
"Mau jalan-jalan pakai motor? Mumpung malam Jumat," tawar Shaka saat keluar dari apartemen untuk mengantar Stella pulang.
Mendengar tawaran menggiurkan itu membuat Stella menggembungkan pipinya lucu. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Itu berarti, Stella masih punya waktu satu setengah jam sebelum jam tidurnya tiba.
"Boleh, Pak. Tapi, yang dekat-dekat saja ya, Pak?" jawab Stella yang juga meminta permohonan.
Shaka mengangguk tidak masalah. "Baiklah. Kita jalan-jalan dekat dari sini saja kalau begitu," jawab Shaka lagi.
Tidak berapa lama, benda kotak bernama lift berhasil membawa keduanya sampai di basemant.
"Pakai ini dulu ya?" pinta Shaka lembut sambil memakaikan helm pada kepala Stella. Stella hanya menurut saat tangan Shaka dengan cekatan menggabungkan pengait.
"Sudah." ucap Shaka lalu mengambil satu helm lagi untuk dipakai dirinya.
"Eh Pak, memangnya kenapa kalau malam ini malam Jumat?" tanya Stella penasaran.
Shaka tersenyum lebar. "Kita akan jadi Ghost Hunters," jawab Shaka bercanda.
Mata Stella mengerjap lucu beberapa kali. Mencoba mencerna apa maksud pak Boss-nya. Ketika sudah paham, Stella menjawab. "Ayo, Pak. Siapa takut," jawabnya dengan semangat membara.
Shaka tergelak renyah. "Ya sudah, cepatlah naik," pinta Shaka lembut.
"Iya, Pak. Takut hantunya sudah pulang ke rumah kalau terlalu lama," jawab Stella yang berhasil membuat Shaka terbahak-bahak. Shaka seketika bertanya-tanya apakah Stella ini polos atau bagaimana?
................
Matahari kembali bersinar menerangi bumi. Nala mengerjap ketika ada sinar yang masuk lewat celah gorden kamar kost-annya. Setelah mengumpulkan nyawa, Nala bangkit kemudian duduk terlebih dahulu.
Pikiran Stella langsung tertuju pada Shaka yang semalam membawanya berkeliling kota. Stella tersenyum lebar. "Seru juga bisa jalan-jalan pakai motor sama pak Shaka," monolog Stella kemudian menutup wajahnya sendiri ketika sadar sudah senyum-senyum sendiri.
Stella segera berjalan menuju kamar mandi sebelum pikirannya semakin ngawur memikirkan Pak Boss. Dan entah mengapa saat sudah berada dalam kamar mandi, Stella masih saja teringat pada Shaka.
Shaka seperti berada dimana-mana dan mengikuti kemanapun Stella pergi. "Aku bisa gila kalau begini," gumam Stella saat merasakan guyuran air dingin di atas kepalanya. Mata Stella memejam namun yang dilihat Stella hanyalah Shaka.
Akhirnya, Stella membuka mata dan segera menyelesaikan acara mandinya. Dia akan tanyakan pada Shaka mengapa semua itu terjadi.
Setelah memakai pakaian kerjanya, Stella keluar dari kosan menuju ujung gang dimana mobil Shaka selalu menunggu.
__ADS_1
Benar saja, mobil Shaka sudah terparkir di pinggir jalan. Stella langsung saja menghampiri dan bergegas masuk ketika orang yang berada di dalam ada Shaka.
"Selamat pagi, Pak," sapa Stella ramah yang segera mendapat balasan senyum dari Shaka.
"Sepertinya, hari ini kamu sangat bahagia," ucap Shaka menduga-duga ketika menemui wajah Stella yang berseri-seri.
Stella menipiskan bibirnya. "Bapak tahu tidak? Di setiap aku berjalan, wajah Bapak yang selalu hadir. Dimanapun ada bayangan Bapak," ucap Stella dengan wajah lucunya.
Shaka terkekeh. "Bukan aku yang ada dimana-mana. Tetapi, aku yang ada di hati dan pikiranmu," jawab Shaka lalu mengacak rambut Stella gemas.
Melihat Stella terdiam, Shaka kembali bersuara. "Kamu mempunyai perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan," imbuhnya lagi.
Melihat Ron yang tidak segera menjalankan mobil, Shaka menoleh ke depan dan mendapati Ron sedang begitu serius menguping pembicaraannya. "Ron! Jalan! Malah nguping kamu," sentak Shaka kesal.
Ron berdehem pelan untuk menetralisir rasa terkejut karena sudah ketahuan mencuri dengar apa yang Shaka ucapkan. "Baik, Bos."
Sekitar setengah jam, akhirnya mobil sampai di perusahaan. Seperti biasa, ketiganya berjalan beriringan memasuki gedung perusahaan. Pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi hingga menimbulkan bisik-bisik tetangga.
