
Stella dan Shaka berjalan beriringan memasuki kediaman Virendra. Rumah yang pernah Stella datangi dulu saat pak Gunardi Virendra memberikan amanatnya untuk menjaga Shaka. Sekarang, Stella paham mengapa pak Gunardi meminta hak tersebut padanya.
Malam ini Stella mengenakan dress berwarna navy dengan motif batik. Begitu juga Shaka, dia mengenakan kemeja batik lengan pendek yang sama dengan Stella.
Tadi saat Stella menyarankan Shaka untuk membeli kemeja batik yang panjang, Shaka mengatakan dia tidak bersedia.
"Jangan yang lengan panjang. Nanti dikira akan pergi ke kondangan," jawab Shaka tadi sore.
Stella hanya terkekeh pelan mengingat itu. Tetapi, Shaka sungguh sangat tampan malam ini dengan mengenakan kemeja berlengan pendek. Biasanya, Shaka mengenakan kemeja lengan panjang.
"Selamat malam, Stella. Akhirnya kita dipertemukan kembali dalam suasana yang berbeda," ucap pak Gunardi ramah dan akrab.
Stella mengangguk ramah dan tersenyum. "Selamat malam, Pak," jawab Stella yang kini sudah mendudukkan diri di kursi yang baru saja Shaka tarik untuk Nala duduki.
"Terima kasih," ucap Stella pada Shaka.
Shaka mengangguk dan mengambil posisi duduk di sebelah Stella. Sedangkan pak Gunardi duduk di kursi yang berada di ujung meja dan memang di khususkan untuk tuan besar.
"Selamat malam everybody!" pekik suara yang tidak lain adalah milik Gavin. Pria itu kini sedang menuruni anak tangga untuk mencapai meja makan.
Shaka memutar bola matanya malas melihat tingkah kakaknya yang sudah kembali seperti dulu, yaitu jahil.
Stella hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan Gavin yang memang seperti itu sejak dulu. Gavin mengambil posisi duduk yang berseberangan dengan Stella hingga padangannya bertemu dengan gadis yang saat ini masih berada di hatinya.
Hanya saja, Gavin berusaha mengubur perasaanya dalam-dalam karena sang adik kini sudah kembali berkat kesabaran dan cinta Nala padanya. Mungkin, bisa Gavin sebut jika apa yang saat ini dilakukan merupakan sebuah bentuk penebusan dosanya pada Shaka.
Kini, Gavin hanya ingin melihat Shaka bahagia, bukan seperti dulu lagi yang ingin melihat Shaka menderita.
__ADS_1
Gavin menaik-turunkan alisnya ketika pandangan Stella tertuju padanya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama ketika Shaka tiba-tiba saja menutup mata Stella agar tidak perlu melihat wajah kakaknya.
"Jangan pandangi dia. Pandang saja aku," ucap Shaka merasa tidak terima.
Pak Gunardi dan Gavin sontak tertawa. Shaka memang tidak pernah jatuh cinta. Jadi, sekalinya jatuh cinta, dia akan mempertahankan cintanya hanya pada satu gadis.
"Sudah ... Sudah ... Jangan ganggu adikmu, Vin. Dia sedang berbahagia dan jangan merusaknya," ucap pak Gunardi melerai.
"Sekarang, kita makan malam dulu ya? Setelah itu kita bisa melanjutkan obrolan," imbuh kak Gunardi lagi.
Setengah jam berlalu. Kini semua orang sudah Berpindah ke ruang tengah untuk bisa mengobrol lebih santai. Stella duduk di double sofa yang di sampingnya ada Shaka. Sedangkak pak Gunardi, beliau duduk di single arm sofa yang berada di antara dua double sofa.
Sedangkan sofa yang kosong, kini diduduki oleh Gavin.
"Stella?" sapa pak Gunardi memecah keheningan.
Pak Gunardi terkekeh. "Jangan panggil Pak lagi. Panggil saja dengan sebutan Om," ucap pak Gunardi membenarkan nama sebutan Stella padanya.
"Baiklah, Om," jawab Stella menurut.
"Jadi begini, maksud Om mengundang kamu kesini adalah untuk berterima kasih salah satunya. Kamu benar-benar menjaga amanat Om untuk membuat Shaka terbuka pintu hatinya," ucap pak Gunardi menjelaskan maksud.
"Papa! Memangnya aku baru saja berada di jalan yang salah?" tanya Shaka tidak terima.
"Iyalah! Kamu berada di jalan yang sesat dan sendirian. Oh tidak! Bukan hanya kamu saja, aku dan Papa juga baru saja tersesat," sahut Gavin tersadar.
Shaka mengangguk paham. "Kita sudah dibawa ke jalan yang benar oleh Stella," ucap Shaka menarik kesimpulan dari perkataan ayah dan kakaknya.
__ADS_1
Stella tersenyum haru pada tiga pria yang kini sudah akur kembali setelah masalah yang menguji kesabaran mereka. Ketiganya sudah menjalani ujian hidup dengan lulus dan hasil ujian itu kini sudah mereka petik.
Setelah itu, hanya ada obrolan hangat di antara Shaka, Gavin, dan pak Gunardi. Sungguh, menyaksikan ketiganya yang kembali bersama membuat segenap jiwa Stella menghangat.
Hingga suara pak Gunardi kembali terdengar memanggil namanya. "Stella?"
"Eh! Astaga dragon!" ucap Nala terkejut.
Sontak hal itu membuat ketiganya kembali tergelak renyah.
"Dragonnya sudah kembali lagi ya?" ejek Shaka berbisik di telinga Stella.
"Ish! Aku terkejutlah," kesal Stella sambil memanyunkan bibirnya.
Pak Gunardi geleng-geleng kepala melihat sikap Shaka yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Kini, putranya sudah banyak tersenyum dan tertawa.
"Jadi, apakah kamu sudah siap jika menjadi menantu Om? Jika sudah, kami, keluarga Shaka akan datang ke rumah untuk meminta kamu langsung pada kakek dan kakakmu," ucap pak Gunardi yang membuat isi kepala Stella mendadak kosong.
"Maksudnya, Om?" tanya Stella memastikan sekali lagi.
"Om sedang melamar kamu untuk Shaka. Kalian sudah sama-sama dewasa dan sudah usianya sudah matang untuk melangsungkan pernikahan," jelas pak Gunardi dengan senyum yang selalu terkembang sempurna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa dukungannya ya 😘...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1