Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 30


__ADS_3

"sungguh susah di mengerti!" gerutu Ana lagi.


Pagi ini Regan berangkat tanpa sarapan karena kesal pada Ana padahal perutnya sangat lapar.


Tapi demi menjaga imagenya, Regan harus menahan rasa laparnya.


Sampai di kantor, Regan langsung memanggil Jay.


"Jay, ke ruangan ku sekarang!" titah Regan melalui interkom nya.


Jay pun datang dengan tergesa karena Regan tidak suka pada karyawan yang lamban.


"ada apa Tuan Muda?" tanya Jay.


"tolong belikan aku roti!" ucapnya.


"roti?? anda belum sarapan Tuan?" sahut Jay malah balik bertanya.


"Jay?? kenapa kau sekarang jadi cerewet sekali?? lakukan saja apa yang aku perintahkan, tidak usah banyak bertanya!" ketus Regan dengan wajah kesal.


Sebenarnya rasa kesal itu sudah dibawanya dari rumah namun karena sial, akhirnya Jay juga kena imbasnya.


"baik Tuan!" sahut Jay lalu segera pergi.


"tumben Tuan Muda belum sarapan?? apa dia sedang bertengkar dengan Nona Muda??" gumam Jay yang kepo seorang diri.


Jay membeli beberapa item roti premium kesukaan Regan dan beberapa botol susu rasa pisang yang juga merupakan minuman favorit Tuan nya tersebut.


"ini rotinya Tuan!" kata Jay sambil menyodorkan roti di hadapan Regan.


Sementara Regan sedang sibuk menatap ponselnya padahal ponselnya dalam keadaan tidak On.


kenapa Tuan Muda menatap ponselnya seperti itu?? apa ponselnya rusak??


Batin Jay terus bergejolak tapi dia enggan bertanya karena bertanya hanya akan berdampak buruk baginya.


Sementara Regan juga sedang menggerutu di dalam hatinya,


kemana wanita bodoh itu? apa dia tidak merasa bersalah? apa dia tidak kepikiran aku yang tidak sarapan?? kenapa sampai sekarang dia belum menghubungiku juga??


Belum sempat menyentuh roti di hadapannya, tiba tiba terdengar suara pintu di ketuk,


"masuk!" titah Regan dengan wajahnya yang berwibawa.


Dan Jay yang kebetulan masih di sana segera membukakan pintu untuk tamu Tuannya.


"pagi....!" seru Ana yang datang dengan rantang makanan di tangannya.


Ana berusaha menampilkan wajahnya yang ceria di hadapan Regan yang tampak sangat terkejut dengan kehadiran Ana yang tidak di sangka sangka nya.


"selamat pagi Nona Muda!" sambut Jay dengan segala hormatnya.


Sementara Regan lagi lagi mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar, dia tidak ingin Ana tahu kalau hatinya senang dan berbunga bunga melihat kedatangan Ana.

__ADS_1


"ouh.. ternyata kau sudah sarapan ya!" kata Ana yang melihat ada banyak roti dan susu pisang di atas meja kerja Regan.


"semua ini bukan milikku!" sahut Regan sambil menyingkirkan semua roti dan susu pisang di atas mejanya.


"kalau bukan milikmu lalu milik siapa?!" tanya Ana sambil menahan tawanya.


"punya dia!" sahut Regan sambil menunjuk ke arah Jay.


Jay jadi terkejut dan salah tingkah karena tiba tiba bosnya menunjuk dirinya.


"apa benar Jay??" tanya Ana.


"eh.. i..iya Nona.. semua itu milik saya!" sahut Jay agak canggung lalu dengan cepat membereskan semua roti dan susu pisang yang dibelinya tadi.


"semua ini memang milik saya Nona, tadinya saya ingin berbagi dengan Tuan Muda!" kata Jay beralasan.


"kalian, bos dan tangan kanan benar benar sehati ya?? sampai sampai Jay tahu kalau Tuannya belum sarapan!" sindir Ana dengan sengaja.


"eh bukan begitu!" sahut Regan dengan ketus dan memberi isyarat pada Jay agar segera keluar dari ruangannya.


Jay bergegas pergi dari sana sebelum Tuannya benar benar mengirimnya ke afrika.


"maaf aku datang tanpa memberitahu mu sebelumnya!" kata Ana sambil mengeluarkan makanan yang dibawanya dari rantang dan di tata nya di atas meja tamu.


