
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------...----------...
*Warning!!!!
Bab ini berisi full konten kekerasan..
Bagi yang tidak suka, silahkan di skip..
....
Di sisi lain..
Masih di malam yang sama setelah melakukan penyerangan..
Langkah kaki sepatu Leon terdengar meggema di sepanjang lorong menuju ruang penyiksaan.
Dia berjalan seraya merenggangkan otot-otot tangannya secara perlahan. Senyum simpul yang terpatri di bibirnya menunjukkan semangat yang begitu besar.
Salah satu bawahan yang melihat kedatangan Leon segera menghampirinya, lalu menyerahkan sepasang sarung tangan karet berwarna hitam pada pria itu.
"Bagaimana?" Leon bertanya seraya memakai sarung tangan yang di berikan oleh sang bawahan.
"Dia masih belum sadarkan diri tuan" jawab si bawahan.
Leon pun hanya menyunggingkan senyumnya saat mendengar jawaban sang bawahan. Dia berjalan masuk ke ruangan yang di tutupi tembok kaca itu dengan perasaan bahagia yang begitu kentara.
Pria itu sejenak menatap Kavin dengan pandangan lapar
"Aku harus berterimakasih pada dewi kematian karena telah menyerahkan mangsanya padaku"
Puas menatapnya, Leon berjalan ke pojok ruangan dan mengambil se ember air garam yang ada di sana. Lalu kembali ke hadapan kavin dan menyiramkannya pada Kavin yang sedang terikat dalam posisi berdiri
Pict by : Pinterest
"Shi...t" umpat Kavin.
Pria itu mengerjapkan matanya yang terasa perih akibat air garam yang masuk ke dalam matanya.
"Sudah cukup untuk kau tidur nyenyak.. Sekarang mari kita bersenang-senang.." Leon berkata seraya berjalan menuju peralatannya yang sudah tersusun di atas meja dengan rapi.
Kavin yang sudah menyesuaikan pandangannya pun seketika menatap Leon dengan tajam
"Breng...sek" Kavin kembali mengumpat.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Leon bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Kau sial...an" Kevin menggeram.
Leon melirik Kavin sekilas "Diamlah, aku sedang memilih permainan yang akan kita lakukan".
Kavin menatap Leon dengan nyalang " Kau memang anji..ng gilaa"
"Chaaaaa... Mari kita lihat apa yang bisa anji...ng gila ini lakukan padamu..." Leon berkata seraya mendekat ke arah Kavin dengan membawa sebuah suntikan yang berisi racun.
Dan sudah bisa kita tebak racun apa itu.. Ya, racun itu adalah racun yang sebelumnya di bahas dengan Athena.
"Apa yang akan kau lakukan breng..sek"
"Shuuuuutttt... ini tidak akan terasa sakit.." Ucap Leon seraya hendak menyuntikkan racun itu ke tubuh Kavin.
Namun kavin berusaha memberontak, dia menendang-nendangkan kakinya agar Leon tidak bisa menyentuhnya.
Tapi apalah daya, pemberontakan Kavin hanyalah berujung kesia-siaan ketika Leon memerintahkan anak buahnya untuk memegangi Kavin.
"Lepaskan akuuuu.." teriak Kavin.
"Breng..sek, apa yang akan kau lakukan??" Kavin kembali berteriak.
"Aarrrghhhh" Kavin menggeram tertahan ketika Leon menyuntikkan racun itu ke dalam tubuhnya dengan kasar.
Kavin menatap Leon dengan tajam seraya berkata "Cairan apa yang kau suntikkan padaku breng...sek??"
"Entahlah, aku baru membuatnya tadi sore. Aku juga ingin tau itu cairan apa" Leon menjawab dengan acuh tak acuh.
Pria itu melihat jam yang ada di pergelangan tangannya lalu kembali menatap Kavin dengan senyum simpul yang tecetak di bibirnya.
Pria itu melirik Kavin sekilas lalu bertanya "Apa yang akan kau pilih? Cutter?? Pisau?? Gunting?? Atau tang??"
"Baiklah, sepertinya kau memilih cutter" Leon kembali berkata saat Kavin hanya menatapnya dengan nyalang.
Leon kembali mendekat ke arah Kavin dengan sebuah cutter di tangannya. Dia mengacungkan cutter itu di depan wajah Kavin seraya mengembangkan senyum misteriusnya.
"Aaaarrghhhhhhhh" Kavin berteriak ketika Leon mulai menyayat dadanya dengan cutter yang dia pegang.
Nafas pria itu begitu memburu menahan rasa sakit yang dia terima, bahkan keringat pun mulai membanjiri tubunya.
