Death Devil Love Story

Death Devil Love Story
Lenyapnya Sang Hama


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------...----------...


Yama, Athena, Ken, dan Bella menuju ke ruang penyiksaan dengan Yama dan Athena yang memimpin di depan. Mereka melewati lorong-lorong yang di setiap temboknya tergantung berbagai macam senjata. Athena pun memandang kagum pada setiap interior yang ada. Sungguh, tempat ini terlalu mewah untuk dijadikan sebagai markas mafia.


Dulu, saat Athena menjalankan misi bersama ke 3 temannya. Mereka selalu memasuki markas mafia yang tidak tertata rapi seperti ini, bahkan bisa di bilang hampir kumuh.


"Yama..." ucap Athena


"Hmmm.."


"Berapa lama kau membangun tempat ini?"


"2 tahun"


"Bukankah ini terlalu mewah?"


"Aku hanya ingin kelompokku merasa nyaman"


"Tapi.. Apa kau pernah berniat memberitahukan ku tentang tempat ini?"


"Ya" Ucap Yama.


"Kapan?"


Yama melirik Athena sekilas lalu menjawab "saat kau sudah menerimaku. Tapi karena kau terlalu nakal, kau mengetahuinya terlebih dahulu"


Athena seketika mendelikkan matanya, dia merasa sedikit tidak terima atas ucapan Yama.


"Cih, salahkan dirimu sendiri yang mengangkat panggilan di sampingku"


Yama pun hanya bisa mengangkat bahunya acuh..


Saat mereka sudah tiba di depan ruang penyiksaan yang di tutupi oleh dinding kaca, Bella menghentikan langkahnya saat melihat siapa yang ada di dalam sana. Yama dan Athena pun ikut menghentikan langkah mereka. Namun Ken meminta mereka untuk masuk terlebih dahulu.


"Ken...." ucap Bella seraya memeluk Ken.


Ken membalas pelukan Bella, dan mengelusnya dengan lembut.


"Bukan kah kau ingin membunuhnya?"


Sebelum ken mengajak Bella kesini, Ken sudah mendiskusikan hal ini dengan Yama. Ken meminta Yama agar membiarkan Bella yang membunuh Ibra. Awalnya, Yama sempat tidak setuju atas permintaan Ken. Namun setelah Ken menjelaskan situasinya, Yama pun akhirnya menyetujuinya.


"Lakukanlah, kau lebih pantas menghukumnya" Ucap Ken lagi.


Bella mendongakkan kepalanya untuk melihat Ken


"Tapi..."


"Tak apa, aku, Yama, dan Athena ada disini" Ucap Ken seraya mengelus pipi Bella.


"Tapi setelah ini lupakan semua masa lalumu. Berjanjilah padaku, kau hanya akan melihatku dan masa depan yang sedang menantimu"


Bella menghela nafasnya..


"Baiklah"


Mereka pun memasuki ruangan itu. Disana ada Ibra yang tengah terikat di sebuah kursi dalam keadaan pingsan. Mereka menghampiri Yama dan Athena yang duduk di kursi.


Athena menoleh pada Bella

__ADS_1


"Bukan kah kau sudah mengharapkan hal ini dari dulu?" tanya Athena.


Athena sudah mendapatkan penjelasan dari Yama, sehingga dia bisa mengatakan hal itu pada Bella.


Bella tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap Athena dengan sedikit gusar..


"Lakukan saja, kalau kau tidak mampu, biar aku yang melakukannya" Ucap Athena lagi. Yang mana hal itu membuat dahinya mendapatkan sentilan dari Yama.


"Diam dan lihat saja baby, aku tidak ingin kau mengulangi hal-hal seperti itu lagi"


"Cih, tapi kan metode itu berhasil" Ucap Athena sedikit bersungut-sungut.


Yama pun memberikan tatapan tajamnya


"Babyyyy...."


"Ck" Athena pun mengatupkan mulutnya rapat-rapat lalu memfokuskan pandangannya ke depan.


Yama segera memberikan perintah kepada salah satu anak buahnya


"Bangunkan dia" Ucapnya.


Salah satu anak buahnya segera menyemprot Ibra dengan air menggunakan sebuah selang yang cukup besar. Hal itu pun membuat Ibra bangun dengan gelagapan.


"Cukup" Ucap Yama.


Semprotan air itu pun dihentikan.


Ibra sudah sadar sepenuhnya, di hadapannya ada 4 orang yang begitu dia kenali. Pria itu seketika tertawa mengejak


"Hahahaha, apa kalian takut padaku, hingga mengikatku seperti ini, hahahaha"


Ibra menatap Bella..


Bella yang akan mengalihkan pandangan itu segera di cegah oleh Ken, Ken tidak membiarkan Bella larut dalam rasa takutnya..


"Hadapi dengan semua keberanianmu, anggap dia se ekor rusa buruanmu"


Bella menghela nafas untuk ke sekian kalinya. Gadis itu akhirnya memberanikan diri untuk melihat ke arah Ibra yang sedang menatapnya.


"Ooooh... jadi kau sekarang berubah menjadi ja..lang??? Apa aku kurang memuaskanmu hingga kau mencari laki-laki lain?" Ibra bertanya sedikit mengejek.


