
Shaka begitu terkejut saat membuka pintu apartemen ada Stella yang sudah berdiri disana. Ketika tatapnya bertemu dengan tatap Stella, Shaka seketika merasa takut jika Stella akan salah paham padanya.
Apalagi, Sabrina baru saja keluar dari apartemen setelah pagi-pagi sekali datang hanya untuk mengganggunya.
"Maaf karena sudah menganggu pagi Bapak. Saya akan bicara nanti saja. Kalau begitu, saya pamit dulu," ucap Stella kemudian, pergi begitu saja tanpa mau menunggunya untuk berbicara.
Karena masih terkejut, Shaka hanya bisa menghela napas kasar lalu merauo wajahnya kasar.
"Kenapa, Bang? Memangnya, dia siapa? Pacar Abang ya?" tanya Sabrina dengan tatapan menyelidik.
"Ini semua gara-gara kamu. Bagaimana jika dia salah paham? Argh! Kamu memang adik yang menyebalkan!" geram Shaka kemudian menutup pintu dengan kasar tanpa memedulikan Sabrina yang jantungnya kini bertalu-talu akibat begitu terkejut.
"Aarghh!" pekik Shaka ketika sadar bahwa dia lupa memakai kaosnya kembali. "Stella pasti sudah salah paham padaku. Aku harus segera menemuinya," ucap Shaka kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lima menit kemudian, Shaka sudah keluar. Tidak langsung berganti pakaian, Shaka memilih menelepon Ron agar segera bersiap. Ya walaupun Ron berada dalam satu unit apartemen yang sama dengannya. Hanya saja, keduanya berbeda kamar. Menelepon lebih praktis daripada harus mendatangi kamar Ronald.
"Ron! Siap-siap! Kita harus berangkat sekarang!" ucap Shaka tegas dan tanpa menunggu jawaban Ron, Shaka segera menutup telepon dan memilih berganti pakaian.
Tidak berapa lama, pintu kamarnya terbuka menampilkan Ron yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. "Kenapa datang pagi sekali ke kantor, Bos? Apa ada sesuatu?" tanya Ron masih berdiri di depan pintu.
Shaka menatap kesal pada Ron karena terlalu banyak bertanya. "Bisa tidak kamu lakukan saja? Aku sedang terburu-buru ini," geram Shaka sambil menyimpulkan dasi.
Ron meringis kemudian mundur perlahan. "Baiklah, Bos,"
Lima belas menit kemudian, Shaka sudah berada di mobil bersama Ron yang kini mulai menjalankan mobilnya keluar dari wilayah elit.
"Tolong di percepat jalannya, Ron. Aku buru-buru," titah Shaka tegas yang segera Ron laksanakan.
Akhirnya, mobil melaju dengan kecepatan 160 km/ jam membelah jalanan yang sudah lumayan padat. Suara klakson bersahut-sahutan setelah mobil yang dikendarai Shaka menyalip. Sungguh, Shaka merasa seperti sedang melakukan aksi yang berada di film Fast And Forius, yaitu balap mobil.
Shaka harus mengapresiasi kemampuan Ron dalam mengemudi. Ron memang tidak perlu diragukan lagi dalam segala hal. Hanya butuh waktu lima belas menit, Shaka akhirnya tiba di kantor. Ron menurunkannya di lobi.
__ADS_1
Dengan membawa tas kerjanya, Shaka bergegas naik kr ruangannya, berharap Stella sudah menunggu di meja seperti biasa. Namun, saat Shaka sudah berada di lantai dimana ruangannya berada, disana tidak ada Stella. Bahkan, meja kerja Stella smsih terlihat rapi seperti belum tersentuh.
"Kamu kemana, La? Kenapa belum sampai?" monolog Shaka resah kemudian segera mengambil ponsel di saku celana untuk menghubungi Stella. Sambil berjalan memasuki ruangan, Shaka meletakkan benda pilih itu di saja satu telinga.
Tut. Tut. Tut.
Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang berada di lusr jangkauan.
Shaka menghela napas kasar. Disaat seperti Stella justru menonaktifkan ponselnya. Tidak berapa, pintu ruangan terbuka menampilkan Ron yang masuk tanpa perlu mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Bos? Ana tadi menitipkan ini," ucap Ron sambil menyodorkan amplop berwarna putih.
