
"Kamu tidak boleh marah. Seandainya aku tidak masuk, akan ada orang lain yang melihatnya karena kamu lupa menutup pintu," ucap Shaka membela diri sendiri.
Stella yang sudah berganti baju di dalam kamar mandi, menatap kesal dengan tangan terlipat di dada. "Kan bisa kasih tahu sejak tadi. Bapak pasti sengaja kan? Dasar Bos mesum!" kesalnya tidak terima lalu mengambil posisi duduk di Bean bag yang berada disana.
Shaka tergelak renyah. "Maaf. Aku tidak tahu kalau kamu tidak menyadari kehadiranku," ucap Shaka tulus.
Karena Stella masih saja menggerucutkan bibirnya, Shaka memilih mendekat dan duduk bersila menghadap Stella. "Kamu masih marah? Aku bersungguh-sungguh tidak sengaja. Aku kira kamu menyadari kehadiranku. Ternyata, kamu hanya menganggapku bagai angin lalu," ucap Shaka yang entah mendapatkan kata-kata puitis darimana.
Stella mengulum senyum, perkataan Shaka benar-benar berbeda dari biasanya. "Sejak kapan Bapak berubah menjadi puitis seperti itu?" tanya Stella dengan raut wajah dibuat marah.
Shaka tersenyum manis menatap Stella penuh cinta. "Sejak bertemu kamu dan mulai nyaman saat bersamamu. Kini, aku mulai tidak bisa tanpamu dan akan begitu takut saat kamu jauh dariku," jawab Shaka yang berhasil membuat pipi Stella merona seketika.
"Gombal," ucap Stella lalu membuang pandangan.
"Hei! Aku bersungguh-sungguh. Coba tatap mataku aku mohon. Mungkin kamu bisa melihat cinta di dalamnya," jawab Shaka tidak menyerah.
"Cinta? Lalu, apa yang tadi pagi Bapak lakukan bersama seorang wanita? Saya melihat Bapak tidak memakai baju. Tolong jangan obral cinta disini, Pak," kesal Stella kemudian akan bangkit karena merasa tidak tahan Shaka terlalu dekat dengannya.
Hal itu segera dicegah oleh Shaka dengan menahan pahanya agar tetap pada posisi semula. "Aku bilang jangan menghindar. Aku bisa menjelaskan semua tentang kejadian tadi pagi. Gadis itu adik sepupuku yang baru saja tiba di Indonesia setelah lama berada di Singapura. Semalam, dia menginap di apartemenku karena belum menemukan hotel yang cocok," jelas Shaka panjang lebar yang sayangnya, Stella mendengarkan dengan baik.
Entah mengapa Stella begitu ingin mendengar penjelasan yang seperti itu. "Aku tidak butuh penjelasan karena itu bukan urusanku," ucap Stella masih berusaha menepis rasa.
__ADS_1
"Bohong! Kamu sedang berbohong. Kenyataannya, mata kamu mengatakan hal yang lain," ujar Shaka merasa tidak terima dengan tanggapan Stella.
"Kata siapa?" tanya Stella menantang.
Shaka menghela napas lelah, terlalu heran mengapa Stella tidak mau berkata jujur saja. "Kata pesulap merah," jawab Shaka asal.
Stella membuka mulutnya lebar. Sedetik kemudian, Stella tertawa terbahak-bahak. Sepertinya Shaka mulai pandai melucu. "Bapak tahu pesulap merah?" tanya Stella disela tawanya.
Shaka ikut tertawa. "Aku tahu Reyhan juga," jawabnya yang semakin membuat Stella tertawa sampai meneteskan air mata.
"Ya Tuhan, Pak ... Sejak kapan Bapak bisa selucu ini hahaha," ucap Stella kemudian tertawa lagi. Shaka termasuk bahagia melihat tawa Stella kembali hadir.
Tidak ingin mengalihkan pandangan, Shaka masih betah menatap wajah ayu dan menenangkan di depannya. Wajah yang selalu menghantui tidurnya. Setelah pertengkarannya kemarin, Shaka mulai menyadari satu perasaan yang begitu menyenangkan dan mendebarkan. Shaka merasa hampa ketika Stella marah padanya.
"Stella?" ucap Shaka lembut kemudian tangannya meraih jemari lentik Stella. Stella tidak menjawab karena pandangannya kini tertuju pada tangannya yang sudah bertaut dengan tangan Shaka.
"Maukah kamu menjadi teman seumur hidupku?" ucap Shaka menatap lekat wajah pujaan hatinya.
"Aku tahu ini terlalu cepat. Tetapi, aku tidak mau kehilangan kesempatan atau bahkan yang lebih parahnya lagi, ada orang lain yang membuatmu nyaman dan kamu menerima dia dengan baik. Aku tidak mau itu terjadi," ucap Shaka lagi berusaha meyakinkan Stella yang menatap ragu padanya.
"Pak?"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Bapak tahu 'kan, asal-usul keluargaku tidak jelas. Aku juga bukan dari kalangan orang berada. Sedangkan Bapak—"
"Ssst! Jangan dilanjutkan. Aku tahu apa yang akan kamu katakan. Tetapi kamu harus tahu bahwa, keadaan keluargaku tidak pernah baik-baik saja walau dulu merupakan keluarga yang lengkap," sela Shaka sambil jari telunjuknya teracung di depan bibir Stella.
"Kamu berhasil menyentuh titik terdalam di hatiku hingga membuatku tersadar bahwa, tersenyum itu bisa meringankan beban hidup. Kamu mengajariku bagaimana caranya mencintai diri sendiri. Hidupku, ya aku yang menentukan. Aku yang berhak atas hidupku sendiri. Terima kasih karena sudah hadir," ucap Shaka dengan senyum yang begitu tulus dan ringan.
Stella tersenyum mendengar penuturan Shaka. Syukurlah jika Shaka sadar bahwa hidup adalah tanggung jawab masing-masing individu.
"Bagaimana? Bolehkah aku meminta waktunya untuk seumur hidup?" tanya Shaka menagih jawaban.
Stella mengerjapkan matanya beberapa kali. 'Apa pak Shaka sedang melamarku?' batin Stella bertanya-tanya.
Jika boleh jujur, Stella juga mempunyai rasa nyaman saat bersama Shaka. Dia merasa dilindungi saat bersama laki-laki kaku tersebut. Merasa bimbang, Stella justru menjawabnya dengan sebuah lagu yang saat ini sedang viral di media sosial.
"Begitu syulit ... Lupakan Shaka ... Apalagi Shaka baik ...."
Hahahaha.
Stella tertawa terbahak-bahak ketika menyanyikan lagu tersebut. Shaka yang sudah begitu tegang menunggu jawaban Stella, kini ikut tertawa ketika Stella menyanyikan lagu Reyhan yang namanya sudah diganti menggunakan namanya.
__ADS_1
"Tuh kan, kamu saja menyebut namaku di dalam lagumu. Tolong jangan mengelak lagi ya?" ucap Shaka tersenyum bahagia.