Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 42. Aku tahu, aku ini tampan


__ADS_3

Stella di ajak oleh kakek Ben dan Stello untuk berkunjung ke rumahnya. Disana banyak sekali bukti yang memperkuat jika Stella adalah saudara kembar yang hilang.


Namun di sepanjang perjalanan, yang menjadi pertanyaan Stella adalah kemana perginya ayah dan ibu?


"Aku masih tidak menyangka jika kita adalah saudara," ucap Stella dengan suara mencicit. Stella duduk di sebelah Stello di jok belakang. Sedangkan kakek Ben, dia duduk di depan bersama sang Sopir.


"Tidak menyangka atau tidak percaya? Beda tipis itu loh," ucap Stello menatap sendu adik yang hanya berbeda beberapa menit darinya.


Stella menatap ke depan dengan pandangan kosongnya. "Aku tidak tahu. Tetapi, rasanya semua bagaikan mimpi," jawab Stella mengutarakan isi hatinya.


Stello menghela napas pelan. "kamu ingat saat kita bertemu di puncak?" tanya Stello dengan tatapan menerawang jauh.


Stella mengangguk, merasa ingat pada kejadian tersebut. "Kenapa memangnya?" tanyanya penasaran.


"Kita bertemu disana bukan karena kebetulan. Aku yang sengaja mengikutimu. Aku tidak akan membiarkan adikku pergi jauh hanya sendiri," ucap Stello sendu mengingat masa-masa itu.


Stella menoleh kaget dan hal itu disadari oleh Stello. "Kamu pasti terkejut bukan? Tetapi kakek kita bukanlah orang sembarangan," ucap Stello menjawab kebingungan Stella.


Stella terharu dengan sebutan 'kakek kita' yang Stello sematkan. "Memangnya kakek siapa? Power rangers gitu? Atau Hulk?" tanya Stella meleparkan candaan.


"Ente kadang-kadang Ente," sahut kakek Ben dari jok depan yang membuat seisi mobil tergelak renyah.


"Jangan lupa join live aku ya, rawrr," sahut Stello seakan sudah hapal dengan kalimat selanjutnya yang akan kakeknya ucapkan.


Stella semakin terbahak-bahak melihat tingkah absurd kakek Ben dan Stello. Mungkin, saat Shaka sedang bersamanya, Shaka merasakan hal yang sama seperti yang Stella rasakan saat ini, yaitu merasa konyol dengan tingkahnya.


Huh! Mengingat laki-laki kaku itu membuat Stella semakin rindu.


Tidak berapa lama, akhirnya mobil yang dikendarai telah terparkir di sebuah rumah besar dengan sebuah toko roti di bagian depannya. Seketika pertanyaan Stella belum terjawab seutuhnya tentang siapa sebenarnya kakek Ben.


Seketika, Stella teringat dengan Ana dimana rumahnya sekitar lima ratus meter lagi jika berjalan lurus ke depan. Ketika sudah menemukan jawaban, Stella menepuk keningnya sendiri.


Namun, saat matanya melihat rumah di hadapannya, Stella sekarang mengerti mengapa Stello mengatakan bahwa kakeknya buaknlah orang sembarangan.

__ADS_1


Rumah yang akan Stella sayangi merupakan rumah mewah dan luas dengan di depan rumah terdapat sebuah toko roti yang lumayan luas.


"Eh, aku mau tanya boleh tidak?" tanya Stella saat sudah turun dan mengikuti langkah Stello dan kakek Ben. Stella diajak masuk ke rumah dengan melewati pintu gerbang yang lumayan tinggi namun, keadaan di dalam halaman rumah bisa dilihat jelas dari luar.


"Bertanya tentang apa? Tanyakan saja," jawab Stello sambil menuntun lengan Stella karena adiknya itu berjalan sangat lambat.


Dan Stella seketika merasakan hangat yang menjalar di hatinya. Perlakuan seperti ini yang selama ini Stella dambakan. Bisa disayang dan dilindungi oleh seorang kakak.


Klik.


Stello menjetikkan jari di depan wajah Stella agar adiknya itu segera tersadar dari lamunan. "Malah melamun. Aku tahu, aku ini tampan," ucap Stello dengan percaya dirinya.


Stella mencebikkan bibirnya. "Kamu ada hubungan apa dengan Ana?" tanya Stella dengan alis yang naik-turun.


