Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 40. Foto siapa ini?


__ADS_3

Hari berganti lagi. Stella tetap masuk ke kantor seperti biasa. Terlepas dari masalah antara dirinya dan Shaka, Stella harus tetap konsisten.


Saat berpapasan atau saat Shaka akan menuju ruangan, dia sama sekali tidak peduli dengan Stella. Keduanya seperti kembali bagaikan orang asing.


Sebenarnya, Stella merasa lelah. Namun, dia juga tidak ingin menjadi pihak yang selalu mengerti setiap waktu. Dia juga ingin tahu bagaimana rasanya di mengerti.


Seperti saat ini. Shaka ada rapat dengan kolega di sebuah restoran ternama, Stella dan Ron ikut bersama Shaka. Tidak banyak interaksi antara dirinya dan Shaka jika tidak ada pertanyaan tentang pekerjaan.


Hingga rapat selesai, Shaka berdiri lebih dulu yang diikuti oleh Ron. Stella lagi-lagi diabaikan. Sesak rasanya diabaikan oleh orang yang disayang. Saat Ron dan Shaka hampir sampai di pintu keluar, Shaka baru berbalik ketika menyadari bahwa Stella tidak mengikuti.


"Ron! Pesankan taksi untuknya! Kita tidak mungkin mengantarnya pulang," titah Shaka yang membuat Ron mengernyit heran. Namun, Ron dengan segera melaksanakannya.


Stella yang tidak ingin merepotkan, berdiri lalu berkata. "Tidak perlu. Aku akan pulang sendiri," jawab Stella tak kalah dingin dari sikap Shaka.


Saat sudah dekat, Stella kembali bersuara. "Mari, Pak," ucap Stella dengan wajah datarnya lalu melenggang begitu saja, mengabaikan Shaka balik.


Hingga sampai di ruangan umum, karena yng digunakan Shaka untuk rapat dengan kolega merupakan ruangan VIP, Stella merasa ada yang memanggil namanya.


Dia berusaha mencari sumber suara yang sudah tidak asing lagi baginya. Ternyata di meja yang tidak jauh darinya, ada Stello beserta pria lanjut usia yang sudah sangat Stella kenali.


Stella berusaha mengulas senyum lalu berjalan mendekat. Walau masih ada rasa takut dengan kakek Ben, Stella berusaha untuk berani. Stella percaya, kakek Ben bukan orang jahat.


Setelah mengangguk sopan saat sudah berada di hadapan dua laki-laki berbeda generasi itu.

__ADS_1


"Kamu disini juga? Kebetulan sekali," ucos Stello menyambut ramah kedatangan Stella.


"Hai, Kek." Stella menyapa kakek Ben terlebih dahulu.


"Duduk, Nak," ucap kakek Ben ramah.


Stella menurut dan duduk di salah satu kursi yang belum ada pemiliknya. "Kek. Maafkan aku waktu itu. Aku—"


"Tidak masalah. Kakek tahu, kamu pasti terkejut karena kakek mengetahui alamat rumahmu. Bahkan, aku tahu semua tentang masa lalumu," ucap kakek Ben yang kini matanya mulai berkaca-kaca.


Stella menatap bingung pada Stello kemudian kembali menatap kakek Ben.


"Kalian ... Punya hubungan darah? Aku baru menyadari jika wajah kalian mirip-mirip," tanya Stella heran.


"Foto siapa ini?" tanya Stella heran.


"Coba kamu tebak," jawab Stello tidak ingin terburu-buru memberitahu.


Stella menurut dan mengamati foto usang tersebut yang di dalamnya ada dua anak kecil yang bisa Stella tebak, merupakan anak kembar. Satu anak laki-laki dan satu merupakan anak perempuan.


Saat Stella kembali mengamati, mengapa foto anak perempuan di dalam foto itu seperti dirinya. "Ini ... Mengapa ada aku?" tanya Stella heran.


Stello mengangguk saat Stella menatapnya dengan pandangan bingung.

__ADS_1


"Kakek yang akan jelaskan semuanya," ucap kakek Ben mengambil alih perhatian Stella.


"Jelaskan, Kek," sahut Stello.


"Jadi begini. Pertemuan pertama kita waktu itu sebenarnya sudah kakek sengaja. Kakek sudah mencari tahu semuanya tentang kamu, cucu kakek yang hilang karena diculik," ucap kakek Ben menjeda Kalimatnya terlebih dahulu.


Stella menutup mulutnya tidak percaya dengan jantung yang berdebar-debar tidak beraturan. Entahlah, Stella harus bahagia atau justru marah. Dia masih terlalu terkejut dengan pernyataan kakek Ben. Pantas saja Stella merasa akhir-akhir ini seperti ada yang selalu mengikutinya.


"Maafkan kakek yang baru menemukanmu setelah bertahun-tahun. Kakek harap, kamu mau memaklumi keadaan," ucap kakek Ben yang tangannya sudah bergerak untuk menyeka air mata.


Stella tergugu di tempat. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di hatinya. Stella merasa matanya memanas karena ada cairan bening yang akan keluar dari sana.


"Jadi ...." Ucapan Stella hanya berakhir si tenggorokan. Stella seperti kehilangan kata-katanya.


Stello mengangguk. "Iya, kita adalah saudara dan sejak dalam rahim, kita sudah bersama," ucap Stello terenyuh. Tidak menyangka Tuhan masih mengizinkan dirinya bertemu saudara kembarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungannya ya😍...


...mampir juga kesini yuk👇...


__ADS_1


__ADS_2