Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 14


__ADS_3

Paginya Ana terbangun dan sudah tidak melihat sosok Regan di sisi ranjang lainnya.


"wah ternyata si bodoh itu bisa bangun pagi juga!" gumam Ana sambil turun dari ranjangnya.


Saat hendak ke kamar mandi, terdengar suara gemericik air yang berasal dari dalam kamar mandi.


"woi!! cepetan mandinya, aku kebelet pipis nih!" seru Ana sambil menggedor kasar pintu kamar mandi.


Tanpa di duga, Regan malah langsung membuka pintunya dan Ana langsung berteriak histeris mendapati Regan telanjang bulat dengan tubuh yang basah penuh sabun.


"masuk lah!" katanya dengan santai.


"dasar pria mesum!!" sungut Ana sambil berlari keluar kamar.


Regan hanya terkekeh melihat kelakuan Ana yang tampak malu malu.


Ana menuruni tangga sembarangan membuat kakinya terkilir sampai akhirnya terjatuh.


Bugh..


Mendengar suara gaduh dari luar, Regan langsung keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sepinggang,


Regan langsing berlari menghampiri Ana yang terjatuh,


"dasar manusia ceroboh!" ejek Regan sambil membalik tubuh Ana yang tertelungkup di lantai.


"kalau mau menolong ku, tolong saja, tidak perlu menambahkan komen komen tidak penting!" lirih Ana sambil meringis kesakitan.


"apa lagi yang bisa kau lakukan selain membuat kekacauan hah??" sentak Regan sambil membantu Ana berdiri.


Regan membopong tubuh Ana sampai ke kamar,


"selalu menyusahkan orang lain saja!" gerutu Regan yang sedang memanggil dokter untuk Ana.


"kau menelpon siapa??" tanya Ana.


"dukun!" sahut Regan sambil fokus pada ponselnya.


"aku tidak apa apa, jangan panggil siapapun!" lirih Ana setengah merengek.


"tidak apa apa katamu?? aku tidak ingin di tuduh pembunuh karena membiarkan mu mati di rumahku!!" sungut Regan yang melihat darah segar mengalir dari hidung Ana.


"kenapa aku tiba tiba pilek ya!" seru Ana sambil mengusap hidungnya yang berdarah.


"pilek cap kadal!!! hidungmu berdarah bukan ingusan bodoh!!" bentak Regan yang masih sibuk menghubungi dokter.

__ADS_1


Ana pun pasrah setelah melihat darah di tangannya dan tak lama kesadarannya pun hilang membuat Regan semakin panik di buatnya.


"ya Tuhan.. apa dosaku sampai harus menikahi gadis bodoh seperti dia!" keluh Regan dengan gusar.


Setengah jam menunggu, akhirnya dokter datang juga dan langsung menuju ke kamar Ana dan Regan.


"apa kau kemari naik onta?? lambat sekali!" sentak Regan pada Dokter Jodi, dokter pribadi Regan.


"hei.. come on dude.. ini bahkan masih terlalu pagi untuk ku menerima pasien!" sahut Dokter Jodi berusaha membela diri.


"apa kau mau kehilangan gelar dokter mu itu hah??" sungut Regan sambil menarik kerah leher Dokter Jodi.


"kondisikan dirimu, sebaiknya lanjutkan mandi mu karena masih banyak busa sabun di punggungmu itu!" ejek Dokter Jodi.


Saking paniknya, Regan sampai lupa untuk melanjutkan ritual mandinya bahkan dia tetap memakai handuk sepinggang, jika bukan karena Dokter Jodi mungkin Regan akan tetap lupa kalau dirinya hanya memakai handuk saja sejak tadi.


"cepat kau periksa dia!" titah Regan sambil berlalu masuk ke kamar mandi.


"siapa dia??" tanya Dokter Jodi sambil menatap wajah cantik Ana yang sedang terpejam.


"dia istriku jadi periksa dia dengan benar!!" sungut Regan sebelum menutup pintu kamar mandi


"what?? istri?? apa aku tidak salah dengar dude??" seru Dokter Jodi tidak percaya.


"oke oke.. be calm dude!" sahut Dokter Jodi sambil mengeluarkan alat tempurnya.


Sementara Regan melanjutkan ritual mandinya, Dokter Jodi langsung memeriksa Ana yang pingsan.


