Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 51. Sah


__ADS_3

Kini Stella dan Shaka sudah berada di hotel tempat pernikahan keduanya akan dilaksanakan besok pagi. Semua keluarga sudah berkumpul dan di fasilitasi kamar per-Kartu Keluarga. Sedangkan yang belum berkeluarga, mereka akan di gabung menurut jenis masing-masing.


Pemikiran keluarga yang modern, membuat Shaka dan Stella tidak ada tradisi di pingit. Saat malam sebelum keduanya menikah, tentu masih bisa bertemu seperti biasa. Hanya saja, rasanya begitu mendebarkan bila mengingat esok statusnya akan berubah.


Seperti saat ini, semua sudah berkumpul di salah satu kamar hotel untuk merayakan malam terakhir melajang.


Namun, yang begitu antusias merayakan acara tersebut justru mereka yang belum ingin melepas masa lajang.


Stella sudah duduk di samping Shaka Sedangkan Ana, dia duduk di sofa yang berseberangan dengan Stella dengan Stello di sampingnya. Dan seperti biasa, Gavin masih sendiri dan duduk di single arm sofa.


Ada Ron juga yang memilih berdiri sambil bersandar di pinggiran sofa yang diduduki oleh Stello, menatap dua mempelai yang sedang berbahagia.


"Tadi yang mana ya, gelasku?" tanya Ana pada semua.


Stella berdecak dengan kepala yang menyandar di dada bidang Shaka. "Memang kamu bawa gelas dari rumah, Na?" tanya Stella mencibir.


Semua terkekeh geli sedangkan Ana, dia sudah mencebikkan bibirnya kesal. "Aku doakan besok pak Shaka jebol gawangmu yah," ancam Ana yang membuat semua tergelak renyah.


Stella melotot tajam dan berkata. "Bandit kau yah!" umpat Stella mengikuti jargon milik Bunda Corla yang saat ini sedang viral.


"Tak bosan-bosan aku," jawab Ana yang juga tercorla-corla.


Semua sontak tertawa terbahak-bahak. Malam yang dingin itu mereka lewati dengan saling bertukar cerita dan membuat keakraban penuh kehangatan.


Pagi harinya, ballroom hotel sudah lumayan penuh dengan tamu undangan yang kebanyakan dari kolega bisnis Pak Ben dan pak Gunardi.


Shaka menunggu dengan gugup saat Stella tak kunjung keluar dari persembunyiannya. Padahal, sepuluh menit lagi akad akan di mulai.


Shaka berusaha mengalihkan perhatiannya pada pak penghulu yang baru saja menanyakan keberadaan mempelai wanita.

__ADS_1


"Dimana keberadaan mempelai wanita? Apakah sudah siap? Kenapa belum keluar?" tanyanya yang semakin membuat Shaka berkeringat dingin.


Bagaimana jika Stella kabur seperti di drama-drama yang pernah di tonton Shaka? Seketika Shaka menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran buruknya.


Shaka ingin menjawab namun, suara pak penghulu kembali terdengar. "Itu pengantin wanitanya sudah datang," ucap pak penghulu.


Shaka sontak menoleh ke arah pandang pak penghulu. Untuk seperkian detik, Shaka dibuat takjub dengan sosok Stella yang hari ini tampil berbeda dari biasanya.


Di hari biasa, Stella memiliki penampilan dan kecantikan yang natural. Sehingga, saat dirias seperti sekarang, wajahnya begitu berbeda dan Shaka rasanya tidak rela menyaksikan para tamu pria memandang takjub pada gadis yang sebentar lagi akan menjadi isterinya.


Stella mengenakan kebaya khas Sunda dengan kepala berhias Siger.


'Aku tidak salah memilih seorang isteri,' batin Shaka merasa bangga.


"Ayo, Mas, mempelai wanitanya sudah datang. Bisa kita mulai saja akadnya?" tanya pak penghulu yang seketika menyadarkan lamunan Shaka.


"Cepatlah, Shaka. Kamu bisa memandang puas-puas nanti malam," ucap pak Gunardi menggodai anaknya.


Stella tersenyum menatap profil samping sosok kembarannya. Matanya mulai berkaca-kaca mengingat bahwa hari ini ada sosok laki-laki yang menggantikan figur ayahnya sebagai wali.


Walau begitu, Stella tetap bersyukur karena Tuhan masih mempertemukan dirinya dengan keluarga yang tersisa.


Stella menatap kakek Ben yang saat ini sedang duduk tidak jauh dari Stello. Stella tersenyum saat kakeknya itu juga sedang menatapnya.


Kakek Ben tersenyum lalu mengangguk, meminta acara pernikahan segera di mulai. Stella balas mengangguk dan menyenggol lengan Shaka pelan.


"Ayo, Mas. Nikahi aku sekarang," bisik Stella yang membuat Shaka gemas sekali ingin membawa Stella ke salah satu kamar hotel dengan segera.


Namun, akal waras Shaka direnggut kembali ketika suara pak penghulu kembali terdengar. "Ayo Mas Arshaka Virendra. Sepertinya Mas-nya sangat gugup hadirin," kelakar pak penghulu yang membuat hampir semua tamu undangan ikut tertawa bahagia.

__ADS_1


Stella geleng-geleng kepala lalu mengulum senyumnya. Sedangkan Shaka, dia semakin gugup dan hanya bisa mengangguk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tolong, salah satu panitia bawa air minum kesini untuk Mas-nya," ucap pak penghulu lagi tak henti-hentinya menggoda mempelai pria.


Setelah Shaka minum hampir dari gelas air putih, akad pun di mulai. Shaka menyebut nama Stella dengan lantang setelah pak penghulu menyuruhnya untuk mengucapkan kalimat qobul.


Di pagi hari yang cerah itu, Shaka dan Stella sudah resmi menjadi sepasang suami dan istri yang sah di hadapan Tuhan maupun negara.


Malam harinya, Shaka dan Stella sudah berada di salah satu suite room hotel. Seperti kebanyakan pasangan, Shaka juga menantikan malam ini tiba.


Malam dimana Stella akan menjadi miliknya sepenuhnya. Tidak ada lagi yang bisa merebut Stella dari seorang Arshaka Virendra.


Setelah mandi, Shaka memilih duduk di ranjang dengan kepala bersandar pada headboard, menanti Stella keluar dari kamar mandi.


Saat Shaka melihat jam di layar ponselnya, sudah hampir tiga puluh menit Stella berada dalam kamar mandi dan belum ada tanda-tanda istrinya itu akan keluar.


"Kenapa lama ya?" monolog Shaka bertanya.


Namun, tidak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Stella dengan gaun malam yang ... Transparan?


Shaka menelan salivanya. Apalagi, Stella berjalan ke arahnya dengan pelan dan itu membuat Shaka tidak sabar untuk menarik tubuh ramping itu dalam dekapannya.


"Stella?" panggil Shaka dengan suara berat dan mata yang berkabut.


Stella hanya tersenyum manis lalu duduk di sisi ranjang dimana di sisi itu ada Shaka. Sontak Shaka menegakkan tubuh dan menatap Stella dari bawah sampai atas.


"Kamu benar-benar menggoda imanku," ucap Shaka lalu membawa Stella duduk di pangkuannya.


Stella hanya tergelak renyah lalu mengalungkan dua lengannya di leher Shaka.

__ADS_1


Stella bisa merasakan ada tangan kokoh yang menelusup masuk ke dalam gaun malamnya. "Boleh aku memintanya sekarang?" tanya Shaka meminta izin.


Stella mengangguk pelan dengan senyum yang sangat manis. "Lakukanlah, Mas."


__ADS_2