Death Devil Love Story

Death Devil Love Story
Semakin Resah


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------...----------...


Sebelumnya....


"Ada apa ini?" Yama bertanya dengan suara tajamnya lalu segera mendekat ke arah Athena.


Yama baru saja sampai disana, dia melewatkan hal yang baru saja terjadi. Padahal saat Yama mendapat laporan dari Mac tentang Athena, dia bergegas untuk turun bahkan hingga sedikit berlari. Namun tetap saja, sepertinya dia sedikit terlambat.


....


Hilda yang melihat kedatangan Yama segera menundukkan kepalanya seraya menangis pilu lalu berkata dengan suara yang tersendat-sendat


"Tuan, nona ini tidak sengaja tersandung kaki saya. Saya sudah meminta maaf, tapi nona ini justru menyiram saya, bahkan dia juga menampar saya."


Athena seketika memutar bola matanya jengah "Cih.."


Yama berjongkok di depan Hilda lalu mengapit dagu gadis itu menggunakan ibu jari dan telunjuknya. Dia mengangkat wajah Hilda agar menghadap ke arahnya lalu sedikit memiringkan wajah Hilda untuk melihat bekas tamparan Athena.


"Kau baik-baik saja?"


"Saya baik-baik saja tuan. Saya mohon tuan jangan memarahi nona itu, saya sungguh baik-baik saja" Hilda menjawab dengan suara yang sengaja dia buat parau.


Hilda yang di perlakukan seperti itu oleh Yama merasa seperti di atas awan. Apa lagi dia melihat kilatan marah di mata Yama, Hilda sangat yakin jika Yama akan memarahi Athena habis-habisan.


"Heh, lihat saja. Tuan Yama pasti akan membela ku dan akan segera membuangmu" ucap Hilda dalam hati.


Yama melepaskan dagu Hilda yang di apitnya, lalu melirik Athena.


"Apa?? Jangan salahkan aku, justru aku yang seharusnya bertanya padamu. Kau membangun sebuah perusahaan atau membangun tempat pelacuran.. Lihatlah, mereka mengumbar paha dan dadanya secara terang-terangan" Athena berkata dengan sedikit bersungut-sungut.


Yama berdiri, dia menampilkan smirknya lalu menghampiri Athena seraya mengangkat tangannya.


Hilda yang melihat hal itu seketika mengembangkan senyumnya, dia mengira Yama akan menampar wajah Athena. Namun seketika senyumnya luntur saat melihat apa yang di lakukan Yama.


Yama mengangkat tangannya bukan untuk menampar wajah Athena, melainkan untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah gadis itu.


"Tidak kah kau menamparnya terlalu pelan? Dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja"


Mendengar apa yang Yama ucapkan pada Athena benar-benar membuat Hilda kehilangan muka. Dia pun hanya bisa meremat ujung roknya dengan pasrah.


"Sepertinya aku salah memilih lawan" ucap nya dalam hati.


Athena tidak menghiraukan ucapan Yama, dia hanya berdecih dan berlalu pergi begitu saja.


Tapi sebelum Athena menghilang di balik pintu, dia menghentikan langkahnya lalu membalikan badan untuk menatap Mac


"Mac, bisakah kau mencarikan sekertaris pengganti? Aku sungguh tidak ingin melihat wajahnya saat kembali ke sini. Jika tidak, maka aku sendiri yang akan mematahkan lehernya"


Saat Athena hendak melanjutkan langkahnya, dia kembali berhenti lalu membalikan badannya lagi


"Ah, dan satu lagi"


Athena menunjuk ke arah para wanita yang mengenakan pakaian terbuka disana.


"Ubah cara berpakaian para wanita itu.. Atau aku tidak akan segan-segan menjadikan perusahaan ini sebagai tempat pelacuran"

__ADS_1


Dan benar-benar berlalu pergi dari sana.


Yama terkekeh setelah mendengar apa yang di katakan Athena. Dia pun menghampiri Ken


"Lakukan apa yang di katakan gadisku, atau kau akan menjadi salah satu tumbalnya"


Yama segera berlalu untuk menyusul Athena.


Dan Hilda pun hanya bisa merutuki nasib bodohnya. Dia sungguh tidak percaya atas apa yang dia alami. Dia juga sungguh tidak percaya jika Athena memiliki kuasa yang sangat mengerikan atas Yama.


Sedangkan para karyawan disana hanya bisa melongo menyaksikan hal itu. Mereka di buat sangat penasaran akan sosok Athena. Mereka sungguh ingin tahu siapa Athena hingga mampu menundukkan Yama yang terkenal kejam itu.


....


Yama menutup laptopnya lalu merenggangkan lehernya yang terasa kaku. Dia melirik Athena yang tengah berbaring di sofa dengan wajahnya yang masih saja di tekuk.


"Baby, sampai kapan kau akan menekuk wajahmu?" Yama bertanya seraya beranjak menghampiri Athena.


Athena hanya melirik Yama lalu kembali fokus melihat layar televisi yang sedang menayangkan sebuah film.


"Baby.." Ucap Yama lagi.


"Apa?" Athena menyahut dengan ketus lalu sedikit menekuk kakinya agar Yama bisa duduk disana.


"Apa yang sedang kau tonton?"


"Entahlah, aku hanya asal memutar film" Ucap Athena.


Yama melihat ke arah televisi. Disana tengah menampilkan adegan sepasang suami istri yang sedang bertengkar, dan ada satu perempuan yang duduk dengan pongah seraya menyaksikan pertengkaran mereka. Bisa Yama tebak, perempuan yang pongah itu adalah selingkuhan sang suami.


