
Shaka beserta ayahnya benar-benar datang ke rumah Stella untuk mempersunting gadis tersebut. Shaka akan memintanya langsung pada kakek dan kakak Stella, dua orang yang masih menjadi bagian dari hidup Stella.
Gavin tidak ikut karena ini baru saja lamaran. Saat peeta pertunangan nanti, Gavin akan datang di acara bahagia adiknya.
Kakek Ben dan Stello yang sudah tahu akan kedatangan Gunardi Virendra dan anaknya, pun menyambut ramah dua pria tersebut.
Seperti sekarang ini. Semua orang sedang berkumpul di ruang tamu karena Shaka dan apk Gunardi baru saja tiba. Setelah para pelayan memberikan hidangan ringan, pak Gunardi akhirnya membuka pembahasan.
"Apa kabar Pak Ben?" sapa pak Gunardi ramah dengan senyum yang tidak pernah pudar.
"Seperti yang kamu lihat, saya lebih bugar dari biasanya. Semua karena berkat cucu-cucuku," jawab kakek Ben disertai kekehan.
Suasana dan obrolan hangat akhirnya mengalir begitu saja di antara kakek Ben dan pak Gunardi. Shaka dan Stella saat ini hanya bisa bertindak sebagai pendengar yang baik bagi dua pria yang sudah tua itu.
Hingga tatapan Stella kini tertuju pada Shaka begitu juga dengan Shaka. Tatapan keduanya terkunci seakan sama-sama enggan untuk berpaling. Hingga aura deheman kakek Ben berhasil menyadarkan keduanya.
"Ehem!"
Pak Gunardi yang menyaksikan itu, hanya bisa terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Ayo Shaka, tunjukkan niat baikmu dengan datang kesini. Mintalah Stella secaea baik-baik pada kakek-nya," titah pak Gunardi lembut.
Shaka mengangguk yakin. "Baiklah, Pa," jawab Shaka sambil menghembuskan napas, terlihat gugup.
Stella mengulum senyum melihat wajah Shaka yang begitu serius untuk mempersunting dirinya. Rasanyaz Stella sudah tidak sabar untuk bisa hidup bersama pria kaku layakanya kanebo kering itu.
"Jadi langsung saja, Kek. Kedatangan saya bersama Papa saya bertujuan untuk melamar Stella secara baik-baik. Jika kakek mengizinkan, saya ingin menikahi Stella sesegera mungkin. Ya, walaupun mungkin kakek mengetahui bahwa hubungan kami baru beberapa bulan. Namun, beberapa bulan itu berhasil membuat hidup saya porak-poranda," ucap Shaka menjeda sejenak kalimatnya.
Stella yang mendengar kalimat porak-poranda pun mengulum senyum. 'Memangnya, aku ini gempa bumi dan tsunami? Pakai porak-poranda segala,' batin Stella merasa lucu.
Sedangkan kakek Ben dan pak Gunardi, lagi-lagi mereka geleng-geleng kepala. Pak Gunardi tidak menyangka jika Shaka bisa berubah menjadi sosok yang hangat semenjak kehadiran Stella.
__ADS_1
"Bagaimana, Kek? Apakah kakek menyetujui jika saya ingin menjadikan Stella istri dan ibu dari anak-anak saya?" tanya Shaka lagi yang kini tatapannya justru terarah pada Stella.
Kakek Ben tersenyum. "Kerja yang bagus, Nak. Semua keputusan akan kakek serahkan pada Stella. Bagaimanapun, Stella-lah yang berhak atas hidupnya sendiri," jawab kakek Ben sambil menunjuk Stella yang duduk di sampingnya.
Semua mata kini tertuju pada Stella demi menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Shaka sedang menunggu dengan waspada, takut Stella tiba-tiba menolaknya.
"Baiklah, sepertinya aku yang akan mengambil alih acara kali ini," jawab Stella dramatis yang kegesrekannya mulai kembali. Selama beberapa Minggu ini, entahlah kemana perginya otak error' Stella.