Shaka mengerutkan alis heran. "Apa itu?" tanyanya bingung.
"Ini surat izin Stella. Dia mengatakan bahwa hari ini Stella izin tidak masuk karena ada alasan mendesak," ucap Ron kembali menyodorkan amplop karena Shaka tak kunjung mengambilnya.
"Izin tidak masuk? Karena apa?" tanya Shaka semakin kebingungan.
Shaka menatap tajam asisten pribadinya."Kamu mulai berani ya?" tanya Shaka kesal.
Ron menggeleng. "Tidak, Bos," jawabnya cepat.
"Mau kamu? Aku potong gajinya?" ancam Shaka kesal.
"Ampuni hamba Paduka Raja, saya tidak akan melawan lagi," ucap Ron dramatis.
Shaka tersenyum puas. "Nah gitu dong."
................
Stella sudah berada di ibukota mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Pukul delapan malam, akhirnya Stella sampai di depan kostan. Dengan tubuh yang lelah, Stella berjalan menaiki tangga untuk sampai di kamarnya.
__ADS_1
Saat sudah tiba di lantai tempat kamarnya berada, Stella berjalan kembali menyusuri lorong sebelum benar-benar tiba di kamarnya.
Stella berjalan sambil menunduk menatap ujung sepatunya yang melangkah beriringan. Saat hampir tiba di depan kamarnya, Stella mendongak dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati Shaka sedang terduduk menyandar pada pintu kamarnya. Kedua kakinya di tekuk dengan kepala yang masuk di antara tumpukan tangan yang bertumpu pada lutut.
Sontak saja Stella menghentikan langkah. Stella ingin menghindari Shaka terlebih dahulu. Selain tidak baik untuk hatinya, Stella juga malas menjelaskan tentang izin tidak masuk kerjanya. Saat Stella ingin mundur perlahan, tiba-tiba saja Shaka mendongak dan tatap matanya langsung tertuju pada Stella.
"Stella? Kamu sudah pulang?" tanya Shaka sambil bangkit dari posisi duduknya.
Huuft.
Stella menghembuskan napas kasar. Tidak akan bisa lari lagi jika Shaka sudah menyadari kedatangannya. Stella berusaha mengulas senyum dan berjalan menuju kamar kosnya.
"Bapak ada urusan apa kesini?" tanya Stella ramah namun terdengar tidak suka.
Shaka terkekeh. "Ingin bertemu seseorang yang begitu istimewa," ucap Shaka mengulum senyumnya.
Stella mendengkus pelan dengan mata melirik sinis pada Shaka. "Bapak tidak menemui kekasih Bapak?" tanya Stella sambil berusaha memasukkan kunci pada lubangnya.
Shaka terkekeh lagi. "Aku tidak punya seorang kekasih," jawab Shaka santai yang justru terlihat sangat menyebalkan bagi Stella.
Ceklek.
Pintu akhirnya terbuka. Stella melenggang masuk dengan membiarkan pintunya terbuka. Shaka yang tidak di persilahkan masuk, melenggang begitu saja dan menutup benda persegi panjang tersebut.
Shaka mengambil posisi duduk bersila di atas karpet bulu, matanya awas menatap Stella yang terlihat sedang mencari baju ganti di lemari.
Stella yang tidak menyadari ada Shaka dan lupa menutup pintunya, melepas kemejanya begitu saja hingga menyisakan bra berwarna hitam yang menutupi tubuh bagian atas.
Shaka yang melihat itu, membelalak tak percaya, antara terkejut dan takjub hanya berbeda tipis. Shaka menelan saliva susah payah saat melihat jemari lentik itu seperti akan membuka pengaitnya. Tidak mau dibuat gila, Shaka langsung bersuara.
"Stella! Ada aku disini. Jangan buka sembarangan," ucap Shaka kelu karena jantungnya kini sedang berdebar-debar tak menentu.
__ADS_1
Stella membelalakan matanya lebar. Dia segera mengambil kemejanya kembali lalu memakainya asal. "Bapak sengaja ya? Kenapa tidak sejak tadi bilang? Bapak kenapa masuk? Bukankah saya tidak menyuruh Bapak masuk?" omel Stella panjang lebar, merasa kesal pada pak Boss yang dia anggap sudah mengambil kesempatan dalam kelonggaran.