Dear, Pak Boss

Dear, Pak Boss
Bab 12. Mendebarkan


__ADS_3

"Kalau boleh tahu, hal seperti apa yang membuat Pak Shaka menjadi sosok yang kaku dan galak?" tanya Stella yang berhasil menghentikan gerakan Shaka.


Senyum yang tadinya terulas kini kembali redup, dan hal itu tidak luput dari pandangan Stella.


"Oh maaf, Pak. Jika Bapak merasa keberatan untuk menjawab, tidak perlu dijawab," ucap Stella merasa tidak enak hati.


Shaka menatap Stella lekat. "Ceritanya panjang," jawab Shaka yang membuat Stella mengarahkan atensinya pada Shaka.


Shaka menghela napas berat hingga membuat Stella berinisiatif mengelus punggung tangan Shaka. "Berat sekali ya, Pak? Kalau Bapak belum siap cerita, saya tidak memaksa kok, Pak," ucap Stella mencoba menenangkan.


"Sebelum meninggal ...."


Stella menatap Shaka meyakinkan. "Jangan dipaksa, Pak. Saya tahu, mungkin semua itu tidak mudah untuk Pak Shaka. Tetapi, Pak Shaka sudah sangat hebat bisa bertahan hingga detik ini." Stella memberi semangat untuk Shaka.


Mengabaikan ucapan Stella, Shaka melanjutkan kalimatnya lagi. "Sebelum meninggal, mama menyuruhku untuk tidak lagi tersenyum. Dia menyuruhku untuk selalu berduka atas kepergiannya," ucap Shaka yang membuat mata Stella membulat sempurna.


"Bagaimana bisa seperti itu, Pak? Seharusnya tidak boleh seperti itu," ucap Nala lirih dan hampir terdengar seperti cicitan. Nala begitu kecewa ada seorang ibu yang menyuruh anaknya untuk tidak bahagia dalam hidupnya.


Bukankah permintaan mendiang ibu Shaka secara tidak langsung menyuruh Shaka untuk tidak bahagia?


Shaka tersenyum masam. "Itu pemikiran seorang ibu yang mencintai anaknya," ungkap Shaka lagi terdengar pilu.


Stella kembali mengelus punggung tangan Shaka yang berada di atas meja. Berharap, usapannya akan membuat Shaka sedikit lebih tenang. "Maksud Bapak apa? Bukankah tidak ada seorang ibu yang tidak mencintai anaknya? Bahkan, setiap kali kita berpergian jauh dan kembali, yang dicari pertama kali adalah sosok seorang ibu," ucap Nala mencoba meyakinkan Shaka bahwa ibunya tidak seburuk itu.


Shaka terkekeh getir. "Mamaku tidak seperti ibu kebanyakan, dia sedikit berbeda," ungkap Shaka lagi.


"Lupakan. Sebaiknya kita harus segera makan sebelum hidangannya dingin," sambung Shaka mencoba mengakhiri pembicaraan yang begitu berat.


Stella mengangguk, tidak ingin memaksa Shaka untuk bercerita lebih banyak lagi. "Kita harus segera makan, Pak," jawab Stella kemudian segera menyantap makanan. Shaka juga melakukan hal yang sama yaitu, memakan makan siangnya.


Saat sedang sibuk dengan makanannya, Stella mendongak untuk bertemu tatap dengan Shaka. "Pak?"

__ADS_1


"Hm?"


Stella berdehem sebelum mengutarakan niatnya. "Jika Bapak butuh teman bicara, saya selalu siap mendengarkan," ucap Stella meyakinkan.


Shaka mengangguk dan tersenyum. "Itu lebih baik. Dengan begitu, saya bisa menemui kamu setiap waktu," goda Shaka yang membuat pipi Stella seketika bersemu merah.


"Sudah pandai merayu ya, Pak? Belajar darimana?" tanya Stella dengan tatapan memicing.


.


.


Semenjak makan siang itu, hubungan Stella dan Shaka menjadi semakin dekat. Seperti sekarang ini, Shaka mengantar Stella dan berniat untuk main ke kostan Stella sebentar. Saat baru saja masuk, Shaka mengedarkan pandangan, menelisik kamar kost yang hanya berukuran 4×4 itu.


"Kamu ... Betah tinggal disini?" tanya Shaka sedikit ragu.


Stella berdecak pelan. "Bapak meragukan saya? Mau tidur dimana pun, bagi saya semua sama saja, Pak. Saya tetap bisa tidur nyenyak," jawab Stella yang kini sudah kembali dari mini kitchen setelah mengambil minuman untuk diberikan pada Shaka.


