
Shaka meluapkan kekesalannya dengan membanting semua barang-barang yang berada di kamar apartemennya. Dia merasa marah pada Stella yang tidak peka dengan keterdiamannya.
Shaka pikir dengan mendiamkan Stella selama berhari-hari, itu akan membuat Stella menyadari kesalahannya, yaitu sudah menemui Gavin. Shaka jelas tahu karena ada seseorang yang mengirimkan foto Stella bersama Gavin yang terlihat begitu dekat.
Kini, Shaka harus menerima kenyataan bahwa Stella sedang bersama laki-laki yang entah siapa. Bahkan, Stella tidak ada niatan untuk membujuk dirinya agar tidak marah lagi.
Memang, Shaka waktu itu tidak menjawab pertanyaan Stella tentang apa yang membuatnya diam. Walau dia sudah tersenyum saat Stella menggoda, Shaka tetap bungkam dan berharap Stella akan peka.
Shaka menghembuskan napasnya pelan. "Apa semua wanita sama saja? Seperti mama? Siapa yang salah dan siapa yang disalahkan," kesal Shaka menjambak rambutnya kasar.
Shaka bertambah kesal ketika mendengar bel apartemennya berdenting. "Siapa sih? Ganggu saja!" kesal Shaka tak urung tetap berjalan untuk membukakan pintu.
Ceklek.
Kekesalan Shaka semakin bertambah ketika melihat siapa yang datang. Di depan pintu apartemennya sudah berdiri anak dan ayah yang begitu Shaka hindari. Mereka adalah Gavin dan ayahnya, Gunardi Virendra.
"Ada apa?" tanyanya ketus.
Seperti biasa, pak Gunardi selalu mengulas senyum ketika mendapati pertanyaan ketus Shaka. Sedangkan Gavin, dia sudah menundukkan kepala dan itu bukan sikap yang selalu Gavin tunjukkan selama ini.
"Boleh Papa dan kakakmu masuk?" pinta pak Gunardi penuh harap.
"Ada urusan apa?" tanya Shaka lagi karena pertanyaan pertama belum mendapat jawaban.
"Ingin meluruskan kesalahpahaman di antara kita bertiga," jawab Gavin lebih dulu karena ayahnya seperti sudah kelu lebih dulu sebelum menjelaskan semua yang terjadi.
Shaka mendengkus pelan. "Apa maksudnya?" tanya Shaka belum datar.
"Papa sudah mengakui kesalahan Papa pada Gavin, semuanya tanpa ada yang Papa tutupi," ungkap pak Gunardi yang berhasil membuat Shaka terpaku di tempat.
__ADS_1
"Izinkan kami masuk lebih dulu," pinta Gavin memohon.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Shaka membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan kedua pria berbeda generasi itu masuk. "Masuk!"
Ketiganya akhirnya duduk di sofa yang berhadapan. Gavin duduk bersebelahan dengan sang Ayah sedang Shaka duduk diseberang keduanya.
"Ka? Papa sudah menceritakan semuanya padaku. Tentang kamu, tentang mama, dan tentang mama yang ... Mengakhiri hidupnya," ucap Gavin melirih di akhir kalimat.
Shaka masih menyimak dengan seksama sekaligus masih tidak percaya dengan penglihatannya. Dua orang yang merupakan keluarganya, kini datang untuk menjelaskan masalah yang telah lalu.
"Aku tahu, ucapan maaf saja tidak akan cukup untuk mengantikan bertahun-tahun penderitaanmu. Tetapi, hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku sudah salah paham padamu sejak dulu. Aku baru tersadar ketika Stella memberiku sebuah nasehat yang berhasil menyentuh hatiku. Kamu tidak bersalah, mama yang salah," ucap Gavin penuh sesal dan mata yang berkaca-kaca.
"Bisa kita perbaiki semuanya? Semua tentang kedekatan kita? Aku rindu kita seperti dulu," imbuh Gavin lagi yang kini mulai menangis, dan entah mengapa, Shaka juga ikut terenyuh.
Jika ditanya, Shaka juga merindukan kasih sayang dari ayah dan kakaknya. Namun, terbiasa menjalani hidup yang keras, membuat Shaka menjadi orang yang keras juga. Hingga Stella hadir di hidupnya dan berhasil mengikis hati kerasnya.
