
Jam pulang kantor akhirnya tiba. Stella benar-benar menyesal pagi tadi tidak membawa motor sendiri karena Shaka memaksanya untuk ikut. Stella menuruni anak tangga kantor dengan mata fokus menatap ponsel untuk mencari ojek online.
Pasalnya, Stella ingin mengunjungi panti asuhan lagi setelah hampir satu bulan belum berkunjung lagi. Ana yang biasa menemani kini absen karena harus menghadiri acara ulang tahun teman laki-lakinya. Ya, teman yang pria yang akan diberi hadiah jam tangan berharga fantastis menurut Stella.
Terlalu fokus pada ponsel membuat Stella hampir saja terjatuh kalau saja tidak ada tangan kokoh yang menopangnya.
"Aaakh!" pekik Stella panik ketika tubuhnya terasa limbung.
Stella sampai memejamkan mata berharap masih diberi nyawa karena posisinya masih berada di tangga yang ke-empat dari atas. Itu berarti, amsih ada sepuluh tangga lagi untuk mencapai lantai dasar.
Namun, Stella tidak merasakan sakit sedikitpun hingga dia berpikir bahwa nyawanya telah melayang dan berpindah alam. "Kenapa tidak jadi jatuh? Lalu, ini apa? Apa aku sudah berada di alam baka?" monolog Stella sambil tangannya meraba benda kokoh yang menahan tubuhnya.
"Stella! Buka mata kamu!" Suara itu berhasil membuat Stella membuka mata sempurna. "Pak Shaka? Saya masih hidup?" tanya Stella terdengar konyol.
Shaka mendengkus pelan. "Kamu pikir kamu sudah pindah alam? Tolong hati-hati lagi jika sedang berjalan di tangga. Jangan sambil bermain ponsel, La. Itu bahaya," ucap Shaka menasehati namun terdengar begitu khawatir.
Stella meringis mengakui bahwa dirinya salah. "Terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa saya, Pak," ucap Stella bersungguh-sungguh.
Shaka mengangguk. "Memangnya kamu sedang apa? Sampai ceroboh seperti itu?" tanya Shaka yang kini posisinya berada di satu tangga di bawah Stella berdiri. Sehingga, Stella bisa melihat wajah tampan itu sejajar dengan wajahnya.
"Ini, Pak," ucap Stella sambil menunjukan layar ponselnya.
"Sejak tadi saya ingin memesan ojek online tetapi, hampir semua driver tidak menerima pesanan saya," jawab Stella yang bibirnya Menggerucut.
Shaka melirik sekilas pada layar ponsel milik Stella kemudian berkata. "Mengapa kamu harus memesan ojek? Kita berangkat bersama itu berarti, pulang juga harus bersama," ucap Shaka tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya.
Stella menggeleng dan kembali melanjutkan langkah. "Saya tidak langsung pulang ke kost, Pak. Saya mau ke suatu tempat terlebih dahulu," jelas Stella kemudian melupakan ponselnya sejenak dan menunggu hingga sampai di lantai dasar.
__ADS_1
"Kalau begitu saya antar," ucap Shaka tetap pada pendiriannya.
Setelah berada di bawah, Stella ebrhtni melangkah dan menatap Pak Boss-nya dengan pandangan ragu. "Saya mau berkunjung ke panti asuhan tempat dulu saya dibesarkan," ucap Stella tampak ragu.
Shaka mengernyit heran. "Memangnya ada masalah apa kalau aku ikut?" tanya Shaka yang segera mendapat gelengan dari Stella.
"Saya takut Bapak tidak bisa ada di tempat seperti itu. Bapak 'kan orang kaya," jawab Stella mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di hatinya.
"Dulu aku sering kesana. Sekarang, sudah tidak pernah lagi karena aku sibuk," ucap Shaka yang baru Stella sadari bahwa, Shaka sudah mengganti sebutkan 'saya' menjadi 'aku'.
"Mau pergi bersamaku?" tanya Shaka menawarkan diri.
Stella tersenyum bahagia dan tentunya mengangguk. Tiba-tiba, suara batuk berhasil mengalihkan perhatian keduanya.
"Uhuk ... Uhuk ... Terlalu lama disini hanya akan membuat saya mati secara perlahan karena terbunuh oleh obat nyamuk," ucap Ron yang sejak tadi entah berada dimana sampai-sampai, Stella tidak menyadari keberadaannya.
Shaka dan Stella tergelak renyah menyaksikan wajah nelangsa Ron. Tanpa mereka semua sadari, dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang menatap ke arahnya dengan pandangan penuh kebencian.
"Berarti, dulu kamu tinggal disini? Sampai umur berapa?" tanya Shaka setelah cukup lama berputar dan bermain bersama anak-anak panti. Kini, Shaka dan Stella sudah duduk di bangku yang terletak di taman area panti.
