
Stella menggenggam kalung dengan bandul yang bertuliskan 'crys'. Sesaat Stella pernah melihat kalung yang sama tetapi, Stella lupa milik siapa.
Lamunan Stella tersentak ketika mendengar ketukan pintu pada kamar kost-annya. "Siapa ya? Tidak mungkin pak Shaka juga. Dia 'kan sedang ke Surabaya," gumam Stella merasa heran.
Setelah menaruh kembali kalung itu di lemari, Stella bergegas membuka pintu. Betapa menyesalnya Stella telah membuka pintu tanpa mengintip terlebih dahulu siapa seseorang dibalik pintu.
Stella menghela napas lelah sebelum bertanya. "Ada apa?" tanyanya singkat.
"Boleh aku masuk?" ucap seorang laki-laki yang tidak lain adalah Gavin.
"Mau apa lagi sih? Aku tuh capek karena baru pulang kerja," ucap Stella ketus.
"Aku mau meminta maaf soal waktu itu. Bisa kita bicara? Bukan disini. Bagaimana jika di taman depan?" ucap Gavin bukan memohon melianakn terdengar seperti memaksa.
Stella memutar bola matanya jengah. Tetapi, Stella berusaha mengambil kesempatan ini untuk memberitahu Gavin bahwa Shaka tidak seburuk itu. "Baiklah. Tunggu saja aku disana. Sebentar lagi aku akan turun," jawab Stella pada akhirnya yang membuat Gavin tersenyum lebar.
"Aku tunggu di bawah ya," ucap Gavin kemudian segera berlalu meninggalkan Stella yang menatap kepergian Gavin dengan alis mengkerut heran.
"Pasti ada niat buruk ini. Bukannya berburuk sangka, tetapi memang aku sedang berburuk sangka kan?" monolog Stella waspada.
Sebelum benar-benar keluar, Stella menelepon Ana terlebih dahulu agar membiarkan panggilannya tetap terhubung dengannya. Pasalnya, Stella tidak yakin jika nait Gavin benar-benar baik.
Dengan menelepon Ana dan menyuruh Ana merekam percakapan, itu bisa membuat Stella berjaga-jaga seandainya Gavin memiliki niat licik lagi.
"Halo?"
"Ana. Bantu aku ya?"
"Bantu apa sih, La?"
Kemudian, Stella menjelaskan semua strateginya yang segera di mengerti dan disetujui Ana. Dengan senang hati Ana akan membantu Stella.
Setelah memastikan telepon terhubung, Stella memutuskan keluar untuk menemui Gavin. Saat sudah sampai di area taman, Stella mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Gavin.
Di bawah pohon yang di bawahnya terdapat kursi panjang, Stella menangkap sosok Gavin yang saat ini sedang memainkan ponselnya. Stella berjalan mendekat agar urusan bersama Gavin bisa segera terselesaikan.
__ADS_1
"Sebelum kamu bicara, aku mau bicara terlebih dahulu, boleh?" tanya Stella tanpa perlu ada kalimat pembuka.
Gavin terkekeh. "Boleh. Kamu boleh berbicara lebih dulu," jawab Gavin lalu menepuk tempat kosong di sampingnya agar diduduki Stella.
Setelah Stella duduk, dia kembali berbicara. "Aku boleh bertanya tidak tentang kamu dan Shaka? Ini tentang kamu yang begitu membencinya. Kenapa?" tanya Stella berharap bisa meluruskan kesalahan pahaman antara kakak-beradik tersebut.
Gavin menatap Stella tidak suka. "Kenapa kamu bertanya hal itu? Jelas aku begitu membencinya karena dialah penyebab mama tiada. Dia yang menyebabkan mama mengakhiri hidupnya setelah pesta ulang tahun Shaka. Dia anak yang durhaka," ucap Gavin menggebu-gebu.
Stella mengangguk-anggukkan kepala tanda paham. "Lalu, jika bukan Shaka penyebabnya, apakah kamu akan memaafkannya?" ucap Stella melontarkan pertanyaan kembali.
Rahang yang semula mengeras kini kembali mengendur. "Aku akan merasa bersalah seandainya itu terjadi," lirih Gavin penuh sesal.
"Kenapa? Bukankah setiap orang yang membenci itu tidak peduli lagi dengan penjelasan orang lain?" tanya Stella lagi.
"Iya, kamu benar. Aku tidak peduli lagi dengan penjelasan orang lain. Ingat! Hanya orang lain, dan Shaka bukanlah orang lain," jawab Gavin yang kini pandangannya menatap lurus ke depan, seperti sedang menerawang.
