
Stella sudah berada di ujung gang menunggu kedatangan Shaka. Semalam, pria itu berkata akan menjemputnya. Tetapi, bukankah setiap harinya Stella hampir selalu berangkat bersama Shaka? Entahlah, Stella juga tidak tahu dengan jalan pikiran pria kaku itu.
Mengenai yang semalam, Stella meminta waktu untuk memikirkannya matang-matang. Dan entah mengapa, pagi ini rasanya begitu menyenangkan ketika membayangkan dirinya akan bertemu pria tampan itu.
Ya, Stella mengakui jika Shaka sangatlah tampan. Stella tidak pernah menduga bahwa tujuan awalnya yang ingin membuat Shaka tersenyum, justru membuat dirinya jatuh dalam perangkap Pria Kaku seperti Kanebo Kering.
Stella sampai tersenyum sendiri mengingatnya. Namun, lamunan itu tersentak ketika suara berat menginterupsi dengan jarak yang lumayan dekat. "Sedang memikirkanku ya?" bisik Shaka lembut.
Stella bejenggit kaget dan refleks mundur beberapa langkah. "Pak Shaka mengagetkan saja!" kesal Stella lalu melabuhkan pukulan di lengan Shaka.
Shaka pura-pura mengaduh seakan pukulan Stella barusan sangatlah kencang. "Argh!"
Wajah Stella berubah panik. "Sakit, Pak? Aduh, maafkan aku, Pak. Aku tidak bermaksud untuk melukai Bapak," sesal Stella kemudian tangannya bergerak mengelus lengan Shaka yang baru saja terkena pukulan.
Shaka terdiam dan menatap Stella. Stella yang sadar sedang ditatap, balas memandang dengan sisa raut wajah khawatirnya. "Bapak tidak apa-apa kan?" tanya Stella lagi, memastikan.
"Tidak apa-apa. Tadi hanyalah formalitas hahaha," jawab Shaka kemudian tertawa terbahak-bahak karans berhasil mengerjai Stella.
Stella melotot tajam. Hanyalah formalitas? Bukankah itu kata-kata yang selalu Stella pakai? Apakah sekarang Shaka mulai ketularan dirinya?
Sedangkan Ron, dia sudah memutar bola matanya jengah. Sejak tadi, bosnya itu tidak pernah berhenti menceritakan tentang Stella yang lucu, Stella yang manis, Stella, Stella, Stella. Gendang telinga Ron rasanya ingin pecah karena mendengar ocehan atasannya yang baru merasakan jatuh cinta.
"Kita berangkat sekarang?" tawar Shaka kemudian membuka pintu mobil jok belakang. Stella mengangguk dan masuk lebih dulu kemudian disusul Shaka.
Setelah semua siap, mobil akhirnya melaju membelah jalanan ibu kota.
.................
Jam makan siang akhirnya tiba. Stella buru-buru menuju lantai dimana Ana berada. Sejak tadi pagi, Shaka tidak mengizinkan Stella mengunjungi ruang divisi pemasaran. Padahal, Dia ingin sekedar bertukar sapa dengan sahabat karibnya.
Shaka mengatakan bahwa dirinya takut Stella akan menjadi saingan pemilik akun Lambe Turah. Alasan yang wajar menurutnya. Karena bila dua orang wanita sudah bertemu, ujung-ujungnya akan ghibah. Memang seperti itu pada kenyataannya jika Stella sudah bersama Ana. Akan ada saja obrolan yang dan pembahasan tidak akan habis hingga tujuh hari tujuh malam.
"Ana?" panggil Stella saat baru saja menginjakkan kaki di divisi pemasaran.
Merasa namanya di panggil, Ana melongok dari kubikelnya. Ana tersenyum ketika Stella akhirnya berkunjung ke divisinya.
"Kamu aman 'kan, kesini? Pak Boss bagaimana?" tanya Ana sambil matanya fokus menatap komputer di hadapannya untuk menyimpan file yang baru saja dibuat.
__ADS_1
"Aku kabur. Kalau tidak seperti itu, sudah dipastikan dia akan mengajakku makan di luar kantor," jawab Stella saat sudah sampai di kubikel Ana.
"Mau makan siang di kantin 'kan?" tanya Ana dengan alis turun-naik.
Stella mengangguk. "Aku mau makan bakso lagi. Kemarin benar-benar enak saat aku tambahkan sedikit sambal," jawab Stella.
Ana magut-magut kemudian beranjak dari kubikelnya. "Let's go!" pekik Ana kemudian menarik tangan Stella untuk mengikutinya.
Setelah menuruni sekitar tiga belas lantai, akhirnya mereka sampai di kantin. Stella mengedarkan pandangan untuk mencari meja kosong. Keadaan kantin sangat ramai hingga sulit bagi Stella untuk mencari kursi kosong walau hanya satu.
"Itu kosong, La. Kita duduk disana saja," ajak Ana menunjuk pada meja yang baru saja ditinggal oleh pelanggan. Akhirnya mereka mendapat kursi.
"Biar aku saja yang pesan makanan, Na. Kamu cukup menjaga lilin disini jangan sampai mati," ucap Stella melucu.
Ana tergelak renyah. "Baiklah, aku yang jaga lilin, kamu yang nyuri duitnya," gelak Ana masih terdengar saat Stella hampir mencapai stan penjual bakso.