"Ooouuhhhhh, sepertinya kau begitu menikmatinya" ucap Leon seraya kembali memberikan sayatan di dada Kavin.
"Aaaarrghhhhhhh.. Kau.. Kau benar-benar pria gila"
Sayatan yang di berikan Leon bukanlah sayatan kecil. Pria itu menyayat dada Kavin dengan sangat dalam. Bahkan kini darah sudah mengalir membasahi tubuh bagian depan Kavin. Di tambah lagi dengan keringat yang tidak sengaja mengenai bekas sayatan itu, membuat luka menganga di dada Kavin kian terasa perih.
Saat Leon memandang dada Kavin yang memiliki luka sayatan menyilang panjang itu dengan dengan tatapan kagumnya, tiba-tiba saja pria itu berdecak lalu terkekeh geli
"Waaah.. Sepertinya aku bisa menggali harta karun di dadamu".
Sedangkan para bawahannya yang menyaksikan hal itu pun hanya bisa menelan ludah dengan kasar. Meskipun ini bukan pertama kalinya mereka menyaksikan kekejaman Leon atau pun Yama, tapi mereka tetap saja bergidik ngeri saat menyaksikan salah satu dari mereka menampilkan kekejamannya.
__ADS_1
Puas memandangi hasil karyanya, Leon kembali menghampiri Kavin.
"Haruskah aku menambahkan sayatan disini?" Leon bertanya seraya menempelkan cutter itu di pipi kiri Kavin.
"Breng..sek.. Jauhkan benda itu, sia...lan. Kau benar-benar.. Aaaarrghhhhhhhh"
Perkataan Kavin tergantikan dengan teriakan pilu ketika Leon menyayat ujung bibir kavin hingga ke telinga. Darah pun mulai mengalir membasahi pipi hingga leher Kavin. Pria itu menutup matanya rapat-rapat menahan semua rasa perih dari luka-luka nya. Bahkan kepala Kavin saat ini berdenyut dengan sangat kuat.
Leon tersenyum puas saat mendengar teriakan pilu yang keluar dari mulut Kavin.
"Aku cukup bosan mendengar semua umpatan yang keluar dari mulut busukmu ini" Leon berkata seraya kembali menyayat pipi sebelah kiri Kavin, hingga membuat wajah kavin kini terlihat seperti joker.
Kavin pun sudah tidak bisa lagi berkata-kata, dia hanya bisa mengatupkan mulutnya rapat-rapat menahan semua rasa sakit yang di terimanya.
Namun Kavin tiba-tiba melotot seraya menengadahkan kepalanya, lalu kembali menggeram dengan pilu ketika seluruh tubuhnya tiba-tiba berdenyut seperti di tusuk ribuan jarum. Pria itu berusaha menghilangkan rasa sakit di seluruh tubuhnya dengan menghentak-hentakkan kakinya.
Leon tersenyum puas ketika melihat racun yang di kembangkannya mulai bekerja.
"Sia..lan.. apa yang kau lakukan pada tubuhku.. Breng..sekk.. Kau benar-benar biadab!!!" ucap Kavin dengan suara yang tertahan, dirinya kini sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Leon yang mendengar hal itu pun seketika terkekeh
"Apa kau sungguh merasa kesakitan???"
"Ah.. Bagaimana kalau aku membantumu mengalihkan rasa sakitmu??"
"Sepertinya itu bukan ide yang buruk.."
Ucap Leon lalu mulai kembali menambahkan sayatan demi sayatan di tubuh Kavin.
Kavin pun hanya bisa kembali menggeram tertahan, wajahnya pun sudah sangat pucat karena tubuhnya banyak mengeluarkan darah. Bahkan kini, darah pria itu sudah mengalir mengotori lantai.
Setelah puas menorehkan banyak sayatan di tubuh Kavin, Leon kini menyuntikkan adrenalin pada tubuh pria itu agar tetap terjaga.
Akhirnya, Leon menghela nafas lega karena sudah bisa menyalurkan sisi gelapnya hingga puas. Dia pun berlalu pergi dari sana dengan senyum simpul yang terpatri di wajahnya.
Meninggalkan Kavin yang terus menggeram karena merasakan seluruh tubuhnya yang mulai melepuh secara perlahan.
...-TBC-...
Maaf kalo kurang greget ya Wakkk..
Sensi cuma rada takut aja kalo bikin yang terlalu sadis..
Nanti di kiranya sensi punya jiwa sikopet lagi.. Kan bahaya wakk..
Yaudahlah ya, segitu dulu aja..
Thanks for reading...
Jangan lupa kritik dan saran..
__ADS_1
Salam sayang dari sensi π
Bye bye..