
Stella mengedarkan pandangan untuk melihat desain interior rumah kediaman Virendra. Stella tidak tahu mengapa pak Gunardi Virendra memanggilnya untuk datang ke rumah. Bukan rumah, Stella menganggap rumah tersebut bak istana.
Satu hal lagi tentang Shaka yang baru diketahui Stella adalah, seseorang yang tempo hari datang ke apartemen Shaka adalah pak Gunardi Virendra, yang tidak lain adalah ayah dari seorang Arshaka Virendra.
Hal itu berkat Ron yang memberitahukannya. Pasalnya, Stella jarang dan hampir tidak pernah melihat pak Gunardi mengunjungi perusahaan. Setahunya, perusahaan yang saat ini di pegang oleh Shaka merupakan perusahaan milik Abimanyu Virendra yang merupakan kakek dari Shaka.
Mungkin, Shaka di perintah untuk menggantikan pak Abimanyu karena beliau sudah berpulang pada Yang Maha Kuasa.
"Silahkan masuk, Nona. Tuan besar sudah menunggu Anda," ucap seorang pelayan sambil membungkukkan tubuhnya. Stella yang merasa tidak enak, balas membungkuk layaknya orang Jepang ketika pertama kali bertemu.
"Nona Stella, cepatlah! Karena Tuan Besar sudah menunggu," titah Ron tegas.
Stella memutar bola matanya malas. "Baiklah," jawabnya kemudian mengikuti Ron yang sejak tadi sudah menunggunya segera tersadar dari rasa takjub. Ya, Ron-lah yang sudah menjadi perantara antara pak Gunardi dan dirinya.
Stella dibawa ke sebuah ruangan yang sangat luas yang terdapat sofa sudut mewah, piano, dan ada sebuah gitar yang diletakkan di sebuah sandaran gitar. 'Mewah sekali!' pekik Stella dalam hati. Jiwa miskinnya meronta-ronta.
Stella melihat Ron yang membungkuk di hadapan pak Gunardi yang segera ditirukan olehnya. "Saya sudah membawa dia ke hadapan Tuan," ucap Ron dengan kepala menunduk.
Stella menatap profil samping Ron yang terlihat ekspresinya terlihat begitu menghormati sosok Pak Gunardi. Kemudian, pandangan Stella terarah pada pria paruh baya yang saat ini sedang duduk di salah sisi sofa.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Stella ramah sambil mengulas senyumnya.
"Duduklah disini, Nak," ucap pak Gunardi terlihat ramah.
Stella melirik Ron sekilas untuk meminta persetujuan. Setelah Ron mengangguk, Stella mengambil posisi duduk yang lumayan jauh jaraknya dari pak Gunardi.
__ADS_1
"Tolong tinggalkan kami, Ron," perintah pak Gunardi yang segera dilaksanakan oleh Ron.
Sepeninggalan Ron, Stella mendadak canggung dan tidak tahu harus mengawali pembicaraan dengan apa. "Siapa namamu, Nak?" tanya pak Gunardi dengan senyum mengembang hingga garis-garis halus di bawah matanya muncul.
Stella yang awalnya menunduk pun mendongak. "Nama saya Crystella, Pak," jawab Stella gugup. Tidak pernah Stella merasa segugup ini ketika berhadapan dengan seseorang. Padahal, ini bukan pertemuan pertamanya dengan beliau.
"Pak? Mengenai pertemuan kita saat berada di apartemen pak Shaka ... Itu ...."
"Tidak masalah. Shaka sudah dewasa dan saya paham bahwa Shaka memang butuh pendamping hidup," sela pak Gunardi cepat.
Stella menggeleng cepat. "Bukan itu maksud saya, Pak. Masalahnya, saya tidak tahu jika Bapak adalah ayah dari pak Shaka. Maafkan saya yang tidak mengenali Bapak," ucap Stella merasa bersalah.
Terdengar kekehan pelan dari pak Gunardi yang membuat suasana canggung itu sedikit lebih cair. "Tidak perlu takut untuk mengakuinya. Aku yakin, di antara kalian pasti ada sesuatu," tebak pak Gunardi dengan tersenyum menyelidik.
Stella mengangguk membenarkan. "Memang ada sesuatu di antara kita, Pak, yaitu hubungan antara atasan dan bawahan," jawab Stella polos.