Ya, setelah kejadian di cafeteria tadi, Athena memutuskan untuk menonton film agar sedikit meredakan emosinya. Namun bukannya mereda, emosinya justru semakin bertambah saat melihat peran protagonis wanita yang terlalu lemah.


Yama yang mendengar hal itu seketika menelan ludahnya dengan sedikit kaku. Sungguh, gadisnya benar-benar terlihat menyeramkan. Yama pun segera mematikan tv itu.


"Heeey, aku belum selesai menontonnya" Ucap Athena.


"Film itu sungguh buruk baby, kau tidak harus menontonya"


"kembalikan remotnya, aku masih ingin menonton gadis bodoh itu" Athena berkata seraya mencoba merebut remot yang ada di genggaman Yama.


Yama memegang tangan Athena lalu meletakkan remot itu di meja. Dia sedikit mendorong Athena agar kembali merebahkan badannya dengan dia yang ikut membaringkan tubuhnya di sisi Athena.


"Eeeh, kau mau apa?"


"Sebentar saja, biarkan aku melepas lelah" Yama berkata kemudian merebahkan kepalanya di dada Athena, lalu memeluk gadis itu seraya memejamkan matanya.


Athena membiarkan Yama memeluknya dengan tenang dan memilih untuk meletakkan tangannya di samping tubuhnya, tanpa ada niat untuk memeluk Yama kembali.


Namun rasa hangat tiba-tiba menjalari hati Athena. Sejauh ini, meskipun Yama sering menggodanya, tapi Yama tidak pernah berlaku kasar padanya. Athena kembali mengingat hal-hal yang beberapa waktu terakhir ini dia lakukan bersama Yama.


Berada di sisi Yama tidak membuat Athena merasa terancam. Justru lambat laun, Athena mulai sedikit merasa nyaman.. Ya, hanya sedikit..


Entahlah, mungkin hanya karena terbiasa. Athena belum bisa memastikan apa yang dirasakan hatinya saat ini. Athena hanya akan berjalan mengikuti waktu, dia tidak akan terburu-buru memastikan hatinya.. Biarkan waktu yang nantinya menjawab semuanya.


Athena sekilas melirik Yama yang sedang terpejam dengan tenang lalu memberanikan diri untuk mengelus kepala Yama. Awalnya Athena mengelusnya dengan sedikit kaku. Namun saat telapak tangannya merasakan rambut Yama yang halus, membuat gadis itu mulai nyaman untuk mengelusnya.


Athena kembali melirik Yama, gadis itu tiba-tiba terkekeh lalu berkata "Jika orang lain melihat mu seperti ini, mereka tidak akan percaya kalau kau adalah seorang ketua Mafia paling kejam, bahkan di juluki sebagai iblis pencabut nyawa"


"Hmmm, biarkan mereka tahu.. Jika sang iblis pencabut nyawa telah tunduk pada dewi kematian" Yama menyahut dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


Athena menghentikan tangannya yang sedang mengelus kepala Yama karena merasa terkejut


"Kau tidak tidur?"


"Aku terbangun saat kau mulai mengelus kepalaku" Ucap Yama.


"Apa aku mengganggumu?"


"Tidak, itu terasa nyaman" Ucap Yama.


Athena pun akhirnya kembali mengelus kepala Yama agar pria itu kembali tertidur. Hingga tanpa sadar, Athena mulai ikut memejamkan matanya seraya membalas pelukan Yama.



Pict by : Pinterest


*Gambar hanya ilustrasi


Namun saat Athena hampir tertidur, gadis itu terkejut ketika Yama tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. Athena pun kembali membuka matanya lalu sedikit menunduk untuk melihat wajah Yama.


Athena kira Yama sedang menggodanya. Namun kali ini dia sedikit bingung karena melihat dahi Yama yang mulai berkeringat.


"Heeeyy.. Yama, are you okay??" Athena bertanya seraya menepuk-nepuk pipi Yama agar dia membuka matanya.


Alih-alih bangun, Yama justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Yama.. heeey.. Buka matamu, jangan menakutiku, aku mulai tidak bisa bernafas" Athena berkata dengan suara yang sedikit tertahan.


Athena menepuk pipi Yama dengan sedikit keras hingga akhirnya pria itu mengendurkan pelukannya dan membuka mata.


Yama menatap Athena sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke depan dengan jantungnya yang berdetak dengan sangat kencang. Pria itu semakin resah karena mimpinya tadi terasa begitu nyata.


"Apa yang kau mimpikan? Kau hampir membuatku tidak bernafas"


Yama kembali menatap Athena.. Dia bimbang, haruskah dia menceritakan mimpinya??


"Aku mencintai mu."


Hanya itu yang mampu Yama katakan pada Athena. Yama menyimpan mimpi itu untuk dirinya sendiri, dia tidak ingin membuat Athena ikut merasa khawatir.


Athena mengerutkan kening hingga alisnya menukik. Dia menatap Yama dengan bingung


"Hah?? Apa yang kau katakan?"


Yama beranjak tanpa menjawab pertanyaan Athena


"Ayo pulang, ini sudah malam"


Athena pun hanya menggagukkan kepalanya, dia akan menunggu hingga Yama siap untuk menceritakannya..


...-TBC-...


thanks for reading..


jangan lupa kritik dan saran..


salam sayang dari sensi πŸ’•


bye bye..

__ADS_1


__ADS_2