"aku pikir, percuma menghubungimu dulu karena kau pasti tidak akan mau menerima panggilan telepon dariku!" kata Ana lagi.


Regan berusaha sekuat tenaga agar tidak tersenyum dan lepas kendali meski di dalam hatinya kini sedang bersorak kegirangan.


Sungguh di luar pikirnya bahwa Ana akan datang dan membawakannya sarapan.


Regan tetap tidak bergeming.


Lalu Ana bangkit dan mendekati Regan,


"maafkan aku!" katanya setelah mendekat.


"lain kali, aku tidak akan bicara sembarangan lagi!" tambahnya.


Regan menatapnya sejenak.


"ayo makan.. kau pasti lapar!" ajak Ana sambil menarik tangan Regan.


Regan sungguh bahagia namun tetap berusaha menjaga imagenya di depan Ana.


Ana kemudian menyuapi Regan dan Regan makan dengan lahap karena perutnya memang sangat lapar.


"em... setelah ini, apa aku boleh ke rumah sakit?!" tanya Ana dengan hati hati.


"kakakmu sudah baik baik saja!" sahut Regan.


"tapi aku ingin menjenguknya!" kata Ana lagi.


"tunggu aku selesai dengan pekerjaanku, aku akan mengantarmu!" jawab Regan kemudian.

__ADS_1


"baiklah!" sahut Ana dengan pasrah.


Setidaknya dia masih bisa menemui kakaknya.


Sepanjang hari ini, Ana menemani Regan bekerja, sekarang Ana tahu betapa banyaknya beban yang di emban suaminya tersebut.


Ternyata kekayaannya yang berlimpah itu, tidak di dapatnya dengan mudah, Regan harus memutar otaknya agar semua bisnisnya berjalan dengan lancar.


Terbersit sedikit kekaguman di hati Ana setelah melihat betapa seriusnya Regan saat bekerja.


dia tidak hanya tampan tapi otaknya juga cemerlang, sepertinya dia adalah paket sempurna yang pernah Allah ciptakan.


"kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Regan yang menyadari kalau Ana telah menatapnya sejak tadi.


"ah.. tidak!! siapa bilang aku sedang menatap mu??" sahut Ana berbohong.


"memangnya objek apalagi yang menarik untuk dilihat selain aku di ruangan ini?!" ujar Regan dengan begitu percaya dirinya.


"itu di sebelah mu!! lebih menarik!" sahut Ana sambil menunjuk Globe, replika dunia yang sedang bergerak memutar secara otomatis.


"ck!" Regan berdecak kesal sambil ikutan melihat Globe di sebelahnya.


*untung saja ada Globe itu.. kalau tidak, aku pasti sudah ketahuan kalau sedang menatapnya! batin Ana bersyukur.


Sial!! apa benar Globe ini terlihat lebih menarik dari wajahku yang tampan ini?!" gerutu Regan di dalam hatinya*.


"apa masih lama?!" tanya Ana berusaha mengalihkan pembicaraan.


"apa sebegitu tidak sabarnya kau ingin bertemu dengan kakakmu itu??" cibir Regan.


"kau tidak punya saudara makanya tidak tahu rasanya berjauhan dengan kakak!" balas Ana.


Regan benar benar merasa tersindir karena memang dia tidak tahu bagaimana rasanya memiliki saudara.


"jangan cerewet atau pekerjaan ku tidak akan pernah selesai!" ketus Regan.


"kau yang mengajakku bicara duluan!" sahut Ana tidak mau kalah.


"diam atau kita tidak pergi??" ancam Regan.


"ok!" sahut Ana sambil mengunci mulutnya rapat rapat.


Regan pun melanjutkan kembali pekerjaannya sementara Ana sibuk main game di laptop milik suaminya.


Menunggu benar benar membuat waktu berjalan dengan begitu lambat, bahkan Ana menguap sampai beberapa kali saking bosannya.


Sampai akhirnya Ana tidak sengaja tertidur di sofa sambil memeluk sebuah buku yang sempat dibacanya tadi.


Regan yang sudah selesai dengan pekerjaannya pun mendekati Ana dan menatapnya dengan intens,


"kenapa kau masih merasa menjadi tawanan ku?? apa sikapku masih kurang baik padamu??" lirih Regan pada Ana yang tampak begitu lelap dalam tidurnya.


Regan membelai anak rambut Ana dengan lembut sambil terus memandangi wajah Ana yang begitu damai saat tertidur.

__ADS_1



🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


__ADS_2