Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 14. Takut khilaf


__ADS_3

Shaka begitu takut ketika mendengar dari Ana yang mengatakan bahwa Stella pergi bersama Ron menuju kediaman Virendra, rumah yang meninggalkan banyak sekali kenangan buruk dibanding kenangan baik.


Dia ingin menyusul Stella namun, Shaka terlalu takut untuk kembali dan berakhir mengingat semua kejadian di rumah itu. Akhirnya, Shaka memutuskan untuk menunggu Stella di depan kamar kost-nya.


Shaka hanya berharap semoga ayahnya tidak memberikan doktrin buruk pada pikiran Stella. Sebelum menuju kostan Stella, Shaka lebih dulu memberikan pelajaran pada Ron yang sudah mengkhianati dirinya.


Bisa-bisanya Ron membawa Stella tanpa persetujuan darinya. Hingga dua jam lamanya Shaka menunggu, akhirnya Shaka bisa melihat siluet Stella yang sedang berjalan dari ujung lorong kostan.


Merasa tidak sabar karena Stella seakan berjalan sangat lambat, Shaka menghampiri Stella yang lima langkah lagi akan sampai padanya. "Stella? Kamu tidak apa-apa 'kan? Papa tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu 'kan?" tanya Shaka khawatir dengan mata menelisik penampilan Stella dari atas sampai bawah.


Stella terlihat bingung namun, tetap mengangguk karena memang dirinya kembali dengan lengkap tanpa kurang sedikitpun. "Saya baik-baik saja, Pak? Memangnya kenapa?" tanya Stella tanpa beban, karena tidak mengerti bahwa dia sedang di khawatirkan.


Shaka tersenyum lalu merengkuh tubuh Stella dalam pelukannya. "Syukurlah jika kamu baik-baik saja. Saya begitu takut ketika papa memanggilmu untuk datang ke rumah," ucap Shaka semakin mengeratkan pelukannya.


Stella yang merasa hampir kehabisan oksigen, menepuk-nepuk punggung Shaka agar segera melonggarkan pelukan. "Pak! Saya tidak bisa bernapas! Saya butuh oksigen lebih banyak!" pekik Stella berharap Shaka mau mendengarkan.


Shaka membulatkan mata lalu melepas pelukan. "Maafkan saya, saya terlalu senang karena kamu kembali dengan selamat," ucap Shaka terkekeh dengan raut wajah merasa bersalah.


"Uhuk! Uhuk! Saya bisa ping-uhuk! San- uhuk," ucap Stella masih terbatuk-batuk.


Shaka mengelus punggung Stella agar batuk Stella sedikit mereda. "Maafkan saya ... Maafkan saya ...." gumam Shaka yang nada bicaranya terdengar menyesal.


Setelah tenang, Stella mendongak. "Bapak ada tujuan apa datang kesini?" tanya Stella dengan alis bertaut.


Shaka berdehem sebelum berbicara. "Untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja," jawab Shaka sambil menatap Stella lamat-lamat dan gilanya, Stella terhanyut pada tatapan mata yang biasa menatap tajam kini terlihat teduh.


"Saya baik-baik saja, Pak," jawab Stella kemudian berusaha mengembalikan kesadarannya.


Stella mengambil kunci dalam tas lalu memasukkannya ke lubang kunci. Setelah terdengar bunyi klik dua kali, pintu itu Stella buka lebar-lebar. "Bapak mau masuk dulu?" tanya Stella basa-basi yang justru diangguki oleh Shaka.


"Baiklah. Silahkan masuk, Pak," ucap Stella mempersilahkan dengan masuk lebih dulu. Setelah Shaka masuk, Stella menutup pintu lalu meletakkan flat shoes-nya di rak sandal yang sudah tersedia di depan pintu.

__ADS_1


Shaka melakukan hal yang sama, yaitu melepas sepatu pantofel lalu menaruhnya di rak. Stella menoleh pada Shaka yang kini masih sibuk melepas sepatunya. Setelah berhasil, Shaka duduk bersila di karpet bulu yang tersedia di kamar tersebut.


"Saya ganti baju sebentar ya, Pak," pamit Stella dengan tangan yang sudah membawa kaos berlengan pendek berwarna hitam dan celana training yang mempunyai warna senada dengan kaosnya.


Tidak berapa lama, Stella kembali dengan penampilan biasa namun, tidak mengurangi kecantikan seorang Crystella. Shaka memerhatikan Stella yang mengenakan kaos oversize dipadukan dengan celana training ketat yang panjangnya hanya sepertengahan paha.


