Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 26. Yang ketiganya setan


__ADS_3

Saat masih larut dalam ciuman yang sudah menenggelamkan dua insan tersebut, tiba-tiba bel apartemen berdenting.


Ting. Tong.


Sontak saja hal itu membuat Shaka dan Stella melepaskan ciuman. "Pak, ada tamu," ucap Stella dengan napas yang terengah-engah.


Shaka mendengkus sebal lalu menjambak rambutnya frustasi. "Siapa sih? Mengganggu saja," kesalnya kemudian berjalan menuju arah pintu untuk melihat siapa yang sudah menganggu aktifitas menyenangkannya.


Sepeninggalan Shaka, Stella merapikan penampilannya yang berantakan. Stella geleng-geleng kepala mengingat bagaimana brutalnya ciuman pria matang itu. Ya, Shaka memang pria yang sudah matang. "Lama-lama, dia bisa membuatku gila," gumam Stella kemudian menatap sekitar yang kini sudah sangat berantakan.


Stella memejamkan mata. "Semoga tamunya tidak masuk," gumamnya lagi merasa khawatir.


Baru saja Stella bisa bernapas lega, suara dari arah pintu menginterupsi dan berhasil membuat jantung Stella berpacu lebih cepat dari biasanya.


"Ya ampun Bang Shaka! Abang habis melakukan apa hingga membuat ruangan menjadi berantakan seperti ini?" ucap seorang gadis dengan wajah shocknya.


Kini, pandangan gadis itu tertuju padanya hingga membuatnm Stella ingin menghilang saja. "Hai Kak! Ada Kakak juga ternyata," ucap sang gadis yang kini berubah ramah.


Stella tersenyum canggung lalu mengangguk sopan.


"Jadi, yang melakukan perang disini adalah kalian berdua?" tanya sang Gadis yang tidak lain adalah Sabrina. Dia begitu terkejut ketika mendapati apartemen kakak sepupunya berantakan seperti ini.


Entah, apa yang sudah dilakukan keduanya hingga dua cangkir kopi kini sudah tumpah. Isinya sudah melebar kemana-mana bahkan sampai ke lantai. Camilan yang berada di atas meja, isinya sudah keluar semua dari wadahnya.


"Berisik! Kenapa balik lagi kesini?" tanya Shaka terdengar tidak suka, kemudian duduk di samping Stella. Tangannya terulur di antara pinggang Stella lalu mendekap tubuh wangi Stella.


"What the—"


"Bang! Abang sehat kan? Sejak kapan Abang jadi manja begitu?" pekik Sabrina heboh melihat Shaka bisa bermesraan dengan seorang wanita.

__ADS_1


Stella melotot tajam pada Shaka yang main peluk tanpa memedulikan sekitar. Sedangkan Shaka yang ditatap, justru hanya menanggapinya dengan cengiran.


"Woah!"


"Apa aku sudah melewatkan sesuatu?" tanya Sabrina lagi ketika melihat interaksi Abang sepupunya yang tidak biasa. Dia berjalan mendekat dan duduk di antara Shaka dan Stella. Memisahkan dua manusia yang sedang di mabuk asmara.


Shaka nampak tak terima dengan perilaku Sabrina. "Kenapa sih?" tanyanya kesal.


"Abang tahu kan, kalau berduaan dalam satu ruangan yang ketiganya itu setan?" tanya Sabrina bermaksud ingin menasehati Shaka.


Shaka mengangguk santai. "Berarti kamu setannya dong," jawab Shaka tanpa beban.


"Kok gitu sih. Aku sama sekali tidak ikut dalam hal ini ya, i am sorry to say goodbye," elak Sabrina tidak terima menggunakan nada bicara orang JakSel.


"Sok Inggris!" kesal Shaka lalu memutar bola matanya malas. Dia beranjak kemudian beralih duduk di sebelah Stella lagi.


Lamunan Stella tersentak ketika tiba-tiba ada tangan kokoh yang melingkar di pinggangnya. Stella menoleh dan mendapati wajah Shaka begitu dekat dengan wajahnya. Ada rasa bahagia ketika Shaka memeluknya dari belakang seperti ini. Stella seperti merasa sangat dicintai.


"Kalian memang tidak tahu tempat," kesal Sabrina ketika melihat tubuh Shaka dan Stella saling menempel. Namun, Sabrina justru berjalan mendekat dan mengambil posisi duduk di sebelah Stella.


"Kakak namanya siapa? Stella bukan?" tanya Sabrina dengan senyum manisnya.


Stella balas tersenyum dan mengangguk. "Iya, aku Stella. Kamu?" jawab Stella lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Sabrina tersenyum ramah kemudian membalas jabatan tangan Stella. "Aku Sabrina, Kak. Oh iya, Kak Stella tahu tidak?" tanya Sabrina dengan mata memicing, seakan sesuatu yang akan diucapkan begitu rahasia.


"Tidak." Stella menjawab dengan singkat.


Decakan pelan berhasil keluar dari bibir Sabrina. "Tanya dong, Kak. Kenapa gitu?" ucap Sabrina setengah kesal.

__ADS_1


Stella terkekeh pelan sedang Shaka, dia sudah tergelak renyah karena Stella berhasil membuat Sabrina kesal.


"Kenapa?"


"Bang Shaka tuh, waktu sore berantem sama Kakak, dia itu ngigau loh," ucap Sabrina membuka kartu rahasia Shaka.


Shaka memutar bola matanya malas. Dia sudah paham kemana arah pembicaraan Sabrina. "Bilang saja. Itu akan lebih baik," ucap Shaka menantang.


"Bang Shaka tuh ngigau gini, 'Maafkan aku Stella. Aku sudah membuatmu takut atas sikapku.' gitu, Kak," beritahu Sabrina dramatis.


Bahkan, Sabrina memerankannya dengan baik yaitu sambil memejamkan mata dan kepala bergerak ke kanan dan ke kiri.


Stella ingin tertawa namun, Shaka sudah menariknya untuk bersembunyi di balik sofa. Sungguh, Stella tidak menyangka jika Shaka mempunyai sifat jahil seperti ini.


"Sst! Diam ya? Nanti pas Sabrina buka mata, sudah tidak ada siapa-siapa," bisik Shaka berusaha meredam tawanya.


Stella tersenyum lebar. Merasa aneh dengan sisi lain yang dimiliki Pak Bossnya.


"Heh! Bang Shaka! Awas ya kamu ngerjain aku lagi!" teriak Sabrina menggema di seluruh ruangan.


Hahahaha.


Stella benar-benar tidak bisa menahan tawanya ketika misi yang dilakukan Shaka berjalan dengan lancar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...mampir juga ke karya temanku yuk....


__ADS_1


__ADS_2