Stella menghembuskan napasnya pelan. Stella yakin seratus persen jika merenggangnya hubungan Shaka dms Gavin adalah murni karena kesalah pahaman. "Baiklah. Jawaban kamu cukup membuatku yakin," ucap Stella yang berhasil menyentak lamunan Gavin.
"Sekarang giliran kamu yang berbicara," pinta Stella tersenyum tipis dan sayangnya, hal itu membuat Gavin kembali merasakan debaran tak beraturan pada jantungnya. Ya, Stella masih tetap cantik seperti itu dengan ciri khas lesung di pipinya. Satu lagi yang menjadi ciri khas dari Stella adalah, rambut poninya.
Stella menjentikkan jari di depan wajah Gavin agar laki-laki itu segera tersadar. "Jangan melamun," ucap Stella terkekeh pelan.
"Ayo bicara!"
Gavin berdehem pelan sebelum kembali bersuara. "Kalau boleh tahu, kenapa kamu menanyakan hal seperti tadi?" tanya Gavin penasaran.
"Aku hanya sedang memastikan bahwa kalian masih kakak-beradik atau sudah beralih persaudaraan," jawab Stella sambil terkekeh.
"Kenapa?" tanya Gavin lagi.
Stella menggeleng. "Ini bukan ranahku. Suatu saat biarlah Shaka uang menjelaskan," jawab Stella sambil yang poninya bergerak ke kanan dan ke kiri akibat gelengan kepala tadi.
"Baiklah. Waktu sudah semakin malam dan aku harus kembali. Aku pergi dulu ya," pamit Stella lalu beranjak dari kursi tersebut.
Tanpa menunggu jawaban Gavin, Stella berlalu begitu saja. Ketika jaraknya sudah lumayan jauh dari Gavin, Stella menyempatkan menoleh untuk melihat Gavin lagi. "Mereka masih saling menyayangi. Hanya saja, mereka terlalu gengsi untuk memulai dengan saling berbicara," gumam Stella tersenyum sendu.
__ADS_1
Stella kembali melangkah mendekat pada jalan raya. Sebelum menyeberang, Stella menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada mobil atau motor uang melaju.
Namun, pandangan Stella justru tertuju pada seorang pria lanjut usia yang tempo hari ditemuinya. "Kakek?" sapa Stella berbinar.
Sang kakek pun menoleh dengan raut wajah yang sumringah. "Kamu lagi? Bisa seberangkan kakek lagi?" ucap kakek tersebut memohon bantuan.
Stella mengangguk. "Tentu, Kek. Mari, biar aku bantu," jawab Stella kemudian segera menuntun tangan sang Kakek menyebrangi jalanan.
"Terima kasih ya, Nak. Kamu sudah membantu kakek," ucap kakek tersebut. Stella mengangguk. "Sama-sama, Kek. Kakek dengan siapa disini?" tanya Stella heran.
"Bersama cucu kakek. Oh iya, nama kamu siapa? Kamu bisa memanggil kakek dengan sebutan kakek Ben," tanya sang kakek sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Dengan senang hati Stella menerima uluran tangan kakek dan menjabatnya.
"Namaku Stella, Kek. Wah! Nama kakek kekinian juga ya," ucap Stella takjub.
Sang kakek tergelak renyah. "Memangnya, hanya anak muda yang boleh gaul?" jawab sang Kakek menirukan nada bicara anak JakSel.
Stella tergelak renyah. "Kakek lucu juga ya. Ibarat pepatah, Kakek itu tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi," ucap Stella akrab.
Sang kakek mengangguk. "Kamu benar juga, Nak. Oh iya, dimana tempat tinggalmu?" tanya sang Kakek lagi yang kini bergerak mendekati kursi yang berada di trotoar, yang tentunya untuk duduk.
Stella kembali memapah sang Kakek yang terlihat kesusahan mengenakan tongkatnya. "Aku bantu ya, Kek."
Setelah itu, baru keduanya bisa mengobrol lebih nyaman karena sudah duduk di kursi dengan tenang.
"Aku tinggal di kostan itu, Kek. Kakek mau mampir?" tawar Stella sambil menatap kakek Ben lembut.
"Tidak. Di lantai berapa dan nomor berapa kamu tinggal?" tanya kakek Ben lagi yang berhasil membuat alis Stella mengkerut heran.
"Disini bukan?" tanya kakek Ben dengan mengulurkan secarik kertas bertuliskan alamat kostannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa kasih dukungannya ya😘...
...Yuk mampir kesini juga👇...
__ADS_1