Shi*t! Shaka mengumpat dalam hati ketika melihat paha mulus Stella terekspos begitu saja. Apalagi, Stella membuat gerakan mengumpulkan rambut dan mengikatnya Cepol hingga leher jenjang nan putih itu nampak. Hal itu membuat pikiran liar seketika hinggap di benaknya. Shaka memalingkan muka agar tidak hilang kendali dan berakhir buruk nantinya.


"Bapak mau minum kopi atau teh?" tanya Stella yang tidak sadar bahwa dirinya sedang di perhatikan.


"Hah! Apa? Disini panas sekali," jawab Shaka sambil mengibaskan kerah kemejanya. Sedangkan jas yang dia kenakan sudah tertanggal di mobil.


"Panas ya, Pak? Apa perlu saya buka jendelanya?" tawar Stella sambil meringis merasa tidak enak.


"Boleh dong di buka saja," jawab Shaka yang seperti enggan untuk memalingkan muka walau sekuat tenaga sudah berusaha.


"Apanya, Pak?" tanya Stella yang malah balik bertanya.


"Hah? Tadi saya bilang apa? Oh, jendela ... Iya. Buka saja jendelanya," ucap Shaka tergagap kemudian membuka satu kancing kemeja teratasnya.


Masalah membayar, yang mengambil hanya perlu berfoto di depan kamera kemudian tagihan akan dibayar pagi harinya saat menitip kunci kamar.


Stella kembali dengan dua botol air dingin, satu rasa teh melati sedang satunya lagi rasa jeruk.


"Bapak mau yang rasa teh atau jeruk?" tanya Stella tiba-tiba hingga membuat Shaka berjenggit kaget.


"Astaga dragon!" pekik Shaka yang ucapannya meniru Stella saat sedang terkejut.


Stella tergelak renyah sambil satu tangan yang kosong dia gunakan untuk menutup pintu kamarnya. "Sejak kapan kalau kaget Bapak mengucapkan Astaga dragon? Wah, sepertinya virus dragon mulai menyerang Bapak ya?" goda Stella yang kini mengambil posisi duduk yang berhadapan dengan Shaka.


Stella duduk bersila lalu meletakkan dua botol air minum dingin di hadapan Shaka. "Silahkan di minum, Pak," ucap Stella mempersilahkan.

__ADS_1


Bukannya botol minum yang Shaka lihat, melainkan paha mulus dan putih milik Stella yang bisa di lihat dari jarak yang begitu dekat.


Shaka buru-buru menyambar botol minuman rasa jeruk kemudian menenggak hingga setengahnya. Stella yang memperhatikan itu, mengernyit heran. "Bapak haus sekali ya?" tanya Stella yang hanya mendapat anggukan dari Shaka.


"Bisa tidak kamu jangan dekat-dekat?" pinta Shaka yang membuat Stella semakin heran.


"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Stella tidak habis pikir.


Shaka mendengkus pelan. "Yang terpenting kamu mundur sedikit. Jangan terlalu dekat dengan saya," jawab Shaka mencoba fokus lagi pada botol minumnya.


Stella menampakkan raut wajah kecewanya. "Saya bau ya, Pak? Atau kenapa?" tanya Stella bersedih.


Shaka menggeleng. "Tidak. Justru kamu sangat wangi dan itu berbahaya," ucap Shaka lagi berusaha menahan diri untuk tidak memangsa Stella saat itu juga.


"Bapak kenapa sih? Aneh sekali," kesal Stella dengan wajah memberenggut kesal.


"Stella ... Tolong mengertilah ...."


"Iya, tapi kenapa saya harus menjauh?" tanya Stella masih saja belum paham.


"Saya takut khilaf."


"Khilaf kenapa, Pak? Bapak aneh de—"


Detik berikutnya, Shaka mengangkat tubuh Stella untuk duduk di pangkuannya. Satu tangan Shaka digunakan untuk menarik pinggang Stella sedang satu tangan lainnya digunakan untuk menekan tengkuk Stella.


Shaka segera menciumi bibir Stella dengan brutal sampai-sampai Stella kewalahan dan hampir kehabisan oksigen. Dengan sekuat tenaga, Stella mendorong dan memukul dada Shaka agar menjauh.


Shaka melepas ciuman dengan sorot mata sayu. "Saya sudah memperingatkan kamu," ucap Shaka dengan napas yang masih menderu.


Stella mendadak takut dan turun dari pangkuan Shaka. "Jangan seperti itu, Pak. Saya takut," jawab Stella yang keadaanya tidak jauh berbeda dari Shaka, yaitu terengah-engah.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


kabur dulu lah...🛵🛵🛵


__ADS_2