Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 8. Sikap Stella yang aneh


__ADS_3

Sejak tadi, Shaka tidak berhenti memegangi dada sebelah kiri yang mengalami perasaan aneh sekaligus menyenangkan. Tragedi sore tadi saat bersama Stella, membuat hatinya timbul rasa bahagia.


"Rasa apa ini? Mengapa rasanya sangat berbeda?" monolog Shaka bertanya.


Kemudian, Shaka mengubah posisi duduknya menjadi tidur telentang di atas ranjang dengan menatap langit-langit kamar. "Stella. Dia gadis yang lucu dan menyenangkan," monolog Shaka sambil senyum-senyum sendiri.


Seketika, wajah cantik, senyum manis, tawa renyah, dan lesung pipi Stella terngiang-ngiang dalam ingatannya. Shaka mengusap wajahnya kasar. "Aku bisa gila karena gadis cerewet itu," monolognya lagi, tak urung mengulas senyum tipisnya.


Shaka lalu menyembunyikan wajahnya di balik guling yang dia peluk. Shaka merasa malu dengan sikapnya sendiri. Shaka sudah tidak sabar menunggu hari esok untuk bertemu gadis cerewet itu.


Sedang di tempat lain, keadaan Stella juga tidak terlalu jauh berbeda dengan keadaan Shaka. Stella terbayang akan kebersamaannya tadi sore bersama Pak Boss. "Pak ... Pak ... Salah sendiri jadi orang tampan. Jadi kepikiran terus 'kan akunya," monolog Stella lalu menutup wajahnya malu.


Kejadian tadi sore berhasil membuat degupan yang belum pernah ada seketika hadir. Degupan jantung yang sangat menyenangkan dan membuat candu.


"Apa aku mulai menyukai Pak Boss? Mengapa aku begitu bahagia ketika melihatnya tersenyum?" tanya Stella bermonolog.


"Huh! Manusia kaku itu berhasil membuat tidurku tak nyenyak," gerutu Stella lalu memejamkan matanya, berharap mimpi membawanya lelap.


.


.


Pagi harinya, Stella sudah terbangun dan bersiap ke kantornya. Dia mengenakan celana bahan berwarna hitam dipadukan dengan kemeja putih lengan panjang yang bagian bawahnya dimasukkan. Untuk bagian lengannya, Stella melipatnya sedikit agar terlihat lebih fresh. Kancing teratasnya Stella biarkan terbuka dan rambutnya dia kuncir kuda hingga menampakkan leher jenjangnya.


Saat sudah siap, Stella menarik salah satu blazer di lemari kemudian keluar dari kamar kost-nya. Setelah memakai atribut berkendara, Stella segera melajukan motornya melewati gang sempit yang lebarnya hanya satu meter menuju jalan raya.


Saat sudah keluar gang, Stella bisa melihat mobil Shaka terparkir tidak jauh dari tempatnya berhenti. Benar saja, Ron keluar dari jok depan dan menghampirinya. "Nona Stella, Pak Shaka menyuruh Anda untuk pergi ke kantor bersamanya menggunakan mobil," ucap Ron tetap mempertahankan wajah datarnya.


Stella mengernyit heran. "Memangnya kenapa?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Karena mulai hari ini, Nona sudah resmi menjadi sekretaris pribadi pak Shaka. Jadi, untuk berangkat dan pulang kantor, Nona harus ikut bersama kami," jelas Ron panjang lebar.


Stella magut-magut tanda paham dengan maksud Ron. "Kalau begitu, saya akan memulangkan motor dulu," ucap Stella meminta izin.


"Tidak perlu. Itu akan membutuhkan waktu lebih lama lagi. Motor Nona sudah ada yang mengurusnya," ucap Ron memberi pengertian.


Stella mengangguk pasrah. "Ya sudah. Sekalian sama helm-nya juga ya?" tanya Stella tersenyum girang. Ron mengangguk kemudian berjalan lebih dulu menuju mobil disusul Stella. Saat Stella akan mengambil posisi duduk di depan, tepatnya di sebelah kemudi, Shaka yang berada di jok belakang segera mencegahnya. "Kamu sedang apa disitu?" tanya Pak Boss ketus.


Stella melirik sinis Shaka. "sedang roll depan roll belakang sama kayang, Pak," jawab Stella asal.


Shaka mendengkus kesal. "Yang benar saja kamu. Duduk di belakang!" titahnya tegas.


Menurut, Stella berpindah duduk di jok belakang tanpa banyak bertanya. Setelah Stella duduk tenang, Shaka memerintah Ron untuk segera melajukan mobilnya.