Sungguh, perkataan yang Ibra lontarkan seketika membuat Ken emosi. Dia hendak menghampiri Ibra untuk memukulnya, namun dihentikan oleh Bella.


Bella beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju lemari kaca yang berisi berbagai macam pisau.



Pict by : Pinterest


Bella menatap Yama lalu bertanya "Apa aku boleh menggunakannya?"


Yama menganggukan kepala tanda menyetujuinya.


Bella pun mengambil sebuah pisau yang terletak paling bawah lalu menghampiri Ibra seraya berkata "Tahukah kau... Aku sungguh ingin membunuhmu sejak dulu"


Melihat hal itu membuat Ibra sedikit merasa takut. Ibra sangat mengerti bagaimana reaksi Bella saat mencium bau darah. Ibra benar-benar merasa takut saat Bella mulai meletakkan ujung pisau itu di lehernya. Bagaimana tidak? Ibra sendiri yang membuat Bella menjadi seperti sekarang. Namun Ibra mencoba menahan rasa takutnya dengan menelan ludahnya sedikit kaku.


Ibra pun berkata "Sayang.. Letakkan pisau itu, itu bukanlah sebuah mainan.. Apa kau sungguh ingin membunuhku?? Tidakkah kau ingat apa yang pernah kita lakukan dulu???"


"Lalu??? Apa kau tidak ingat atas semua hal yang kau renggut dariku??"


Ibra menatap Bella dengan lembut, dia mencoba mengeluarkan air matanya "Sayang, bisa kah kau memafkanku?? Aku sungguh khilaf.. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi"

__ADS_1


Bella sedikit terusik saat Ibra menatapnya dengan lembut, ditambah lagi dengan air mata yang mengalir dari mata ibra. Dari dulu, hal itulah yang membuat Bella luluh padanya. Setiap Ibra melakukan kesalahan, dia selalu melakukan hal itu agar Bella memafkannya. Dan entah kenapa, Bella pun selalu luluh setiap kali melihat Ibra seperti itu.


Namun kali ini Bella sudah memantapkan hatinya, dia tidak akan terpengaruh lagi oleh Ibra. Bella mengabaikan Ibra yang terus saja membujuknya. Dia memejamkan matanya sejenak, mencoba untuk membayangkan wajah Ken. Setelahnya, Bella kembali menatap Ibra.


"Apa kau pikir aku akan luluh hanya dengan melihat air mata buayamu?"


Bella mengelus wajah Ibra dengan ujung pisau yang dipegangnya.


"Sayang, jangan lakukan itu. Ingat, aku adalah pria yang sangat mencin... Aaaarrghhhhhhhh...."


Perkataan Ibra yang belum selesai itu tergantikan dengan teriakannya saat Bella menyayat ujung bibir Ibra hingga ke telinga pria itu.


"Shuuuuttt.. Bukankah ini mengasyikan?? Aku sungguh ingin merobek mulutmu sejak dulu.. Tapi, aku berbaik hati padamu dengan hanya menyayatnya" Ucap Bella.


Bella mendekatkan ujung pisau itu ke hidungnya, dia mulai mengendus darah yang tertempel disana...


Athena yang melihat itu pun seketika bergidik ngeri


"Apakah dia temanku??"


Yama melirik Athena sekilas


"Kau bahkan lebih sadis dari itu baby"


Athena hanya membalasnya dengan decihan, lalu kembali fokus untuk melihat apa yang selanjutnya akan Bella lalukan.


Bella sedikit menusukkan pisau itu ke lengan kiri Ibra, lalu menarik pisau itu sampai ujung siku Ibra. Membuat sebuah luka goresan yang sedikit menganga, hingga darah mulai bercucuran mengotori lantai.


"Aaaarrghhhhhhhh.... Bella... hentikan itu.. hah hah hah" Teriak Ibra dengan nafas yang tersengal-sengal karena menahan rasa sakit.


Bella tidak menggubrisnya, dia menghirup bau darah yang menguar memenuhi rongga hidungnya.


Sungguh, Bella sangat menikmati hal itu.


Namun Bella sudah tidak kuat lagi menahannya, dia mulai menusuk-nusuk tubuh Ibra dengan brutal, darahnya pun terciprat kemana-mana hingga mengotori wajah dan tubuh Bella.


Bahkan saat Ibra sudah tidak lagi menghembuskan nafasnya, Bella masih tetap menusuk-nusuk tubuh Ibra untuk meluapkan semua emosinya.


Ken yang melihat itu segera menghampiri Bella, dia menahan tangan Bella yang masih menusuk-nusuk tubuh Ibra lalu membuang pisau itu ke sembarang arah.


"Sudah cukup, dia sudah mati.." ucapnya.


Bella menoleh pada Ken dengan tatapan kosong lalu sedikit memiringkan Kepalanya


"Dia sudah mati??"


Ken tidak menanggapi pertanyaan Bella, pria itu segera menggendong Bella untuk pergi dari sana.


Yama pun segera beranjak dari duduknya, lalu memberi perintah


"Penggal kepalanya dan berikan itu sebagai hadiah untuk Kavin"


Setelahnya, Yama segera mengajak Athena untuk meninggalkan tempat itu.


Dan Athena yang masih sedikit syok setelah melihat apa yang di lakukan Bella pun hanya bisa menuruti Yama tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


...-TBC-...


thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


bye bye...


__ADS_2