Shaka tidak mampu menjawab karena lidahnya sudah kelu.
Dan entah mengapa, Shaka justru ikut menangis. Kemana Shaka yang dulu pantang menangis karena hal itu dirinya dipandang lemah.
"Aku membenci kalian semua." Hanya kalimat itu yang meluncur dari bibir Shaka. Sebenci apapun Shaka pada keluarganya, di sudut hatinya masih mengharap pertemuan seperti ini.
Gavin juga ikut menangis lalu mendekati Shaka untuk memeluknya. "Maafkan aku, Ka. Maafkan aku yang sudah ikut andil membuatmu menderita," ucap Gavin saat sudah memeluk Shaka erat.
Shaka berusaha melepaskan diri dan mendorong tubuh Gavin agar menjauh darinya. Karena pelukan hangat ini membuat Shaka kehilangan tenaganya saking nyamannya.
"Aku membenci kalian berdua," gumam Shaka yang tidak lagi memberontak.
"Iya, kamu boleh membenci kami selama yang kamu mau. Kami memang pantas mendapatkan itu," jawab Gavin kemudian merenggangkan pelukannya pads sang Adik.
__ADS_1
"Ka? Bagaimanapun, kita adalah saudara yang hanya berbeda dua tahun. Aku rindu kebersamaan kita yang dulu sebelum konflik di keluarga kita terjadi. Papa memang egois karena tetap bungkam atas kesalahannya hingga mama selalu menyalahkanmu begitu juga aku," ucap Gavin dengan tatapan menerawang jauh.
Dia sudah mengambil posisi duduk di sebelah Shaka. Sedangkan pak Gunardi yang merasa namanya disebut, hanya bisa menunduk malu pada kedua anaknya.
"Maaf." Hanya kata itu yang sejak tadi tidak eornah berhenti pak Gunardi gumamkan.
"Tetapi, semua itu sudah berlalu. Mari kita perbaiki semuanya karena bagaimanapun, kita bertiga adalah keluarga. Mari kita saling menguatkan satu sama lain dan berjuang bersama-sama memperbaiki sisa hidup yang ada," lanjut Gavin yang berhasil membuat sudut di hati Shaka menghangat.
"Shaka? Gavin?" panggil pak Gunardi dan keduanya menoleh.
Pak Gunardi menghela napasnya pelan sebelum kembali bersuara. "Tolong maafkan Papa atas kesalahan yang berlarut-larut ini. Kesalahan-pahaman bermula dari keterdiaman Papa sampai mama kalian memilih mengakhiri hidupnya. Dan di sisa hidupnya, dia masih saja menyalahkan Shaka. Papa menyesal," ucap pak Gunardi menjeda kalimatnya karena tangannya kini bergerak untuk menyeka air mata.
"Beri Papa kesempatan untuk menebus semuanya pada kalian dengan hidup bersama-sama lagi seperti dulu. Hanya saja, mari kita ciptakan suasana rumah yang sebenar-benarnya keluarga. Hanya kalian berdua keluarga yang masih tersisa. Papa ingin, di akhir hidup Papa kalian bisa hidup rukun dan bahagia," jelas pak Gunardi panjang lebar.
"Shaka? Aku sudah setuju dengan permintaan Papa. Mungkin, ini akan menjadi baktiku padanya karena selama ini akulah yang sudah durhaka padanya," ucap Gavin mengemukakan pilihannya.
Shaka terlihat sedang berpikir dan hal itu membuat Gavin maupun pak Gunardi merasa waspada, takut akan kecewa dengan tanggapan Shaka.
Shaka menarik dan menghembuskan napasnya sebelum kembali bersuara. "Baiklah. Karena aku tidak mau dikutuk menjadi batu seperti Malin Kundang, aku bersedia memperbaiki semuanya," jawab Shaka disertai candaan yang berhasil membuat pak Gunardi tersenyum haru.
Dia sudah akan beranjak untuk memeluk kedua anaknya. Namun, Shaka dan Gavin lebih dulu beranjak dan memeluk satu-satunya keluarga yang masih tersisa.
"Mari, kita perbaiki semuanya," gumam Shaka yang diangguki oleh ayah dan kakaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya😍...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1