Terdengar helaan napas berat dari Stella. Shaka menatap profil samping gadis di sebelahnya yang kini sudah mendongak menatap langit yang sudah gelap. "Kata Bunda, aku tinggal disini saat umurku sudah dua tahun. Aku memutuskan untuk tinggal di kost setelah aku lulus kuliah," jawab Stella dengan pandangan menerawang.
"Kenapa?" tanya Shaka lagi.
Stella menoleh dengan senyum tipis yang terulas namun, gula yang ditebar begitu banyak hingga bisa menyebabkan diabetes. "Karena aku merasa kasihan dengan Bunda. Akhirnya, aku memilih bekerja dan tinggal di kost, juga agar aku bisa membantu adik-adikku disini. Ya, walaupun tidak seberapa," jawab Stella seakan begitu lapang ketika menceritakannya.
Bolehkah Shaka iri pada kelapangan dada Stella? Usia memang bukan sebagai penentu kedewasaan seseorang. Buktinya, Shaka yang sudah berumur tiga puluh tahun dan hampir menginjak tiga satu, masih saja tidak menerima keadaan hidupnya.
__ADS_1
Shaka tersenyum kagum pada sosok Stella. "Bagaimana cara kamu bisa seikhlas itu menerima dan menjalani takdir?" tanya Shaka berharap Stella mempunyai tipsnya.
Mata bulat dengan iris kecoklatan itu menatap Shaka sepenuhnya. "Tidak semudah itu, Pak. Aku pernah ada di posisi marah, kecewa dan sedih dengan keadaan. Disaat semua teman seusiaku sedang dimanja dan disayang oleh orangtuanya, aku justru harus menjadi gadis kecil mandiri yang harus menopang hidupnya sendiri," ucap Stella dengan mata berkaca-kaca menceritakan kilas balik dari masalalunya.
Shaka ikut terenyuh mendengarnya. Dia juga mengingat masa dimana dirinya selalu merasa kesepian walau mempunyai keluarga yang lengkap.
"Aku tidak akan menyalahkan keadaan yang membuatku terjepit di situasi seperti itu. Aku yakin, akan ada masa depan lebih baik jika aku bisa menjalani semua keadaan pahit di masa lalu. Ya setidaknya, sampai hari ini aku sudah bisa berdamai dengan keadaan," imbuh Stella lagi yang tanpa sadar sudah menitikkan air mata.
Stella sedang meyakinkan diri sendiri bahwa jiwa raganya begitu kuat dan hebat bisa bertahan sejauh ini. Ya, Stella mencintai diri sendiri sehingga berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang di luar kendalinya.
Stella menghela napas. "Kok aku jadi curhat ya, Pak," ucap Stella merasa konyol kemudian terkekeh sendiri.
"Tidak masalah. Kita bisa bertukar cerita tentang hidup kita atau masalah lainnya," jawab Shaka kemudian menggenggam jemari Stella untuk menenangkan.
"Bapak sendiri bagaimana? Oh iya, soal mamanya Bapak itu, bagaimana ceritanya?" tanya Stella yang berhasil memudarkan senyum di bibir Shaka.
"Mama sudah meninggal dunia karena ...." Ucapan Shaka menggantung seolah begitu berat mengucapkannya.
Stella tampak menunggu kelanjutan kalimat Shaka. Sedang yang ditunggu sedang berusaha hidup dan mati untuk menceritakan hal yang sangat berat untuknya. Sesuatu hal yang membuat Shaka menjadi seseorang yang kaku, dingin, dan hampir tidak pernah tersenyum setelah mamanya meninggal.
Terdengar helaan napas kasar sebelum Shaka kembali bersuara. "Mamaku bunuh diri di depan mata kepalaku sendiri karena aku mengatakan menyesal dilahirkan dari rahim seorang ibu seperti mama. Saat itu aku masih berumur dua belas tahun dan itu—" ucap Shaka terpotong karena dadanya selalu merasa sesak ketika mengingat sosok mamanya.
Shaka merasakan matanya memanas karena cairan bening sudah menggenang di pelupuk mata. Stella yang menyadari itu langsung memeluk tubuh Shaka erat. Tidak sepatah kata pun yang keluar dari bibir Stella. Hanya ada gerak tangan yang naik-turun mengelus punggung Shaka agar lebih tenang dan nyaman.
"Pasti berat sekali melewati masa itu, dan Bapak sangat hebat bisa bertahan sejauh ini," bisik Stella menenangkan yang justru semakin membuat air mata Shaka mengalir begitu derasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...jangan lupa kasih dukungannya BESTie 😍...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...