
"kapan kakak ku bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Ana sambil menyuapi Regan makan siang.
Regan langsung tersedak.
"uhuk.. uhuk..!" Regan terbatuk dan makanan di mulutnya tersembur keluar sampai berceceran kemana mana.
Ana mengambilkan air.
"minum dulu! makanya pelan pelan makannya!" kata Ana dengan penuh perhatian sambil mengusap lembut punggung suaminya tersebut.
Sentuhan yang terasa bagai sengatan listrik bagi Regan, begitu menyentuh dan menimbulkan rasa nyaman yang luar biasa.
"ini semua salahmu!" sentak Regan.
"kenapa bisa salahku??" balas Ana balik bertanya.
"kau sengaja kan mengajakku bicara supaya aku tersedak?" sungut Regan menuduh Ana.
"aku hanya berusaha memecah keheningan saja!! jika kau merasa terganggu maka mulai sekarang aku akan diam!" seru Ana.
Regan pun kembali makan dalam suasana hening, tak sepatah katapun keluar dari bibir Ana meski Regan sempat memancingnya dengan pura pura menjatuhkan makanan dari mulutnya.
Ana dengan sabar dan telaten memilihi makanan yang terjatuh dan membuangnya ke tempat sampah tanpa komen apa apa.
Setelah selesai makan pun, Ana mengupas buah untuk makanan penutup suaminya dalam suasana sunyi, hanya suara pisau yang berdesau dengan kulit buah yang terdengar.
Regan geram karena Ana tak kunjung berbicara, Ana yang biasanya cerewet dan suka membicarakan banyak hal sudah seperti menjadi musik wajib yang Regan harus dengarkan setiap harinya dan kini musik itu tidak di putar lagi.
"oke.. aku mengaku salah!" Regan akhirnya mengakui kesalahannya, mengalah demi kembalinya kecerewatan sang istri yang sangat di sukai nya.
Ana masih terdiam sambil terus menyuapi buah untuk Regan.
Regan semakin kesal, dia memikirkan cara agar Ana bisa berbicara lagi padanya.
Satu ide terlintas begitu saja di kepalanya, Regan langsung melakukan apa yang otaknya suruh,
Cup...
Regan mengecup bibir Ana yang manyun.
"ih.. apa apaan sih!!" protes Ana sambil memukul Regan.
"yes!" seru Regan senang seperti anak kecil yang baru saja memenangkan game.
"sudah ku bilang jangan cium aku sembarangan!!!" sentak Ana.
"kenapa?? kau kan istriku dan aku suamimu jadi aku bebas dong mau mencium mu kapan saja aku mau!" sahut Regan dengan polosnya.
"kalau ciuman mu bertujuan hanya untuk membujukku, jangan lakukan lagi!" ucap Ana lalu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Sepertinya dia harus segera pulang jika tidak, perdebatan panjang akan segera di mulai.
Ana menitikkan air matanya namun langsung di hapus nya agar Regan tidak marah, Regan paling tidak suka melihat Ana menangis.
Regan menarik tangan Ana dan menahannya.
"apalagi?" tanya Ana dengan ketus.
"apa maksud ucapan mu tadi??" tanya Regan dengan wajah serius.
"ucapan ku?? yang mana??" tanya Ana pura pura tidak tahu dengan apa yang Regan tanyakan.
"jangan sok bodoh!!" sentak Regan yang semakin mengeratkan pegangan tangannya di lengan Ana.
Ana meringis merasakan cengkeraman tangan Regan yang begitu kuat, kesempatan emas bagi Ana, ini bisa di jadikan alasan untuknya menangis.
Ana sudah tidak sanggup menahan gejolak di hatinya, air mata sudah membendung di pelupuk mata.
Sedetik kemudian air mata langsung menganak sungai di wajah cantiknya.
"kenapa kau malah menangis??" tanya Regan mulai bingung.
"tangan ku sakit!" sahut Ana dengan nada dingin.
Regan langsung melepas cengkeraman tangannya.
apa sesakit itu?? sampai bisa membuatnya menangis.
"maaf!" kata Regan lagi.
Regan yang angkuh sudah dua kali mengucap maad padahal jika itu orang lain, sampai mati pun Regan tidak akan pernah minta maaf.
Ana menangis tersedu.
"kenapa tangis mu makin menjadi?? apa ada hal lain yang menyakitimu?" tanya Regan.
