
Lelah marah marah pada Ana, membuat perut Regan semakin keroncongan,
"Jay.. sepertinya aku akan terlambat!" kata Regan menelpon Jay.
"aku harus sarapan agar otakku bisa bekerja dengan baik!" gumam Regan dalam hatinya.
Regan menuju ke dapur dan para maid langsung menawarkan bantuan.
"ada yang bisa kami bantu Tuan?" seru Mimin ya g sudah mendekat.
"siapkan sarapan!! aku lapar!" titahnya dengan nada dingin.
"baik Tuan! silahkan anda menunggu di meja makan!" sahut Mimin dengan patuh.
"jangan lelet!! aku harus segera berangkat ke kantor!" pesannya sebelum Mimin benar benar menghilang dari hadapannya.
"siap Tuan!' sahut Mimin agak kikuk.
Saat tengah menunggu, Regan tidak sengaja mendengar suara cecapan seperti suara orang makan, Regan langsung mencari sumber suara tersebut dengan seksama.
Regan langsung memutar bola matanya dengan malas setelah melihat apa yang ada di hadapannya kini, Ana nyengir kuda karena merasa tertangkap basah.
"aku melanjutkan makan ku yang terganggu tadi!" kata Ana sambil menjilati jari jarinya karena Ana makan dengan menggunakan tangan.
"ck...dasar kampungan!" ejek Regan jengah.
"enyah dari hadapan ku atau kau akan tertular menjadi kampungan juga nantinya!" balas Ana sambil melambaikan tangannya untuk mengusir Regan agar menghilang dari tatapannya.
"aku juga najis berdekatan dengan mu!!" sahut Regan.
"najis tapi kau nikahi!! secara sah pula!!" cibir Ana.
Regan kehabisan kata kata sehingga tidak mampu lagi menanggapi cibiran Ana kepadanya.
Regan kembali ke meja makan dengan perasaan kesal, hatinya bertambah kesal lagi karena sarapan belum juga siap padahal 10 menit telah berlalu.
"Mimin!!!" teriak Regan mulai kesal menunggu.
Mimin langsung berlari dengan wajah yang takut karena mendengar teriakan Regan yang tidak biasa.
"i..iya Tuan!" sahut Mimin yang sudah ada di hadapan Regan.
"mana sarapannya??" sungut Regan.
"a..anu Tuan.. se..sereal yang biasa anda makan, ka..kami kehabisan stoknya!" Mimin sampai berkeringat dan wajahnya pucat saking takutnya pada kemarahan Regan yang siap meledak sebentar lagi.
"apa katamu??" sungut Regan.
"maafkan atas keteledoran saya Tuan!" kata Mimin dengan suara bergetar.
__ADS_1
"apa kau sudah bosan melayaniku?? kalau iya katakan!!" sentak Regan pada Mimin.
Mimin langsung bersimpuh di kaki Regan memohon belas kasihnya agar tidak di pecat oleh Regan.
"to..tolong jangan pecat saya Tuan!! sa..saya benar benar membutuhkan pekerjaan ini!" kata Mimin dengan dibarengi isak tangisnya.
"untuk apa aku mempertahankan orang yang kerjanya tidak becus?? bikin rugi saja!" sungut Regan tanpa perasaan.
"saya mohon Tuan!" kini kepala Mimin sudah menyentuh sepatu Regan.
Ana yang sedari tadi melihat kejadian itu merasa geram dengan perlakuan Regan yang semena mena terhadap Mimin.
Ana langsung menarik Mimin agar berdiri kembali,
"bangun Min!! dia bukan Tuhan yang patut kau sembah!!" kata Ana setelah berhasil menarik kasar Mimin sampai berdiri kembali.
"kau jangan ikut campur!!" sentak Regan pada Ana yang berusaha melawannya dengan membela Mimin.
"bagaimana bisa aku tidak ikut campur jika kejadian ini terjadi di depan mataku sendiri hah??" sentak Ana tak kalah lantang dengan suara Regan.
"sudah cukup Nona..!" kata Mimin berusaha menghalangi Ana yang hendak membelanya.
"bukan Mimin yang salah tapi aku.. aku adalah istri yang tidak becus mengurus suaminya jadi marahi saja aku jangan dia!!" ujar Ana.
"apa kau sekarang berlagak menjadi istri yang sesungguhnya??" cibir Regan sambil menatap tajam ke arah Ana.
"benar kah??" tanya Regan sambil tersenyum meremehkan.