Setelah mengucapkan pesanan, dua mangkuk bakso dan dua es teh manis berhasil Stella bawa menuju meja. Baru saja Stella akan menaruh mangkuk berisi bakso untuknya, tiba-tiba saja mangkuk tersebut ada yang merebutnya.
Saat Stella menoleh, ternyata Ratu-lah pelakunya. "Mau apa, Mbak? Jangan ganggu aku!" ucap Stella tidak terima.
Ratu tersenyum licik. Lalu kejadian selanjutnya, Ratu menuang bakso tersebut ke atas kepala Stella hingga membuat Stella memekik kaget sekaligus merasa kepanasan.
"Rasakan! Makanya jangan blagu jadi orang. Aku disini tuh, sudah senior. Harusnya aku yang menjadi sekertaris pak Shaka, bukan kamu." Ratu kembali bersuara dengan tatapan nyalangnya.
Ana berdiri lalu mengangkat tangan untuk menampar wajah Ratu yang segera ditepis oleh yang bersangkutan. "Kamu juga mau ikut-ikutan dia? Berani kamu?" tanya Ratu dengan angkuhnya. Ana beringsut mundur dan berlari memasuki gedung kantor yang entah mau kemana.
Stella yang melihat itu, mengepalkan kedua tangan. Giginya sudah bergemeletuk dengan rahang yang mengeras, merasa tidak terima temannya diperlakukan buruk oleh Ratu.
"Mbak Ratu!" Stella berteriak lalu segera melakukan perlawanan dengan menjambak rambut panjang Ratu.
"Rasakan! Mbak kira kuah bakso rasanya dingin? Rasakan ini, aku tidak akan berhenti sampai rambutmu rontok!" dumel Stella dengan tangan yang masih mencengkeram rambut Ratu.
Teriak kesakitan dan teriak orang-orang yang menyaksikan perkelahian mereka, membuat suasana kantin seketika menjadi gaduh. Tidak tinggal diam, Ratu melakukan perlawanan dengan balik menjambak rambut Stella.
Stella memekik kesakitan. "Sepertinya aku harus mengeluarkan jurusku agar Mbak Ratu tahu rasa," ancam Stella yang sama sekali tidak digubris oleh Ratu.
"Dasar lemah! Jurus apa yang kamu maksud? Jurus menjual diri pada atasan? Agar segera naik jabatan? Dasar murahan!" ucap Ratu menggebu-gebu bermaksud mempermalukan Stella di depan umum.
__ADS_1
Merasa harga diri dan kehormatannya dilecehkan, Stella sudah tidak peduli lagi jika setelah ini Ratu akan masuk rumah sakit. Dengan tenaga ekstra, Stella menginjak kaki Ratu yang kini berdiri di belakangnya dengan tangan yang masih menjambak rambutnya.
"Aaaakh!"
"Rasakan!"
"Dasar murahan! Kalian semua tahu?" tanya Ratu pada semua orang yang menyaksikan pertengkaran mereka.
"Dia." ucap Ratu sambil menunjuk wajah Stella.
Stella masih mengamati apa yang akan Ratu lakukan dengan tetap berdiri dalam diam.
"Dia sudah menjual diri pada Direktur Utama di perusahaan ini. Kalian pikir saja, tidak mungkin dalam waktu satu tahun dia sudah naik jabatan menjadi sekretaris Boss. Pasti ada sesuatu yang dia lakukan untuk menjerat direktur utama," ucap Ratu mengada-ada cerita.
Stella menatap nyalang pada Ratu dengan kedua tangan yang mengepal erat. Saat Stella ingin bersuara, tiba-tiba suara berat dan dingin menginterupsi.
"Bubar semua! Bubar!" pekik Shaka kemudian membelah kerumunan untuk melihat keadaan Stella. Ada Ron dan Ana juga yang ikut bersamanya.
"Stella? Kamu tidak apa-apa?" tanya Shaka kemudian melepas jas yang dikenakan dan memakaikannya pada tubuh bagian atas Stella. Shaka tidak mungkin membiarkan tubuh bagian atas Stella dilihat banyak orang.
"Apa yang kamu lakukan? Apa pekerjaanmu hanya menggosip dan mencari kesalahan orang lain?" tanya Shaka ketus kepada Ratu.
"Ron! Urus dia segera. Beri dia pesangon yang layak setelahnya. Aku akan mengurus yang lainnya," titah Shaka pada Ron.
"Baik, Bos!"
"Ana? Terima kasih karena sudah memberitahu saya. silahkan hubungi Ron untuk meminta uang bonus," ucap Shaka beralih menatap Ana.
Mata Ana berbinar. "Akhirnya aku mendapatkan uang bonus! Terima kasih, Pak," pekiknya girang yang segera mendapat tatapan tajam dari Stella. Ana meringis malu kemudian mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk kata 'peace'.
"Stella, ayo ganti bajumu. Ikut aku sekarang," ajak Shaka lembut kemudian memegang kedua bahu Stella agar berjalan mengikutinya.
Kini pelototan tajam Stella beralih pada Shaka yang mengajaknya untuk berganti baju dan berbicara tanpa mempunyai rasa malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Yuk mampir juga ke karya mama Reni yang baru😘...
__ADS_1