Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 46. Familiar


__ADS_3

Stello benar-benar mendatangi Ana yaitu dengan langsung mengunjungi rumah milik keluarga Ana. Stello jelas tahu walau Ana selalu melarangnya untuk mengantar hingga sampai dalam rumah.


Hanya rumah sederhana yang luasnya sekitar 12×9 meter dengan halaman yang berukuran 4×5 meter.


Stello masuk melewati bingkai gerbang yang tidak ada pintunya. Setelah berada di depan pintu, Stello memberanikan diri untuk mengetuk pintu.


Tok. Tok. Tok.


Ceklek.


Pintu akhirnya terbuka menampakkan pria paruh baya disusul dengan wanita paruh baya di belakangnya. "Siapa, Pak?" tanya suara seorang ibu itu.


"Selamat sore, Om. Ana-nya ada?" tanya Stello kemudian menyalami dua orang paruh baya tersebut.


Bapak tersebut tersenyum. "Ada. Mau bertemu dengan Ana ya?" tanyanya ramah.


Stello tersenyum lalu mengangguk. "Jika diizinkan, saya ingin membawa Ana keluar sebentar," jawab Stello yang membuat sang ibu memekik histeris.


"Ya Ampun! Kamu siapanya Ana? Kekasih kah? Kamu tampan sekali," ucap ibu tersebut tersenyum gemas.


"Hsst! Jaga sikap, Bu," ucap bapak tersebut memperingatkan.


Ibu tersebut langsung menutup mulutnya agar tawa bahagianya teredam.


"Ada apa sih, Pak, Bu? Kenapa kalian ribut-ribut di depan pintu? Katanya pamali," ucap suara dari dalam yang tidak lain adalah milik Ana.


"Ana! Kesini, Nak. Pacarmu datang ini," teriak ibunya Ana ramah.


Ana yang sedang berganti pakaian dengan baby doll terpaksa menyeret langkahnya mendekat. "Ada apa sih, Bu? Kenapa berisik ... Se ... ka ... li," ucap Ana terbata-bata saat sudah mendekat dan melihat Stello di depan pintu.


"Masuk dulu ya, Mas Ganteng. Ibu buatkan teh dulu," ucap ibunya Nala ramah sambil menuntun Stello untuk duduk di sofa sudut yang sudah usang di makan waktu.


Ana memutar bola matanya malas ketika melihat bapak dan ibunya begitu antusias menyambut laki-laki yang kini masih berstatus sebagai kekasihnya.


"Dibuatkan teh dulu gitu, Bu," titah bapaknya Ana sambil menundukkan dirinya di salah satu ruang kosong.


Ana terpaksa duduk di sebelah bapaknya dan akan bertanya maksud kedatangan Stello ke rumah. "Ada apa?" tanya Ana datar.


Stello tersenyum gemas melihat raut wajah Ana yang sedang mode merajuk itu. "Aku ingin meminta waktunya sebentar dan kamu harus bersedia," ucap Stello tanpa ragu-ragu saat orangtua Ana masih berada di ruangan yang sama. Memang seperti itu tujuan Stello, yaitu menginginkan restu dan bisa lebih dekat lagi dengan kedua orangtua Ana.

__ADS_1


Karena Ana tak kunjung menjawab, Stello memilih bertanya pada bapaknya langsung. "Pak? Bolehkah saya membawa Ana jalan-jalan sebentar saja?" tanya Stello meminta izin sekali lagi.


Bapak tersebut tersenyum sumringah. "Tentu saja boleh. Asalkan jangan sampai jam sembilan malam ya?" pinta bapaknya Ana yang segera diangguki oleh Stello.


"Pasti, Pak. Saya akan membawa Ana pulang sebelum jam sembilan," jawab Stello percaya diri.


"Iya, soalnya kalau sudah jam sembilan tuh, si Ana suka berubah kaya Cinderella. Jadi, kalau mau mengajak Ana keluar harus ada batas jam-nya," sahut ibunya Ana yang saat ini berjalan menuju sofa dengan membawa nampan di tangannya.


Terdengar tawa lepas dari dua orang yang diduga adalah orangtua Ana. Sedangkan Ana yang mendengar itu hanya bisa menghela napasnya pasrah.


Akhirnya, Ana ikut dengan Stello menuju sebuah taman. Stello mengatakan bahwa dia ingin menjelaskan alasannya menghilang beberapa hari ini.


Saat sudah duduk di kursi yang diberi pencahayaan remang, Stello memberanikan diri meraih jemari Ana untuk di genggamnya. Ana yang terkejut, seketika menoleh dengan tatapan penuh tanya.


"Cuma pegang tangan, tidak memegang yang lainnya," ucap Stello seakan tahu dengan makdu tatapan Ana.


"Jelaskan!" titah Ana sambil membuang pandangan agar tidak menatap Stello.


"Baiklah. Aku akan jelaskan semuanya dengan tempo yang sesingkat-singkatnya," putus Stello pada akhirnya.


