
Shaka membawa Stella menuju apartemennya. Saat Ron ingin mengantar, Shaka berkata. "Tidak perlu. Tolong kamu urus kantor dan urus juga wanita yang sudah membuat Stella dalam keadaan yang sekarang."
Shaka menekan password apartemennya. Setelah terdengar bunyi bip, Shaka membuks pintu lebar-lebar, mempersilahkan Stella untuk masuk. "Masuk. Kamu harus ganti baju dan mandi bukan?" titah Shaka saat melihat raut penolakan dari Stella.
Stella menghela napas pasrah. "Baiklah, Pak," jawabnya kemudian ikut melenggang masuk.
"Kamu langsung mandi saja. Nanti aku siapkan baju untukmu," ucap Shaka lembut.
Stella ingin melayangkan protes dan bertanya apakah ada pakaian untuknya di dalam apartemen pak Boss-nya? Namun, Shaka segera menyela cepat agar Stella bergegas mandi.
"Kamu pasti ingin bertanya pakaian ganti kan? Tenang, ada baju Sabrina yang kemarin dia tinggal. Kamu bisa memakainya terlebih dahulu," ucap Shaka kemudian melempar senyum jahilnya.
Stella bergidik. "Jangan mesum deh, Pak," kesal Stella kemudian melenggang pergi meninggalkan Shaka. Namun, Stella lupa bertanya dimana dirinya harus mandi dan berganti baju.
Dengan sangat terpaksa, Stella kembali berbalik. "Aku harus mandi dimana, Pak?" tanyanya bingung.
Shaka tersenyum jahil lagi dan itu terlihat sangat menyebalkan untuk Stella. "Disana," ucap Shaka sambil menunjuk salah satu pintu kamar.
"Stella!" panggil Shaka sebelum Stella benar-benar berbalik. Stella melemparkan raut wajah penuh tanya dan mengendikkan dagu.
"Bajunya digantung di dalam lemari ya?" beritahu Shaka yang segera mendapat anggukan dari Stella.
"Terima kasih, Pak," ucap Stella dengan mengulas senyum lembut.
Tidak berapa lama, Stella akhirnya selesai memberisihkan diri. Sungguh, Stella tidak habis pikir dengan sikap Ratu yang begitu bar-bar. Bisa-bisanya dia menuduh Stella sudah menjual diri pada Shaka. Ternyata memang benar, jika fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Tubuh Stella harus berlumur mie dan bumbu yang berasal dari kuah bakso. Belum lagi, Stella sudah meminta tetelan pada Abang tukang bakso hingga membuat tubuhnya seketika bau daging sapi.
"Untung disini ada sabun mahal dan wangi. Kalau tidak, bisa-bisa tubuhku bau tidak sedap," gumam Stella sambil geleng-geleng kepala.
Stella berjalan menuju lemari dimana kata Shaka ada pakaian wanita di dalamnya. Saat berhasil membukanya, hanya ada dua pakaian yaitu, baju tidur dan satunya lagi kemeja oversize yang harus dipadukan dengan celana jeans pendek sepertengahan paha.
Stella memilih mengenakan kemeja oversize tersebut. Setelah selesai, Stella berjalan keluar kamar untuk menemui tuan rumah kembali.
Stella bisa melihat Shaka saat ini sedang sibuk dengan tablet di tangannya. Dia langsung saja mengambil posisi duduk di samping pak Boss-nya.
Shaka yang menyadari pergerakan di sampingnya, menoleh dan tersenyum ketika mendapati Stella sudah duduk di sebelahnya.
"Sudah selesai? Wangi sekali," ucap Shaka kemudian bergerak menyamping untuk menatap Stella sepenuhnya.
__ADS_1
"Tadi itu, Ratu si pemilik akun Lambe Turah?" tanya Shaka dengan wajah seriusnya.
Stella tergelak. "Iya, Pak. Bar-bar sekali dia. Seluruh tubuhku sampai bau bakso," ucap Stella setengah kesal ketika harus mengingat kejadian yang belum lama ini terjadi.
"Mau kopi?" tawar Shaka yang segera mendapat anggukan semangat dari Stella.
Shaka beranjak dari sofa menuju pantry. Stella mengamati tubuh Shaka dari belakang yang tampak gagah dengan kemeja berwarna navy. Stella tersenyum sendiri ketika teringat perlakuan manis seorang Arshaka Virendra. Seseorang yang dulu dikenal sebagai orang kaku dan galak.
Apakah itu berarti, sekarang Stella sudah menyelesaikan misi? Yaitu misi untuk membuat Pak Boss-nya tersenyum ramah seperti sekarang ini.
Lamunan Stella harus buyar ketika Shaka meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. "Ini kopinya. Aku membuatkan kopi durian untukmu. Ayo dicoba," ucap Shaka lembut.
Stella menautkan alisnya heran. "Memangnya ada kopi durian ya, Pak?" tanya selalu bingung.