Ana sudah tidak mampu menyembunyikan perasaannya.
"jangan sentuh aku lagi!! aku tidak mau jadi pemuas nafsu mu atau jadi bahan mainan mu!! aku bukan boneka, aku manusia yang memiliki perasaan!!!" teriak Ana meluapkan segala kekesalan di dalam hatinya.
"tadi kan aku hanya bercanda!" sahut Regan tanpa dosa.
"apa?? bercanda katamu?? apa kau menikahi ku hanya untuk menjadi bahan candaan mu??" sentak Ana semakin emosi.
"bukan begitu maksud ku!" sanggah Regan.
"aku tahu kau menikahi ku karena masalah mu dengan kakak ku maka setidaknya jaga jarak mu dariku sampai kau mau melepaskan aku!!" ujar Ana lagi dengan berlinang air mata.
Regan mulai emosi lagi karena Ana mengungkit kata melepaskan yang sangat di bencinya.
__ADS_1
"jangan pernah lagi kau ungkit masalah melepaskan karena sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah melepaskan mu!!!" sungut Regan sambil mencengkeram dagu Ana hingga wajah mereka saling bertatapan dalam jarak yang begitu dekat.
"jangan lupa..kakak mu bisa sadar kembali karena uangku!! kau berhutang banyak padaku!! maka abdikan dirimu dengan benar kepada suamimu ini!" Regan berkata dengan sangat geram bahkan bibirnya bergetar menahan emosi.
"ya.. aku tahu!! terimakasih karena kau mau menolong ku!! dan aku tidak akan pernah melupakan hal itu!!" sahut Ana dengan nada tinggi.
Ana melepas cengkeraman Regan dan mundur beberapa langkah, tanpa di duga Ana langsung merobek pakaiannya dan melucuti pakaian dalamnya sendiri sampai tubuh bagian atasnya terpampang jelas di hadapan Regan.
"lakukan lah apa yang ingin kau lakukan!!! aku akan membayar mu dengan tubuhku!! karena hanya ini yang aku punya!" tantang Ana yang sudah maju mendekati Regan.
Regan ternganga, bukan karena pemandangan indah di hadapannya melainkan dengan reaksi Ana yang begitu emosional.
Ana terus maju sampai tak menyisakan jarak antara dirinya dan Regan, Ana berusaha untuk mencium Regan namun Regan menahannya.
"apa yang kau lakukan hah??" sentak Regan berusaha menyadarkan Ana.
"mengabdikan diriku dengan benar sehingga kau tidak perlu mengungkit ungkit masalah hutang lagi padaku!" sahut Ana dengan sinis.
"sepertinya kau sudah salah paham terhadap kata kataku!!" kata Regan sambil membuka jas mahalnya dan berusaha menutupi tubuh bagian atas istrinya yang terbuka.
"salah paham? aku mendengarnya dengan jelas jadi bagian mana yang sudah aku salah artikan???" sentak Ana dengan suara melengking, Ana hampir kehabisan suara.
Ana membuang jas Regan.
Regan bertambah kesal, dengan segenap kesadarannya, dia mengunci pintu dengan remote kontrol yang tergelatak di atas meja karena tidak ingin ada orang lain masuk dan melihat kondisi Ana yang nyaris telanjang.
"kendalikan dirimu Ana!!" kata Regan namun Ana tidak menggubrisnya.
Ana malah melucuti rok dan yang tersisa hanyalah ****** ***** yang menutupi bagian intimnya.
"Ana!" sentak Regan.
Ana tetap maju dan mendekati Regan.
Regan mundur dan Ana semakin maju tanpa ragu.
Regan terhimpit tembok dan Ana langsung memulai aksinya, tubuhnya yang kalah tinggi dengan Regan hanya bisa mencumbu bagian leher suaminya saja dan Ana dengan rakusnya membuat tanda di leher Regan.
Regan berusaha menolak.
Regan menahan tubuh Ana dan..
Plak...
Regan terpaksa menampar istrinya tersebut.
Ana jatuh tersungkur ke lantai dengan bibir yang berdarah, dia kembali menangis dan bahunya bergetar hebat.
Regan mendekatinya, menyentuh bahu polos itu.
__ADS_1
"Ana......!" panggilnya dengan lirih.
🧬🧬🧬🧬🧬🧬🧬🧬🧬🧬🧬🧬