Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 10


__ADS_3

"apa kau sudah gila hah?? pernikahan bukan sesuatu yang bisa kau jadikan mainan!!" sungut Ana dengan kesal.


"haha.. apa kau lupa siapa aku? aku bisa berbuat apapun sesuka hatiku!" sahut Regan dengan tawa menggelegar.


"berbuat lah sesuka hatimu tapi jangan seret aku ke dalam permainan konyol mu ini!!" ucap Ana dengan lantang.


"bagaimana mungkin aku tidak menyeret mu? kau yang akan menjadi tokoh utamanya nanti!" ujar Regan dengan senyum sinis yang terus merekah di wajahnya.


"kau gila!! aku tidak sudi menikah dengan b*jingan sepertimu!!" sungut Ana lalu membuang ludah, merasa jijik dengan ide gila Regan.


"kau tidak punya hak untuk menolak!! lagipula siapa kau?? aku tidak butuh jawaban ya atau tidak darimu!!" sahut Regan menarik kasar dagu Ana hingga wajah mereka bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.


Ana mendelik menatap mata Regan tanpa rasa takut sedikitpun pada tatapan membunuh yang Regan berikan.


"turun kan pandanganmu!! aku ini calon suamimu jadi kau harus tunduk dan patuh kepadaku!!" tegur Regan yang melihat Ana berani membalas tatapannya.


"calon suami? cuih!!! aku lebih baik mati daripada harus menjadi istri dari seorang b*jingan tengik sepertimu!" Ana kembali melontarkan kata kata kasar pada Regan, membuat Regan semakin emosi.


"benarkah kau lebih memilih mati?? bagaimana jika kakakmu saja yang mati? kau masih terlalu dini untuk mati secepat ini!!" ucapan Regan sukses membuat Ana ketakutan.


"jangan pernah kau menyentuh kakakku!" sungut Ana dengan air mata yang mulai berlinang.


"apa kau takut sekarang? aku sudah katakan kalau aku bisa melakukan apapun yang aku mau!" sahut Regan dengan senyum penuh kemenangan.


"dasar b*jingan!" umpat Ana kesal.


"apa katamu?? aku b*jingan? hahaha.. padahal aku belum menunjukkan seberapa gelap sisi buruk ku padamu!!" sahut Regan dengan seringai mengerikan.


"cuih!" Ana tidak sudi lagi memandang wajah menyebalkan di hadapannya kini.


"kau hanya perlu diam dan mematuhi segala perintahku, jika kau sampai macam macam, aku tidak segan segan untuk menyakiti kakak mu itu!" ancam Regan dengan nada serius.


Regan menunjukkan video dimana anak buah Regan sedang berada di samping tubuh Bara yang terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit, anak buah Regan menyeringai dengan jarum suntik di tangannya.


"dengan sekali perintah saja, racun itu akan meresap sempurna di tubuh kakakmu! dan bersiaplah untuk mengucapkan selamat tinggal padanya, hahaha..." ucap Regan lalu tertawa lepas.


Regan benar benar bahagia melihat raut wajah Ana yang begitu ketakutan dan putus asa, sungguh pemandangan yang sangat memanjakan mata.

__ADS_1


"b*jingan!! pria macam apa yang memanfaatkan kesempitan sebagai kesempatan?? apa kau hanya bisa mengancam saja hah?" sungut Ana.


"ck...ck..ck.. mulutmu ini masih pedas juga ternyata! sepertinya aku harus menyesapnya agar bibirmu tak pedas lagi dalam berucap!" Regan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Ana.


Ana terus saja mundur untuk menghindari Regan namun dengan cepat Regan memeluk pinggang ramping milik Ana sehingga Ana tidak bisa bergerak lagi.


"aaa..apa yang kau lakukan??" Ana tergagap karena wajah Regan sangat dekat dengan wajahnya.


"kau masih mau berontak?? atau memilih tunduk pada semua ucapan ku?" tanya Regan dengan suara berdesis, bahkan nafasnya sangat terasa menerpa wajah Ana.


Ana membuang muka dengan kasar, benar benar menjijikkan rasanya berada dekat dengan pria brengs*k seperti Regan.