Shaka mengangguk. "Ada. Tapi, aku belinya di Singapura. Ada juga kopi dari Jerman, rasanya berbeda sekali dengan yang ada di Indonesia," ucap Shaka menjelaskan dengan lembut.
Stella membulatkan mata sempurna. "Kopi Singapura? Kopi Jerman? Beli kopi sampai sejauh itu?" tanya Stella tak habis pikir.
Pecinta kopi pasti seperti itu. Aku kira kamu tahu. Soalnya kalau aku lihat, kamu suka sekali minum kopi," jawab Shaka lagi.
"Jalan-jalan ke Singapura," ucap Stella yang seketika ingin membuat pantun.
"Cakep," ucap Shaka pasrah.
"Jangan lupa membeli kopi."
"Cakep,"
"Untuk apa ke Singapura."
"Kok gitu sih pantunnya?" tanya Shaka heran.
"Jawab saja, Pak," jawab Stella dengan bibir menggerucut lucu.
"Cakep."
"Kalau hanya untuk membeli kopi hahah," sambung stella kemudian tertawa sendiri.
Shaka menipiskan bibirnya, Stella memang sangat unik dan limited edition. Shaka geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd Stella yang selalu muncul ketika sedang bersamanya.
__ADS_1
Kemudian, tangannya terulur mengambil secangkir kopi untuk disesap. Stella melakukan hal yang sama dan seketika merasa senang saat aroma kopi bercampur durian menguar ke indera penciumannya.
Saat sudah menyeruputnya sedikit, kepala Stella geleng-geleng dengan kelopak mata yang terpejam. "Enak sekali rasanya, Pak," ucap Stella apa adanya.
Shaka terkekeh pelan ketika melihat wajah Stella berbinar. "Oh iya. Mengenai yang kemarin, apa kamu sudha punya jawabannya?" tanya Shaka yang seketikaeruvah raut wajah serius.
Stella menelan saliva, lidahnya mendadak kelu ketika mendapat pertanyaan itu lagi.
"Kenapa? Kamu ragu padaku?" tanya Shaka ketika memahami raut wajah yang ditunjukan Stella terlihat ragu.
Stella menunduk, tidak berani menatap mata tajam yang kini sedang menatap dirinya lekat-lekat. "Apa yang membuatmu ragu? Katakan," ucap Shaka lagi karena Stella tak kunjung bersuara.
Stella memberanikan diri mengangkat kepala. Dan ketika tatapnya bertemu dengan mata Shaka, seketika Stella tidak mampu berpaling.
'Ya Tuhan, Pak Shaka tampan sekali. Apa aku sedang bermimpi karena saat ini, dia sedang mengutarakan isi hatinya? Bagaimana kalau dia tidak bersungguh-sungguh?' batin Stella bersuara.
Shaka mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Stella dengan duduk menyerong. Tangannya bergerak menarik pinggang sang Gadis hingga tubuh keduanya saling menempel.
Pekikan tertahan berhasil keluar dari bibir Stella. "Akan aku buat kamu yakin tentang perasaanmu padaku," ucap Shaka lembut lalu tangan yang satunya dia gunakan untuk menyingkirkan anak rambut milik Stella.
Tatap keduanya saling bertemu hingga menimbulkan rasa yang membuncah dalam dada. "Pak?" lirih Stella.
"Kamu butuh bukti bahwa kamu juga nyaman dan mempunyai rasa yang sama seperti apa yang aku rasakan?" tanya Shaka lembut kemudian, kepala Shaka bergerak maju mendekat pada wajah Stella.
Stella hanya bisa menahan napas dan bodohnya, Stella tidak bisa menolaknya. Dalam pikiran Stella ingin menolak namun, tubuh seakan mengkhianati akal sehatnya.
Stella bisa merasakan kecupan-kecupan lembut di bagian rahangnya yang menimbulkan rasa geli sekaligus menggelitik di area perutnya. "Pak?" rintih Stella memohon.
"Katakan tidak maka aku akan berhenti," ucap Shaka lagi yang justru malah membuat Stella memejamkan matanya lembut karena kecupan itu beralih pada bibirnya. Mungkin benar, Stella sebenarnya sudah merasa nyaman bersama Shaka.
Shaka yang merasa tidak mendapatkan penolakan, semakin ingin melakukan lebih dan lebih. Sejenak Shaka menjauhkan wajah untuk menatap bagaimana wajah Stella saat ini.
Raut wajah Stella terlihat tidak terima yang justru membuat Shaka terkekeh pelan. "Kamu mempunyai rasa yang sama, Stella," ucap Shaka dengan pandangan mata yang sayu menatap Stella.
Lalu, Shaka kembali mendekatkan wajah dan memberanikan diri menyesap bibir bagian bawah Stella. Dan beruntungnya, Stella membalas ciuman itu hingga membuat Shaka semakin memperdalam ciuman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga ke karya temanku yuk🙃...
__ADS_1