Stella membuka mulutnya tidak percaya ." Jadi, pak Shaka tidak pernah membawa seorang perempuan satupun selama tinggal di apartemen? Lalu, bagaimana jika pak Shaka membawanya ke hotel?" tanya Stella penuh selidik.
Pak Gunardi menggeleng. "Shaka tidak pernah dekat dengan seorang perempuan dan ...." ucap pak Gunardi menggantung.
"Dan apa, Pak?" kejar Stella penasaran.
Pak Gunardi menatap Stella sepenuhnya. "Sejak dulu, Shaka kekurangan kasih sayang dari mamanya dan saya. Saya menyesal karena dulu terlalu sibuk membangun usaha demi menghidupi keluarga hingga lupa bahwa, kebahagiaan tidak selalu tentang uang," ucap pak Gunardi dengan raut wajah yang menyesal.
"Shaka selalu menganggap bahwa saya tidak pernah menyayanginya seperti saya menyayangi anak pertama saya," sambung pak Gunardi kemudian terdengar helaan napas berat.
__ADS_1
"Jika saya bercerita, pasti tidak akan habis selama tujuh hari tujuh malam," ucap pak Gunardi bercanda kemudian terkekeh sendiri.
Stella tersenyum kagum pada sosok ayah di hadapannya, sesuatu yang tidak pernah Stella punya selama hidup di dunia. Tidak, sebenarnya Stella mempunyai ayah dan ibu. Hanya saja, mereka entah kemana hingga sampai usianya menginjak angka dua empat, mereka tak kunjung datang menemuinya.
Stella sudah tidak berharap banyak dengan kedatangan orangtuanya kelak. Entah datang atau tidak orangtuanya, Stella harus tetap hidup.
"Saya rasa cukup sampai disitu ceritanya. Saya hanya ingin berpesan padamu. Tolong jangan sakiti Shaka. Dia membutuhkan cinta yang akan melunakkan keras hatinya. Saya percaya, Shaka pasti sudah mempunyai kepercayaan tersendiri padamu," ucap pak Gunardi sambil tangannya bergerak menghapus jejak basah di sudut mata.
Stella tetap mengangguk sebagai jawaban walau, dia terlalu bingung dengan situasi yang sedang dialami.
Ya, pak Gunardi sempat menangis. Stella menatap sendu pada pak Gunardi yang sudah berjuang demi keluarganya. Jika pak Gunardi tidak menyayangi Shaka, tidak mungkin dia sepeduli ini dengan hati anaknya.
"Saya menyayangi kedua anak saya walau cara pengungkapannya berbeda dari kebanyakan ayah di dunia. Mungkin, kebanyakan ayah akan mengatakan bahwa ayah menyayangimu. Tetapi, itu tidak berlaku untuk saya," ucap pak Gunardi dengan tatapan menerawang.
"Saya lebih suka mengungkapkan perasaan sayang pada kedua putra saya dengan tindakan. Ya, walaupun Shaka menangkapnya dengan hal yang berbeda. Saya maklum, saya bukanlah ayah yang baik juga suami yang baik untuk keluarga," ujar pak Gunardi yang membuat Stella rasanya ingin menangis.
Stella melihat, pak Gunardi begitu tulus menyayangi anak-anaknya. Terlihat dari bagaimana cara beliau menceritakan tentang kedua putranya.
Melihat stella hanya diam, pak Gunardi kembali bersuara. "Maaf jika saya malah bercerita panjang lebar. Tetapi, terima kasih karena telah sudi mendengarkan," ucap pak Gunardi mengakhiri pembicaraan.
Stella menggeleng. "Tidak masalah, Pak. Saya akan dengan senang hati mendengarkan," jawab Stella sama sekali tidak keberatan.
Setelah makan malam, Stella berpamitan pulang. Kali ini Stella di antar oleh salah satu sopir di kediaman keluarga Virendra karena Ron sudah kembali lebih dulu menuju apartemen Shaka.
Pukul sembilan lewat lima menit, akhirnya Stella sampai di pelataran kost. Dia berjalan lebih dalam lalu menaiki tangga dua kali baru sampai di lantai tempat kamarnya berada.
__ADS_1
Dari kejauhan, Stella bisa melihat siluet seorang laki-laki yang bergerak gelisah di depan kamar kost-nya. Stella mengernyit bingung. "Bukannya itu pak Shaka ya? Sedang apa dia berada disini?"