"Stella! Stello! Ayo cepat! Berbincanglah di dalam rumah. Kakek sudah lelah sejak tadi berdiri menunggu kalian berbicara," ucap kakek Ben menginterupsi keduanya.


Stella dan Stello sontak terkekeh kemudian bersama mendekat pada kakek Ben dan menuntunnya memasuki rumah.


Stella yang mendengar itu lagi-lagi merasa terenyuh. Tanpa terasa, air matanya mengalir begitu saja dengan sangat deras tanpa bisa di bendung. Tanpa Stella sadari, air matanya jatuh ke kemeja yang kakek Ben kenakan. Hal itu sontak membuat kakek Ben mengernyit heran. Pasalnya, cuaca hari begitu cerah berawan. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan.


Saat kakek Ben menoleh, ternyata Stella sudah menangis tanpa suara. "Loh! Kok malah menangis? Jangan menangis lagi kakek mohon," ucap kakek Ben kemudian mendudukkan Stella di sofa panjang ruang tamu.


Stello mengacak rambut Stella lembut. "Berjanjilah untuk tidak menangis lagi setelah ini? Karena apa yang hatimu rasakan, aku juga ikut merasakan," ucap Stello kemudian mengambil posisi duduk di samping Stella.


Kakek Ben tersenyum sendu. "Kamu sudah percaya kan? Kalau kami adalah keluarga kamu?" tanya kakek Ben dengan mata yang berkaca-kaca. Stella mengangguk dengan masih menangis tersedu-sedu.


Waktu terus berputar. Tanpa terasa jadwal makan malam akhirnya tiba. Tidak banyak yang diketahui Stella mengenai keluarganya. Karena kakek Ben menyuruhnya untuk beristirahat terlebih dahulu.


Stella justru merasa bingung dengan banyaknya makanan yang disajikan oleh para pelayan yang tidak terhitung jumlahnya. Wajar saja, rumah ini begitu besar dan mungkin jika yang bekerja hanya satu orang, butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikannya.


"Mau makan apa? Aku ambilkan ya?" tanya Stello ketika mendapati Stella hanya terdiam dengan menatap makanan di meja.


"Aku bingung. Biasanya, aku tidak pernah makan di meja seperti ini. Aku hanya makan di lesehan pun dengan makanan yang secukupnya. Bukan banyak lauk seperti ini," ucap Stella merasa konyol.

__ADS_1


Kakek Ben terkekeh pelan. "Sekarang makanlah apapun yang ingin kamu makan. Apapun itu, kakakmu akan berusaha mewujudkan," ucap kakek Ben menatap Stella sendu.


"Kenapa jadi aku, Kek?" tanya Stello tidak terima.


Kakek Ben berdecak sebal. "Kakek kan sudah tua. Sekarang, kamu yang bertugas menjaga adikmu," jawab kakek Ben terdengar masuk akal.


Stella tiba-tiba teringat dengan keberadaan orangtuanya. Daripada mati penasaran, Stella memilih bertanya langsung. "Kek? Apakah ayah dan ibuku tidak tinggal bersama disini? Lalu, dimana mereka? Aku juga ingin bertemu mereka," ucap Stella yang berhasil merubah raut wajah kakek Ben.


Stello yang sadar itu memilih bersuara. "Makan dulu ya, La. Nanti akan aku ceritakan semuanya," jawab Stello.


Walau kecewa karena tidak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Stella tetap mengangguk dan bersedia menunggu.


Makan malam selesai dan berjalan dengan khidmat. Tidak ada suara selama di meja makan.


Sebelum semua beranjak, Stello sudah menyuruh pelayan untuk membersihkan satu kamar untuk Stella tempati.


"Maya, tolong bersihkan satu kamar dan rapikan semua paperbag di kamar yang sudah saya beritahu ya? Ajak juga satu orang agar kamu cepat selesai," titah Stello pada pelayan bernama Maya.


Maya mengangguk paham. "Baik, Tuan," jawabnya yang kemudian berlalu dari hadapan mereka.


"Stella! Stello! Ikut Kakek ke ruangan kakek ya," ucap kakek Ben yang menyadarkan keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungan dengan cara like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian😍...


...mampir juga kesini yuk 👇...


...



...

__ADS_1


__ADS_2