"Di kasur sempit itu ... Kamu bisa tidur?" tanya Shaka hampir tidak percaya.


"Silahkan di minum kopinya, Pak. Saya hanya punya roti. Tidak ada camilan mahal, Pak," ucap Stella mempersilahkan. Shaka menatap roti tawar kemas yang Shaka tahu, harganya hanya kisaran dua ribu rupiah. Orang biasa memanggilnya dengan sebutan roti milenial.


Mengapa seperti itu? Karena bungkus dari roti tawar tersebut tidak mencerminkan rasa dari isi roti itu. Kita yang ingin membeli harus benar-benar membaca rasa apa yang tertera. Karena kalau tidak, kita akan salah rasa.


"Memangnya kenapa?" tanya Shaka yang ditangkap lain oleh Stella.


"Kan saya baru saja naik jabatan, Pak, dan belum gajian. Sebelumnya, saya hanya karyawan biasa yang gajinya tidak seberapa," ucap Stella logis.


Shaka terkekeh pelan. "Mau gajian di awal bulan saja? Belum bekerja tapi sudah gajian? Mau? Kalau mau, saya akan kasih hak istimewa itu untuk kamu," ucap Shaka memberi penawaran.


Stella menggeleng keras. "Tidak perlu, Pak. Gajian akhir bulan lebih mendebarkan daripada awal bulan," jawab Stella membuat Shaka bingung namun, berhasil membuatnya tertawa.

__ADS_1


"Kamu ada-ada saja," ucap Shaka sambil geleng-geleng kepala.


"Silahkan dinikmati hidangan murahnya, Pak. Saya akan ganti baju terlebih dahulu," ucap Stella kemudian meninggalkan Shaka dan menghilang di balik pintu kamar kecil yang diduga merupakan kamar mandi.


..................


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam namun, perut Stella tiba-tiba saja berbunyi meminta haknya. "Makan apa ya? Roti tawarnya sudah habis lagi. Makan di luar saja kalau begitu," ucap Stella setelah menimang-nimang terlebih dahulu.


Stella segera menyambar hoodie-nya lalu keluar dan mengunci pintu kostan. Dia berjalan kaki untuk bisa sampai di jalan raya dimana di taman dekat kost-nya banyak sekali penjual makanan.


Setelah berada di taman, Stella tiba-tiba dikejutkan dengan seorang pria lanjut usia yang untuk berdiri saja, tubuhnya membutuhkan alat bantu penopang. "Hai Kakek. Apa ada yang bisa saya bantu? Kakek mau menyeberang?" tanya Stella perhatian.


Sang kakek menoleh dan tersenyum hangat ketika mengetahui masih ada anak muda yang peduli akan orang-orang di sekitarnya, termasuk dirinya yang sudah tua renta.


"Iya. Boleh tolong seberangkan saya?" jawab sang Kakek meminta tolong.


Stella tersenyum lalu mengangguk. "Tentu, Kek. Mari! Akan saya bantu," ucap Stella kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri terlebih dahulu sebelum menyeberangi jalan raya sambil tangannya menuntun tangan seorang kakek tadi.


"Terima kasih karena sudah membantu saya menyeberang," ucap sang kakek tulus. Stella mengangguk kemudian akan berlalu meninggalkan kakek tersebut namun, rasanya Stella tidak tega.


"Kakek dengan siapa datang kesini?" tanya Stella dengan pandangan menatap sang kakek sepenuhnya.


"Saya datang bersama cucu. Dia sedang membelikan martabak coklat kesukaan saya," ucap kakek dengan bangga.


Stella tersenyum dan mengangguk mengerti. "Kalau kakek saya tinggal, tidak apa-apa 'kan, Kek?" ucap Stella meminta izin.


Sang Kakek menggeleng kuat dan tersenyum. "Kakek tidak selemah itu, Nak. Kamu bisa pergi dan tidak perlu khawatir pada kakek," ucap kakek meyakinkan.


Stella tampak ragu hingga memilih menanyakan satu kali lagi. "Kakek bersungguh-sungguh tidak masalah?" tanyanya yang berhasil membuat sang kakek tergelak renyah.


"Kamu meragukan kemampuan saya? Kamu tenang saja, kakek bisa menjaga diri dengan baik," ujar sang Kakek yang membuat Stella mengangguk pasrah dan berpamitan untuk berlalu.

__ADS_1


"Kalau ada yang jahat pada kakek, nanti kakek teriak yang kencang ya, Kek? saya harus makan dulu soalnya," ucap Stella kemudian memegangi perutnya yang kembali berbunyi.


Sang kakek tertawa lepas mendengar bunyi perut Stella yang dangdutan.


__ADS_2