"Sebelumya, aku mau meminta maaf terlebih dahulu pada Om dan Mas Shaka." Stella menjeda Kalimatnya sejenak untuk melihat ekspresi tiga pria yang kini sedang memandang ke arahnya.
Mereka menatap Stella dengan tatapan yang sangat serius.
"Kenapa Mas Shaka menyebut aku sudah memporak-porandakan hidupnya? Apakah aku ini adalah sebuah tsunami? Atau sebuah gempa bumi?" tanya Stella yang membuat suasana tegang di wajah semua orang mendadak luntur.
"Stella! Tolong serius," ucap Shaka kesal karena Stella telah berhasil mengerjainya. Shaka begitu takut jika Stella sampai menolaknya.
Stella, pak Gunardi, dan kakek Ben sontak tertawa terbahak-bahak. Tidak menyangka bahwa Stella mampu mencairkan suasana yang tadinya terasa menegangkan.
Kini, tatapan Stella tertuju pada Shaka dengan memandang pria tersebut penuh cinta. Senyumnya terkembang seakan menyiratkan kebahagiaan di hati kecilnya.
"Aku bersedia menjadi isteri dan ibu dari anak-anakmu, Mas," jawab Stella lembut yang membuat kakek Ben dan pak Gunardi bertepuk tangan meriah. Keseruan itu tidak sampai disitu saja. Stella, Ana, dan Gavin tiba-tiba datang dengan bertepuk meriah. Tidak lupa, di tangan masing-masing sudah ada terompet sebagai penanda hari bahagia itu.
Shaka tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena saat ini dia bergerak untuk menarik tangan Stella dan mengajaknya keluar dari rumah besar itu.
"Woi! Mau kemana kalian! Dasar tidak tahu di untung! Kami datang untuk kalian tetapi kalian pergi setelah kami datang!" gerutu Stello kesal ketika melihat Stella dan Shaka keluar dari rumah dengan berlari.
Semua orang lantas tertawa. "Biarlah. Mereka berhak merayakan hari bahagianya tanpa ada kita," jawab pak Gunardi membela.
"Yaah! Kita Gagal mengerjai mereka dong?" ucap Ana dengan bibir yang manyun.
__ADS_1
Sedangkan di luar rumah, Shaka membawa Stella masuk ke mobilnya. Walau terkejut, Stella masih diam saja akan menanyakan ketika Shaka sudah masuk ke mobil.
Setelah Shaka masuk, Stella melipat tangannya di depan dada dengan pandangan menatap Shaka memicing.
"Kenapa Mas malah bawa aku keluar sih? Kan acaranya belum selesai," tanya Stella tidak terima.
Shaka hanya tersenyum misterius kemudian melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
"Ini mau kemana sih, Mas? Jangan aneh-aneh deh," kesal Stella karena Shaka tak kunjung menjawabnya.
Shaka menghela napasnya. "Aku mau kasih kejutan untuk kamu. Semoga kamu suka ya," ucap Shaka yang kini tangannya bergerak untuk menggenggam jemari Stella.
Stella menautkan alisnya bingung. "Kejutan apa sih?" tanya Stella penasaran.
"Rahasia dong. kalau di kasih tahu namanya bukan kejutan lagi nanti," jawab Shaka dengan pandangan fokus menatap jalanan. Stella mendengkus pelan. Kini, Shaka sudah lebih pandai dalam hal romantis-romantisan.
Pada akhirnya, Stella memilih diam dan menunggu mobil berhenti. Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai Shaka sampai di apartemen miliknya.
Stella mengernyit heran. "Kesini? Mau ngapain?" tanya Stella heran.
Shaka tidak menjawab dan langsung turun dari mobil. Dia memutari setengah badan mobil untuk membukakan pintu di samping Stella.
"Turun dulu ya, Tuan Putri. Setelah ini, kamu pasti akan tahu jawabannya," jawab Shaka masih saja enggan untuk memberitahu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya 😘...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1