Regan memang tampan tapi sifatnya yang jahat dan semaunya membuat ketampanannya memudar di mata Ana.


Tanpa menunggu jawaban dari Ana, Regan langsung menyeret Ana ke meja dimana penghulu dan wali hakim sudah menunggu mereka sejak tadi.


Ana terpaksa mengikuti langkah kaki Regan karena tangannya di tarik paksa dengan sangat kasar, jika tidak bergerak maka tangan ini pasti akan putus karena tarikan Regan begitu kuat.


Regan mendudukkan Ana tepat di sebelahnya.


"baiklah.. cepat mulai acaranya!" titah Regan setelah membenarkan posisi duduknya.


Dengan cap jempol dan tanda tangan palsu tersebut, menyatakan bahwa Bara menyetujui perwalian terhadap pernikahan Ana akan di wakilkan kepada orang lain yang sudah mendapat kuasa dari Bara sendiri.


Bagi Regan, hal semacam ini sangatlah mudah karena koneksi Regan ada dimana mana.


Acara ijab qobul pun di mulai, Regan benar benar mengucapkan nya dengan satu tarikan nafas penuh dan kata "sah" mulai bergema memenuhi seluruh sudut tempat tersebut.


Kini Ana telah resmi menjadi istri Regan, air mata Ana semakin deras mengalir membasahi pipi putihnya, inilah awal malapetaka bagi Ana karena sepanjang sisa hidupnya kini, harus mengabdikan diri pada pria brengs*k yang tidak di cintai nya tersebut.


Ana terus saja menundukkan kepalanya, meremas jemari tangannya sendiri untuk menyalurkan kekesalan di dalam hatinya.


"Jay.. bawa istriku ke villa!! sepertinya dia lelah!' perintah Regan.


"siap Tuan Muda!" sahut Jay.


"ayo Nona Muda, saya antar ke villa!" kata Jay pada Ana.

__ADS_1


Ana tidak bergeming sama sekali,


"Nona Muda?" panggil Jay lagi.


Ana tetap diam saja,


"Nona Muda.. jangan sampai Tuan Muda yang menggendong anda ke villa!" kata Jay memperingatkan.


Ana langsung berdiri dengan kesal membuat Jay tersenyum geli,


haha.. ternyata kau takut pada Tuan Muda, sama sepertiku!!!


Sampai di villa, Ana dibuat takjub lagi karena kamarnya di hias ala ala kamar pengantin, tapi rasa takjub itu hanya sebentar, sesaat kemudian Ana ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi di malam pertamanya nanti.


"istirahat lah Nona Muda! jika kau butuh sesuatu, cukup tekan tombol merah di sebelah ranjang mu itu!" kata Jay sambil menunjuk ke arah tombol yang di maksud.


Ana hanya menoleh pada tombol tanpa berkata sepatah katapun.


kenapa dia berubah jadi bisu? kemana mulutnya yang pedas itu???


"kalau begitu saya permisi Nona Muda!" pamit Jay sambil menutup kembali pintu kamar Ana.


Ana merebahkan dirinya di ranjang dan mulai menangis meratapi nasib buruknya.


"kenapa ini harus terjadi padaku??" lirih Ana di sela tangisannya.


"kak.. tolong aku!" katanya lagi.


Ana menangis sepuasnya sampai dia kelelahan dan akhirnya tertidur.


Menjelang tengah malam, Regan masuk ke dalam kamar dan melihat Ana tidur meringkuk di ranjang tanpa mengganti gaunnya.


"ish...kenapa dia langsung tidur begitu saja? apa nyaman tidur dengan gaun seribet itu?" gumam Regan yang juga terlihat sangat kelelahan.


Regan membantu Ana melepas gaunnya namun Ana tidak bergeming sama sekali mungkin terlalu lelah, saat berbalik Regan terkejut melibat wajah Ana yang sembab.


"dia menangis??" gumam Regan lagi.

__ADS_1


Wah macan wanita sepertimu ternyata bisa menangis juga, ternyata hatimu masih selembut wanita lainnya.


♦♦♦♦♦♦♦♦♦


__ADS_2