Saat berada di mobil, Stella hanya diam dengan mata memandang ke samping jendela. Sesekali, Stella melirik pada Boss-nya yang sedang sibuk memainkan tablet. Stella menghela napas. 'Mengapa aku kehilangan kosa kata untuk membuat pak Shaka mau tersenyum lagi sih?' batin Stella heran.


"Tumben kamu diam," ucap Shaka memecah keheningan. Tidak. Sebenarnya Shaka merasa terganggu ketika Stella yang cerewet kini berubah menjadi pendiam.


"Itu normal. Yang nggak normal itu, melihat kamu diam," ucap Shaka lagi yang berhasil membuat Stella menoleh hingga memiringkan tubuhnya menghadap Shaka.


"Benarkah? Kalau begitu, saya akan memikirkan lagi bagaimana caranya membuat pak Shaka tersenyum lagi," ucapnya girang. Shaka mengangguk dan tersenyum tipis.


Pandangan Shaka beralih pada sabuk pengaman Stella yang belum dipakai. Tanpa berpikir panjang, Shaka mendekatkan tubuhnya hingga tanpa sadar, wajah keduanya sangat dekat dan hampir tak berjarak.


Stella membeku di tempat ketika wajah Shaka hanya berjarak sepuluh sentimeter dari wajahnya. "A-ap-apa yang a-akan Bapak la-lakukan?" tanya Stella tergagap.


Shaka yang tersadar bukannya menjauh, justru ikut membeku menatap wajah ayu di depannya. Cukup lama keduanya saling tatap dalam jarak yang sangat dekat hingga bisa saling merasakan hembusan napas yang lembut.


Ron yang melihat adegan itu dari cermin depan kemudi, berusaha menutup mata agar tidak melihat pemandangan yang menimbulkan rasa rindu pada pacarnya. 'Ternyata, Pak Boss diam-diam menghanyutkan,' gerutu Ron dalam hati.

__ADS_1


"A-aku hanya ingin me-memakaikan sabuk pe-pengaman," jawabnya kemudian segera mengaitkan sabuk lalu menjauhkan tubuhnya.


Setelah tubuh Shaka menjauh, Stella berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya setelah beberapa waktu lalu menahan napas. Shaka berdehem untuk menghilangkan rasa gugup yang hadir.


Stella yang kesadarannya sudah kembali, segera bersuara. "Bapak tahu tidak?" tanya Stella memecah kecanggungan yang ada.


Shaka mengernyit heran dan menjawab. "Tidak."


"Sama, hahaha." jawab Stella kemudian tergelak renyah.


Shaka mendengkus kesal. "Dasar nggak jelas," gerutunya kesal.


Stella tertawa terbahak-bahak. "Soalnya, saya juga tidak tahu mau bicara apa, Pak. Daripada bingung, mending saya tanya Bapak 'kan?" jawab Stella tanpa beban.


"Tetapi, tidak dengan bertanya seperti itu juga kali," kesal Shaka lagi. Stella segera mengembalikan raut wajahnya seperti semula. "Ya sudah." jawabnya singkat hingga membuat Shaka mengernyit heran. Saat mulutnya akan terbuka lagi untuk berbicara, Ron sudah menyela dan mengatakan bahwa mobil sudah sampai.


"Sudah sampai, Boss,"


Terpaksa, Shaka mengurungkan niat kemudian turun disusul Stella. Ruang kerja Stella kini sudah pindah di lantai yang sama bersama Shaka. Ya, Stella sudah naik jabatan menjadi sekertaris pribadi Shaka setelah banyaknya berkas yang dia kerjakan begitu bagus dan memuaskan.


Ya, hukuman yang Shaka berikan nyatanya membawa berkah untuk karir Stella. Buktinya, sekarang dia diangkat menjadi sekertaris pribadi dengan gaji tiga kali lipat lebih besar dari staff biasa.


Di sepanjang perjalan menuju ruangan, Stella hanya diam hingga membuat Shaka tidak nyaman dan merasa terganggu. Namun, Shaka memilih diam hingga sampai di ruangannya.


"Ron sudah menjelaskan semua tugasmu kan?" tanya Shaka sebelum masuk ke ruangannya, berharap Stella akan tersenyum sedikit saja untuknya.


Stella mengangguk dengan wajah datarnya. "Sudah, Pak." jawab Stella dan Shaka hanya bisa menghela napas pasrah karena senyum yang diinginkan tidak berhasil didapat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


si Stella kira-kira kenapa ya?😀


__ADS_2