Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 28


__ADS_3

"maaf.. aku tidak bermaksud untuk menampar mu!" Regan merasa bersalah, dia memunguti pakaian Ana dan berusaha memakaikannya kembali agar Ana tidak masuk angin.


Ana hanya bisa terus menangis bahkan ketika tubuh indahnya menjadi tontonan gratis untuk Regan, tidak masalah sebenarnya karena bagaimana pun juga Regan adalah suami Ana, suami yang sah dan Regan punya hak atas segala yang Ana miliki termasuk tubuhnya yang indah dan sintal.


Sungguh pemandangan yang luar biasa bagi Regan, beberapa kali dia berusaha menelan ludahnya dengan kasar, bagaimana pun kondisinya Regan tetap lah pria dewasa yang normal, birahinya terasa di ombang ambing kan melihat tubuh indah tanpa busana di hadapannya.


Regan berusaha dengan sepenuh hati untuk tidak menodai Ana walaupun dalam benaknya sangat ingin menjamah tubuh istrinya tersebut.


Setelah memakaikan kembali pakaian Ana, Regan menggendong Ana dan membawanya ke kamar khusus di ruang kerjanya tersebut.


Regan menurunkan Ana dengan sangat hati hati, lagi lagi Ana hanya bisa terdiam menerima perlakuan Regan yang selalu di luar dugaan, kadang dia baik, kadang juga cuek bahkan kasar.


Ana tidak berani menatap wajah Regan saat ini, dia terlalu malu apalagi mengingat kejadian tadi ketika dia hampir telanjang bulat di hadapan pria itu, pria yang tidak mencintainya.


Dengan telaten Regan mengobati bibir Ana yang terluka karena tamparannya, ringisan Ana membuatnya merasa semakin bersalah.


"aduh...!" keluh Ana tanpa mau menatap Regan.


"kenapa kau tidak menatap ku?" tanya Regan yang fokus mengobati luka di bibir Ana.


Ana terdiam membisu.


"kalau aku bertanya, kau harus menjawabnya!! jangan sampai memancing kemarahan ku!" kata Regan perlahan namun penuh penekanan.


Regan benar benar berusaha menekan emosinya, dia tidak ingin menyakiti Ana lagi kali ini.


"a...aku.. ma..lu!" jawab Ana terbata bahkan suaranya pelan nyaris seperti bisikan.


"apa?? malu?? malu pada suamimu sendiri??" cibir Regan.


Ana kembali menundukkan kepalanya setelah Regan selesai mengobati lukanya.


"malu.. tapi tadi kau bahkan nyaris telanjang di hadapanku!" ejek Regan lagi.


Ingin rasanya Ana tenggelam saja ke dasar bumi yang paling dalam saking malunya pada Regan.


"istirahat lah!" titah Regan.


Ana langsung merebahkan tubuhnya, kepalanya di sembunyikan di bawah bantal, Regan terkekeh melihat tingkah Ana yang cenderung kekanakan.


Tanpa di sadari nya kehadiran Ana telah merubah segalanya, hari hari Regan yang suram nyaris tanpa warna kini berubah, semuanya terasa indah bahkan nyaris di nantikan setiap detiknya.


Regan meninggalkan Ana agar dia bisa istirahat dengan tenang, kejadian tadi pasti sudah menguras habis emosinya.


♀️♀️♀️♀️♀️♀️♀️♀️♀️♀️♀️

__ADS_1


Sementara itu di rumah sakit, Bara berusaha untuk pulih secepatnya, dia tidak ingin membuang buang waktu dengan hanya rebahan di ranjang rumah sakit ini saja sementara adiknya tersiksa hidup bersama bajingan seperti Regan.


Bara yang sudah bisa berjalan, berusaha turun dari ranjangnya dan mengintip ke arah luar.


Tampak ada dua orang pria berperawakan tinggi dengan badan besar berotot sedang berjaga dengan siaga.


"sial.. dia memasang bodyguard segala!!" gerutu Bara dengan kesal.


Bara harus memutar otaknya agar bisa kabur dari rumah sakit ini dan menyelamatkan Ana dari belenggu Regan.


"bagaimana caranya aku bisa kabur dari tempat terkutuk ini??" Bara berpikir keras.


Dia melihat sekelilingnya, benar benar tertutup bahkan jendelanya saja berteralis lapis dua, tidak mungkin baginya untuk kabur melalui jendela.