Tetapi, Stella berusaha mengabaikan itu. Dia juga percaya bahwa tidak semua orang menyukai dirinya. Salah satunya yaitu Ratu. Ratu merupakan satu di antara banyaknya orang yang tidak suka pada Stella.
Setelah berada dalam ruangan, shaka mengambil posisi duduk di double sofa. Stella mengambil posisi duduk di sebelah Shaka sedangkan Ron, dia mengambil posisi duduk di single sofa.
"Ron? Mau transfer atau cash? Dua hari lagi 'kan tanggal gajian kamu. Karena aku sedang berbaik hati, gajiannya lebih cepat dua hari," ucap Shaka kemudian tersenyum tipis.
"Transfer saja, Bos. Ke nomor rekening yang biasa," jawab Ron berbinar.
"Baiklah. Kalau kamu Stella? Mau transfer atau cash?" tanya Shaka yang kini beralih menatap Stella.
Stella mengerjapkan mata beberapa kali. "Transfer atau cash ya? Nanti dulu deh, Pak. Biar aku pikir-pikir dulu," jawab Stella sambil ekngagruj tengkuknya yang tidak gatal.
Shaka terkekeh. "Ron? Silahkan keluar. Itu pintunya ada disana," ucap Shaka sambil tangannya menunjuk arah pintu.
Ron mendengkus pelan kemudian segera beranjak meninggalkan ruangan. Kini tinggal Stella dan Shaka yang berada di ruangan. Tatapan Stella langsung tertuju pada bosnya yang tidak menyuruhnya untuk keluar.
"Aku tidak disuruh untuk keluar, Pak?" tanya Stella sambil menunjuk dirinya sendiri.
Shaka menggeleng kemudian menggeser posisi duduk untuk lebih merapat lagi pada Stella.
__ADS_1
Stella yang tidak sempat menghindar karena gerakan Shaka terlalu cepat, hanya bisa melotot tajam. "Jangan aneh-aneh deh, Pak. Kita kan belum resmi jadi sepasang kekasih," ucap Stella was-was.
Shaka tergelak renyah. "Jadi, secara tidak langsung kamu sedang meminta kepastian ini? Baiklah jika itu mau kamu. Mulai hari ini kita resmi menjadi sepasang kekasih," ucap Shaka kemudian tangannya bergerak menyingkirkan helaian rambut Stella yang menggangu penglihatan.
"Kata siapa? Aku tidak ada bilang seperti itu ya?" elak Stella mencoba menepis rasa.
"Rambut aku, kata aku," jawab Shaka yang justru menirukan slogan sebuah iklan sampo.
Tidak bisa menahan tawanya, Stella terbahak-bahak mendengar jawaban Shaka. "Aku amati, sepertinya Pak Shaka mulai pandai melucu ya, Pak?" ucap Stella kagum.
Shaka mengangguk menanggapi. "Itu semua karena kamu. Jadi, tolong jangan alihkan pembicaraan kita lagi ya? Mulai hari ini, kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih," ucap Shaka sambil menatap wajah ayu Stella lamat-lamat.
"Kata siapa? Kok main klaim begitu saja?" tanya Stella merasa tidak terima.
"Rambut aku, kata aku." Lagi-lagi Shaka menjawabnya dengan gurauan.
"Ish! Yang benar dong, Pak. Buktikan kalau Bapak tuh bisa mengungkapkan perasaan Bapak ke aku," pinta Stella yang tiba-tiba saja mendapat ide untuk mengerjai Shaka.
Stella tersenyum puas ketika melihat wajah Shaka berubah datar. Namun, kesenangan Stella tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja Stella merasakan tangannya digenggam oleh tangan kokoh.
"Mulai hari ini kita sudah menjadi sepasang kekasih. Aku mau mode maksa agar kamu mau menemaniku seumur hidup. Tolong terima ya?" ucap Shaka terdengar memaksa. Anehnya, Stella justru suka dengan pengungkapan rasa yang seperti itu.
"Bagaimana? Mau menjadi teman seumur hidupku? Sampai rambut kita memutih?" tanya Shaka lembut dan menatap Stella sepenuhnya.
"Mau sampai putih, Pak? Pakai semir," gelak Stella yang sama sekali tidak lucu. Melihat Shaka yang terdiam tidak menanggapi, Stella berdehem yang berarti, Stella sudah menyetel tubuhnya untuk berbicara serius.
Stella menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali sebelum menjawab. "Apa Bapak sudah yakin denganku? Soalnya, aku tidak pernah main-main dalam sebuah hubungan. Jika Bapak benar-benar serius, aku bersedia," jawab Stella dengan mengulas senyum hangat.
Shaka tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Shaka langsung membawa tubuh Stella dalam pelukan untuk menyalurkan rasa kasih dan sayangnya.
"Terima kasih, Stella," gumam Shaka tiada henti, merasa hari ini sedang berpihak padanya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...yuk, mampir ke karya temanku juga👇...
__ADS_1