"ya!" sahut Ana dengan tegas.
"oke baik lah jika memang itu mau mu!! sekarang lakukan tugas pertamamu, buat kan aku sarapan 10 menit dari sekarang!" kata Regan menantang.
"oke!" sahut Ana yang langsung menuju ke dapur.
"kalau kau berhasil membuat perutku kenyang pagi ini, aku akan membiarkan Mimin tetap bekerja disini!" ujarnya lagi.
"oke!" sahut Ana yang sudah sibuk membuatkan sesuatu untuk Regan.
Tak sampai 10 menit, Ana sudah kembali ke hadapan Regan dengan sepiring makanan di tangannya.
"ini sarapan mu!" kata Ana sambil meletakan sepiring nasi lengkap dengan lauk yang dimasaknya tadi di hadapan Regan.
Regan menatap tidak percaya ke arah makanan dan wajah Ana.
"apa kau sudah bosan hidup??" seru Regan kesal.
"sebenarnya aku hanya bosan hidup di bawah tekanan mu saja tapi aku masih sangat mencintai hidup ku sendiri apalagi jika bisa kembali ke masa dimana aku belum bertemu dengan mu!!" sahut Ana dengan santainya.
"jangan mengalihkan pembicaraan!!! kau bilang mau melayani ku dan sekarang apa yang kau bawa ini?? kau sengaja ingin meracuniku dengan makanan kampungan seperti ini??" sungut Regan.
__ADS_1
"kan sudah aku bilang, cicipi dulu baru komen!!" balas Ana tanpa rasa takut sedikit pun pada Regan.
"aku tidak mau!!" tolak Regan.
"jangan berikan itu pada Tuan...!" larang Mimin.
Ana menyendok nasi dan lauknya lalu menyuapkannya secara paksa pada Regan, Ana mencengkeram pipi Regan hingga mau tidak mau dia membuka mulutnya dan makanan telah masuk sempurna ke dalam mulut Regan.
"sekarang kunyah!" titah Ana.
Entah kerasukan setan darimana, Regan malah patuh pada ucapan Ana, dia mengunyah makanan di mulutnya secara perlahan sambil merasakan cita rasa dari masakan istrinya tersebut.
sial..makanan ini rasanya mirip sekali dengan masakan Mama! batin Regan bergejolak.
"bagaimana??" tanya Ana yang melihat Regan menelan habis makanannya.
"bagaimana apanya??" sentak Regan yang enggan memuji walau memang masakan Ana rasanya enak.
"ya rasanya lah!! enak kan??" ejek Ana dengan percaya dirinya.
"apa?? enak?? enak dari hongkong!! aku kelaparan jadi terpaksa memakannya!" sahut Regan yang sudah menyendok makanannya kembali.
Ana tersenyum geli melihat Regan makan dengan lahapnya.
"jadi Mimin masih bisa tetap bekerja disini kan??" tanya Ana lagi setelah melihat makanan di piring Regan habis dan dia mulai bersendawa saking kenyang nya.
"tergantung!" sahut Regan singkat.
"tergantung apanya?? kau kan sudah kenyang sekarang!!" sentak Ana mulai kesal pada sikap Regan yang seenaknya.
"tergantung menu makan siang apa yang akan kau buatkan untuk ku nanti!! jika tidak enak maka Mimin akan aku usir dari rumah ini!" ujar Regan sambil melenggang pergi meninggalkan Ana yang terlihat kebakaran jenggot.
"apa???? dasar licik!" sungut Ana yang berusaha melempar Regan dengan sandalnya tapi tidak kena karena Regan sudah menghilang dari hadapannya.
"dasar bedebah!" gerutu Ana.
"anda benar benar hebat Nona!" puji Mimin kemudian.
"hebat apanya??" tanya Ana bingung.
"sepertinya masakan anda sangat luar biasa sampai Tuan mau memakannya sampai habis tanpa sisa!!" puji Mimin lagi.
"memang biasanya seperti apa?" tanya Ana kepo.
"Tuan hanya akan sarapan dengan sereal dan melewatkan makan siangnya lalu malamnya Tuan hanya akan minum susu dan makan beberapa potong buah saja! sangat luar biasa jika Tuan sampai meminta di masak kan untuk makan siangnya!" jelas Mimin.
"benar kah??" seru Ana tidak percaya dengan apa yang Mimin ucapkan barusan.
🌝🌝🌝🌝🌝🌝🌝🌝🌝
__ADS_1