Setelah itu Regan keluar dengan baju handuk yang melekat di tubuhnya, dia langsung menghampiri Dokter Jodi yang sedang merapikan alat alatnya.


"dia tidak apa apa kan?" tanya Regan kepo.


"tidak ada yang serius kok.. dia hanya shock saja!" sahut Dokter Jodi menjelaskan.


"lalu kenapa hidungnya berdarah??" tanya Regan dengan tampang bodohnya.


"siapapun yang jatuh dari tangga setinggi itu jika hidungnya terbentur lantai pasti berdarah!" sahut Dokter Jodi dengan jengah nya.


kau ini pria pintar Regan.. kenapa sekarang kau jadi bodoh dan senaif ini??


"mak...maksudku apa tulang hidungnya bermasalah atau retak?? begitu maksudku!!!" sungut Regan yang merasa tampak bodoh di hadapan Dokter Jodi.


"tidak sampai seburuk itu! aku sudah memberinya obat penghilang nyeri dan ada beberapa obat yang harus kau beli di apotik juga!" kata Dokter Jodi sambil menulis beberapa resep untuk Ana.


"kenapa harus ke apotik?? apa kau tidak menyediakan obatnya juga?" ujar Regan.

__ADS_1


"aku ini seorang Dokter, bukan apotik yang menyediakan segala macam obat!" sahut Dokter Jodi semakin jengah dengan kebodohan Regan yang muncul tiba tiba.


"dasar Dokter gadungan!! obat saja kau tidak punya!!" gerutu Regan sambil melirik masam ke arah Dokter Jodi.


"dosa apa aku sebenarnya sampai harus menangani pasien cerewet sepertimu!" Dokter Jodi pun ikut menggerutu saking kesalnya pada ucapan Regan padanya.


"hah.. sudah sudah sana...pergi kau!!" usir Regan.


"aku juga tidak akan mau meski kau menyuruhku tinggal!!" sungut Dokter Jodi.


"bermimpi lah sepuas mu! meski di dunia ini hanya menyisakan kau dan aku saja, aku juga tidak akan sudi hidup bersama dengan mu!!" balas Regan tak kalah pedasnya dengan ucapan Dokter Jodi.


"argh..!" Ana tersadar karena suara gaduh yang di timbulkan oleh percekcokan antara Regan dan Dokter Jodi.


Ana meringis sambil memegangi hidungnya yang terasa ngilu.


"apa masih sakit??" tanya Regan yang langsung menghampiri Ana.


Ana hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"katamu sudah memberinya obat nyeri tapi kenapa dia masih merasakan sakit?" sungut Regan pada Dokter Jodi.


"aku menyuntikkan obat padanya bukan ramuan ajaib yang bisa menghilangkan rasa sakit hanya dalam satu kedipan mata saja!!" balas Dokter Jodi.


"argh!! menyebalkan!!" teriak Regan semakin kesal.


"apa bisa kalian melanjutkan perdebatan ini di luar saja?? kepala ku rasanya mau pecah mendengar ocehan kalian sejak tadi!" sindir Ana pada kedua pria dewasa di hadapannya tersebut.


"aku sudah menyuruhmu pergi, kenapa kau masih disini hah??" Regan melotot ke arah Dokter Jodi.


"hadeh.. bisa gila aku jika berlama lama disini!" gerutu Dokter Jodi sambil menenteng tas kerjanya dan segera keluar dari kamar Regan dan Ana.


"apa kau tidak bisa bersikap sopan pada orang lain??" ujar Ana pada Regan.


"kau sebaiknya istirahat saja!! jangan menceramahi ku di rumah ku sendiri!!" sungut Regan.


"aku hanya bertanya bukan menceramahi mu!!!" balas Ana.


"tapi pertanyaan mu itu ambigu!! lebih banyak mengandung ceramah ketimbang pertanyaan!!" sahut Regan.


"lebih baik aku tidur daripada meladeni orang sepertimu!!" kata Ana yang langsung merebahkan dirinya lagi.


"itu yang ku katakan sejak tadi kan?? istirahat!!! karena kalau sakit kau hanya akan menyusahkan ku saja!!!" sungut Regan berapi api.


📢📢📢📢📢📢📢📢📢

__ADS_1


__ADS_2