Ana kembali menoleh. "Kaya teks proklamasi saja," kesal Ana menatap Stello lekat.


"Aku menghilang beberapa hari ini karena sedang mengurus sesuatu, yaitu mencari informasi yang tepat tentang kembaranku yang hilang. Kamu ingat 'kan? Kalau aku masih punya kembaran?"


Pertanyaan itu membuat Ana mengalihkan tatapan pada Stello sepenuhnya. "Jadi bagaimana? Apa sudah bertemu dengan kembaranmu?" tanya Ana mulai tertarik dengan pembahasan kali ini.


Stello mengangguk. "Aku bersyukur akhirnya di pertemukan kembali dengan kembaranku. Dia ternyata masih berada di dekatku dan tidak jauh dari jangkauan," ungkap Stello kemudian membuat gerakan mengecup jemari Ana yang saat ini berada di genggaman.


Seketika hal itu membuat hati Ana menghangat karena perlakuan manis dari Stello. "Siapa orangnya? Apakah aku mengenalnya?" tanya Ana yang kini tatapannya sudah melembut.


Stello menoleh dengan senyum yang sangat manis dan Ana merasa begitu familiar dengan senyum itu. Apalagi, lesung pipi itu begitu mengingatkan Ana pada sahabatnya Stella yang sudah seminggu lamanya tidak bertemu.


"Kamu sangat mengenalnya. Dan kamu begitu dekat dengannya," jawab Stello penuh misteri.


Ana mendengkus sebal karena Stello tidak langsung pada intinya dan membuat Ana penasaran setengah mati. "Jangan bertele-tele. Cepat katakan atau aku akan marah lagi," ancam Ana yang saat ini sudah melepas jemarinya yang bertaut dengan jari Stello.


Sontak hal itu membuat Stello gemas dan mencubit hidung standar itu. "Ana jangan marah-marah ... Takut nanti lekas tua," ucap Stello yang justru malah bernyanyi.


"Kamu mendoakan aku supaya cepat tua?" tanya Ana kesal.

__ADS_1


Stello tergelak renyah, puas sekali melihat kekasihnya memanyunkan bibirnya sepanjang berbicara dengannya.


"Bagaimana jika kita marahnya sama-sama?" tanya Stello yang membuat Ana mengerutkan dahinya heran.


"Kenapa ssperti itu? Kalau aku marah, kamu mau balik marah juga? Kamu mau balas dendam?" tanya Ana tidak terima.


"Bukan seperti itu maksudku. Katanya kalau marah-marah kan akan membuat cepat tua. Bagaimana jika kita marahnya sama-sama? Agar bisa menua bersama," jelas Stello yang berhasil membuat pipi Ana kembali bersemu.


"Aikh! Terlalu banyak gula pada ucapanmu," jawab Ana dengan mengulum senyumnya.


Stello terkekeh geli. "Masih penasaran tidak dengan siapa kembaranku?" tanya Stello mengingat tujuan awalnya.


"Masih. Cepat katakan dan jangan bertele-tele," jawab Ana dengan mata yang membulat.


Stello meraih lagi jemari Ana untuk digenggamnya. Tatapannya kini lurus menatap Ana penuh cinta. "Dia adalah ... Stella," jawab Stello yang berhasil membuat Ana membuat mulutnya lebar-lebar lalu mengatup, terbuka, dan mengatup lagi saking terkejutnya.


Dia sampai tidak bisa berkata-kata. Seseorang yang dicari ternyata tidak jauh-jauh dari jangkauan. "Dunia tidak selebar daun kelor," ucap Ana dengan wajah cengonya.


Cup.


Mata Ana langsung membelalak saat Stello mencari kesempatan dalam kelonggaran untuk mencium pipinya. Dirinya sedang tidak mampu berpikir terlalu berat.


Ana menoleh dengan tatapan mata melotot. Sedangkan yang ditatap justru hanya menyengir kuda tanpa dosa.


"Maafkan aku karena sudah mengabaikanmu beberapa hari. Bahkan, aku sampai tidak menjawab telepon mau pesan-pesan yang kamu kirimkan. Aku mohon, Maafkan aku," ucap Stello tulus dan sarat akan penyesalan.


Ana tersenyum sendu. "Aku sudah memaafkanmu. Sekarang, tolong bawa aku pada Stella. Aku sudah sangat merindukan dia."


"Pantas saja kalian berdua menghilang hampir bersamaan. Bahkan, Saat Stella resign dari pekerjaan, hanya ada orang suruhan yang datang ke rumah untuk mengantar surat itu. Dan tadi pada saat kamu tersenyum, aku begitu familiar. tenyata senyummu hampir mirip dengan senyum Stella," ucap Ana dengan pandangan menatap pria di hadapannya sendu.


"Terima kasih karena sudah mengerti aku dengan sangat banyak," ucap Stello bersungguh-sungguh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungan kalian ya l🤩...


...mampir juga kesini yuk 👇...


__ADS_1


__ADS_2