Bara melanjutkan aksinya dengan memeriksa kamar mandi, di sana pun sama, jendelanya berteralis kokoh bahkan meskipun dengan alat sekalipun jendela itu tidak akan bisa terbuka dengan mudah.


"aku terjebak!! sial!" umpat Bara.


Tak lama kemudian, muncullah perawat yang biasa memeriksa kondisinya setiap hari, muncul ide di otak Bara untuk meminta pertolongan dari perawat tersebut.


"ehem!" Bara berdeham.


"kenapa Tuan? apa anda merasa tidak enak badan?" tanya sang perawat.


Dua orang bodyguard yang berjaga di depan pun sudah ada di dalam ruangan dengan wajah datar tanpa ekspresi mereka benar benar tidak memberikan ruang pribadi untuk Bara.


Bara sepertinya menemukan ide bagus.


"Sus...!" panggil Bara pada suster berparas cantik itu, semakin hari wajahnya terlihat semakin ayu di mata Bara.


"iya Tuan!" sahut Suster dengan senyum ramah menambah setingkat kecantikannya.


"bisa bantu saya ke kamar mandi?" kata Bara sambil melirik kedua bodyguard tersebut.


"biar aku saja yang mengantar mu!" sahut salah satu bodyguard dengan cepat.


"eh.. tidak.. aku mau dengan suster saja!" tolak Bara dengan wajah masam.


Sang bodyguard langsung merengut.


"bukannya anda sudah bisa ke kamar mandi sendiri Tuan?" kata Perawat.


"kaki ku agak sakit, aku mohon.. sebentar saja!" rengek Bara sambil mengedipkan matanya memberi sinyal pada sang perawat.


Perawat berparas ayu bernama Ayu itu pun seolah mengerti dengan sinyal yang diberikan oleh Bara kepadanya.

__ADS_1


Ayu sedari awal sudah menyadari posisi Bara yang sepertinya telah menjadi tahanan selama di rawat di rumah sakit ini bahkan dia nyaris tidak pernah di jenguk oleh siapapun juga.


Hanya beberapa hari yang lalu ada seorang wanita cantik yang datang menemuinya, itu pun di temani beberapa bodyguard di dalamnya.


Ketika Ayu menanyakan hal itu pada Bara, Bara dengan bangganya menceritakan bahwa wanita itu adalah adiknya, adik kandung yang sangat di cintai nya, Ayu dapat merasakan kasih sayang Bara yang begitu besar pada adiknya karena setiap Bara bercerita tentang adiknya itu pasti sambil menangis.


Ayu sebenarnya penasaran, kenapa Bara bisa di tahan oleh orang berpengaruh macam Tuan Regan, apa sebenarnya kesalahan Bara?? karena seisi kota ini pasti lah tahu dan sangat mengenal siapa sosok Regan yang sangat disegani itu.


"mari saya antar!" sahut Ayu sambil mengambil kursi roda.


Ayu membantu Bara untuk duduk di kursi roda sementara dua bodyguard itu hanya diam memandangi mereka berdua.


"hati hati Tuan!" kata Ayu sambil memapah Bara.


Jantung Bara berdetak lebih cepat dari biasanya karena jaraknya dengan Ayu sangat lah dekat, bahkan Bara bisa mencium aroma tubuh Ayu yang begitu menyenangkan di hidungnya.


Bara langsung tersadar, ini bukan lah saat yang tepat untuk merasakan debaran debaran aneh seperti ini, Bara harus tetap teguh pada tujuan utamanya yaitu kabur dari rumah sakit ini dan menyelamatkan Ana.


Sampai di kamar mandi, Ayu hendak keluar namun Bara menahannya.


"tetap lah disini!" pinta Bara pada Ayu.


Ayu terkejut mendengar permintaan Bara.


"tapi Tuan!" Ayu berusaha menolak.


"aku mohon.. aku butuh bantuan mu!" kata Bara dengan wajah memohon.


Ayu yang memang sangat bersimpati pada Bara dari awal Bara di rawat di rumah sakit ini pun tam kuasa menolak permintaan Bara.


Ayu mengangguk dengan kikuk.


"tolong kunci pintunya!" kata Bara lagi.


Ayu pun patuh pada ucapan Bara.


📴📴📴📴📴📴📴📴📴📴📴


Bonus..visual Bang Bara sama Mbak Ayu.. hehe..


Bara



Ayu

__ADS_1



__ADS_2