemukan. Kakek begitu menyayangi kita," ucap Stello semakin mengeratkan pelukannya pada sang adik.


...............


Sedangkan si tempat lain, Shaka begitu terkejut ketika mendapati surat pengunduran diri dari Stella. Bahkan, Stella mengundurkan diri tanpa mau repot-repot mengunjungi kantor. Hanya lewat Ana, dia menitipkan suratnya.


Shaka menjambak rambutnya kasar. Disaat hubungannya dengan sang Papa dan Gavin membaik, kini justru hubungannya dengan Stella yang merenggang. "Apa aku sudah keterlaluan? Bukankah Gavin sudhs menjelaskan semuanya bahwa pertemuannya dengan Stella tidak di sengaja?" monolog Shaka merasa frustasi.


Lamunan Shaka tersentak ketika pintu ruangannya terbuka. Ron datang dengan penampilan acak-acakan dan kedua tangannya membawa setumpuk berkas yang begitu banyak.

__ADS_1


"Bos. Kamu harus menandatangani semua ini," ucap Ron dengan nada putus asa dan terdengar lelah.


Shaka menghembuskan napasnya kasar. "Baiklah, Ron. Sepertinya aku harus menyelesaikan semuanya satu-satu."


"Termasuk hubungan Boss dan Stella," sahut Ron dengan tampang tanpa dosanya.


Gerakan Shaka yang akan mengambil pena akhirnya terhenti. Dia menatap Ron yang saat ini juga sedang menatap ke arahnya.


"Kenapa? Bukankah ucapanku tidak ada yang salah?" tanya Ron kikuk karena Shaka kini sedang menatapnya datar.


Apakah aku harus mendatangi Stella lagi?" tanya Shaka begitu bodohnya.


Ron mendengkus lalu mengambil posisi duduk di kursi yang berhadapan dengan Shaka. "Tentu saja harus begitu, Bos. Apalagi, Stella sudah mengirim surat pengunduran diri. Sebaiknya kalian harus segera bertemu dan berbicara baik-baik," saran Ron yang dibenarkan oleh Shaka.


"Apakah Stella mau berbicara denganku setelah ini?" tanya Shaka seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.


Ron menghembuskan napas kasar. Cemburu buta membuat Bos-nya yang cerdas berubah menjadi orang bodoh dalam beberapa hari. "Dicoba dulu, Bos," ucap Ron menekankan Kalimatnya.


'Aku lelah harus bekerja siang malam demi menggantikanmu yang sedang patah hati,' batin Ron melanjutkan kalimatnya.


Pasalnya, sudah berhari-hari pekerjaan Shaka diambil alih oleh Ron. Sedangkan Shaka, dia hanya akan duduk di kursi kebesarannya lalu memangku dagu dan melamun hingga jam makan siang tiba.


Setelah makan siang selesai, Shaka akan melanjutkan sesi melamunnya yang sempat tertunda. Ron merasa lelah dengan sikap Bos-nya yang menjadi lelaki pemalas tetapi tetap kaya. Ron tertawa sendiri dalam hati mengingat semua itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa kasih dukungannya ya😘


mampir juga kesini yuk 👇


__ADS_1


__ADS_2